Tahun ketiga pernikahan dengan teman masa kecilku.
Aku membaca sebuah postingan yang pernah dia tulis.
Dalam postingan tersebut, dia menulis bahwa dia terpaksa berpisah dengan orang yang dicintainya. Kemudian, dia tidak punya pilihan lain selain menikahi gadis sebelah rumah yang merupakan teman masa kecilnya.
Kebetulan, gadis itu adalah aku.
Inilah kisah tentang rintangan yang menghalangi para tokoh utama.
1
Lelucon itu terjadi ketika aku pergi menemui Nathan di kantornya.
Saat pintu lift terbuka.
Suara umpatan bercampur dengan pukulan dan tendangan terdengar.
Suara itu adalah suara ibunya Nathan.
"Nathan sudah menikah. Kenapa kamu ke sini?"
"Ibumu sudah merebut ayahnya Nathan. Apa kamu datang ke sini untuk membawa pergi anakku juga?"
Baru kali ini aku melihat Bibi Shinta berteriak histeris seperti itu. Biasanya, dia selalu bersikap anggun dan santun di hadapan semua orang.
Namun, Nathan yang ada di tempat tersebut malah melindungi gadis di pelukannya dengan gigih.
Dia terlihat seperti sedang melindungi harta karun yang berharga.
Tiba-tiba, seseorang mendorongku dan lenganku terbentur sudut meja. Kata-kata yang sudah ada di ujung lidahku langsung berubah menjadi sebuah teriakan kesakitan. Nathan menatapku dan segera melepaskan gadis yang ada di pelukannya. Dia terlihat seperti ingin mendekat dan membantuku.
Namun, sesaat berikutnya, dia melihat Bibi Shinta mengambil sebuah pot kaktus.
Seketika itu juga, Nathan langsung berbalik dan kembali melindungi gadis itu.
Pot kaktus yang ada di tangan Bibi Song mendarat dengan akurat di kepala Nathan.
Gadis dalam pelukannya berkata dengan suara terisak, "Nathan, apa kamu baik-baik saja?"
Saat itu juga, darah mengalir dari kepala Nathan.
Nathan menghela napas lega dan berkata dengan suara yang lirih.
"Untunglah kamu tidak apa-apa ...."
2
Drama itu berakhir dengan Nathan yang pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
Sebelum pergi, dia memegang tanganku dan berkata dengan suara lirih, "Bianca ...."
Ketika aku tiba di rumah sakit, teman Nathan yang bernama Adam Handoko berdiri di depan pintu bangsal.
Setelah melihatku, dia hendak mengatakan sesuatu.
Namun, aku langsung mencengkeram pergelangan tangannya.
Di dalam bangsal terdengar suara seorang wanita yang berbicara dengan nada genit.
"Cobalah makan sedikit saja, aku belajar membuat ini hanya untukmu …."
Nathan menundukkan kepalanya dan menghela napas. "Martha, sebenarnya kamu tidak perlu menyuapiku ...."
Nathan tidak bisa berkata-kata lagi dan mau tidak mau menelan bubur yang disuapkan ke mulutnya.
Adam menarik sudut pakaianku dengan tangan lainnya. Raut wajahnya terlihat khawatir.
Namun, suara di dalam bangsal tiba-tiba makin keras dan Martha sepertinya menangis.
"Aku khawatir padamu! Kamu terluka karena melindungiku. Apa aku tidak boleh mengkhawatirkanmu lagi?"
"Bukankah kita ... saling mencintai?"
Suara kain yang bergesekan terdengar di dalam bangsal. Sepertinya Nathan memeluk Martha.
Adam kembali berkata dengan suara yang bergetar.
"Jangan menangis."
Aku langsung menghapus air mata yang mengalir di pipiku.
Sungguh memalukan.
3
Aku menikah dengan Nathan tiga tahun yang lalu.
Pada saat itu, aku baru saja menyelesaikan studiku dan langsung kembali ke negara asalku. Saat aku kembali, orang tuaku mengadakan pesta selamat datang untuk menyambutku.
