ada hati yang menunggu mu pulang
ada hati yang menunggu mu kembali
ada hati yang kosong sejak kamu pergi
menunggu bukan lah hal yang mudah bahkan sangat sulit, apalagi menunggu tanpa kepastian.
tapi itulah yang ku lakukan biarlah waktu yang menjawab semua rinduku, biar takdir yang bawa dirimu kembali padaku.
biarkan aku menunggu mu walau kamu tak memintanya padaku.
***
"gio kamu mau pergi, kamu gak mikirin perasaan aku terus aku harus gimana, aku gak mungkin ikut kamu" tanya ressa
"gue kagak peduli, emang elo siapa, denger yaa... gue itu gak suka sama lo, mau elo sujud-sujud pun gue akan tetap pergi, lagian gue pergi buat terusin pendidikan gue, dan gak ada yang bisa cegah kepergian gue, apalagi yang elo, benalu!.." bentak nya
"Gio apa belum cukup pengorbanan aku buat kamu selama ini?" tanyaku sambil terisak
"lo ngorbanin apa hah..? udah lah bentar lagi pesawat mau take off, gak guna juga ladenin lo" katanya sambil berlalu
"aku bakal terus nungguin kamu seumpama hujan yang menunggu jatuh di atas tanah-tanah kering" teriak ku, aku tak peduli jika orang-orang menatap ku aneh
Gio telah pergi setengah hatiku juga ia bawa, bukan ...bukan dia yang sengaja membawanya tapi aku yang menitipkan nya, aku ingin dia membawa kembali dengan hatinya yang telah siap aku singgahi.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan 3 tahun sudah berlalu, aku selalu menunggu tak pernah sekalipun ia pulang untuk menemui ku atau sekedar mengirim pesan singkat untuk ku.
lalu pernahkah aku menghubungi nya duluan?
sering, selalu, bahkan tiap hari aku selalu menghubunginya, namun telponku selalu di reject, chatku tak pernah ia balas atau mungkin sekedar membacanya saja ia tak mau. Aku tak peduli itu, hal yang sudah menjadi kebiasaan.
Aku bahkan sudah biasa dia bentak, dia kasari, menurut ku itu makanan sehari-hari. Sakit hati pasti tapi aku tak mau ambil hati, aku selalu berdoa agar ia tetap sehat, tetap baik-baik saja disana, dan semoga suatu hari nanti ia bisa membuka hatinya untuk ku.
hey Gio apa kamu tau ?
ada orang yang menunggu dengan sabar hanya untuk sebuah kabar.
menahan rindu itu sulit gio, apa kamu tau itu?
***
2 tahun empat bulan telah berlalu, berarti sudah 5 tahun empat bulan Gio meninggalkan ku. aku selalu sabar menunggu walau semuanya semu entah itu kembalinya dia atau pun terbuka hatinya untuk ku.
Hari ini, hari pertama aku bekerja di perusahaan wijaya, perusahaan ini milik papa gio, beliau adalah orang yang baik, ramah, aku saja yang dari keluarga sederhana dan bukan saudaranya sudah dianggap seperti keluarga, ayah ku diberi usaha oleh pak wijaya karena waktu itu ayah membantu pak wijaya dari begal, sampai akhirnya pak wijaya tau kalo toko ayah bangkrut karena tidak ada modal, pak wijaya memberi ayah uang, karena ayah ikhlas membantu dan tak mau menerima imbalan jadi pak wijaya menawarkan pinjaman, beliau dan istrinya pun sering berkunjung ke toko kue kami sehingga aku dekat dengan mereka dan mengenal GIO.
***
"pagi semua nya,,, hari ini kita kedatangan karyawan baru, kemarilah dan perkenalkan dirimu!" titah kepala devisi keuangan
"hallo semuanya perkenalkan nama saya teressa adrian, bisa panggil ressa semoga kita bisa bekerja dengan baik dan saya juga meminta bimbingannya" ucapku dengan senyum yang merekah.
prok..prokk.prokkk..
mereka menyambut ku dengan tepuk tangan
"baiklah semuanya kembali bekerja, ressa meja kerjamu di samping lia" ucap pak baim
*note : pak baim adalah nama kepala devisi keuangan
"haii aku lia nama kamu ressa kan semoga kita bisa berteman baik" kata lia, dia itu lucu dan gemesin
"hai juga, semoga kita bisa berteman baik" balas ku
Hari-hari ku lalui dengan bekerja bila libur aku membantu ayah di toko, sekedar menghias kue atau mengantar pesanan.
