Rembulan di malam hari begitu terangnya, menjadikanku teringat akan seseorang. Dia bagaikan sinar yang menerangi dalam kegelapan. Apalagi, saat senyum mengembang di bibir manisnya. Pancaran auranya membuat orang sekitar ikut merasakan kebahagiaan yang ia rasakan.
"Kamu cantik," kataku saat duduk di sampingnya.
"Terimakasih, apa kamu karyawan baru," tanyanya yang menurutku hanya ingin berbasa-basi. Tetapi, aku sangat menyukai apapun yang ia lakukan.
Kita menghabiskan waktu dengan mengobrol, hingga aku tiba-tiba lemas tak berdaya dan jatuh tak sadarkan diri.
Aku masih teringat, saat kubuka kedua mataku. Ada bidadari berada di sampingku dengan raut wajah yang begitu cemas.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja," jawabku dengan senyum terbaikku.
Setelah aku kembali sadar, kita mencari sebuah warung makan untuk mengisi kekosongan amunisi di dalam perut. Aku selalu mengekor kemanapun dia melangkahkan kaki.
Waktu kebersamaan kita telah berakhir, dia pulang kerumah dan aku kembali ke kantor untuk bekerja. Aku sudah tidak sabar menantikan hari esok untuk bertemu kembali.
Ternyata, aku dan dia tidak bertemu kembali. Padahal, kantorku dan kantornya bersebrangan. Mungkin Tuhan tidak merestui ku untuk bersanding dengannya.
Aku mulai membiasakan diri untuk tidak mengharapkan bertemu dengannya.
Akan tetapi, dunia seperti mempermainkan ku. Disaat aku mulai menyerah, kami dipertemukan kembali walau hanya beberapa detik saja.
"Apa yang kamu pikirkan saat ini?" tanya temanku saat aku sedang memikirkan sosok gadis pujaanku.
"Aku sedang menyukai seseorang, hanya saja sulit untuk aku dapatkan."
"Mana mungkin? Parasmu yang begitu tampan pasti membuat ia terpikat olehmu."
"Seandainya seperti itu, sudah ku nikahi dia sekarang," jawabku.
Benar yang di katakan temanku, aku mempunyai wajah tampan, banyak gadis yang mengantri untukku. Tetapi, bagaimana mungkin dia tidak terpikat dengan ketampanan ku?.
Keesokan harinya, tanpa di sengaja kita bertemu kembali saat akan menuju kantor kita. Aku mensejajarkan langkah kakiku untuk bisa berada di sampingnya. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum dengan sangat menawan.
"Hai, baru kali ini kita bisa bertemu. Apa kamu masih ingat denganku?" tanyaku kepadanya.
"Iya, bagaimana tidak ingat, seseorang yang tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri setelah vaksin."
"Lalu, siapa namaku?"
"Namamu Alan, kan?"
"Betul, kamu harus ingat namaku selalu ya."Dia tersenyum sangat manis kepadaku. Hatiku seakan terbang terbawa keluar dari jiwaku.
Sungguh, ingin aku hentikan waktu ini agar bisa melihatnya memancarkan aura indahnya.
Semenjak itu, kita selalu bertemu di kala berangkat dan pulang kerja. Karena aku sengaja mengingat kapan ia datang dan pulang.
Tidak sengaja aku mendengar perkataan seseorang mengenai pujaanku. Semakin ku pertajam kan telingaku.
"Kasihan ya, aku rasa dia terpaksa melakukan itu. Dia orang yang baik dan suka membantu." Salah satu rekan kerjaku berkata dengan temannya.
"Aku lebih menyayangkan dia pergi dari perusahaan ini."
Aku terkejut saat mendengar kata-kata terakhir rekanku. Apa yang terjadi dengannya? Hingga dia ingin berhenti bekerja. Sepertinya aku harus bertemu dengannya.
Tetapi, takdir berkata lain. Kamu berpapasan di tangga kantorku. Pandanganku tak lepas darinya, ia juga memandangku dengan mata bengkak.
"Apa yang terjadi denganmu?"