Nathan datang menjemputku di bandara dengan mobilnya.
Begitu melihatku, dia langsung menatapku dari atas ke bawah. Kemudian, dia mengulurkan tangannya dan mengusap rambutku:
"Padahal kita tidak bertemu selama beberapa tahun saja. Tapi, kenapa kamu terlihat berbeda sekali?"
"Bukankah kamu bilang kamu ingin menikah denganku saat kita masih kecil?"
Nathan jarang membuat lelucon seperti itu.
"Aku sudah menunggumu."
"Bianca."
Mimpiku saat masih kecil
Akhirnya menjadi kenyataan.
Pada saat itu, aku berpikir bahwa aku adalah orang paling bahagia di dunia ini.
Kehidupan setelah pernikahan juga sangat menyenangkan.
Nathan sangat perhatian padaku.
Aku selalu berpikir bahwa dia sangat baik padaku.
Jadi, aku ingin menjadi lebih baik lagi untuknya.
Namun, kemudian aku mengetahui sesuatu.
Sikap baiknya ini sebenarnya ingin dia tunjukkan untuk Martha.
Jika bukan karena postingan yang dibagikan oleh temanku.
Mungkin aku akan tertipu olehnya seumur hidup hidupku.
4
"Aku jatuh cinta dengan putri selingkuhan ayahku. Aku tahu harusnya aku tidak melakukan hal itu. Tapi, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Ibuku mengetahui tentang hubungan kami dan dia tidak menyetujui hubungan ini. Kalau aku tetap bersama dengan wanita berinisial M ini, ibuku mengancam untuk bunuh diri. Dia memaksaku untuk putus dengannya."
"Ibuku memaksaku untuk segera menikah. Lalu, aku dengar tetanggaku yang sejak dulu menyukaiku akan pulang. Dia baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri. Ibunya sering bilang kalau dia sangat menyukaiku. Jad, ibuku bilang aku harus menikah dengannya."
"Akhirnya, aku melamar gadis itu."
Postingan itu diakhiri dengan tanggapan sang pemilik blog terhadap sebuah pertanyaan.
Dia mengatakan bahwa hari ini dia baru saja melangsungkan pernikahan.
Dia akan menjadi suami orang lain.
Tanggal tanggapan itu diberikan adalah 14 Juli XX22, pukul 10:15 pagi.
Hari itu adalah hari pernikahanku dengan Nathan.
Aku duduk di ruangan dan mengenakan gaun pengantin yang indah serta riasan yang cantik.
Sahabat baikku berdiri di dekat pintu dan menunggu pengantin pria untuk menutup pintu.
Pada saat itu, aku sedang berpikir.
Aku akan menikah dengan pria yang sudah aku sukai selama sepuluh tahun.
Sungguh luar biasa.
5
Pada hari itu, Nathan tidak pulang sampai larut malam.
Saat aku selesai membaca postingan itu, air mata sudah mengalir di wajahku. Udara di ruangan tiba-tiba terasa sangat menyesakkan.
Aku sampai kesulitan untuk bernapas.
Saat itu, seseorang yang tidak asing berdiri di kejauhan.
Nathan berdiri di bawah lampu jalan, sementara Martha berbicara sambil menatapnya. Keduanya berdiri saling berdekatan.
"Aku ... aku sudah menikah ...."
Mata Martha berkaca-kaca. Namun, dia berpura-pura untuk tegar dan menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Harusnya aku tidak serakah."
Namun, air mata Martha tidak bisa dibendung lagi
Aku bisa melihat dengan jelas rasa sakit di mata Nathan.
Dia langsung memeluk Martha dan berusaha untuk menghiburnya.
Angin berderu di telingaku.
Namun, aku bisa mendengar dengan jelas suara hatiku yang hancur.
Hari itu.
Aku membenci diriku sendiri karena tidak langsung mendatangi Nathan dan mengajukan pertanyaan padanya.