"Ah sulit juga menahan rindu, bener kata dilan rindu itu berat" batin ku
aku selau merindukan nya kapan pun dan dimana pun tapi apa dia juga merindukan ku
ah entahlah biar lah waktu menjawab rinduku, karena kamu adalah tujuan akhir cintaku berlabuh.
***
tok...tok..tok..
"ressa bangun nak, kamu kerja kan hari ini, cepet bangun ayah anterin kekantor udah siang nii" teria ayah dari balik pintu
"hooaam, apasih yah baru jam 7 juga, nanti ressa berangkat jam setengah delapan" ucap ku masih ngantuk, semalam aku tidur malam selesain laporan keuangan dulu katanya bakal ada direktur baru
"jam tujuh dari hongkong udah jam delapan kurang 10 menit ini cepet bangun mandi, ayah tunggu di meja sarapan" ucap ayah
" ketika nyawa ku sudah terkumpul, aku melirik jam, hah ayaaaah kenapa gak bangunin ressa, aaaahhh ressa telat" teriak ku, kudengar ayah hanya cekikikan
"makanya kalo tidur jangan kaya kebo" ledek ayah
aku buru-buru mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, 7 menit ku habiskan dengan mandi, mengganti pakaian dan memakai make up seadanya hanya lipstick merah muda, dan bedak bayi ku usapkan ke wajah, karena jujur aku tidak terlalu suka ber make up tebal.
***
"ressa kemana...?" tanya pak baim
" belum datang pak, mungkin dia kesiangan" jawab lia
"huh, bagaimana bisa kita ngasih kepercayaan dia buat bikin laporan, datang aja udah telat keburu direktur baru itu dateng, nanti yang kena kita semua" ucap karin, dari ressa pertama bekerja karin memang sudah tak suka selain ressa itu baik ramah, sopan, kerjanya juga cepat dan bagus ressa juga tetap cantik walau tak memakai make up berlebihan berbanding terbalik dengan nya, karin itu terkenal sombong dan arogan.
***
Di parkiran kantor
Brukk
"ah maaf....maaf say tidak sengaja" ucap ressa meminta maaf sambil memunguti kertas laporan yang berceceran, dia terlalu terburu-buru sehingga menabrak orang, bahkan ia tak melihat siapa yang di tabrak nya meminta maaf pun ia tak melihat sibuk merapikan laporan kemudian cepat berlalu karena takut telat banget.
"nah itu ressa" kata lia hingga semuanya mengalihkan pandangan nya pada ressa yang baru datang, akhirnya mereka bisa bernafas lega, mana mungkin mereka mau dapat masalah di hari pertama direktur baru masuk, bisa-bisa mereka di pecat katanya direktur baru itu tegas banget, ia gak suka kesalahan sekecil apapun.
" kamu dari mana aja kok baru datang?" tanya lia
" aku bangun kesiangan li" jawab ressa yang masih terengah-engah
" cewek tidur kok kayak kebo" ucap karin sinis
" apaan sih kamu karin" lia menegur
"udah gapapa gak usah di ladenin" kata ressa menenangkan lia
Sudah-sudah semuanya berbaris yang rapih, direktur baru bentar lagi masuk. tak lama suara sepatu pantopel yang beradu dengan lantai pun terdengar keras.
semua karyawan menahan nafas, begitu juga dengan ressa ia menunduk karena gugup. ketika suara sepatu itu berhenti tepat didepannya ressa makin tak berani mengangkat wajah nya.
" apa di bawah lantai itu ada uang sehingga kamu terus menunduk?" suara dingin dan tegas itu membuat ressa makin gemetar
"bu-bukan begitu pak" jawab ressa gugup
"lantas?" tanya nya
"sa-saya...saya" ressa sangat gugup, tapi tunggu suara ini...
ressa secepat kilat mengangkat wajah nya. yah dugaannya benar di depannya itu sudah ada lelaki yang ia rindukan dan sangat-sangat ia cintai.
