Jiwaku berpindah ke seorang gadis yang diintimidasi. Pria tampan di depanku menarik rambutku dan mencoba menekan puntung rokok di pundakku.
Oh, tetapi aku adalah juara tinju tahun ini.
Aku meninjunya ke lantai, lalu mengambil puntung rokok dan menempelkannya di pipinya yang putih dan menepuk wajahnya tanpa ekspresi. "Jangan lupa, mulai hari ini aku adalah kakekmu."
01
Aku terbangun dan merasakan sensasi dingin di sepanjang bahu.
Aku menundukkan kepala dan melihat ada seseorang yang menekanku ke tanah. Sementara itu, pria di hadapanku menekan puntung rokok yang menyala ke pundakku!
Memori mendadak membanjiri pikiranku dan membuatku terdiam.
Padahal, sebelumnya karena sengaja tidak patuh pada bosku dan mengalah dalam pertarungan ilegal, aku ditusuk oleh orang suruhannya.
Aku masih ingat sensasi dingin tangkai pisau yang bercampur aduk di dalam tubuhku. Sekarang, bagaimana bisa aku berada di sini?
Melihat tangan yang halus dan putih bukan milikku ini ....
Ternyata aku melintasi waktu!
Reaksi yang terbiasa selama bertarung membuatku refleks mengangkat lengan dan menyerang wajah si pria yang ada di depan. Tangan kuatku menghantam wajahnya, lalu menjatuhkannya dan membenturkannya ke sudut dinding di belakangnya.
Kemudian, aku berdiri dan menopang tubuhku dengan satu tangan. Lalu, aku mengusap debu dari tubuhku. Dia mengangkat kepalanya dengan tidak percaya. "Ranti, apa yang kamu lakukan?"
Setelah mengambil alih ingatan tubuh ini, aku mengingat siapa pria di depanku ini.
Peter Leonardo, teman sekolah dari pemilik tubuh asli ini, dan juga orang yang diam-diam disukainya selama dua tahun.
Sayangnya, Peter tidak tertarik pada Ranti. Namun, dia malah sangat menyukai adik tiri Ranti, Syelline Liam, dan selalu mengikutinya seperti bayangan setiap hari.
Ranti yang menyukai Peter terlebih dahulu, tetapi Syelline merampasnya. Alasan Ranti bisa ditindas begitu parah juga merupakan ulah Syelline.
Selama sebulan terakhir, Ranti yang polos benar-benar mengalami penderitaan. Setiap harinya dia dipukuli, dihina, ditindas, dan diperlakukan dengan kejam, apalagi ketika orang yang memulai semuanya adalah orang yang dia sukai, penindasan yang berkepanjangan pun membuatnya sangat frustrasi.
Kemudian, aku datang.
Beberapa orang di sekitar menjadi terkejut. Aku mengambil puntung rokok dari lantai dan mengiaspnya dengan sekuat tenaga di mulutku. Kemudian, aku meludah di wajah Peter dan membuat matanya memerah karena asap, lalu dia terbatuk tanpa henti. Dia menatapku dengan tidak percaya. "Ranti, apa yang kamu lakukan?"
Sambil melakukannya, aku menekan batang rokok yang telah terbakar di wajahnya.
Srakk.
02
Batang rokok terbakar menyala di wajah cerah Peter. Setelah tersadar, dia menudingkan tangannya ke arahku. Aku pun menahan lengannya.
Sebelumnya, dalam gelanggang tinju gelap, aku berlatih setiap hari. Aku benar-benar mampu membunuh seseorang dengan satu pukulan. Namun, tubuh baru ini begitu lemah dan lembut, dengan anggota tubuh yang ramping, aku merasa kesulitan untuk menahan tekanan ini.
Mengikuti tekanan Peter, aku menghindar dan melingkarkan lengannya dengan tangan yang lain. Aku mengangkat lututku dengan kesal, lalu menekannya ke pinggangnya dari belakang.
Di masa lalu, aku bisa mencopot lengan seseorang menggunakan gerakan ini dengan mudah. Namun, sekarang sebagai seorang siswa, aku tidak bisa terlalu kejam.
Dia menarik napas dengan tersedak, tetapi masih tidak lupa untuk menatapku dengan mata merah. Kemudian, dia melontarkan kata-kata sembari menggertakkan gigi.
