Setelah lima tahun berpacaran, aku melihat pesan Facebook di ponsel pacarku. "Kalau kamu tidak punya pacar, apakah kamu akan menyukaiku?"
Dia membalas dengan satu kata: "Ya."
Aku memperlihatkan catatan obrolan tersebut padanya.
Ada keheningan sesaat. Dia lantas mematikan puntung rokoknya.
"Sudah kubilang dia hanya rekan kerja. Aku berjanji tidak akan ada apa-apa di antara kami di masa depan. Apa ini masih belum cukup?"
Ketika dia mengucapkan kata-kata tersebut, ekspresinya datar. Namun, rasa bersalah dalam suaranya tidak dapat disembunyikan.
Pada saat itu, aku menyadari bahwa aku tidak lagi mengenali pria ini.
1
Dalam keadaan setengah tertidur, aku mendengar seseorang membuka pintu dan perlahan berjalan ke tempat tidur.
Ketika bibirnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibirku, dia tiba-tiba menoleh seolah menghindari ciumanku.
Aku berpikir dia mungkin terlalu sibuk hingga dia bahkan tidak sempat makan. Jadi, kecanggungan dan kekecewaan sebelumnya langsung terlupakan.
Aku mencari ponselku dan memutuskan untuk memesan makanan untuknya.
Saat aku berbalik, aku mendapati ponsel Aldo yang tergeletak di samping bantal.
Tanpa banyak berpikir, aku mengambilnya. Aku memilih restoran yang sering dia kunjungi untuk memesan semangkuk mie kaldu tulang.
Tiba-tiba, sebuah pesan Facebook muncul di layar. "Obat pereda nyeri ini sangat efektif, terima kasih."
Aku terkejut. Jariku tergantung di atas layar cukup lama sebelum akhirnya mengetuknya.
Aldo: [Saat kamu pergi tadi, wajahmu kelihatan pucat]
Aldo: [Aku sudah menyelesaikan programnya.]
Tidak lama kemudian, Aldo bertanya lagi. [Apa kamu baik-baik saja?]
Lima menit kemudian, Aldo mengirim pesan lagi: [Aku membelikanmu sesuatu. Ingatlah agar menjaga badanmu tetap sehat di cuaca hari-hari ini.]
Aldo tidak memberikan nama khusus untuknya. Akan tetapi, berdasarkan foto profil dan isi percakapan, jelas terlihat.
Namanya adalah Elina.
2
Pertama kali aku mendengar nama Elina adalah sebulan yang lalu.
Hari itu, Aldo menemaniku menonton film. Akan tetapi, di pertengahan film, aku melihat dia tampak tidak fokus.
Aku menatapnya dan ragu-ragu sejenak sebelum bertanya, "Apa yang kamu lihat?"
Aldo masih menunduk. Suaranya terdengar mengandung senyuman. "Elina."
Suasana menjadi tegang.
Setelah saling menatap selama dua detik, dia menyerahkan ponselnya kepadaku dan menjelaskan dengan wajah serius.
"Elina adalah rekan kerja baru di perusahaan. Dia sangat berdedikasi dalam bekerja. Aku hanya menganggapnya sebagai junior yang bisa aku bimbing."
Aku menatap layar ponselnya dengan tajam.
Aldo menggenggam tanganku dengan erat. Kehangatan sentuhannya jelas terasa. Suaranya juga tetap lembut seperti biasa. "Nara, percayalah padaku."
Aku menatapnya cukup lama. Dia terlihat tenang, tidak seperti sedang berbohong.
Kami tidak saling bicara sampai film berakhir.
Ternyata, semuanya sudah ada tanda-tandanya sejak lama.
3
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
"Kamu memeriksa ponselku?"
Aku hendak berbicara, tetapi tak tahan dengan gatal di tenggorokan. Aku menutupi bibirku dan terbatuk pelan.
Aldo menatapku sejenak sebelum bertanya dengan ragu, "Apa kamu sedang pilek?"
Aku memiliki daya tahan tubuh yang lemah sejak masih kecil. Kalau aku tidak berhati-hati, bahkan kelalaian sekecil apa pun dapat menyebabkan pilek dan demam yang parah.
Selama lima tahun bersama Aldo, setiap hari dia akan selalu memeriksa perkiraan cuaca. Mengingatkan aku untuk membawa payung, membujukku pergi ke pusat kebugaran, atau segala macam tindakan pencegahan.