Aku bahkan sampai menangis sendirian dalam keputusasaan.
Namun, pada akhirnya aku berusaha untuk tetap tenang dan memilih jalan yang berbeda. Apakah aku akan membantu mereka bersama?
Tidak ada keberuntungan seperti itu di dunia ini.
6
Setelah keluar dari rumah sakit, aku tidak langsung pulang.
Sebaliknya, aku pergi ke rumah orang tuaku.
Dulu, aku pikir menikah dengan pria yang aku cintai adalah sebuah keberuntungan.
Namun, aku tidak menyangka bahwa pernikahan itu hanyalah sebuah pelarian bagi Nathan yang tidak bisa menikah dengan wanita yang dia cintai.
Aku menyukai Nathan sejak kecil.
Orang tuaku selalu sibuk.
Ketika Nathan pulang sekolah dan melihatku berjongkok di depan pintu menunggu orang tuaku, dia akan membawaku pulang bersamanya.
Dia akan membantuku mengerjakan PR atau menonton kartun bersamaku.
Aku mengalami mimpi buruk dan terkejut karena suara guntur.
Nathan segera berlari masuk dari kamar sebelah. Karena terburu-buru, dia bahkan kehilangan salah satu sandalnya.
"Bianca!"
Dia segera datang untuk menghiburku.
Aku memegang tangan Nathan dengan erat dan tidak mau melepaskannya.
Aku ingat dengan jelas bahwa dia berdiri di samping tempat tidurku dan mengatakan bahwa dia akan menemaniku.
"Apa kamu akan selalu bersamaku?"
"Ya."
Sebenarnya, aku tahu bahwa aku tidak boleh mempercayai kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Namun, jika aku bisa mengendalikan perasaanku.
Aku tidak akan mencintainya selama bertahun-tahun seperti ini.
7
Aku tidak pergi ke rumah sakit lagi untuk menjenguk Nathan.
Ketika dia bertanya tentang hal itu, aku mengatakan bahwa aku pulang ke rumah orang tuaku.
Luka di kepala Nathan tidak terlalu parah.
Dia sudah keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama beberapa hari.
Kebetulan, hari itu adalah Tahun Baru dan dia menjemputku untuk makan malam bersama di rumah orang tuanya.
Kebetulan, hari itu adalah Tahun Baru dan dia menjemputku untuk makan malam bersama di rumah orang tuanya.
Suasana di meja makan terasa sangat harmonis. Namun, aku merasa seperti ada tembok yang menghalangi kami semua.
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu terdengar.
Aku bereaksi lebih cepat dari Nathan dan segera pergi membuka pintu.
Tamu yang tak diundang berdiri di luar pintu.
Tamu itu adalah Martha.
8
Ketika aku masih tertegun, Nathan sudah mendekat dan berkata, "Bianca ...."
Saat Martha melihat Nathan yang ada di belakangku, air matanya mulai mengalir.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau hari ini kamu akan keluar dari rumah sakit? Apa kamu tahu betapa khawatirnya aku?"
Aku menoleh untuk melihat Nathan.
Dia berusaha untuk tetap tenang dan berdeman pelan.
Aku menoleh ke arahnya dan bertanya, "Siapa dia?"
Martha mendorongku dan buru-buru berlari ke arah Nathan.
Mertuaku yang duduk di meja makan juga melihat Martha. Aku melihat raut wajah Bibi Shinta tiba-tiba langsung berubah.
Paman Hendra yang duduk di sampingnya langsung memegang pundak Bibi Shinta.
"Dia putri temanku. Dulu dia berteman baik dengan Nathan."
Aku tersenyum dan tidak mengungkap kebohongannya.
Harusnya acara makan malam ini menjadi acara keluarga kami. Namun, entah bagaimana ada orang luar yang mengganggu jalannya acara tersebut.
Martha duduk di sebelah Nathan.
Di depan Bibi Shinta, dia terus memberikan makanan kepada Nathan dan bertingkah dengan penuh kasih sayang.