"Apa kalian semua hanya menonton? Sialan. Ranti, mampus kamu!"
Aku mengangkat dagu dengan pandangan meremehkan.
"Jangan berbicara omong kosong. Majulah kalian semua."
Para pria itu menggertakkan gigi mereka, seolah-olah merasa malu karena aku telah mempermalukan mereka. Dengan isyarat mata mereka saling bertukar pandangan, mereka pun berlari ke arahku.
Aku memaksa mereka untuk menghadapi Peter yang aku tahan di tangan. Aku menendang dengan sadis ke pantat Peter sehingga mereka berdua pun terpental.
Selain beberapa pria itu, ada juga dua wanita di sekitar. Aku meraih pergelangan tangan mereka dengan tegas
dan memutarnya dengan keras. Kedua wanita itu berteriak keras. Wajah mereka pucat dan gemetar kesakitan ketika meronta di depanku.
Kesadaranku mulai beradaptasi. Saat itu, aku sepenuhnya menerima ingatan dan mengetahui segala tindakan keji Peter terhadap Ranti.
Orang tua Ranti telah diganggu oleh ibu Syelline. Bukan hanya menghancurkan keluarga orang lain, mereka masih ingin memusnahkan Ranti dengan cara apa pun yang dapat terpikirkan.
Syelline selalu memutarbalikkan fakta di depan Peter. Dia mengatakan dengan malang bahwa ibunya dan ayah Ranti adalah cinta sejati, tetapi Ranti tidak pernah menerima hal itu secara diam-diam. Ranti selalu mengganggunya secara diam-diam dan bahkan bersekongkol dengan orang-orang untuk menindasnya.
Luka di wajahnya sebenarnya diciptakan olehnya sendiri, tetapi dia berbohong dan mengatakan bahwa Ranti yang memukulnya.
Semua orang tertipu oleh penampilannya yang berlinang air mata. Mereka benar-benar merasa bahwa Ranti yang menyiksa adiknya setiap hari sangat keterlaluan. Mereka mulai memuja Syelline dan mengecam Ranti.
Dalam sekejap, Ranti pun menjadi sasaran mereka semua.
Demi memberi perhatian pada Syelline, Peter selalu mencari masalah dengan Ranti.
Dia mengulang adegan yang dibuat-buat oleh Syelline dan membuatkannya menjadi kenyataan di Ranti.
Menyiram air di dalam kamar mandi, menampar Ranti di lorong, bahkan mereka sampai suka menekan puntung rokok di tubuh Ranti. Mereka juga memaksanya minum air toilet, berlutut seperti anjing di lantai, dan merekamnya saat menanggalkan pakaiannya.
Ranti memiliki bekas luka bakar di punggung dan bahu yang dulunya indah dan lembut. Mereka mengancamnya, kalau dia berani mengadu pada orang lain, mereka akan mempublikasikan foto-foto yang mereka rekam. Itu sebabnya, Ranti selalu menelan kesedihannya dan tidak pernah memberi tahu siapa pun.
Ranti juga bernasib sial. Hari ini, dia sebenarnya datang untuk mengurus izin. Sejak lahir, dia menderita penyakit jantung bawaan yang membuat tubuhnya sudah lemah sejak awal. Menahan semua ini selama ini telah membuatnya hampir mati. Dia tahu jika dia tidak melarikan diri sekarang, dia akan gawat.
Namun sayangnya, dia tetap terlambat.
Aku bukanlah orang yang tidak pernah melihat kematian. Beberapa orang yang mati di arena tinju hitam, tidak ada habisnya jika dihitung oleh beberapa orang yang ada di sini.
Namun, itu semua hanya demi uang. Mereka telah menandatangani surat kontrak hidup mati dan mereka bertanggung jawab atas itu. Tidak seperti orang-orang ini, mereka mengambil nyawa seseorang hanya karena apa yang mereka anggap sebagai keadilan mereka sendiri.
Sebelum Ranti meninggal, dia benar-benar berteriak minta tolong dengan kelemahannya yang nyata, tetapi Peter menekan kepalanya dan menggosokkannya di lantai. Dia mengatakan bahwa Ranti sedang berpura-pura lagi.