"Aku tidak mau kamu sakit, bahkan pilek pun tidak boleh."
Namun, belakangan ini, Aldo dan aku terjebak dalam perang dingin yang tidak dapat dijelaskan. Jadi, tampaknya dia sama sekali tidak menyadari perubahan ini.
"Belakangan ini pekerjaanku terlalu sibuk. Jadi, aku tidak menyadarinya." Suara Aldo menyadarkanku dari lamunan.
"Aku benar-benar tidak ada hubungan apa pun dengan Elina."
Dia mengeluarkan sebatang rokok dari laci dan menyalakannya. Suaranya terdengar lelah.
Aku tetap diam dan hanya memperlihatkan catatan obrolan yang baru saja aku temukan.
Elina mengirim pesan Facebook ke Aldo di tengah malam.
[Kalau kamu tidak punya pacar, apakah kamu akan menyukaiku?]
Aldo membalas hanya dengan satu kata: [Ya.]
"Sudah kubilang dia hanya rekan kerja. Aku berjanji tidak akan ada apa-apa di antara kami di masa depan. Apa ini masih belum cukup?"
Ketika dia mengucapkan kata-kata tersebut, ekspresinya datar. Namun, rasa bersalah dalam suaranya tidak dapat disembunyikan.
Pada saat itu, aku menyadari bahwa aku tidak lagi mengenali pria ini.
6
Sebuah pesan muncul. Pesan tersebut dari Elina yang bertanya apakah dia sudah makan.
Sesaat kemudian, dia mengirim pesan lagi.
[Aku kira kamu pasti belum makan. Aku memesan semangkuk mie kaldu tulang untukmu. Ini dari tempat yang sama seperti yang aku ajak terakhir kali, loh.]
Sebenarnya, Aldo tidak terlalu suka makan mie.
Ketika dia masih kecil, kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit. Ayahnya meninggal saat dia masih kecil, sedangkan ibunya bekerja keras di kota lain. Sering kali ibunya meninggalkan dia di rumah sendirian tanpa makanan yang cukup.
Pada suatu waktu, aku pergi ke rumahnya untuk membawakan sesuatu. Begitu aku masuk, aku melihatnya duduk di bangku. Kepalanya menunduk sambil makan mie polos dengan kuah bening tanpa sayuran.
Ibuku selalu menginginkan seorang anak laki-laki, tetapi dia mengalami masalah kesehatan saat melahirkan. Dokter mengatakan akan sulit baginya untuk hamil di masa depan.
Itu sebabnya ibuku selalu tidak menyukaiku.
Selama hari-hari yang penuh keputusasaan dan kesepian, Aldo dan aku saling menemani. Menghibur satu sama lain hingga kami perlahan-lahan melewatinya.
Setelah kami bersama, aku menyadari kalau Aldo belum pernah makan mie sebelumnya.
Pada awalnya, aku bercanda dengan bertanya kenapa dia tiba-tiba mulai menyukai mie.
Dia menjawab dengan santai. "Tidak ada alasan khusus, aku cuma ingin memakannya."
Pada saat itu, aku merasa lega. Aku mengira dia benar-benar sudah melupakan masa lalu.
Namun, ternyata itu karena gadis lain.
6
Aku putus dengan Aldo.
Saat aku menarik ritsleting koper, tiba-tiba Aldo meraih pergelangan tanganku.
"Nara, apakah kamu benar-benar akan pergi?"
Dulu aku suka cara Aldo melihatku yang lembut, penuh perhatian, dan hanya fokus kepadaku.
Pada tahun kedua kuliahku, teman sekamarku dan aku berencana pergi ke Vinas. Akan tetapi, temanku mendadak membatalkannya karena sesuatu hal yang tak terduga.
Oleh karena itu, aku memutuskan pergi sendirian.
Pada hari kedua setelah tiba di Vinas, aku pergi mendaki gunung.
Pada saat cahaya matahari samar-samar muncul di antara pegunungan yang berkabut, aku melihat wajah yang akrab.
Itu adalah Aldo.
Wajah dan telinganya merah karena kedinginan. Selain itu, suaranya agak gemetar.
