"Semuanya sudah lengkap, semua perabotan rumah masih utuh kok, ia, nggak usah khawatir, tinggal bawa pakaian dan badan saja" ujar Siska kepada Naura, yang merupakan teman satu tempat kerja Naura.
Naura memang meminta tolong kepada Siska, tiga hari yang lalu, untuk mencari kontrakan, dan sebenarnya, jika dihitung-hitung, sudah dua kali Naura pindah-pindah kontrakan, dan ini adalah kepindahan yang ketiga, dan untuk alasannya, mulai dari lokasi kontrakan yang tidak aman, yang kedua mengindari tetangganya yang menurut Naura bersikap terlalu berlebihan terhadapnya, dan bisa diartikan menyukai Naura, tapi cara mengungkapkan perasaannya kepada Naura, membuat Naura takut, dan kali ini, Naura berharap kontrakan yang dipilih oleh Siska, membuat dia betah, setidaknya dia tidak harus hidup nomaden lagi.
"Bagaimana? Suka? Ini kontrakan yang menurutku paling bagus, bebas banjir, dan aman, yang penting kamu nggak perlu belanja banyak perabotan rumah lagi, karena yang ada di kontrakan ini, aku rasa, lebih dari cukup, hanya saja sepi, apa kamu berani?" tanya Siska.
"Lebih baik berurusan dengan mahluk halus dari pada psikopat" ucap Naura sembari tertawa, dan sejurus pandangan tertuju pada lemari pakaian yang menurutnya bentuknya unik dan tak biasa, karena dibuat menempel dengan dinding, dengan kaca super besar di bagian depannya, tapi yang lebih unik adalah selalu ada lukisan angka 1111 yang tergantung, mulai dari ruangan tamu, dapur hingga kamar.
"Lemari itu katanya dibuat khusus oleh anak pemilik rumah kontrakan ini, keren ya? Oke Ra, aku pulang dulu ya, kamu pasti capek, kalau butuh sesuatu, atau mau tanya-tanya, telpon saja pemilik kontrakan ini, nomer ponselnya nanti aku kirim lewat WhatsApp" ucap Siska.
"Oke, hati-hati di jalan, makasih ya bantuannya, jumpa lusa di kantor" ucap Naura
"Oke" balas Naura.
Setelah Siska pulang, rasa kantuk Naura, yang tadinya ia tahan, hilang begitu saja, begitu juga dengan letihnya, dan memilih untuk melihat-lihat kontrakan barunya, yang menurut Naura jauh lebih bagus dari kontrakan yang sebelumnya.
Karena gerah, Naura memutuskan untuk mandi, dan bermaksud ingin memindahkan pakaiannya ke dalam lemari yang ada di kamarnya, tapi kunci lemari pakaian tersebut nampaknya sulit untuk dibuka, jadilah Naura terpaksa membiarkan pakaian yang ia bawa terap didalam tas, untuk sementara, dan berniat setelah mandi baru ia akan menghubungi pemilik kontrakan.
Tapi ada yang aneh menurut Naura, ketika melewati lemari, aroma yang tercium disana benar-benar tidak nyaman, seperti bau daging busuk, dugaan Naura mungkin bangkai tikus, padahal tadi ketika bersama Siska, dia tidak mencium bau apapun.
Berulang kali Naura menghubungi ponsel pemilik kontrakan, baik dengan panggilan telpon langsung dan panggilan WhatsApp, dan keduanya tidak diangkat, begitu juga dengan Siska, dihubungi ponselnya bahkan diluar jangkauan.
"Aneh, diluar jangkauan, liburan kemana memangnya ini anak" gumam Naura yang memilih untuk meluruskan pinggangnya, karena memang tidak ada pekerjaan yang mesti ia kerjakan.
"Sultan mah bebas, rumah sebagus ini, tidak ditempati, ujung-ujungnya dijadikan kontrakan, akibat kebanyakan rumah" gumam Naura, sembari memejamkan matanya, belum lima menit Naura memejamkan matanya, ia dikagetkan dengan suara ketukan dari dalam lemari.
Awalnya Naura mengabaikan suara ketukan tersebut, tapi ketika suara ketukan tersebut mulai mengganggu, Naura takut juga, dan memutuskan untuk keluar dari kamar.
"Apa efek karena jarang ditempati" gumam Naura sejujurnya takut, tapi mencoba untuk memberanikan diri, karena dia tidak mungkin lagi-lagi mencari rumah kontrakan, terlebih kondisi keuangannya yang sudah semakin menipis, karena baru saja mengirimkan uang untuk biaya pengobatan ibunya di kampung.
"Bertahan saja" gumam Naura lagi, sembari melihat-lihat foto keluarga pemilik kontrakan, yang berderet rapi di dinding.
"Keluarga blasteran, anak-anaknya cakep semua" ucap Naura, tapi pandangannya terhenti ke sebuah mural yang terdapat di dapur, mural yang dipenuhi gambar pisau buah, tapi yang membuat suasana sedikit horor, gambar buah-buahan dibuat seolah-olah hidup dan terlihat ketakutan.
"Keluarga yang misterius, mungkin tanggal dan bulan rumah ini dibangun" gumam Naura, sembari kembali berjalan menuju ruang tamu, dan Naura benar-benar baru menyadari kalau angka 1111 sepertinya menjadi angka spesial bagi keluarga pemilik kontrakan, entah apa maksud dari angka tersebut, hanya pemilik rumah yang tahu.