Aku melihat wajah Peter. Dia telah ditendang beberapa kali dan kesulitan untuk bangkit, tetapi dia masih memandangku dengan penuh kebencian dan menolak untuk mengakui kekalahan.
Aku tidak memukul wajahnya. Wajahnya tetap tampan seperti biasanya. Pantas saja, Ranti masih tergila-gila padanya bahkan saat dia mati.
Sayangnya, aku hanya bisa memukul wajah, bukan melihat wajah. Wajah ini terlihat disayangkan di hadapanku.
Aku mendekatinya dan menginjak kepalanya!
Buliran keringat mengalir di dahi Peter. Kemudian, dia berteriak dengan serak, "Ranti, a ... aku akan membunuhmu!"
Aku menginjaknya lebih keras dan menikmati ekspresinya yang marah, tetapi tidak bisa bergerak.
03
Saat dia berjuang mati-matian, aku menyematkan lututku di tubuhnya dengan tenang, lalu mengambil ponselku dan secara asal mengambil foto pantat dan wajahnya.
"Bukannya kamu suka memotret orang? Aku akan membiarkan kamu tahu perasaan ini juga. Siapa tahu kamu akan menyukainya?"
Meskipun Peter berjuang keras dan kepalanya terbentur di lantai, aku tidak peduli dengannya. Langsung dari sakunya, aku mengambil ponselnya dan menggunakan jari-jariku untuk membuka pengunci wajahnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan, Ranti? Lepaskan aku, kalau tidak, aku bersumpah akan membunuhmu!"
Aku merasa terganggu dengan keributan Peter yang berlebihan, jadi aku duduk di atas punggungnya dan membuat Peter gemetar.
Kemudian, aku meminta orang-orang itu untuk memberikan ponsel mereka padaku. Aku menghapus semua foto dan video tentang Ranti yang ada di dalamnya. Sambil melakukannya, aku juga memeriksa apakah ada cadangan.
Setelah semua itu selesai, aku berkata, "Baiklah, kalau aku menemukan foto atau video tentangku yang bocor, aku akan memukul kalian setiap kali kita bertemu."
Setelah memukul dan menghina, aku merasa itu sudah cukup. Aku bersiap-siap pulang untuk makan malam.
Namun, saat aku berdiri, tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang!
"Ranti, apa yang kamu lakukan?"
Aku berbalik dan mengernyit.
Di belakangku, ada seorang wanita berkulit putih dan tubuh yang ramping. Rambut hitam lurusnya terbawa angin dan terlihat begitu suci.
Namun, hanya kita berdua yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik semua ini.
Syelline adalah dalang di balik kematian Ranti. Adik perempuan Ranti telah datang.
Syelline membelalakkan matanya dengan berlinang air mata. Dia mulai bicara dengan nada yang penuh empati.
"Ranti, kamu langsung serang aku saja!"
Aku tersenyum.
Ini tentang intimidasi, 'kan? Lantaran dia sudah bilang begitu, aku akan memenuhi keinginannya.
04
Aku berdiri dan melihat Syelline dan sedikit mengangkat kepalaku.
"Kamu bilang aku menindasmu. Aku cukup penasaran bagaimana caraku menindasmu?"
Syelline merasa ada sesuatu yang tidak beres denganku. Setelah memperhatikanku dengan hati-hati, dia berkata dalam suara menangis, "Kak, aku tahu selama ini kamu selalu memiliki kesalahpahaman padaku. Meskipun begitu, aku tidak pernah mengatakan apa-apa. Tapi, kamu malah melibatkan orang lain, kamu sungguh kelewatan!"
Aku berjalan mendekatinya dan berhenti di depannya, lalu menundukkan kepala untuk melihatnya.
"Jadi, apa yang sebenarnya aku lakukan untuk menindasmu?"
Syelline terdiam sejenak, lalu suaranya tiba-tiba terdengar dicampuri aksen menangis yang dibuat-buat.
"Meskipun kamu sudah menarik pakaianku, memukuliku, menekan puntung rokok pada tubuhku ... tapi, kamu adalah kakakku. Aku tidak bisa marah padamu!"
"Karena kamu sudah mengatakannya, aku merasa bersalah kalau aku tidak memenuhi keinginanmu yang sudah berakting dengan susay payah ini."