"Aku melihat di statusmu kalau kamu datang sendirian ke Vinas untuk melihat matahari terbit. Aku khawatir. Jadi, aku bergegas kembali lebih awal."
"Aku ingin menemani kamu melihatnya."
Sekitar tengah malam, aku selesai mengemas barang-barangku. Aku pun terlentang di tempat tidur karena merasa lelah.
Ketika aku membuka ponselku, aku mendapat permintaan pertemanan: [Aku adalah Elina.]
Aku membuka statusnya.
Foto pertama adalah swafotonya dengan semangkuk mie kaldu tulang yang masih mengepul di atas meja di belakangnya.
Foto kedua juga adalah mangkuk mie kaldu tulang dengan latar belakang yang akrab.
Keterangan Elina adalah: [Haha, makan mie dengan seseorang! (Ini adalah postingan status yang hanya terlihat oleh seseorang)]
Di bawahnya, Aldo menyukai postingan tersebut.
6
Aku menarik koper dan langsung pergi.
Saat aku membuka pintu, Aldo meraih tanganku.
Dia memiliki ekspresi meremehkan, menatapku dengan suara yang tidak sabar. "Apakah kamu belum selesai membuat keributan?"
Saat kami bertengkar, jam tangan abu-abu terlihat di pergelangan tangan Aldo.
Pada ulang tahun Aldo bulan lalu, aku membeli jam tangan perak sebagai hadiah untuknya. Namun, ternyata dia sudah memiliki jam abu-abu.
Aku menatapnya sejenak hingga akhirnya teringat sesuatu. Aku bertanya kepada Aldo, "Apakah jam tangan di tanganmu adalah hadiah dari dia?"
Aldo tetap diam.
Setelah sekian lama, akhirnya dia berkata, "Nara, ini hanya jam tangan biasa."
Aku tidak ingin berkata apa-apa lagi kepadanya. Aku mengambil ponselku. Namun, sebelum aku menghubungi seseorang, Zidan sudah tiba.
Zidan Mahardika adalah adik laki-lakiku yang lima tahun lebih muda dariku.
Ibuku tidak pernah menyerah untuk memiliki seorang putra. Baru pada saat aku berusia lima tahun, ibuku akhirnya hamil lagi.
Selama bertahun-tahun, ibuku hanya mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada adikku. Sementara terhadapku, ibu masih bersikap dingin. Namun, hubunganku dengan adikku tetap baik.
"Hanya satu koper saja?" Zidan menggaruk kepalanya, terlihat ragu-ragu.
"Iya."
"Oh …." Zidan dengan tatapan ragu-ragu. "Aku pikir biasanya para gadis pindahan dengan banyak koper. Jadi, aku memanggil Revan juga untuk membantuku membawakan koper ."
Aku terkejut. "Revan?"
7
Revan Anggara adalah teman sekelasku di SMA. Dia terkenal sebagai anak pintar di angkatan kami.
Namun, dia memiliki kepribadian yang dingin, sementara aku cenderung pendiam. Jadi, meskipun kami duduk sebangku, kami hampir tidak pernah berbicara.
Ketika kami pulang ke rumah, sudah pukul dua siang.
Revan mengantarkan kami sampai di bawah apartemen. Dia tidak mampir dan langsung kembali ke perusahaannya.
Saat aku hendak kembali ke kamar, aku mendengar ibuku bertanya dengan suara marah, "Kenapa kamu putus dengan Aldo?"
Aku perlahan naik tanpa menanggapi.
"Aldo sudah memberi tahuku semuanya. Rekan kerja wanitanya hanya memberinya jam tangan. Dia tidak berselingkuh. Kenapa kamu membuat keributan tentang hal ini?"
Ibu melirikku. Kepalanya tampak menunduk, masih melanjutkan merajut.
"Sekalipun kamu tidak memikirkan dirimu sendiri, kamu harus memikirkan adikmu. Ibu Aldo, dengan semua sumber daya yang dia punya, masa depan adikmu ...."
Aku tidak tahu bagaimana aku dapat kembali ke kamar. Lampu kamar tidak menyala sehingga gelap gulita.
Seseorang memelukku dengan lembut, keningnya menempel di pundakku. Tangisan teredam dalam kegelapan yang sunyi terdengar sangat jelas. "Kak, maafkan aku ...."
"Aku tidak mengerti kenapa Ibu melakukan ini. Kita berdua adalah anak-anaknya, setidaknya ...."
