"apapun yang terjadi aku akan mempertahankannya" ucap bunga dalam isak tangisnya "baik-baik diperut mama ya nak" lanjutnya seraya mengusap perut buncitnya.
Bunga nama sapaan nya, seorang gadis cantik berambut ikal yang seharusnya sekarang duduk didepan meja belajar dan membaca buku pelajaran nya karna akan menghadapi ujian akhir semester. tapi sekarang ia hanya bisa menangis menahan sakit di dalam dada.
Bagaimana tidak ? dia telah mengandung buah hati atas perbuatan nya dengan kekasihnya.
"maafin aku nga" ucap Leo setelah mereka selesai dengan pelepasan nya
"ssstt ini bukan salahmu kita sama-sama mau" ujar Bunga. mereka telah melampaui batas wajar dan mereka sadar itu tapi nafsu telah menggerogoti hati masing-masing sehingga pertahanan itu jebol.
wait ? mereka masih kelas 2 Smk dan mereka lupa pakai pengaman.
"Leo ada yang mau aku omongin" Bunga menghampiri Leo yang sedang berkumpul dengan temannya di depan kelas
"kenapa sayang?" . Alih-alih menjawab bunga malah menarik tangan Leo menjauh dari teman-temannya. tanpa berkata lagi Bunga menyodorkan sesuatu pada Leo
"ini apa?" Bunga diam tak menjawab nya dan Leo dia sebenarnya tau apa yang Bunga berikan untuknya
"Bunga plis jawab" ucap Leo mengguncang kasar pundak Bunga
"a.. aku.. aku hamil Leo" Bunga tak sanggup menahan airmatanya jatuh. "shittt bukkk" tangan Leo menjotos tembok dan meninggalkan memar ditangan nya.
"gugurin nga" bentak Leo. Bunga menatap Leo dengan mata tajam
"tega kamu Leo.. ini darah daging mu. berani berbuat harus berani tanggung jawab. dan ini konsekoensinya" Bunga pergi meninggalkan Leo.
Kepala Leo serasa ingin pecah mengingat apa yang tadi Bunga katakan disekolah. Hamil ? Mengandung ? Anak Leo ? apa ? arghhh Leo berteriak frustasi didalam kamarnya.
"apa jadinya kalo papa sama mama tau aku ngehamilin anak orang" gumannya dalam hati. benar-benar dibuat kacau pikiran Leo hari ini tapi biar bagaimanapun Leo adalah ayah dari anak itu dia harus bertanggungjawab atas perbuatan nya.
Sementara itu dirumah Bunga dia tidak bisa memakan semua makanan dirumahnya gimana mau makan lihat makanan saja rasanya ingin muntah.
"kenapa ngga makan sayang?" tanya mama Mirna mendekati Bunga mengelus lembut rambutnya seperti memiliki insting yang kuat ia dapat merasakan kalau Bunga sedang ada apa-apa.
"ma" Bunga menenggelamkan wajahnya pada perut mamanya
"ayo crita" mama mirna meraih wajah Bunga yang sudah basah dengan airmatanya
"kalau Bunga ada salah mama mau maafin nggak ?" bunga mencembik matanya menahan airmata yang akan jatuh
"semua orang pasti pernah melakukan kesalahan nak, dan semua orang berhak mendapat maaf. ayo coba jelaskan sama mama ada apa ?" tanya mama mirna lembut.
Bunga meraih tangan mama mirna membawanya ke perut nya. Mama mirna kebingungan atas perlakuan anaknya tapi ia mencoba untuk menelaahnya.
"bunga kamu tidak sedang mengandung kan?" tanya mama mirna seraya menahan tangisnya yang sudah akan pecah.
"maafin bunga mah" tangis keduanya pun pecah
"kamu ngga salah sayang.. mama yang salah. harusnya mama kasih perhatian lebih ke kamu harusnya mama batasi pergaulanmu" mama mirna tetep memeluk erat anaknya dia tau bunga saat ini sedang kacau hatinya sedang terpuruk hanya pelukan yang dia butuh sekarang
"Leo nyuruh bunga gugurin ini mah"
"enggak. kamu nggak boleh gugurin" ucap mama mirna mengusap perut bunga "kita harus membesarkannya" lanjut mama mirna.