Usai berkata demikian, aku meraih rambut panjang Syelline. Dengan tatapan datarnya, aku menamparnya dengan keras hingga kepala gadis itu menghadap ke samping.
Syelline terkejut.
Dia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa Ranti yang selalu penakut benar-benar akan berani memukulinya.
Kemudian, aku menggenggam pergelangan tangannya. Tangan satunya bergerak ke arah kanan dan kiri, lalu memukul pipi kanan dan pipi kirinya dengan keras. Seiring terdengarnya suara nyaring, wajah Syelline pun memerah dan membengkak.
Syelline terpukul hingga pusing dan tidak bisa berdiri tegak. Matanya penuh dengan benang merah darah. Dia menatapku dengan tajam. Wajahnya yang seram seakan-akan hantu jahat yang baru keluar dari neraka!
"Ranti!," teriak Syelline histeris. Dia meraih tangannya dengan gila-gilaan untuk menggapai wajahku. "Aku ingin kamu mati, aku ingin kamu mati! Dasar anak jalang. Dasar tidak tahu diri."
Aku tidak melihatnya dan langsung menendangnya keluar dengan satu kaki.
Aku berjalan mendekat, lalu menarik rambut Syelline sambil memberinya tamparan. "Diam! Kamu terlalu berisik!"
"Aku tidak melakukan permainan menyibak baju dan mengambil foto seperti itu. Ini baru disebut penindasan. Kalau aku ingin bertindak sungguh-sungguh, kalian semua akan mati di sini hari ini."
05
Setelah pulang malam, pintu kamarku dibuka sesuai dugaan.
Aku melihat ibu tiriku, Shella Tanaman, menunjukkan ekspresi kesal.
Wajah Shella bahkan memerah. Pandangan matanya seperti ingin segera menusuk dan membunuhku.
Dia menunjukku dengan jarinya, lalu berkata seraya menggertakkan gigi, "Dasar anak haram. Kamu sama seperti ibumu. Beraninya kamu memukul Syelline?"
Aku bahkan tidak mendongak. "Ibumu yang jalang. Seluruh keluargamu adalah jalang. Dasar jalang."
Shella seketika sangat marah. Dia bergegas ke arahku, lalu mengangkat tangan kanannya dan mengayunkannya dengan keras ke wajahku!
Aku sangat kesal sehingga meraih Shella dan memutarnya dengan tanganku. Kemudian, aku menamparnya dua kali hingga membuat wajahnya yang dirawat dengan mahal itu berbunyi nyaring.
Shella tercengang karena dihajar olehku. Setelah sekian lama, dia baru mencengkeramku dengan kukunya yang berwarna merah. "Beraninya kamu memukulku. Aku akan membunuhmu."
Aku mengernyit dan hendak menghajarnya dengan sadis. Namun, pintu malah tiba-tiba berbunyi.
Ayahku sudah pulang.
Shella langsung menenangkan diri. Dia menarik tangannya dan merapikan baju. Kemudian, dia berbisik ke arahku, "Jalang, mampus kamu!"
Usai mengatakan itu, Shella langsung berlari keluar untuk melaporkannya pada ayahku.
Melihat Shella yang menangis tersedu-sedu dan berlari ke arahnya, ayahku melepaskan jaket, lalu menggantungnya di gantungan baju. Kemudian, dia mengernyit seraya berkata, "Kenapa kamu menangis seperti itu? Orang lain mungkin akan mengira kalau keluargaku sudah menindasmu!"
Shella segera menyadari bahwa dia terlalu emosional. Dia segera meredakan nada suaranya dan meminta maaf. "Aku tidak berpikir panjang, tapi ini bukan sepenuhnya kesalahanku. Hans Kumala, aku dan Syelline tidak bisa tinggal di sini lagi."
"Apa yang terjadi?" tanya Hans dengan nada yang serius.
"Ini karena Ranti!" Shella meneteskan air mata sambil menangis dan mengeluh, "Lihatlah, dia memukul Syelline dan membuat wajahnya seperti ini. Aku hanya memarahinya sekali, dia malah langsung memukulku juga. Lihat wajahku!"
Syelline juga mendekat dengan tangisan yang tak kunjung usai.
Aku tidak memukulnya terlalu keras. Kini, wajah Syelline sudah kembali normal sehingga tidak ada yang terlihat lagi.