Aku berbalik untuk melihatnya.
Air mata mengalir di wajahnya sehingga matanya merah.
"Aku menyewa sebuah rumah. Aku baru saja menandatangani kontrak. Awalnya, aku berencana tinggal di sana sendirian. Tapi, kamu bisa pergi dan tinggal di sana terlebih dahulu."
Akhirnya, aku mendengarnya berkata dengan tegas.
"Masa depanmu adalah milikmu. Aku akan bertanggung jawab atas masa depanku sendiri. Kamu tidak perlu melakukan apa pun yang tidak kamu inginkan demi aku atau siapa pun."
"Kak, besok aku akan membantumu pindah."
8
Keesokan paginya, setelah berkemas, aku membawa koper yang sama seperti kemarin. Kemudian, aku bersama Zidan naik ke taksi yang sudah kami pesan sejak pagi.
Selama perjalanan, Aldo meneleponku beberapa kali. Dia juga mengirim puluhan pesan Facebook yang menanyakan di mana keberadaanku sekarang.
Aku hanya membalas: [Kita sudah putus.]
Aldo butuh waktu lama untuk membalas. "Nara, aku tidak setuju."
Aku langsung memblokir semua kontaknya.
Ketika aku membuat reservasi restoran menggunakan ponsel, aku berpikir sejenak. Akhirnya, aku meminta Zidan mengundang Revan makan sebagai tanda terima kasih karena telah membantuku pindah kemarin.
Saat kami sedang makan, tiba-tiba terdengar suara piano di dalam restoran.
Ternyata, ada panggung besar di tengah restoran yang menempatkan sebuah piano putih.
Seorang gadis sedang bermain piano sambil membelakangi semua orang.
"Ini adalah strategi pemasaran unik dari restoran ini. Pasangan yang makan di sini bisa naik ke panggung untuk memainkan piano. Setelah itu, pasangan tersebut akan mendapatkan gantungan kunci berbentuk hati yang terukir dengan nama mereka berdua. Itu sebabnya banyak pasangan datang ke sini untuk berfoto."
Saat pertunjukan piano berakhir, aku tak sengaja melihat ke arah panggung.
Gadis itu berbalik.
Ternyata, dia adalah Elina.
Sesuai yang aku duga, aku melihat Aldo duduk di hadapannya.
Dia memegang gantungan kunci berbentuk hati. Dari kejauhan, aku tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas.
Elina mendekatkan diri dan mengatakan sesuatu padanya.
Aldo tiba-tiba tersenyum.
Mungkin merasa ada orang yang menatap ke arah mereka dengan intens, dia mendongak. Tepat pada saat itu matanya bertemu dengan tatapanku.
9
Dalam sekejap, terlihat jelas ekspresi kekecewaan di matanya. Wajahnya juga menjadi muram.
Detik berikutnya, dia berjalan cepat menuju ke arahku.
Tatapannya terhenti sejenak di wajah Revan. Kemudian, dia menoleh untuk melihatku. "Apa hubunganmu dengan dia?"
Tatapannya beralih pada benda yang dia genggam erat. Dia bertanya dengan samar, "Apakah gantungan kunci hati ini bagus?"
Setelah hening cukup lama, aku bertanya kepadanya dengan berbisik, "Apa kamu masih mencintaiku?"
Aldo terkejut. Tanpa sadar dia melirik Elina.
Kemudian, dia buru-buru mengalihkan tatapannya. Dia menatapku dengan serius dan berkata dengan tegas, "Nara, aku mencintaimu."
"Nara, aku akui aku sudah berbuat banyak kesalahan sebelumnya. Aku minta maaf kepadamu. Tapi, masalah gantungan kunci hati ini benar-benar kesalahpahaman. Aku tidak pernah berpikir untuk bersama dengannya. Bisakah kamu memaafkanku?"
Aku menatapnya dengan tenang, lalu melirik wajah Elina yang pucat di sampingnya .
"Maaf mengganggu, tetapi aku punya pertanyaan untuk kalian berdua."
Revan perlahan berdiri. Dia menatap Aldo dan Elina, seolah-olah sedang menonton pertunjukan yang bagus dari pinggir lapangan.
"Apa kalian tahu arti dari gantungan kunci berbentuk hati tersebut?"