"Ya Tuhan kenapa anak ku memiliki nasib yang sama seperti ku dulu" ucap mama mirna dalam hatinya.
Ya mama mirna membesarkan bunga seorang diri karna kehamilannya tidak diinginkan oleh lelaki yang menidurinya bahkan keluarganya. dan sekarang anaknya harus mengalami nasib yang sama sepertinya. tapi dia tidak akan membiarkan bunga membesarkan nya sendiri.
percakapan ibu dan anak itu berakhir ketika mama mirna mengajak bunga untuk merawatnya bersama jika leo tidak menginginkan anak itu.
Berita tentang kehamilan Bunga sudah beredar luas di sekolah dan membuat bunga dikucilkan dan digunjing bahkan yang paling parah sekarang dia harus dropout dari sekolahnya.
"kenapa cuma anak saya yang dikelurakan pak? kenapa dia tidak?" bentak mama mirna dia marah-marah sebab hanya bunga yang dikeluarkan dari sekolah.
"maaf bu.. tapi..."
"ma udah ma ayo pulang" tarik bunga dia tidak ingin melihat keributan lagi disini dia sudah cukup penat dengan keputusan ini dia ingin segera pulang dan menenggelamkan kepalanya pada bantal yang empuk untuk sekedar meluapkan tangisannya. melewati deretan para siswa yang menatap sinis adalah rintangan terberatnya pasalnya bukan hanya tatapan tapi juga ocehan dan cacian yang akan ia dengarkan.
plakkkk "dasar anak nggak tau diri" satu tamparan mendarat dipipi leo papanya murka ketika tau anaknya menghamili anak gadis orang
"bodoh kamu. gimana bisa kamu menghamilinya ? mau bikin papa malu ? kamu tu masih kelas 2 smk leo tau diri tau batasan kalau pacaran" umpat papa wijaya
pasalnya leo terkenal anak baik dan tidak nakal tapi ternyata dia telah melewati batas wajar pacaran. mama siska syok begitu mendengar leo menghamili pacarnya dia jatuh pingsan ketika itu juga.
hueg..hueg.. bunga menunduk di atas wastafel berusaha mengeluarkan isi dalam perutnya tapi tidak ada apapun selain cairan bening yang keluar. Hingga ia merasakan panas pada hidung dan tenggorokannya.
"bunga" teriak mama Mirna dari arah belakang karna mendengar anaknya muntah muntah dikamarmandi
Bunga menoleh kebelakang dan memeluk mama nya "kenapa gini sih ma" rengek Bunga "kenapa bunga mual setiap melihat makanan.. Bunga laper mah pengen makan" ulangnya lagi.
mama Maria merangkul bunga membawanya ke meja makan "emang gini sayang kalau hamil muda. Dulu pas mama hamil kamu juga gini malah lebih parah dari ini" ucap mama Maria "tapi kamu harus kuat demi dia ya" tambah mama Maria mengusap lembut perut Bunga.
Drtt drttt
Ponsel Bunga berdering "Leo" gumannya
"hallo Bunga" ucap Leo dari seberang sana. "hallo .. Bunga" ulangnya lagi saat merasa tidak ada jawaban dari Bunga. Masih hening
"ha. hallo" jawab Bunga terbata-bata
"aku pengen ketemu kamu.. boleh ?" tanya Leo pelan dia takut kalau kalau Bunga akan marah-marah padanya
"dimana?"
"cafe xorn tempat biasa kita makan.. bisa ?" tanya Leo lagi
"iya" jawab Bunga singkat lalu mematikan sambungan telponnya.
Kemudian Bunga bersiap-siap pergi mengenakan rok dengan sweeter longgar agar perut buncitnya tidak terlihat oleh orang.