Wajah Shella juga hanya terkena dua tamparan dariku. Itu tidak bengkak sama sekali.
Benar saja, Hans menatap mereka dengan bingung dan berkata, "Tidak ada apa-apa! Ranti, apa kamu benar-benar memukul mereka?"
Aku tahu. Hans sama sekali tidak percaya bahwa Ranti akan melakukan hal itu.
Aku hanya perlu berpura-pura. Bagaimana mungkin aku tidak bisa?
Aku langsung menundukkan kepala, lalu berkata seraya tertawa pahit, "Aku tidak tahu kenapa Tante mengatakan hal-hal seperti itu tentangku ... apakah menurut Ayah aku adalah tipe orang seperti itu?"
Setelah kata-kata itu keluar, Hans pun melihat Shella dengan ekspresi suram. "Ranti bahkan tidak tega menginjak semut. Bagaimana mungkin dia akan memukulmu? Kamu jangan keterlaluan!"
06
Dalam pandangan objektif, Hans bukanlah seorang ayah yang baik.
Namun, tidak peduli seberapa tidak bertanggung jawabnya Hans, dia bisa membedakan antara putrinya sendiri dengan putri yang dibawa oleh orang lain. Ranti tak berani mengadu karena diancam oleh Syelline. Namun, kalau benar-benar mengadu, siapa yang takut!
Shella menangis dengan parau. "Aku sudah bersamamu begitu lama, tapi kamu malah menganggapku orang seperti ini. Untuk apa aku seperti ini?"
Pada saat Hans tampak seperti ingin menghiburnya, aku sedikit mengangkat alis, lalu berbicara dengan suara rendah, "Mungkin untuk uang? Benar, kamu membelikan adikmu rumah mewah bulan lalu. Apa ayahku sudah tahu? Apa kamu ingin mengusirku dari rumah ini agar bisa menguasai harta ayahku?"
Ini adalah hal yang didengar oleh Ranti dahulunya. Namun, karena Syelline mengancamnya dengan foto bugil, dia tidak berani memberi tahu Hans. Lebih baik aku yang menjadi orang baik dalam kasus ini.
Tentu saja, setelah Hans mendengar kata-kata itu, wajahnya langsung berubah. "Jadi, ini yang kamu maksud dari 'investasi' sebelumnya?"
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum sinis.
"Lihatlah, siapa yang datang?"
Aku tersenyum. "Cucuku, bisa-bisanya kamu melupakan kakekmu secepat ini? Apa aku perlu mengeluarkan foto untuk mengingatkanmu?"
Setelah makan malam, seorang gadis tiba-tiba menarik tanganku dan berbisik, "Ranti, aku harus pergi ke sekolah sebentar. Tasku tertinggal di sekolah, bisakah kamu menemaniku?"
Restoran Jaracan dekat dengan sekolah kami. Hanya perlu melewati dua gang kecil yang tidak memiliki lampu jalan.
Tidak bisa dipungkiri, meski Syelline jahat, tetapi taktiknya masih terlalu payah. Saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, aku sudah tahu apa yang direncanakan oleh Syelline. Tanpa disadari olehnya, aku mengambil pisau dari meja dan menyelipkannya ke dalam sepatu botku di tempat yang tidak terlihat oleh orang lain.
"Baiklah." Aku menarik tangannya. "Ayo, pergi."
Setelah keluar dari pintu belakang hotel, kami masuk ke dalam gang yang gelap. Namun, dia lupa membawa ponsel dan kembali ke arah lain.
Aku berdiri di tempat dan melihat bayangannya menghilang dalam kegelapan. Ketika aku melihat ke depan, benar saja ada lima orang pria sudah berdiri di sana entah sejak kapan.
Mereka terlihat jorok, mengenakan celana ketat, rambut mereka dicat warna kuning ataupun putih. Mereka mengenakan kalung logam di leher.
Seorang pria bertubuh pendek dengan jaket hitam mendekati kami dengan tujuan yang jelas. Dia tersenyum dengan gigi kuning besar.
"Gadis cantik, apa kamu sendirian? Mau main-main bersama Kakak, tidak?" katanya sambil tertawa.
Aku juga senang.
Aku kira akan ada konfrontasi yang serius, tetapi ternyata Syelline dan Peter hanya mengundang sekelompok orang ini!