Aldo menatap dingin ke arahnya tanpa berkata sepatah kata pun.
"Sepertinya kalian tahu."
Revan tersenyum samar, suaranya terdengar agak mencibir.
"Dengan dalih persahabatan, kalian melakukan hal-hal seperti kekasih. Kalian berdua memiliki hubungan yang tak terkatakan."
Wajah Aldo menjadi pucat pasi.
10
Kami pulang dengan mobil Revan.
"Aku ingin bertanya padamu satu hal."
Revan menjawab dengan gumaman. "Hmm."
"Kalau kamu punya pacar, tetapi kamu punya perasaan pada gadis lain. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Mungkin perasaan singkat itu wajar, tetapi sebagai manusia harus memiliki batasan yang jelas. Jatuh cinta dengan orang lain. Tapi, tidak mau melewati batas dan enggan putus dengan pasangan saat ini. Tidak peduli jenis kelaminnya, orang itu benar-benar brengsek."
Sampai membuka pintu dan keluar dari mobil, aku masih terhenyak.
Aku menyadari bahwa Revan agak berbeda dari kesan yang aku miliki.
Dia terlihat ... tulus?
Selain itu, dia juga tidak terlalu sulit untuk didekati.
11
Sebulan kemudian, aku menyibukkan diri dengan pekerjaan.
Hari ini aku bekerja hingga larut malam. Seorang rekan membeli roti dan memberikan sebagian kepadaku.
Dia agak ragu-ragu dan berkata, "Di luar sedang hujan deras. Mantan pacarmu, dia ... dia berdiri di luar. Saat aku mengajaknya masuk, dia menolak."
Memang, di luar sedang hujan lebat.
Aldo berdiri di sana di tengah hujan. Aku diam-diam menghampirinya dan membawa payung.
"Ikutlah denganku."
"Tunggu sampai hujan mereda, kemudian kamu bisa pergi."
Aldo terkejut, lalu nada bicaranya langsung berubah lembut. "Aku tidak menangani masalah dengan Elina dengan baik. Tapi, antara aku dan dia—"
Setelah mendengar nama itu, secara tak terduga aku merasa kesal. Jadi, dengan dingin aku menyelanya. "Aku tidak mau mendengar penjelasanmu lagi. Cukup sampai di situ saja."
"Apa lagi yang kamu inginkan dariku, Nara? Tidak ada yang terjadi antara aku dan dia. Hanya karena pesan yang tidak berarti ini, kamu putus denganku?"
Setelah mengatakan itu, raut kekesalan tebersit di wajahnya.
"Aldo, tadi kamu bilang tidak ada yang terjadi antara kamu dan dia, bukan?"
Aldo ragu sejenak sebelum mengangguk.
Aku mengeluarkan ponsel. Kemudian, aku menunjukkan tangkapan layar dari status Elina yang hanya bisa dilihat olehnya. Selain itu, juga tentang jam tangan yang pernah Elina berikan kepada Aldo.
"Lalu, sekarang ini apa?"
"Kamu bilang tidak ada apa-apa di antara kalian berdua. Lalu, kenapa kamu melakukan hal-hal yang hanya dilakukan oleh kekasih?"
Wajah Aldo perlahan memucat. Akhirnya, aku bertanya dengan suara lemah.
"Aldo, dulu kamu hampir tidak pernah makan mie. Kenapa belakangan ini tiba-tiba kamu menyukai mie kaldu tulang?"
12
Sehari sebelum liburan, aku menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal. Ternyata, itu adalah Elina.
Dia bertanya apa aku punya waktu untuk minum kopi bersamanya.
Setelah berpikir lama, aku menjawab, "Baiklah."
Setelah kami duduk, Elina langsung mengatakan.
"Aku tidak menginginkan Aldo lagi."
"Setelah pulang dari restoran hari itu, aku menyatakan cintaku kepada Aldo."
Elina berhenti sejenak. Nada bicaranya sangat santai, tetapi kesedihan yang terdengar dalam suaranya sulit diabaikan.
"Kali ini, dia menolakku dengan tegas."
"Pada saat makan malam perusahaan, beberapa rekan kerja menggoda dan mencoba menjodohkanku dengan dia. Tapi, ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi dingin. Dia memperingatkan mereka agar tidak bercanda sembarangan karena dia sudah punya pacar."