Ketika dia mengambil salah satu masakan dan hendak meletakkannya di piring Nathan, aku menghentikannya.
Saat itu, Nathan juga menaruh sepotong udang rebus di piring Martha.
Seperti yang disebutkan dalam postingan itu.
Makanan favorit wanita berinisial M itu adalah udang rebus.
Nathan tiba-tiba menyadari sesuatu dan juga menaruh sepotong udang rebus di piringku.
"Bianca, cobalah. Udangnya sangat enak."
Namun, aku tidak menyukainya.
Aku suka makanan pedas dan asin, hidangan tumis, dan barbekyu.
Aku tidak suka makanan yang direbus.
9
Aku menelepon temanku dan mengajaknya keluar untuk minum.
Ketika kami sedang minum bersama, Marcel menopang dagunya dan bertanya padaku.
"Ada apa? Apa kamu baru saja mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan?"
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Marcel juga tidak memaksaku untuk bercerita. Dia hanya duduk di sana dan menemaniku untuk minum.
Aku sudah mabuk berat dan tidak sadarkan diri. Jadi, Marcel menelepon Nathan untuk segera menjemputku.
Ketika melihat sosok Nathan, air mata mulai mengalir di wajahku
"Kamu sangat mirip dengan orang yang aku sukai."
"Aku sudah menyukainya sejak lama. Lama sekali. Sepuluh tahun."
Aku menunjukkan sebuah foto padanya. Foto itu adalah foto saat Nathan mengikuti perlombaan lari jarak jauh dan aku ingin memberinya air minum. Namun, ada terlalu banyak orang di sekitar. Meskipun aku tidak bisa memberikan air minum itu pada Nathan, kami berakhir dengan berfoto bersama.
Ketika aku berusia sepuluh tahun, Nathan datang untuk merayakan ulang tahunku. Dia mengenakan setelan jas kecil dan aku mengenakan gaun putri yang cantik.
Kami berdua berdiri berdampingan dan terlihat seperti pasangan.
"Aku berbohong padanya dan mengatakan bahwa aku menyukai foto ini karena dia terlihat sangat lucu. Tapi, apa aku harus mengatakan yang sebenarnya? Haruskah aku mengatakan bahwa aku menyukainya?"
"Tapi, dia tidak pernah menyadarinya."
Sepuluh tahun adalah waktu yang sangat lama.
"Aku mencintaimu."
Napas pria itu berembus di telingaku dan membawa kehangatan. Tiba-tiba, dia berbisik, "Bianca."
"Aku juga mencintaimu."
Nathan.
Kamu pembohong besar.
10
Aku terbangun dengan sakit kepala yang sangat menyiksa.
Nathan mendengar suara itu dan muncul di pintu kamar tidur. "Bianca, aku membuat sup penghilang mabuk untukmu."
Nathan memanfaatkan kesempatan itu untuk menundukkan kepalanya dan mencium dahiku. Dengan suara penuh kasih, dia berbisik di telingaku, "Tunggu aku pulang." Seperti saat pertama kali kami menikah.
Saat aku masih hanyut dalam lamunan, Nathan sudah pergi.
Tidak lama setelah dia pergi, ada panggilan telepon yang tidak kukenal masuk ke ponselku.
Telepon itu dari Martha yang memintaku untuk bertemu dengannya.
Martha tiba lebih awal dan menyapaku. Kemudian, dia menceritakan kisahnya dengan Nathan.
"Aku dan Nathan sudah bersama selama dua tahun. Dia selalu memperlakukanku dengan baik. Tapi, akhirnya ibunya mengetahui hubungan kami. Dia menggunakan upaya bunuh dirinya untuk memaksa Nathan agar meninggalkanku ...."
Martha berhenti sejenak dan suaranya tiba-tiba bergetar. "Dia meninggalkanku."
Pandangannya berpaling ke arahku dan suaranya tiba-tiba menjadi menyedihkan.