Aku tidak bersikap ramah dan langsung mengumpat, "Pulanglah untuk bermain dengan ibu kalian!"
Pria itu terkejut, seolah-olah tidak menyangka bahwa aku akan langsung mengumpat. Pria dengan jaket hitam memberi isyarat kepada orang di belakangnya.
"Serang! Aku ingin melihat apakah kamu masih bisa begitu berlagak!"
Sekarang, aku mengerti rencana Syelline dan Peter. Mereka hanya menggunakan uang untuk menyewa sekelompok orang tak bertanggung jawab dengan niat jahat.
Sebenarnya, kejahatan anak-anak jauh lebih kejam dan menakutkan. Jika Ranti yang sebenarnya tidak mati dan mengalami peristiwa ini, apakah dia masih bisa bertahan?
Meski bertahan, sisa hidupnya akan diliputi bayangan, mungkin selamanya akan hancur.
Apakah gerombolan ini tidak pernah memikirkan bahwa karma akan menghampiri mereka?
Tidak ada akibat tanpa sebab, sepertinya karma mereka adalah aku.
Raut wajahku menjadi suram. Aku menjatuhkan seorang preman yang datang duluan dengan satu pukulan, kemudian segera berlari ke arah dinding di samping dan melompat setinggi mungkin.
Di tengah pandangan tidak percaya para preman berambut pirang itu, aku langsung membanting lututku di punggungnya!
Pukulan ini jika diberikan dengan kekuatan penuh, itu bisa mematahkan tulang belakang seseorang. Namun, aku tidak ingin terjerat masalah hukum, jadi aku hanya menggunakan setengah kekuatanku untuk membuatnya pingsan di tempat.
Pria dengan jaket hitam itu terkejut. Dia mengeluarkan pisau hitam dari pinggang dan menyerangku dengan tiga atau empat serangan!
Dengan satu tendangan, aku menendang salah satu preman di dekatnya ke tumpukan sampah di sudut, lalu segera meraih pisau hitam dari jaket hitam. Kemudian, aku berbalik dan menekan lututnya ke tanah.
"Kamu ingin menggangguku? Apakah leluhurmu tidak datang ke mimpimu untuk melarangmu?"
Aku mencengkeram lehernya dan menendangnya, lalu berlutut di tanah dengan satu lutut dan memutar belati di tanganku. Sinar bulan keperakan menyinari bilah belati, lalu memantulkan cahaya seputih salju dan sedingin es.
"Tunggu sebentar!" Pria beraket hitam ketakutan. Butiran keringat sebesar kacang bercucuran. Dia tampak kebingungan.
"Cantik! Kesatria Wanita! Aku salah, aku bersalah. Aku melakukan ini atas permintaan orang lain. Aku ...."
"Aku akan membuatmu tidak bisa melakukan ini lagi," ujarku dengan dingin, lalu aku menusuk ke arah pahanya dengan sadis!
"Aaah!"
Jeritan pedih bergema di sepanjang gang yang gelap. Beberapa gagak yang berdiri di atas tembok terkejut dan buru-buru terbang ke langit.
Pria berjaket hitam itu gemetar. Matanya tampak memelotot dan hampir menjadi gila oleh ketakutan.
Aku merasa jijik, lalu segera berdiri dan mengelap pisau itu. Kemudian, aku mengembalikannya kepadanya.
"Kalian diutus oleh seorang pria dan seorang wanita, 'kan? Aku sudah pernah menghajar mereka. Apakah mereka tidak bilang padamu kalau aku jago berkelahi?"
"Kamu pasti yang paling tahu siapa yang melakukan ini."
Aku meliriknya. "Aku sedang berada dalam suasana hati yang kurang baik dan tidak ingin menghajar orang. Kalau kamu berani muncul di hadapanku lagi, aku tidak akan segan-segan, mengerti?"
Pria berjaket hitam dan beberapa anak buah di belakangnya ketakutan. Mereka membungkuk dan berkata sambil bersujud, "Kami mengerti. Kami tidak akan datang lagi! Terima kasih, Nona!"
Aku mengedipkan mata pada mereka, lalu berbalik pergi.
Setelah mereka tidak bisa melihatku lagi, aku melompati tembok dan kembali ke sisi lain dan melihat ke arah gang yang tadi.