Elina tertawa dingin. "Tapi, saat itu semua orang tahu kalau dia sudah putus denganmu."
Tiba-tiba, aku mengerti alasan sebenarnya dia meneleponku hari ini dan memberi tahu hal ini kepadaku.
Sebenarnya, dia tidak pernah berniat untuk melepaskan Aldo. Dia hanya ingin memastikan sikapku.
Dia ingin tahu apakah kasih sayang dan penyesalan Aldo bisa membuatku berubah pikiran.
Tanpa ekspresi, aku mengambil tasku dan berdiri. Kemudian, aku menatapnya sejenak.
"Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan hal ini lagi. Hubunganku dengan Aldo sudah benar-benar berakhir."
Elina tertegun sejenak. Rasa malu terlihat di wajahnya, tetapi akhirnya dia merasa lega.
13
Setelah begadang selama beberapa malam, masih belum ada kemajuan dalam proyek tersebut. Kepalaku mulai terasa nyeri ringan.
Dengan sisa energi terakhir, aku membuka ponsel dan mencari di daftar kontak untuk menelepon Zidan.
Namun, ketika panggilan terhubung, aku mendengar suara Revan. "Nara?"
Baru pada saat itu aku menyadari bahwa aku telah menelepon nomor yang salah.
Saat aku bangun kembali, aku berada di ranjang rumah sakit.
Revan duduk di sampingku sambil fokus mengetik di laptop. Cahaya redup menerangi kulitnya yang putih, bahkan rambutnya yang halus juga berpendar dengan cahaya hangat.
"Aku … aku." Suaraku terdengar parau saat berbicara.
"Pagi tadi saat di telepon kamu diam saja dan tidak menutupnya juga. Aku mengira sesuatu telah terjadi kepadamu. Jadi, aku mengirim pesan kepada Zidan. Tapi, dia cukup jauh sehingga hanya memberi tahuku di mana kamu menyimpan kunci cadangan di rumah. Jadi, aku datang ke tempatmu terlebih dahulu."
"Dokter bilang kamu kelelahan. Kadar gula darahmu terlalu rendah akibat kurang tidur. Itu sebabnya kamu pingsan"
Aku mengusap hidungku dengan rasa lemas yang entah dari mana datangnya. "Pekerjaan belakangan ini memang sangat sibuk."
Revan diam sejenak sebelum akhirnya berbicara dengan lembut. "Ibumu datang pagi ini."
Aku menunduk sambil memegang ujung selimut dengan erat.
Pada saat itu, samar-samar aku melihat ibuku dengan mata merah dan cemas bertanya kepada dokter, "Apa putriku baik-baik saja?"
Tiba-tiba, ada beberapa tepukan lembut di bagian atas kepalaku.
Suasana tiba-tiba menjadi agak hening.
Entah sudah berapa lama Aldo berdiri di ambang pintu. Sudut matanya tampak agak merah.
14
Hanya sebulan sejak kita terakhir bertemu, tetapi Aldo tampaknya sudah berubah total.
Wajahnya pucat, kemejanya kusut, dan dagunya ditumbuhi janggut yang baru tumbuh. Lingkaran hitam di bawah matanya menandakan bahwa dia sudah lama tidak tidur dengan baik.
Tiba-tiba, aku merasakan perasaan yang tidak dapat aku jelaskan.
Apakah itu kasihan?
Mungkin sedikit.
Namun, lebih banyak kesedihan karena menyadari kita tidak bisa kembali ke masa lalu.
Dia memang memiliki perasaan untuk Elina, entah itu perasaan segar sesaat atau ketertarikan sementara.
Tanpa dia sadari, kecenderungan dalam hatinya telah bergeser pada orang lain.
Sementara aku masih melamun, Aldo menghampiri dengan termos di tangannya. Nada bicaranya terdengar berhati-hati.
"Nara, aku dengar kamu sakit. Jadi, aku membuat bubur ayam kesukaanmu."
Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat Aldo yang menemani Elina makan mie kaldu tulang beberapa kali. Dia memberikan pengecualian yang bahkan tidak pernah aku miliki untuk Elina.
Jadi, Aldo, apakah kamu sedang mencoba menebus kesalahan?
"Aldo, kita sudah putus. Kamu tidak perlu melakukan semua ini lagi."