"Bisakah kamu mengembalikan Nathan padaku?"
"Apa kamu benar-benar mencintai Nathan?"
"Ya." Dia menjawab dengan penuh keyakinan.
Namun, aku tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, katakan padaku apa makanan favorit Nathan?"
Martha mematung di tempatnya dan mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun, dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Jika mereka berdua benar-benar saling mencintai satu sama lain.
Kenapa salah satunya menggebu-gebu, sementara yang lainnya tidak tahu apa-apa tentang yang lain?
Martha merasa agak kesal dan ekspresi lembutnya yang tadi ditunjukkan langsung menghilang.
"Kalau itu yang kamu inginkan, jangan salahkan aku kalau aku tidak bersikap sopan lagi padamu."
11
Martha adalah tipe orang yang suka bertindak.
Setelah selesai bekerja, Nathan pulang larut malam.
Aku mencium aroma buah persik yang pernah aku cium di tubuh Martha.
Aku meringkuk di sofa sambil menonton kartun ketika Nathan melepas sepatunya dan datang untuk memelukku.
Aku menghindar.
"Nathan."
Aku berkata dengan nada serius, "Aku selalu berpikir jika aku menikah, aku harus menikah dengan orang yang aku cintai."
Nathan tertawa dan membungkuk untuk mengangkatku dari sofa.
"Bianca."
"Aku sudah menikahi orang yang aku cintai."
Aku menundukkan pandanganku.
Dasar bohong!
12
Martha tidak menghilang dari hidupku.
Sebaliknya, dia malah makin berlebihan.
Ponsel Nathan berdering di tengah malam.
Aku terbangun dalam kebingungan.
Ketika aku membuka mataku, aku melihat Nathan sedang buru-buru berpakaian.
Dia langsung meminta maaf ketika melihatku terbangun. "Bianca maafkan aku sudah membangunkanmu. Aku ada urusan mendesak."
Namun, aku mendengarnya.
Suara yang terdengar dari panggilan telepon itu adalah suara Martha.
Suaranya pelan dan lembut. Dia menangis di depan rumah karena aku juga mendengar suara ketukan di pintu dan jendela.
"Aku sangat takut. Nathan, bisakah kamu menemaniku?"
Bahkan anak-anak pun tahu.
Ketika dihadapkan pada masalah yang sulit, mereka harus mencari bantuan dari polisi.
Namun, dia memilih mencari suami orang lain.
13
Ramalan cuaca mengatakan bahwa hari pertama musim penghujan tahun ini akan segera datang. Aku awalnya sudah membuat rencana untuk makan malam dengan Nathan.
Ketika aku pergi ke perusahaannya di siang hari untuk menemuinya, dia terlihat ragu untuk berbicara.
"Hari ini temanku pulang dari luar negeri. Kami sudah tidak bertemu selama beberapa tahun. Jadi, mungkin kita tidak bisa makan malam bersama malam ini ...."
Nathan tersenyum, tetapi aku merasakan ekspresi lega di wajahnya.
Meskipun sudah tidak bertemu selama beberapa tahun, aku dan Adam tidak canggung satu sama lain.
Pemanas ruangan di restoran sedang menyala secara maksimal.
Namun, tiba-tiba aku merasa seperti berada di dalam kulkas dan seluruh tubuhku terasa kaku.
Adam mengikuti arah pandanganku.
Ketika dia melihat pasangan yang sedang berciuman, ekspresinya langsung menjadi jelas dan dia tersenyum.
"Maaf kamu harus menemaniku dan melihat momen romantis seperti itu."
Aku menyaksikan pasangan mesra itu akhirnya berhenti berciuman dan berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan.
Setelah beberapa saat, aku mengatakan sesuatu kepada Adam.
"Itu suamiku."
14
Nathan mengirim pesan kepadaku ketika aku sedang berada di pesawat.
Aku baru melihatnya setelah aku turun dari pesawat.
Ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan yang belum dibaca di ponselku.