"maafkan aku Bunga" ucap Leo memelas saat mereka sudah duduk berhadapan di meja cafe "bukan aku lari dari kenyataan.. aku hanya syok saja aku masih belom cukup umur untuk menjadi seorang ayah" imbuhnya
"kamu pikir aku cukup umur untuk menjadi seorang ibu ?" ucap Bunga airmata nya mulai berlinang "kamu pikir aku nggak syok ? sekarang aku berbadan dua Leo.. setiap pagi aku harus merasakan mual dan muntah kaki dan badan ku bengkak.. bahkan aku harus mengubur mimipi ku dalam-dalam untuk menjadi seorang pramugari.. kamu pikir hanya kamu yang syok ? aku jauh lebih terpuruk Leo aku dikeluarkan dari sekolah dan kamu tidak" pecah sudah tangisan Bunga.
"Bunga plis aku akan tanggungjawab dengan mu dan anak yang kau kandung.. tapi tunggu aku sampai nisa meyakinkan orangtua ku agar bisa menerima kamu" Jelas Leo
"sampai kapan ? sampai bayi ini lahir atau sampai bayi ini tumbuh dewas ? ha ??" bentak Bunga denga frustasi menjadikan mereka sorotan bagi pengunjung lainnya
"enggak enggak bunga akan secepatnya kamu sabar ya" ucap Leo kini ia meraih tangan Bunga dan menggegamnya mencoba agar Bunga bisa sedikit lebih tenang.
"enggak pa .. biar bagaimana pun juga anak yang dikandung Bunga adalah anak ku juga yang artinya itu cucu papa" Leo mencoba menjelaskan niat nya untuk menikahi Bunga namun ditentang keras oleh Papa nya
"cuihhhh aku tak akan pernah mengakuinya sebagai cucu ku" bentak papa wijaya.
Namun Leo tetap bersikeras untuk menikahi dan bertanggung jawab atas kehamilan Bunga. Meski papa nya mengancam tidak akan memberi sepeserpun harta untuknya tapi Leo tetap akan pada keputusannya.
"gimana dok? sehat kan bayinya ?" Tanya mama Mirna pada dokter saat mengantar Bunga periksa kehamilannya
"iya.. usia ny sudah memasuki bulan ke 4 ya bu.. dijaga ya kandungannya. banyak makan sayur dan minum susu hamilnya. saya buatkan resep vitamin untuk ditebus ya bu" jelas Dokter Amira pada mereka "ngomong ngomong ini ayahnya kemana ? setiap kesini nggak pernah ikut nganterin ?" lanjut dokter Amira bertanya "o..ohh.. maaf ya Bunga" imbuh dokter Amira setalah dia paham apa yang terjadi karna tidak ada jawaban dari mereka sudah bisa dipastikan ini kecelakaan.
Hari demi hari berganti dan benar Leo bertanggungjawab atas anak yang dikandung Bunga setiap pulang sekolah Leo kerumah Bunga sekedar ingin tahu gimana keadaannya atau memijit kakinya dan menanyakan Bunga ngidam apa. Meski belom dinikahi tapi Leo sudah memberikan perhatiannya pada Bunga.
"aw aw" eluh Bunga ketika hendak turun dari ranjang tempat tidurnya
"Bunga .. kenapa ? mau melahirkan ?" Tanya Leo panik saat melihat Bunga mengaduh kesakitan
"perut ku kaku Leo" ucap Bunga meringis serasa menahan perutnya
"terus aku harus gimana ? aku telfon dokter ya"
"nggak usah Leo.. boleh minta tolong usap-usap perut ku aja"
Tanpa aba-aba lagi Leo mendekat dan mengusap lembut perut Bunga
"Bunga.. bayi kita gerak" ucao Leo berbinar saat meraskan ada yang bergerak dari dalam perut Bunga ketika dia mengusap perutnya
"iya Leo .. anak kita lagi main bola didalem" ucap Bunga tertawa kecil.