"Nara, aku benar-benar sudah menyelesaikan masalah dengan Elina. Aku berjanji dia tidak akan mengganggu kehidupan kita lagi."
Revan dengan alami mencondongkan tubuhnya untuk membantu menyelipkan selimut untukku.
Revan bertatap muka dengan Aldo dan berbicara dengan lembut. "Silakan lanjutkan."
Aku menatapnya dengan tenang, "Ada beberapa hal yang tidak bisa aku lakukan seolah-olah tidak ada yang terjadi."
Aldo menunduk. Dia meletakkan termos di atas meja dengan pelan. Suaranya terdengar lirih dan penuh penyesalan. "Maaf."
15
"Apakah kamu sama sekali tidak tersentuh saat mendengar dia mengatakan hal itu?"
Suaranya pelan. Namun, di kamar rumah sakit yang sunyi, itu tidak menghalangiku untuk mendengarnya dengan jelas.
Aku diam cukup lama sebelum berkata, "Tidak."
Revan tampak tersenyum. "Bagus."
Dia menatapku lekat tanpa berkedip.
Seperti terdorong oleh sesuatu, aku bertanya, "Apakah kamu …."
"Ya." Seolah-olah tahu apa yang hendak aku katakan, dia menjawab dengan tegas dan jujur.
Aku tertegun.
"Jadi, Nara, apa pendapatmu?"
Sebelum aku benar-benar melupakan masa lalu, aku tidak ingin menjalin hubungan baru begitu saja.
Bukan hanya tidak bertanggung jawab terhadap diriku sendiri, tetapi juga tidak adil bagi Revan.
Revan tampaknya telah mengantisipasinya sejak lama. Ada sedikit kekecewaan yang tebersit di matanya, tetapi menghilang dalam sekejap.
Dia mengangguk dan berkata, "Aku mengerti."
"Kamu berhak menolakku. Kamu tidak perlu bertanggung jawab atas emosiku."
Saat berkata demikian, dia mengulurkan tangannya untuk mengusap rambutku. Nada bicaranya melambat dan suaranya yang dalam membawa kekuatan yang menenangkan. "Jangan membebani dirimu dengan kekhawatiran yang tidak perlu."
16
Semilir angin malam yang sejuk dan lembut masuk melalui jendela mobil, memberikan perasaan yang sangat nyaman.
"Tiba-tiba, aku menyadari. Setiap kali aku menaiki mobil Revan, dia selalu membuka setengah jendela. Hal ini tidak hanya mencegahku merasa mabuk di dalam mobil. Namun, juga menjagaku agar tidak terlalu kedinginan akibat angin kencang.
"
Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepadanya, "Apakah Zidan memberi tahu kamu kalau aku mabuk saat naik mobil?"
Dia menjawab dengan suara rendah. "Tidak."
"Pada saat liburan di SMA, kamu dan aku naik bus yang sama. Bus itu penuh sesak. Kamu duduk di sebelah jendela, sedangkan di samping adalah seorang ibu dengan seorang anak kecil."
"Anak itu tidak lama kemudian tertidur. Kamu mungkin khawatir dia kedinginan. Jadi, kamu menutup jendela bus."
Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Aku perhatikan wajahmu menjadi lebih pucat, dahimu berkeringat, dan bibirmu terlihat gemetar."
"Meskipun kamu sangat tidak nyaman, kamu tetap diam. Matamu terpejam, kepalan tanganmu setengah bertumpu di jendela untuk berpura-pura tidur."
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu dan bertanya kepadanya, "Apakah setelahnya kamu yang duduk di sampingku?"
Revan menjawab dengan tegas. "Ya."
Pada saat itu, kepalaku terasa pusing. Aku hanya ingat setelahnya ada orang yang duduk di sebelahku. Dia memberikanku tisu untuk mengelap keringat dan juga membuka jendela bus.
Dia tersenyum tipis. "Sejak saat itu, aku mulai memperhatikanmu."
17
Setelah turun dari mobil, Revan mengantarkanku sampai ke depan pintu.
Aku menunduk sambil berkata, "Terima kasih sudah mengantarku pulang."
"Sebenarnya, aku berbohong padamu."
Jarak Revan denganku sekarang sangat dekat. Suaranya yang rendah mengalun di telingaku dan bercampur dengan hembusan napasnya yang lembut.