Dia pasti akan cemas jika tidak bisa menemukanku. Saat ini, aku sedang melakukan perjalanan bisnis secara mendadak.
Aku mengajukan permohonan perjalanan bisnis ini segera setelah berpisah dengan Adam. Aku sangat terburu-buru dan tidak mengepak barang bawaanku.
Aku baru akan pulang dalam waktu sepuluh hari atau setengah bulan.
Aku membalas pesan Nathan dan memberitahunya bahwa aku sedang melakukan perjalanan bisnis.
Reaksi Martha lebih cepat dari yang aku bayangkan.
Keesokan harinya, wanita itu mengirim pesan padaku.
Dia mengirim fotonya di depan cermin dengan tubuh yang dibungkus dengan handuk mandi.
Foto itu diambil di kamar mandi rumahnya.
Aku segera menyimpan foto itu tanpa ragu.
15
Proyek selesai dan waktu setengah bulan berlalu dengan sangat cepat. Hidupku berangsur-angsur kembali seperti semula.
Pada hari aku kembali ke negara ini, Nathan datang menjemputku di bandara.
Ketika aku hendak mengatakan sesuatu, ponsel Nathan tiba-tiba berdering.
Sepertinya dia tidak sengaja menekan tombol handsfree. Jadi, aku mendengar suara wanita itu.
"Aku sudah minum terlalu banyak di bar. Bisakah kamu menjemputku?"
Ketika aku mendongakkan kepalaku, aku melihat Nathan menatapku melalui kaca spion.
Ekspresinya terlihat sangat tegang saat dia berkata, "Maaf, aku ...."
"Kamu bisa pergi menjemputnya." Aku menyela penolakannya yang tak terucapkan.
Aku membuka pintu mobil dan langsung keluar. "Aku masih harus pergi ke kantor. Kamu bisa menjemputnya."
"Aku akan segera pulang setelah mengantarnya ... Apa yang kamu lakukan?"
Aku membereskan barang-barangku yang terakhir sebelum menjawabnya.
"Kita tidur di kamar terpisah."
"Akhir-akhir ini aku sering kesulitan tidur. Jadi, mulai sekarang kita tidur terpisah saja."
16
Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan selalu pulang larut malam.
Nathan akan menungguku dan lampu rumah akan tetap menyala sampai aku pulang.
Ketika dia melihatku masuk ke dalam rumah, dia akan bertanya, "Apa kamu lapar? Mau makan malam?"
Aku menggelengkan kepala.
Aku berjalan lurus melewatinya dan masuk ke kamar.
Aku bisa merasakan tatapan mata Nathan tertuju padaku.
Namun, aku tidak ingin menghabiskan energiku untuk memikirkan tentang hubungannya dengan Martha. Situasi ini berlanjut hingga aku dan Nathan menghadiri sebuah pesta dan pulang bersama.
Setelah pesta selesai, kami masuk ke dalam mobil.
Dia berdiam diri di tempatnya dan menatapku. "Bianca ... kenapa ... kamu tidak duduk di sampingku?"
"Aku tidak mau."
Kami tetap diam sepanjang perjalanan pulang.
Namun, tiba-tiba Nathan meraih tanganku.
"Kenapa kita jadi tidur di kamar terpisah begitu kamu pulang dari perjalanan bisnis itu? Kenapa kamu selalu pulang larut malam? Kenapa kamu berpura-pura mesra di depan orang lain tapi tidak mau berbicara denganku saat di rumah? Kenapa sepertinya kamu tidak mencintaiku lagi?"
"Apa kamu tidak mau mengatakan sesuatu padaku?"
Aku menatap mata Nathan dan balik bertanya padanya.
"Misalnya, ketika kamu mencium seseorang yang kamu sukai di tempat umum. Apa kamu akan bahagia selamanya?"
Wajah Nathan menjadi pucat pasi dan punggungnya mulai membungkuk. Setelah beberapa saat, dia berbicara dengan suara lirih, "Apa kamu melihat semuanya?"