"Tidak ada yang terjadi apapun denganku," katanya berbohong.
"Bisakah kau berkata jujur denganku? Agar kamu bisa berbagi kesedihanmu."
Bukannya menjawab, ia menangis tersedu-sedu hingga kedua bahunya ikut bergetar. Aku bingung harus berbuat apa, kemudian aku menarik pelan tangannya untuk mengikuti ku ke sudut kantor yang sepi dari lalu lalang karyawan lain.
Aku setia menunggunya hingga ia tenang. Perasaanku menjadi sedih melihatnya dengan kondisi seperti ini. Sinar yang biasa terang kini redup.
"Terimakasih sudah menemaniku disini," katanya dengan mengusap sisa air mata di kedua pipinya.
"Tak usah berterimakasih kepadaku, aku senang melakukan ini untukmu. Jadi ... apa kamu masih ingin tidak memberitahuku?."
"Maaf ... aku tidak mau merepotkan kamu. Aku bisa menanganinya sendiri," katanya dengan bergegas meninggalkanku.
Aku menjadi frustasi, memikirkan hal tentangnya. Detik itu juga, aku mencari tahu diapa yang terjadi dengannya. Saat mendapatkan informasi tentangnya. Aku terkejut seakan duniaku runtuh. Orang yang menjadi pujaanku ternyata milik pria lain.
Aku terduduk lemas di kursi kantorku. Memijat pelipis ku yang sedikit terasa pusing. Baru kali ini aku merasakan patah hati, membuatku enggan untuk bertemu dengannya.
Tidak sengaja kami di pertemukan kembali. Kali ini, aku tidak menyukai pertemuan ini. Ingin sekali aku menghindarinya. Tetapi, aku sudah tidak bisa pergi dari hadapannya.
"Bisakah aku meminta pertolonganmu?" katanya.
"Apa?" jawabku singkat tidak seperti biasanya.
"Aku ingin memintamu menjadi saksi akan permasalahan ku. Aku tidak bisa menanganinya sendiri."
Aku menghela napas panjang, saat melihatnya menjadikanku tidak tega untuk menghindarinya.
"Baik, aku bersedia menjadi saksi atas kasus kamu."
Kami berdua menuju kantor direktur umum untuk meluruskan masalahnya.
"Bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya direktur kepada perempuan di sampingku.
"Saya membawa saksi untuk membersihkan nama saya."
"Apakah betul pada hari Kamis pukul sebelas anda sedang bersamanya?" tanya direktur kepadaku.
"Benar, saat itu saya bersama dengannya. Saya sangat yakin, dia difitnah oleh seseorang."
Akhirnya, dia tidak mengundurkan diri dan tetap bekerja kembali. Senyumnya sudah mengembang seperti sedia kala. Sedangkan aku tetap murung, seakan tenagaku habis terkuras.
Dia memandangku dengan wajah yang penuh tanda tanya. Tiba-tiba gadis di sampingku menarik lenganku untuk berhenti melangkah.
"Dari tadi aku lihat wajahmu seperti orang sedang patah hati."
'Benar, aku sangat patah hati karena kamu,' kataku dalam hati.
"Aku hanya sedang tidak enak badan." Seketika dia menempelkan telapak tangannya ke dahiku, membuat jantungku semakin tidak sehat.
"Mari kita ke poliklinik untuk pemeriksaan," katanya dengan rasa khawatir yang berlebih.
Aku sudah tidak kuat menjalani ini semua. Hatiku semakin sakit saat melihatnya.
"Sudah cukup! Lebih baik kita jangan bertemu kembali. Aku menyukaimu tetapi kamu sudah memiliki kekasih," teriakku membuat ia melangkah mundur takut denganku.
"Apakah kita tidak bisa menjadi teman?"
"Maaf, perasaanku untukmu sudah sangat dalam. Jaga dirimu baik-baik, aku pergi." Aku pergi dari hadapannya.
Ternyata cinta itu sangat rumit, jika aku terus maju akan menimbulkan masalah untuknya. Lebih baik aku yang pergi dengan membawa cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Tamat.