Benar saja, mereka berdiri di belakang tong sampah.
Pria berjaket hitam sebelumnya merasa malu dengan pandangan semua anak buahnya. Dia tidak berani mengatakan apa-apa di depanku karena ketakutan, sekarang hanya amarah yang tersisa.
Dia memicingkan matanya yang berbentuk segitiga saat memandangi Peter dan Syelline, lalu berkata, "Kalian tahu wanita itu begitu jago bertarung dan tidak memberi tahu kami? Kalian ingin merenggut nyawa kami, ya?"
Peter merasa bersalah dan cemas, lalu berkata dengan hati-hati, "Kalian adalah preman, 'kan? Siapa sangka kalian tidak bisa menghadapi seorang wanita. Benar-benar tidak berguna!"
"Hehe." Pria berjaket hitam itu tertawa congkak dan memberikan isyarat kepada anak buahnya di sekitar.
"Kita semua sudah membagi tugas. Kalian juga harus mendapt bagian."
"Kalian, kalian mau apa?"
Pada saat itu, Syelline baru merasakan ketakutan dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Peter masih bersikeras. "Berhentilah omong kosong! Kalau kalian berani menyentuh kami sedikit pun, aku akan menghabisi kalian!"
"Hahaha," ucap pria berjaket hitam sambil mendekati mereka dengan beberapa orang lainnya. "Bagaimana kamu akan membunuhku?"
Syelline berteriak panik. Tanpa memedulikan Peter, dia berbalik dan siap untuk melarikan diri. Namun, dia dicegah oleh seorang pria beruban yang mengadang jalannya.
"Ah!"
Peter menggigit bibirnya dan dengan tegas melangkah maju. Dia berhasil memukul wajah pria berambut kuning dengan tinju.
Teriakan wanita, tangisan, caci maki pria, dan suara perkelahian bergabung menjadi kekacauan yang kacau balau di bawah sinar bulan dan membentuk sebuah drama besar.
Aku menarik kembali pandanganku, lalu memasukkan kedua tanganku di saku dan pergi dengan santai. Aku tidak pulang. Malam ini, sudah ditakdirkan menjadi malam yang tidak tenang.
Peter dan Syelline, pasangan jahat yang kejam ini pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal.
07
Benar saja, keesokan harinya saat pergi ke sekolah, aku mendengar berita yang mengejutkan.
Syelline hampir diperkosa. Peter melindunginya dengan merampas pisau dari salah satu preman dan seketika menusuk tiga orang sampai akhirnya satu tewas dan dua terluka parah. Peter sendiri juga ditusuk, katanya di tempat yang sensitif, dia mungkin tidak dapat mempertahankan fungsi reproduksi.
Berita yang meledak seperti ini menyebar sangat cepat. Dalam waktu kurang dari seminggu, seluruh kota mengetahui tentang hal ini, bahkan masuk ke topik populer di Twitter!
Judul awalnya tetap menggambarkan Peter yang mengorbankan dirinya untuk melindungi pacarnya. Semua pengguna internet menuntut hakim membebaskan Peter dengan alasan membela diri!
Aku tersenyum sinis dan menunggu pembalikan opini publik.
Hal ini pasti dilakukan oleh Keluarga Leonardo dengan mengeluarkan uang. Mereka ingin menggunakan opini publik untuk memengaruhi keputusan hukum.
Tidak mengejutkan, satu minggu kemudian hasil penyelidikan polisi pun keluar.
Ternyata, kelompok preman itu adalah orang-orang yang Peter dan Syelline sendiri datangkan! Mereka ingin menindas orang lain dan mengambil gambarnya, tetapi rencana mereka tidak berhasil. Pertikaian pecah setelah terjadi ketegangan verbal dan ternyata Peter yang mulai melakukan kekerasan terlebih dahulu!
Tiba-tiba, opini publik gempar! Semua orang menyadari bahwa Peter dan Syelline yang selama ini mereka dukung sebenarnya adalah orang-orang yang jahat. Penderitaan mereka adalah akibat dari tindakan mereka sendiri. Ini adalah karma.
Opini publik menyerang dengan marah!
"Bajingan! Masih muda sudah sangat jahat. Mereka menyewa orang untuk melakukan hal seperti ini!"
