Aku Alya, gadis biasa yang mengharapkan akan datangnya cinta dari sesosok pria luar biasa. Pria yang dengan tulus, ikhlas mencintaiku dan menerima segala keadaan serta kekuranganku.
Karena aku hanyalah seorang gadis yatim yang mempunyai dua orang adik perempuan, Hana & Asti. Ibuku seorang penjual mie jawa. Sedangkan aku hanya lulusan SMA dan saat ini bekerja sebagai karyawan di sebuah swalayan, di kota Jogja. Aku bersyukur dengan keadaanku. Meski hidup kami penuh dengan kekurangan, aku bangga mampu membantu ibu, menyekolahkan adik2 hingga mereka masih bisa sekolah. Alhamdulillah Asti sudah lulus SMA di tahun ini, sedangkan Hana masih duduk di bangku kelas 1 SMA.
Aku sering mengalami kegagalan cinta, karena mungkin aku hanya seorang gadis biasa, tak memiliki pendidikan yang tinggi, tak memiliki karier yang membanggakan, tak memiliki harta berlebih.
Kegagalan cintaku bermula dari kisah CLBK dengan teman sewaktu SMA, kemudian kandas lagi ketika cinta itu berlabuh pada sahabat kecilku sendiri. Hahhh ... aku harus bersabar menghadapi cobaan cinta yang seringnya memilukan. Aku terus saja berdoa, dalam sujudku di sepertiga malam.
Kini doa malamku seolah diijabah Allah, aku dipertemukan dengan seorang pria dewasa, umurnya lebih tua dariku lima tahun. Aku memanggilnya mas Abi. Dia salah seorang dosen di UN*. Dosen muda yang cerdas & religius. Semua yang aku impikan ada padanya. Aku bahagia tanpa melupakan syukurku. Kami diperkenalkan oleh salah seorang sahabatku, Lisa.
Sudah dua minggu kami menjadi sepasang kekasih, rencananya satu minggu lagi mas Abi akan melamarku untuk menjadi pendamping hidupnya. Ya Allah ... nikmat mana lagi yang aku dustakan???
"Ay, nanti sore, sepulang kerja ... mas jemput kamu ya," ucap mas Abi dengan mata berbinar, seolah menandakan dia sedang berbahagia.
"Iya mas.." jawabku sambil menatap mas Abi dengan memberikannya senyuman.
"Nanti mas mau ke toko emas Sem**, mas mau membeli cincin untuk persiapan melamar kamu..." Hahh... hatiku semakin berdegup kencang, wajahku memerah, aku teramat bahagia. Seolah-olah ini hanya ilusiku, hanya mimpiku. Kemudian aku menatap mas Abi yang masih dengan santai menyetir mobilnya.
"Ma-mas, aku tak percaya semua ini, mas beneran mau membeli cincin untuk kita..??"
"Iya tentu saja sayang, Insya Allah, sebentar lagi kita akan menjadi pasangan yang halal. Aku mencintaimu Al.. Aku akan segera melamarmu dan menjadikanmu istriku, ibu dari anak-anakku kelak."
Mendengar semua yang dia ucapkan, ingin rasanya aku memeluk kekasihku itu, tapi aku yakin mas Abi tidak akan mau, karena dia bukan lelaki biasa, dia selalu menjaga hubungan kami, agar tidak ternoda oleh nafsu. Mataku berkaca-kaca menatap wajahnya. Mas Abi tersenyum setelah sekilas menatapku.
.
.
Sore itu, Mas Abi benar2 mengajakku ke toko emas. Mas Abi menaruh mobilnya, kemudian mengajakku memasuki toko. Mas Abi mulai memilihkan cincin untukku. Saat itu aku merasa bahagia, bahkan sangat bahagia...
.
.
Hari Sabtu besok acara lamaran akan digelar. Kami berdua mempersiapkannya dengan sangat matang. Namun, di hari Jumat ini mas Abi harus pergi ke desa P. Katanya ada tugas untuk observasi di sana. Meski khawatir, aku mengijinkan Mas Abi untuk pergi.
Mas Abi berangkat dari pukul 06.00. Di perjalanan dia selalu mengirimiku pesan via wa. Kekhawatiranku sedikit memudar ketika menerima pesan singkat dari kekasihku itu. Tak terasa hari sudah berganti sore, jam di dinding menunjukkan pukul 16.00. Aku membuka kembali wa di ponselku. Tak ada lagi chat dari mas Abi. Perasaan khawatir & takut kembali menyelimutiku. Aku mencoba melakukan panggilan vidio berulang kali, namun mas Abi tetap tidak mengangkatnya. Tiba-tiba air mataku menetes, membayangkan hal yang buruk terjadi padanya. Namun kemudian dengan segera aku menepis bayangan-bayangan itu. Aku harus yakin, mas Abi tidak akan mendapatkan halangan apapun di perjalanan.