"Nathan, pada hari ketika aku mabuk berat, aku mengatakan padamu bahwa aku sudah menyukaimu selama sepuluh tahun. Ketika kamu memelukku dan mengatakan bahwa kamu mencintaiku, apa perasaan itu sama seperti dua tahun lalu ketika kamu membalas pertanyaan seseorang dalam postingan yang kamu unggah bahwa kamu mencintai Martha?"
Aku tidak menunggunya menjawab.
Aku sudah tidak membutuhkan jawaban darinya sejak lama.
Nathan.
17
Aku tidak bercerai dengan Nathan.
Dia malah mulai memperlakukanku dengan lebih baik dan makin posesif terhadapku.
Dia menyiapkan sarapan sebelum pergi kerja dan menjemputku setelah pulang kerja. Dia membelikanku bunga, makanan favoritku, dan berbagai hadiah mewah yang aku suka.
Kadang-kadang, ketika Martha meneleponnya, dia akan segera menutupnya.
Suatu hari, Martha tiba-tiba datang menemuiku.
Tempatnya masih di kafe yang sama seperti terakhir kali kami bertemu.
Aku menyesap kopiku dan tersenyum padanya sambil berkata, "Aku tidak melakukan apa-apa."
Sebenarnya, aku hanya memberitahunya seberapa besar aku mencintainya.
Namun, saat itu aku sudah membuat keputusan. Kenapa aku harus bercerai dengan Nathan dan memberikan jalan bagi mereka berdua?
Kalau aku tidak bisa membuat Nathan mencintaiku, aku tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan Martha.
Bukankah lebih baik seperti itu?
"Bianca!"
"Dia tidak mencintaimu!"
"Dia mencintaiku! Akulah yang dia cintai!"
Martha kehilangan kesabarannya dan berteriak dengan marah kepadaku.
Aku meletakkan kopiku dan berdiri.
"Kalau begitu, yakinkan dia untuk menceraikanku."
"Bisakah kamu melakukannya?"
"Martha."
18
Nathan mengajakku berkencan di Hari Valentine.
Aku menyetujuinya. Namun, aku yang memilih tempatnya. Kami berkencan di restoran yang sama saat Nathan bertemu dengan Martha.
Ketika Nathan tiba di restoran itu, ekspresinya terlihat sangat kaku. Namun, dia segera menyembunyikannya.
Kemudian, dia meletakkan kotak hadiah di atas meja.
"Aku melihat ini dan berpikir sepertinya akan sangat cocok untukmu."
Aku membuka kotak hadiah itu dan menemukan kalung berlian merah muda yang sangat mahal di dalamnya.
Aku tidak menyiapkan hadiah apa-apa untuknya.
Nathan tersenyum dan berkata dengan nada penuh kebahagiaan, "Bisa bersamamu hari ini adalah hadiah terbaik untukku ...."
Kata-katanya tenggelam dalam siraman anggur merah yang tiba-tiba.
Kemeja putihnya terkena noda dan tetes cairan merah dari rambutnya jatuh ke meja. Aku menyalakan kamera ponselku dan mengarahkannya ke Nathan.
"Nathan!"
Martha membanting gelas anggur ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Suaranya terdengar sangat keras dan penuh keputusasaan.
"Kenapa kamu menghabiskan Hari Valentine bersamanya?"
"Kenapa kamu tidak membalas pesanku?"
"Apa kamu sudah berubah pikiran? Apa kamu … apa kamu …."
"Aku benar-benar jatuh cinta padanya!"
"Maafkan aku." Nathan mengabaikan Martha dan menatapku. "Bianca, aku sudah melakukan kesalahan."
Martha tiba-tiba menoleh padaku dan berteriak, "Kamu sengaja melakukannya!"
Dia terlihat makin marah dan tidak terkendali. Seketika itu juga, dia mengambil botol anggur dari meja dan hendak melemparkannya ke arahku.
Namun, seseorang langsung berdiri di depanku.