"Gio?" ucap ressa masih tak percaya dengan apa yang dilihat matanya
sementara gio hanya mengangkat satu alisnya.
"gio ini beneran kamu?" ressa maju satu langkah, tangannya ia angkat untuk memegang pipi gio, namun di tepis keras oleh gio.
bukan tersinggung ressa malah tersenyum, iyah ini dia gio, yang selalu kasar padanya, selalu membentaknya.
"tidak sopan sekali kamu memanggil bos mu sendiri dengan nama" ucap gio sinis, namun ressa tetap senyum
"baim, antarkan laporan keuangan ke meja saya sekarang" titah gio
"baik pak" jawab pak baim, baim itu masih muda ya... jadi gio panggilnya baim kecuali bawahan nya yang memakai kata pak
semua orang berbisik-bisik atas kelancangan ressa yang bahkan tak meminta maaf, mereka bertanya-tanya apa hubungan nya ressa dengan direktur baru, kelihatannya ressa sangat senang melihat direktur baru itu, namun sebaliknya direktur itu malah sinis dan berbicara sangat ketus pada ressa.
"sudah-sudah! semuanya kembali ke meja kerja masing-masing" titah pak baim
***
" kamu ada hubungan apa sama pak gio ress" tanya lia kepo
"dia ituuu, ah sulit buat di jelasin li" kata ku, sungguh hari ini kebahagiaan ku sangat membuncah.
***
pulang kerja ressa menunggu di lobi kantor dia ingin berbicara dan menatap wajah yang sangat ia rindukan itu. Ketika ia melihat gio baru keluar dengan asisten nya ressa memanggilnya
" Gio!" teriak ressa karena gio terus saja berjalan tanpa menyapa nya jelas-jelas ressa barusan memanggilnya, tapi sepertinya gio tak peduli.
"Gio tunggu" tahan ressa
"apa?" tanya gio datar
"kamu kapan pulang? kok aku gak dikabarin, kenapa chat sama telepon aku selalu kamu anggurin? padahal tiap hari aku tanya kabar kamu tapi gak pernah kamu gubris, selama di jerman kamu baik-baik ajakan? gak sakit kan? aku kangen banget sama kamu loh" tanya ressa beruntun
"kamu ke mobil duluan aja za" ucap gio pada asistennya. asistennya pun pamit lalu pergi kerah mobil
" emang lo siapa? sehingga gue harus kabarin lo kalo mau pulang ke negri sendiri, telpon sama spam chat dari elo itu ganggu tau gak, cuman sampah di hp gue, mau gue baik atau enggak apa urusannya sama elo jangan ikut campur lo bukan siapa-siapa, dan apa kata lo kangen, gue enggak tuh inget aja enggak" jawaban yang diberikan gio memang benar ressa bukan siapa-siapa tapi bisakah ia menghargai sedikit saja kekhawatiran ressa, bukan malah membuat ressa sakit dengan kata-kata yang ia lontarkan.
" aku cuman kangen sama kamu, aku juga khawatir sama keadaan kamu" ucap ressa dengan nada rendah
" huh lo cuman benalu, kekhawatiran lo itu cuman modus biar keliatan baik di mata gue kan, cih gak mempan sama gue. pencitraan" ucap gio tajam
"gue ingetin ya sama lo, jangan berlaku gak sopan gue bos lo" peringat gio tegas
"maaf aku tadi reflek aja nyebut nama kamu" jawabku
"Huh" dengus gio
"jangan ganggu gue, benalu kayak lo seharus nya udah lama di singkirin" ucap gio seraya pergi
***
Hari-hari terus berganti ressa masih sering menemui gio walau sering di usir, di bentak bahkan tak jarang di kasari.
hingga suatu hari
"ressa kamu di panggil direktur keruangan nya!" suruh pak baim
aku sangat senang karena gio memanggilku keruangan nya walau aku tak tau alasan nya kenapa.