"1 Januari 2011, atau 1 November 2001, benar-benar membuat penasaran" gumam Naura, yang memutuskan untuk memesan makanan lewat online, karena memang tidak ada bahan yang bisa ia masak.
Naura heran ketika pengemudi ojek online yang mengantarkan makanan pesanannya mengatakan, apa dirinya sedang mengadakan hajatan, karena pengemudi ojek online tersebut diberi tahu oleh bapak-bapak berperawakan tinggi besar ketika menuju kontrakan Naura, kalau kontrakan Naura sedang ada hajatan, dan bukan hanya bapak-bapak berperawakan tinggi besar tersebut yang pengemudi ojek online tersebut temui, melainkan beberapa ibu-ibu yang membawa anak-anaknya.
Naura tentu merasa heran, hajatan? Bagaimana mungkin, dia baru saja pindah, dan tidak mengenal siapapun disana, dan disepanjang perjalanan menuju kontrakan, bisa dikatakan banyak rumah yang tanpa penghuni, dengan berbagai macam alasan, menurut keterangan Siska.
Seketika bulu kuduk Naura berdiri, dan sejurus memandang ke sekeliling kontrakannya, dan rumah-rumah yang tidak jauh dari kontrakannya, benar-benar sepi.
Sejenak Naura berpikir apakah hanya rumah yang dia tempati saja yang berpenghuni, dan apa karena hal tersebut harga kontrakan jauh lebih murah.
"Rumah yang penuh teka-teki, mulai dari angka 1111, ada apa sebenarnya dengan rumah inj" gumam Naura, sembari kembali memandang kontrakannya yang belum sehari ia tempati.
Naura seketika mematung ketika melihat dari jendela banyak orang yang berada di dalam rumah, padahal dari sejak dia datang, tidak ada siapapun yang berada di dalam rumah.
Seketika bulu kuduk Naura berdiri, dan kemudian memilih pergi dari rumah tersebut, dengan meninggalkan semua pakaiannya, karena dia bisa jelas melihat, bagaimana orang-orang yang ada di dalam rumah, melambaikan tangan ke arahnya.
Setelah berhasil keluar dari gang rumah kontrakannya, dan sejenak memiliki berisitirahat ke sebuah warung, akhirnya Naura baru tahu, kalau rumah yang ditawarkan oleh temannya tersebut, hampir seluruh anggota keluarganya tewas terbunuh saat acara ulang tahun sang pemilik rumah, dan hanya menyisakan anak sulung keluarga tersebut yang memiliki gangguan mental, tapi akhirnya, setelah sempat hilang, dia ditemukan tewas di dalam lemari pakaian dan yang menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan tersebut adalah anak sulung keluarga itu sendiri, dan itu artinya, Naura sudah ditipu mentah-mentah oleh Siska temannya sendiri.
Tapi yang membuat Naura jauh lebih heran lagi, menurut keterangan keluarganya, sudah hampir tiga hari, Siska tidak ada kabar.
Lalu selama tiga hari ini, Naura dengan siapa? Kalau Siska tidak ada kabar, dan karena harus mengambil semua tas pakaian miliknya, Naura membawa warga yang berani masuk ke dalam rumah kontrakan tersebut, dan alangkah kagetnya warga tersebut ketika masuk ke dalam rumah, dan hendak mengambil tas, dia justru menemukan mayat seorang perempuan yang berada di depan lemari, yang tidak jauh dari Naura menyimpan tas.
Naura tak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi padanya, dan menurut pihak yang berwajib, mayat perempuan yang nyaris membusuk tersebut adalah Siska, temannya sendiri.
Naura benar-benar shock, dan dia baru teringat dengan angka 1111 yang banyak ia temui di rumah tersebut, angka tersebut bertepatan dengan tanggal dan bulan dia datang, 11 November, sementara hasil visum jenazah Siska, pihak Rumah Sakit menyimpulkan kalau Siska kemungkinan sudah tewas lebih dari 10 hari, dan itu tepat pada tanggal 1 November, dan menurut orang-orang yang banyak tahu tentang sejarah rumah 1111 tersebut, kejadian pembunuhan tersebut memang sudah dimulai dari sejak tanggal 1 November, dan puncaknya terjadi pada 11 November pukul 11 malam, tepat saat acara ulang tahun tersebut selesai diadakan, dan semu berdasarkan pernyataan penyintas dari kejadian naas tersebut, tapi dirahasiakan sampai saat ini, lalu apa hubungan Siska dengan rumah tersebut? pikir Naura.
Siska ternyata, adalah penyintas tersebut, yang merupakan anak pembantu yang selamat dari pembunuhan tersebut, akan tetapi nampaknya takdir berkata lain, Siksa akhirnya ditemukan tewas di rumah yang sama dengan kedua orangtuanya, dan kali ini, benar-benar tidak ada lagi yang tersisa dari keluarga tersebut, dan nampaknya kenapa Siska mengarahkan Naura ke rumah tersebut, ada kemungkinan, karena dia meminta tolong pada Naura, agar memakamkan jenazahnya secara layak, dan rumah angker 1111 itu kini benar-benar dibiarkan kosong tak berpenghuni, dan begitu juga dengan penghuni rumah yang tidak jauh dari rumah tersebut, memilih untuk pindah, jadilah gang tersebut kini benar-benar menjadi gang mati.