Setengah jam berlalu, aku masih menunggu tlep atau chat dari mas Abi. Tiba-tiba ponselku berbunyi, ada telepon masuk, tapi bukan dari mas Abi, melainkan dari calon ibu mertua.
"Assalammu'allaikum..." suara ibu mertua terdengar parau. Seketika aku merasa ada hal yang tidak baik tengah terjadi.
"Wa-wa'allaikumsalam, ibu.." jawabku dengan gugup.
"Ndhuk yang kuat ya! Yang sabar, yang iklas ... hikkks, hikks...!"
"Segera ke rumah ya Ndhuk..! A-Abi kecelakaan tadi siang.."
DEG..
Seketika air mataku kembali menetes, tubuhku menjadi lemas seperti tak memiliki daya.
Dengan suara gemetar aku berkata, "Bu, mas Abi baik-baik saja kan? Bagaimana keadaan mas Abi Bu? Bagaimana keadaannya ... hiks, hikss...?"
"Maafkan segala kesalahan Abi ya ndhuk! Abi, berpulang menghadapNya. Mobil yang dikendarainya masuk jurang..." Suara ibu bergetar, tangisannya semakin mengeras.
Tanpa sengaja aku menjatuhkan ponselku, mataku seolah berkunang-kunang, tubuhku semakin lemas, kepalaku serasa pusing, dan hatiku teramat hancur... Aku tergeletak tak sadarkan diri. Ibu dan adik-adikku berusaha membopong tubuhku dan membaringkan di ranjang. Sepuluh menit pun berlalu, aku baru mulai tersadar dari pingsan. Aku menangis histeris, memanggil namanya... "Mas Abi ... mas, jangan tinggalkan aku ... hiks, hiks...!"
.
.
Tak terasa sudah seminggu lebih, aku kehilangan calon imam yang teramat perfect itu. Semangatku masih belum kembali. Setiap hari, aku hanya melamun, menatap foto almarhum. Yang aku lakukan selama seminggu ini, hanya menangis, melamun, bahkan makan pun serasa tak berselera. Ibu dan adik-adik dengan sabar menguatkan aku, mencoba membujukku agar mau makan.
"Ndhuk, ikhlaskan yang sudah pergi, jangan ditangisi! Kasihan Abi, di sana akan terbebani kalau orang yang dicintainya seperti ini," ucap ibu, sambil membelai lembut rambutku. Ku rebahkan kepalaku di pangkuan beliau.
"Hiks, hiks.. aku ingin ikut mati saja rasanya bu..." ucapku lirih.
"Ndhuk, jangan ngomong seperti itu..! Yakinlah, bahwa ini adalah ujian dari Allah. Insya Allah kelak kamu akan mendapatkan yang terbaik... Apa yang kita rasa adalah yang terbaik, tapi belum tentu yang terbaik menurut Allah. Semangat ya ndhuk, lepaskan dukamu di sepertiga malam..! Curhat pada Allah, mintalah sgala yang terbaik dari Allah...!" ibu menasehatiku dengan suara yang meneduhkan hati.
"Iya bu, Alya akan berusaha bangkit, Alya akan berusaha semangat lagi. Alya ingin, mas Abi tenang di sana. Mungkin Allah lebih sayang pada mas Abi bu, karena dia orang yang baik semasa hidupnya...," kataku sambil mengangkat kepala dan memeluk ibu dengan erat.
Tepat dua bulan sudah, aku kehilangan sosok mas Abi dalam hidupku. Aku mulai menyemangati diriku sendiri untuk menjalani sisa hidup ini. Di tempat kerja, sahabat-sahabatku selalu berusaha menghibur, membuatku melupakan mas Abi untuk sementara waktu. Di pagi hingga sore hari, aku masih bisa tersenyum bahkan tertawa. Namun setiap tengah malam, aku kembali teringat padanya. Kenangan bersama mas Abi masih saja selalu menari-nari dalam ingatan. Aku bergegas mengambil air wudhu, kurebahkan tubuhku dalam sujud yang dalam.. Tak henti-hentinya aku menangis, diselimuti rukuh. Ketika selepas waktu subuh, aku baru bisa memejamkan mata.
Pagi itu Asti libur kerja, begitu juga denganku. Kami mengobrol di teras rumah, sambil menikmati teh hangat dan camilan, manggleng.
"Mbak Al.." Asti membuka percakapannya.
"Ya, ada apa As..?" tanyaku sambil tetap mengunyah manggleng, camilan yang terbuat dari ketela.