***
plaak
Sebuah laporan melayang dan jatuh tepat di depan ku, aku menyerengit bingung apa ada yang salah dengan laporan itu
"kamu yang buat laporan ini?" tanya gio dingin
"i-iyah saya pak" ucap ku gugup, gio terlihat sangat marah
"ah sudah gue duga benalu kayak lo emang gak bisa di percaya tapi gue gak nyangka lo bakal senekat ini, baru bekerja beberap bulan sudah korupsi" ucap gio
"apa maksud bapak berbicara seperti itu, anda menuduh saya korupsi?" tanya ku masih dengan nada sopan, ini masih di kantor pikirku
"lalu harus di sebut apa orang yang memalsukan laporan yang bersekongkol dengan orang yang menggelapkan uang perusahaan" ucap gio sinis
"gio aku terima-terima aja kamu sebut benalu tapi aku gak terima kamu tuduh aku korupsi, aku gak pernah korupsi sedikit pun dan buat apa aku korupsi" sangkal ku yang sudah tak tak tahan dengan tuduhan nya
" kamu tak terima, liat laporan yang kamu buat jelas-jelas laporan itu kamu palsukan untuk menutupi jejak korupsi kamu" bentak nya
aku melihat laporan itu namun ini bukan laporan yang aku buat, aku yakin itu
"tapi ini bukan laporan yang aku buat" jawab ku
"mau menyangkal apa lagi kamu, bukti sudah di depan mata dan kamu sendiri yang mengaku bahwa laporan itu kamu yang buat" suara nya gio makin tajam
" aku gak melakukan hal itu gio, aku bersumpah" ucap ku sudah meneteskan air mata
"jangan keluarkan air mata buaya mu itu aku gak akan pernah tertipu, benalu seperti mu memang seharus nya sudah aku singkirkan sejak lama, kamu itu cuman wanita murahan, butuh uang berapa kamu sampai mengkorupsi uang perusahaan" ucap gio
sakit dada ku rasanya sesak,
"nih cek 200jt buat kamu, pergi dari perusahaan kundan jangan tampakan diri lagi disini" ucap gia sembari maju dan melemparkan cek itu di depan mukaku
sungguh aku merasa terhina, namun mulut ini sulit untuk bicara. kemudian ku pungut cek yang tergeletak di lantai itu
" huh, murahan" ucapnya ketika melihat aku memungut cek itu
srek..sreek...srekk
ku robek cek itu dan ku lemparkan pada mukanya.
"kauu!" gio menatap ku tajam dan menggeram marah
"Aku bukan wanita murahan, aku tak butuh uang, aku juga bukan orang yang seperti kau tuduhkan tak pernah sekalipun aku menyentuh atau memakai uang perusahaan untuk kepentingan diriku sendiri, aku lebih baik jadi gembel dari pada memakai uang haram
jangan pernah semena-mena terhadap ku hanya karena kau mengemis cinta padamu bukan berarti kau bisa menginjak harga diri ku.
Belum cukup kah kamu menghinaku bertahun-tahun, membentak ku, mengasari ku kupikir dengan kau menempuh pendidikan di luar negri bahasa dan perlakuan mu akan lebih baik tapi aku salah kau hanya laki-laki pecundang.
aku rela membuang waktu hanya untuk menunggu mu kembali
aku rela menahan rindu selama bertahun-tahun hanya berharap bahwa kau akan kembali dan membuka hati mu untukku
aku rela mencintai mu walau kau tak pernah membalas nya
aku rela jatuh bangun agar bisa terus bersama mu
aku rela dihina, di caci, di kasari, di bentak hanya karena aku mencintaimu
bahkan aku rela di rendahkan dan selalu di sebut benalu walau aku tak tau apa alasan nya
ku pikir semuanya akan berbuah manis apabila aku terus menunggu dan berharap bahwa cinta dan waktu akan meluluhkan hatimu.
tapi itu kesalahan terbesarku ternyata kebahagian yang akan kamu dapatkan itu terletak pada diriku namun bukan kehadiran ku melainkan kepergian ku.
terimakasih gio..terimakasih atas rasa sakit yang kau berikan aku pergi dan ta'akan pernah menampakan diri di depan mu lagi, bukan aku lelah bukan aku menyerah, hanya saja aku mengalah demi kebahagiaan mu" ucap ku panjang lebar
aku menundukan kepala lalu pergi
aku pergi gio mengikis harapan.....
membawa luka.....
mengubur cinta....
dan membawa hati yang dulu ku titipkan....
*aku benci menunggu*