Revan menatap mataku dengan lekat
"Setelah kamu menolakku hari itu, aku tidak tidur semalaman. Aku berlari empat puluh putaran di sekitar kompleks."
"Aku benar-benar sedih karena ditolak olehmu."
"Nara, kalau kamu belum siap menjalin hubungan baru saat ini."
Mata hitam pekat Revan menatapku dengan tenang. "Tidak masalah, aku bisa menunggu."
18
Setelah dia pergi, aku berdiri sendirian di bawah gedung untuk waktu yang lama.
Saat aku naik ke lantai atas, aku melihat sosok yang akrab tidak jauh dariku.
"Nara." Dia memanggil namaku dengan lembut dan agak memohon.
Saat itu juga, aku menegaskan dengan sangat jelas. "Aldo, tolong jangan mencariku lagi."
"Mulai sekarang, aku akan memulai kehidupan baru. Mungkin aku juga akan menemukan cinta yang baru."
Aku tidak ingin memberinya harapan palsu. Sulit, tetapi akhirnya aku berkata, "Tapi, orang itu tidak akan pernah menjadi dirimu."
Aku telah mengenal Aldo selama lebih dari dua puluh tahun. Selain itu, kami berpacaran selama lima tahun.
Aku dulu berpikir kita akan bersama seumur hidup.
Akan tetapi, tiba-tiba segalanya berubah.
Dia jatuh cinta pada orang lain.
Padahal, dulu dia yang begitu gigih mengejarku. Jadi, kenapa sekarang hanya aku sendiri yang berjuang mempertahankan hubungan ini?
…
Setelah hari itu, Aldo tidak pernah muncul lagi.
Tentang Elina .…
Dia pernah mengirimkan pesan Facebook kepadaku. Dia hanya memberi tahu bahwa dia berencana meninggalkan kota ini.
19
Tanpa terasa setahun telah berlalu.
Tampaknya banyak yang telah terjadi dalam setahun ini.
Setelah putus dengan Aldo, aku berusaha keras melupakannya.
Setelah bertahun-tahun bersama, keberadaannya meninggalkan jejak di banyak aspek kehidupanku. Melepaskannya benar-benar tidak semudah yang terlihat.
Untuk mengalihkan perhatian, aku mengajukan diri untuk mengambil proyek baru. Namun, tak kusangka, selain berhasil dalam proyek baru, aku juga naik jabatan dua kali dalam setahun.
Saking sibuknya, suatu hari aku baru tersadar bahwa aku sudah lama tidak teringat pada masa lalu.
Sebaliknya, hubunganku dengan Revan menjadi lebih harmonis.
Aku menyadari bahwa perlahan-lahan aku mulai menerima keberadaannya.
Hari ketika Revan dan aku secara resmi menjadi pasangan, kebetulan bertepatan dengan kegiatan perusahaan.
Berkat kinerjaku yang memukau, aku dipindahkan dan naik jabatan. Rekan-rekan kerjaku memaksaku minum banyak alkohol. Revan pun membawaku yang mabuk pulang.
Saat dia meletakkan aku di tempat tidur, entah bagaimana aku tiba-tiba menangis.
Aku bersandar di dadanya, tanganku melingkar di pinggangnya, dan mengoceh banyak hal.
Ibuku, Aldo, Zidan ....
Orang-orang yang pernah aku cintai, benci, dan dendam. Bahkan, hal-hal yang tak bisa aku lepaskan, aku ungkapkan semuanya kepada Revan.
"Beberapa luka tidak bisa dimaafkan. Tapi, sekalipun ada kebencian, kita masih memiliki hak untuk mencintai dan dicintai."
Malam itu, Revan tidak pulang.
…
Revan sedang memasak di dapur, sedangkan Zidan tampak membantunya. Melihat kegiatan mereka yang sibuk, perasaan aneh tiba-tiba muncul di hatiku.
Ibuku lebih suka anak laki-laki, tetapi ironisnya, Zidan selalu berpihak kepadaku.
Kemudian, secara kebetulan, Zidan bergabung dengan perusahaan baru sehingga Revan dan aku bertemu lagi.
Revan seperti bulan setelah hujan. Diam-diam menghormatiku dengan cara yang tenang dan lembut. Menemaniku dengan cara yang membuatku merasa nyaman dan bahagia.