"Mbak, aku punya temen, cowok. Dia seorang pria yang pendiam, tapi juga supel. Orangnya baik, ulet, pinter dan sepertinya nggak suka neko-neko. Aku kasih fb.nya ke mbak Alya ya?" Adikku nampak bersemangat.
"Sudahlah As, mbak tau apa yang kamu maksud, kamu mau nyomblangin mbak kan..?"
"Iy-iya, itu kalau mbak Alya mau.. Oiya mbak, aku pinjem hp.nya ya?" Asti dengan cepat mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja.
"Hhhehe sudah ku add mb, ni orangnya, tampan enggak..? Hhhhehe.."
Aku melirik ke arah ponselku yang berada di tangan Asti. Kemudian aku merebutnya.
"Dasar Asti usil...," kataku sambil memelototi adikku itu. Asti hanya tersenyum geli melihatku yang seolah marah padanya.
"Sudah di konfirmasi mbak sama mas Raikhan, tinggal nanti tuker-tukeran no hp, terus ... jadian dech, hhhhhhaha..."
"What.....??" ucapku dengan kaget, aku menggeleng-gelengkan kepala sambil memencet hidung adikku dengan gemas....
.
.
Beberapa hari ini, pria yang bernama Raikhan, selalu koment di setiap status fb ku. Dan benar saja, bermula dari saling membalas koment, kami mulai bercanda di dunia maya. Kami pun saling bertukar nomer hp. Aku merasa, pria yang bernama Raikhan itu berhati lembut, dia berpikiran dewasa dan sangat menyenangkan ketika diajak ngobrol via tlep.
"Al, boleh enggak aku main ke rumahmu..?"
"Boleh-boleh saja mas, tapi sore atau setelah maghrib ya! Pagi sampai pukul 16.00 aku kerja."
"Oke dech Al, mlam Minggu aku beneran main lho...," ucapnya bersemangat.
"Iya mas, aku tunggu ya..." Setelah berbasa-basi sedikit, aku menutup telepon.
Sebenarnya Raikhan lebih muda satu tahun dariku. Tapi entah, aku merasa suka saja memanggilnya dengan sebutan mas.
.
.
Malam minggu pun akhirnya tiba, aku menerima chat dari Raikhan. Dia bilang, sudah sampai di depan masjid, dekat gang menuju rumah kami. Entah mengapa jantungku berdetak kencang, ada rasa yang entah, hingga membuatku grogi bila benar hari ini akan bertemu dengannya. Hufffttt, aku tak tau perasaan apa ini? Padahal kami belum pernah bertemu sama sekali. Selama satu bulan ini kami hanya saling chat dan saling tlep saja.
"Asalammuallaikum.." Terdengar suara seorang pria dari luar pintu.
"Waallaikumsalam...," jawabku gugup, sambil membuka pintu. Aku hanya menunduk dan mempersilahkan masuk beberapa pria yang sudah berdiri di depan pintu.
"Alya ya..?" tanya salah seorang dari mereka dengan menatapku. Aku mencoba membalas tatapannya. Seketika aku yakin, kalau pria itu Raikhan. Dia datang ditemani empat orang temannya.
"I-.iya mas...," jawabku dengan malu.
"Mana Asti..?" tanya pria itu kemudian.
"Asti baru keluar mas dengan cow nya..."
Setelah mempersilahkan Mas Rai dan teman-temannya duduk, aku menyuguhi teh beserta camilan pada Raikhan & teman-temannya.
Kemudian kami pun mengobrol dengan asik, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Raikhan & teman2nya berpamitan. Aku mengantar mereka hingga di halaman rumah.
Entah mengapa begitu melihatnya untuk pertama kali, aku merasa semakin ingin mengenal Raikhan lebih jauh.
.
.
Kurebahkan tubuh di atas ranjang. Kedua netraku menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba ada pesan masuk di ponsel, kuraih benda pipih di atas nakas. Ternyata pesan dari Raikhan.
👦 Al sudah tidur belum?
👧 Belum mas
👦 Al, apa kesan pertama setelah bertemu denganku?
👧 Kamu baik mas
👦 Cuma baik??
👧 Hhhehe iya.. Kamu asik diajak ngobrol. Wajahmu juga hampir mirip aktor Korea mas, hhhhaha.
Ya, Raikhan seorang pria yang memiliki tinggi badan yang sangat ideal. Kulitnya bersih, dia memiliki mata yang sipit, mirip aktor Korea. Kata Hana, Raikhan hampir mirip aktor tampan Le Min Ho... Aku tertawa mendengar pengakuan adik bungsuku itu.
👦 Al, kapan2 gantian kamu ya, yang silaturahim ke rumahku! Aku kenalin dech sama ayah ibu, hhhehe
Aku terkesiap membaca pesan itu. Hahhh, tiba2 hatiku meleleh. Tak yakin dengan apa yang aku baca.