"Mereka harus dihukum mati! Remaja seperti ini hanya akan menjadi ancaman bagi masyarakat."
Kota kami mungkin tidak terlalu besar, tetapi juga tidak kecil. Segera, Peter dan Syelline menjadi tikus jalanan dan hampir setiap orang ingin memukul mereka.
Hans juga mengetahui hal ini. Dia terkejut dengan kekejaman Syelline dan menyadari bahwa kali ini dia terlalu dipermalukan. Hans dengan tegas mengusir Shella dan Syelline, serta menceraikan Shella.
Setelah bercerai, Shella tidak punya tempat untuk pergi. Dia hanya bisa menyewa sebuah ruangan bawah tanah seluas 20 meter persegi. Setiap malamnya, dia menangis sambil menelepon Hans untuk memohon belas kasihan. Sayangnya, Hans tetap tak goyah. Mereka datang demi uang Hans, tetapi mereka sama sekali tidak mendapatkan apa pun.
Kasus ini makin panas setiap harinya. Di tengah makian orang-orang, akhirnya perkara Peter dan Syelline dibawa ke pengadilan.
Syelline lebih beruntung karena semua transaksi dengan preman dilakukan oleh Peter. Dia tidak meninggalkan catatan apa pun sehingga dinyatakan tak bersalah di pengadilan.
Peter berakhir sial. Dia divonis dengan tuduhan penyebab cedera dengan sengaja dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Aku pergi ke persidangan ini.
Peter sudah berbeda dengan saat pertama kali kita bertemu. Saat pertama kali kita bertemu, dia memiliki ciri fisik yang menarik, wajah yang rapi, dan berlagak karena adalah pewaris keluarga kaya.
Saat ini, dia memakai borgol. Matanya kosong menatap ke depan. Wajahnya yang kurus terlihat pucat dengan lingkaran mata hitam kebiruan.
Ketika ibunya mendengar putusan itu, dia pingsan di tempat. Peter menangis dengan keras, berlutut, dan berteriak memohon hakim memberinya kesempatan kedua.
Mungkin saat itu, dia benar-benar menyadari bahwa hidupnya sudah berakhir. Dia benar-benar takut.
Namun, itu sudah terlambat.
Kejadian selanjutnya didengar olehku dari desas-desus.
Ibunya Peter menyalahkan Syelline atas semua ini. Dia merasa bahwa jalang itu yang menggoda putranya dan mencelakai Peter hingga seperti ini
Dia mencari seseorang untuk memperkosa Syelline. Foto dan videonya pun disebar ke mana-mana. Dia pun masuk penjara.
Riwayat Syelline telah tamat. Ini adalah rencana jahat yang dia siapkan untuk Ranti, tetapi akhirnya terjadi pada dirinya sendiri.
Tampaknya, dia tidak punya kemampuan mental yang baik. Teman-teman sekelasnya mengatakan dengan simpati bahwa dia kemudian mengalami gangguan mental. Ibunya tak punya pilihan selain mengirimnya ke rumah sakit jiwa.
Aku tidak lagi membalas dendam pada Syelline. Namun, takdir sepertinya sudah menentukan perputaran yang baik.
Dia pada akhirnya juga tertarik oleh kebenciannya sendiri ke dalam neraka.
Mungkin, ini adalah persembahan terbaik bagi Ranti.
Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak. Aku bermimpi, wajah yang bisa kulihat setiap hari di cermin itu muncul di depanku.
Ranti membungkuk padaku. Dia adalah gadis kecil yang lemah. Meskipun kita memiliki wajah yang sama, rasanya benar-benar berbeda.
Dia tersenyum dan berterima kasih kepadaku. "Terima kasih, sekarang aku akan pergi. Tidak ada yang bisa kuberikan sebagai balasannya. Ambil tubuh ini dan gunakanlah."
Saat aku terbangun, aku sadar bahwa badanku terasa lebih ringan dari sebelumnya. Rasanya seperti sesuatu yang menghambat telah pergi dan rasa dingin yang tidak bisa dijelaskan menghilang. Hal itu membuatku merasa ringan.
Mungkin, itu adalah kebencian terakhir Ranti sebelum dia mati.
Dia telah membalas dendam dengan baik dan akhirnya bisa bereinkarnasi dengan tenang.