Suara tumpul dari benda berat yang menghantam tubuh seseorang terdengar sangat mengerikan.
Nathan memelukku dengan erat.
Dia berbalik dengan cepat dan langsung menampar Martha.
"Martha, aku tidak mengubah pikiranku. Dia adalah istriku!"
19
Saat berdiri di ambang pintu sambil menunggu bus, Nathan meminta maaf kepadaku.
"Bianca, maafkan aku. Aku mengajakmu keluar, tapi sesuatu yang tidak menyenangkan malah terjadi. Bagaimana kalau besok kita pergi lagi?"
"Besok aku sibuk."
Aku mematikan video yang sedang aku tonton.
Ketika aku mendongakkan kepalaku, aku menyadari bahwa Nathan sudah menatapku.
Suaranya bergetar dan terbata-bata.
"Kenapa … kenapa kamu tidak marah padaku?"
Aku sudah mengenal Nathan selama lebih dari 20 tahun.
Aku sudah mengejarnya selama lebih dari sepuluh tahun.
Dia selalu bersikap lembut, tenang, dan bisa menguasai dirinya.
"Kenapa kamu tidak menyalahkanku? Kamu bisa memarahiku, memukulku, atau bertengkar denganku."
"Tapi, jangan memintaku untuk ...."
Dia memelukku dengan sangat erat.
Napasnya yang panas berembus di leherku.
Namun, aku hanya diam dan terlihat seperti boneka kayu.
20
Keesokan harinya, Nathan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia bangun pagi buta dan membuatkan sarapan untukku.
Namun, aku sudah terlambat dan tidak punya waktu untuk sarapan. Setelah aku tiba di kantor, dia memesan makanan untukku.
Ketika Nathan pulang bekerja, dia langsung datang menjemputku.
Seolah-olah dia tidak memiliki pekerjaan.
Kemudian, Nathan memberiku sebotol jus buah pir.
"Aku lihat dari kemarin kamu batuk-batuk terus."
"Terima kasih."
Aku mengambilnya dan meletakkannya begitu saja di dekat pintu mobil.
Setelah beberapa saat, akhirnya aku mendengarnya berbicara.
"Bianca, karena kamu tidak mengatakan bahwa pernikahan kita hanya sebuah kepentingan semata, apa itu artinya kamu masih peduli padaku?"
"Kamu salah."
Aku menjawab dengan senyuman.
Cintaku pada Nathan sudah lenyap sejak hari di mana aku selesai membaca postingan itu.
Namun, pernikahan karena kepentingan ini akan tetap aku pertahankan karena ada banyak hal menguntungkan yang akan aku terima.
Pada akhirnya, selama aku tidak memiliki perasaan untuk orang lain, pernikahanku dengan Nathan akan memberikan lebih banyak manfaat untukku.
Koneksi dan sumber daya yang bisa diberikan oleh Nathan adalah alasan mengapa aku tetap bertahan.
"Aku hanya memanfaatkan situasi ini dengan sebaik mungkin. Nathan, apa kamu tidak sadar kalau pernikahan kita sudah lama kehilangan cintanya?"
21
Perasaan memang tidak bisa dikendalikan.
Tidak masuk akal untuk terus mempertahankannya setelah rasa sakit yang ditimbulkan.
Rasa cintaku padaku Nathan yang sudah kusimpan selama sepuluh tahun bukanlah perasaan palsu.
Namun, hanya aku yang bisa mengerti perasaanku sendiri.
Aku seharusnya mencintai diriku sendiri lebih dari pasanganku.
Jika aku benar-benar mencintainya sampai kehilangan akal sehat seperti ini.
Aku akan memilih masa depanku sendiri saat pergi ke luar negeri.
Cinta memang penuh dengan rintangan dan cobaan. Namun, aku akan selalu memiliki keberanian untuk mencintai lagi dan bertekad untuk tidak menoleh ke belakang.
Bagaimanapun, aku akan selalu mencintai diriku sendiri lebih dari orang lain.