"aku nggak pernah tau kalo dia bisa nendang gitu" ucap Leo dengan polosnya
"dia ada dan dia hidup Leo.. kamu bisa merasakannya kan? gimana senengnya dia pas kamu usap"
Mereka berdua tertawa kecil dengan mata berbinar dan pandangan tak lepas dari keduanya, semakin lama semakin mendekat dan memiringkan kepalanya.
ceklekk suara pintu kamar terbuka
"Leo sudah malam kamu nggak pulang" tanya mama Mirna yang hampir saja memergoki mereka
"iya tante .. ini tadi mau pulang tapi kata Bunga perutnya kaku jadi saya bantuin usapin perutnya" jelas Leo pada mama Mirna "hufft hampir saja" lanjut Leo dalam hatinya
Leo pulang dan membawa foto hasil USG kandungan Bunga yang sudah memasuki usia 6 bulan
"ma liat ini calon cucu mama" ucap Leo seraya memberikan foto usg nya
"Leo" ucap mama siska memeluk Leo "kamu beneran akan jadi ayah di usia yang sangat muda ini" imbuh mama Siska
"ma.. bolehkan Leo menikahi Bunga, Leo merasa bahagia ketika ada didekat mereka ma.. apalagi dia slalu nendang kalau Leo usap perut Bunga ma, dia aktif banget ma Leo yakin dia pasti laki-laki" jelas Leo berusaha meyakinkan mamanya akan pernikahannya.
"papa tidak akan pernah setuju" bentak papa Wijaya dari dalam saat mendengar percakapan istrinya dengan anaknya.
"pa.. biarkan Leo bertanggungjawab atas perbuatannya" ucap mama Siska mendekati suaminya berharap agar suaminya mau menyetujuinya
"tidak ya tidak ma.. mama mau punya menantu anak dari wanita jalang itu"
"pa.. yang jalang ibunya bukan Bunga"
"alahhh sama saja" ucap papa Wijaya menghempaskan pegangan tangan istrinya
"Pa.. Leo sudah melakukan kesalahan biarkan Leo bertanggung jawab. Mau seperti apapun asal usul keluarga nya, dia tetap berhak mendapat pertanggungjawaban dari Leo pa. anak yang dikandungnya adalah anak Leo yang artinya cucu papa. kalau Papa ngga suka sama Ibunya setidaknya papa bisa menerima cucu papa .. dia tidak bersalah pa dia hanya korban dari kesalahan Leo dan Bunga biarkan mereka berdua membesarkan anak itu bersama pa" kali ini Luvia anak sulung dari Papa Wijaya dan Mama Siska angkat bicara karna sudah bosan dengan pertengkaran seperti ini dirumahnya. Luvia sebenarnya sudah menikah dan menetap di Jerman tapi mendengar kabar bahwa adiknya menghamili orang maka dia cepat cepat pulang untuk mengetahui semuanya. Papa Wijaya memang terkenal garang dan keras tapi beda halnya ketika sudah Luvia yang berbicara padanya, entah sihir apa tapi setiap ucapan yang Luvia lontarkan selalu mencairkan gunung es dihati Papa Wijaya. Yang akhirnya menyetujui pernikahan Leo dan Bunga tapi dilaksanakan setelah Leo lulus sekolah, dan menjamin semua biaya persalinan Bunga serta mencukupi semua keperluan Bunga untuk menyiapakan kelahiran putra nya.
Setelah merasa tugas Luvia sudah selesai dia memutuskan kembali ke Jerman karna tak mungkin meninggalkan suami dan anaknya terlalu lama, dan akan kembali ke Indonesia saat pernikahan Leo dan Bunga diselenggarakan.
"makasih Leo .. kamu sudah meyakinkan orangtua mu tentang kita" ucap Bunga seraya memeluk Leo dan menyenderkan kepalanya pada dada Leo
"itu udah tanggungjawab ku kan" ucap lembut Leo mengelus rambut Bunga
"aku bahagia sekali akhirnya bisa merasakan ini .. sebentar lagi kita akan menjadi orangtua dan sebentar lagi juga kita akan menikah"
"aku lebih bahagia" pelukan kedua nya semakin erat "jaga anak kita baik-baik disini ya" imbuh Leo mengusap lembut perut Bunga yang semakin membuncit.
"kata dokter Amira sesekali ditengok gapapa kan Bunga ? asal pelan pelan" otak mesum Leo mulai kembali
"ishhh kamu mah" memukul pelan lengan Leo
"kita udah lama Bunga.. yuk"
Tanpa aba-aba mereka langsung keruntelan didalam selimut tebal dikamar Bunga entah apa yang mereka lakukan hanya mereka yang tau.
~The End~