👧 Kenalin ke ayah ibu..? memangnya dikenalin sebagai apa mas? hhhehe...
👦 Sebagai calonku
Deg... Tiba2 hatiku semakin berdebar, aku belum yakin debaran apa itu. Hahh mungkin aku sedang halu, pikirku. Pria setampan Raikhan, yang baru pertama kali bertemu denganku, dengan mudahnya menyampaikan hal yang pastinya membuat setiap gadis seolah terbang di awang2. Tanpa ucapan "Aku cinta kamu" atau kata jadian, dia malah langsung berkeinginan mengenalkanku pada kedua orang tuanya.
Aku belum membalasnya, karena gugup dan bingung harus membalas apa. Raikhan kembali mengirim pesan.
👦 Al maaf, aku salah ya..? Mungkin aku terlalu terburu-buru ya?
👧 Engggak mas, kapan mas mau mengenalkanku..?
👦 Seminggu lagi ya Al, kalau kamu sudah benar-benar yakin...
👧 Ok dech mas...
👦 I will always love you Al..
Tulisnya di akhir chat. Duchh, aku jadi semakin merasa terbang di awang2. Aku harap semoga ini bukan mimpi. Aku jatuh cinta lagi.
👧 I will always love you to kekasihku
Aku membalasnya dengan senyum2.
Di hari berikutnya, chat yang saling kami kirim semakin mesra. Raikhan sering mengantar dan menjemputku kerja. Aku merasa nyaman bila ada di dekatnya.
Seminggu kemudian, Raikhan benar-benar membawaku ke rumahnya. Dan benar saja, dia memperkenalkan aku dengan kedua orang tuanya. Pipiku selalu merona ketika dia menatapku. Dia pria yang hangat, pria yang menyenangkan, serta romantis.
Dua tahun kami menjalani masa pacaran. Sebenarnya kami ingin bersegera menikah, namun ayah Raikhan memintaku untuk bersabar, sampai adiknya lulus kuliah. Aku dengan sabar menunggu saat kami bisa bersanding di pelaminan. Semoga saja, Raikhan jodoh yang sesungguhnya untukku, pintaku dalam setiap doa.
Hari demi hari kami lalui dengan saling memberi perhatian, saling memotivasi, saling percaya, dan saling mengungkapkan kasih sayang. Pernah tanpa sengaja Raikhan mengecup keningku, tanda rasa sayang & cintanya kepadaku. Saat itu adalah pengalaman pertama aku dicium lelaki, aku merasa kaget, namun aku merasa teramat bahagia, ada rasa hangat yang menjalar di hatiku, bahkan di tubuhku. Tak ada penolakkan dariku. Aku merasa sangat disayang olehnya. Sampai-sampai, karena ciuman pertama dikeningku, aku tak bisa tidur semalaman.
Tibalah saat itu datang, saat ucapan janji suci keluar dari bibirnya... Alhamdulillah, kami resmi menjadi pasangan halal. Aku merasa malu, ketika pandangan kami bertemu. Aku tertunduk, tak mampu rasanya menatap wajah suamiku. Aku terlalu bahagia. Tak henti2nya aku mengucap syukur dalam hati.
Kami duduk berdampingan, aku mengecup tangan suamiku dengan mata berkaca-kaca. Kemudian kekasihku itu mengecup keningku.... Kami bertatapan dan saling memberikan senyuman.
Di malam pertama kami, aku sangat gugup. Aku mencoba menenangkan diri. Terbayang apa yang akan terjadi di malam ini.
"Mas, besok saja ya, aku capek..!" ucapku dengan malu2.
Suamiku hanya tersenyum menatapku, dia membelai rambutku, mencium keningku, kemudian kelopak mata & hidungku. Bibirnya mnyentuh bibirku, ada getaran yang membuat aku merasa terbang. Aku merasa teramat disayang. Tubuh kamipun bersatu, aku memeluknya dengan erat, tak ingin terlepas darinya... Di malam ini kutasbihkan rasa cintaku, kuucap syukurku.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.."
Setelah menghadapi lika-liku cinta yang membuat hati hampa, kini aku merasa menjadi wanita yang teramat beruntung...
Cinta bisa datang dan pergi, tanpa kita minta, tanpa kita ingin.
Cinta, akan menjadi suatu anugrah apabila kita mampu mengerti arti mencinta dengan keiklasan..
Untukmu yang pernah hadir di hidupku, kuterbangkan semua kenangan bersamamu, kuiklaskan dirimu menghilang dari hidupku
dan terhapus dari memoryku..
Kan kurengkuh cinta yang baru, cinta yang terbaik & terakhir di hidupku...
Raikhan... Suamiku, Cinta terakhir di hidupku...