KRING!!! KRING!!!
Bel istirahat telah berbunyi. Seluruh murid pun berhamburan keluar kelas.
"Ci, ayo kita ke kantin" Ucap seorang gadis yang ceria dan terlihat senyuman manis di wajahnya.
"Ca, kamu aja yang pergi" Ucap gadis yang lain sambil memperlihatkan ekspresi datar.
"Ayolah Ci" Ucap gadis tersebut dengan wajah memelas. Ia merupakan sahabatku, Jessica.
"Gak, aku mau tidur" Ucapku sambil menutup mataku.
"Tidur? Sendirian? Di kelas?" Tanya Jessica sambil memperlihatkan ekspresi khawatir.
Ketika istirahat, semua murid harus keluar dari kelas dan lampu di kelas akan dimatikan. Meskipun toilet perempuan kami mengerikan, namun, kelas kami ketika lampunya dimatikan, tidak kalah mengerikan dengan toilet perempuan kami.
"Hmm, sekarang keluarlah. Dan ingat, matikan lampunya" Ucapku sambil menguap.
"Baiklah, semoga beruntung Ci" Ucap Jessica sambil mematikan lampunya dan kemudian dia keluar.
....................................................................................
TIK TIK TIK
Suara Jam yang terdengar nyaring di sebuah ruangan yang gelap. Di sana sangat sunyi karena di ruangan itu, hanya ada satu orang yang sedang tidur.
Tak! Tak! Tak!
Aku pun terbangun karena terdengar suara langkah kaki di dalam kelas.
Tak! Tak! Tak!
Suara langkah kaki itu semakin dan semakin dekat. Namun, yang aneh adalah di dalam kelas hanya ada aku, dan jika ada yang masuk, aku pasti akan mengetahuinya. Meskipun mataku tertutup, tapi aku tidak benar-benar tidur. Mungkin ada yang bertanya, kenapa aku introvert, karena aku orangnya tidak mudah mempercayai seseorang.
"hihihi" suara tawa kecil seorang perempuan
"kali ini perempuan?" aku bergumam kecil
Aku merasa ada sesuatu di belakang sehingga aku balik badan dan ternyata ada seorang perempuan dengan rambut yang sangat panjang hingga mukanya tertutup rambutnya, gaun berwarna putih dan yang lebih anehnya, DIA. MELAYANG. DI. UDARA.
"Putih? Untunglah bukan merah, kalau gak ini akan menjadi semakin merepotkan" aku bergumam pelan sambil menghela nafas.
Perempuan itu menggerakkan tangan. Perlahan tapi pasti, dia menunjuk ke satu arah. Karena penasaran, aku pun melihat apa yang ditunjuknya. Dan ternyata dia menunjuk ke tembok, dan lebih parahnya ada darah yang sedang menetes di tembok. Aku pun menelan ludah karena darah tersebut sangat banyak dan sangat kental. Bau amis darah pun menyelimuti ruang kelas tersebut. Aku tidak tau kenapa meskipun ruang kelas gelap tapi aku masih bisa melihatnya.
Lalu aku pun kembali mengarahkan pandanganku ke arah perempuan tadi. Namun, perempuan itu menghilang. Karena merasa ada yang aneh, aku mengarahkan pandanganku ke arah tembok tadi. Namun, sama seperti perempuan tadi, darah tersebut menghilang tanpa meninggalkan jejak. Aku kembali mengedarkan pandanganku menyusuri ruangan kelas. Namun, ruang kelas tersebut terlihat seperti biasanya, tidak ada yang aneh, seakan-akan tidak ada yang terjadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" aku bergumam pelan sambil mengedarkan pandangan menyusuri ruangan tersebut berharap mengetahui kebenaran tentang apa yang baru saja terjadi. Namun, tetap saja aku tidak dapat menemukan apa-apa, seakan-akan hal tadi hanyalah halusinasi ku.
TRING!!! TRING!!!
Bel masuk telah berbunyi
Kriek!
Pintu kelas tersebut terbuka
Terlihat seorang gadis yang tersenyum manis sambil menghidupkan lampu di balik pintu tersebut.
"Ci, kenapa kamu berdiri di sana?" Tanya Jessica ketika melihat aku berdiri didepan bangkuku.
"Aku hanya mau berdiri saja" Aku sengaja tidak ingin Jessica mengetahuinya, karena kalau aku memberitahu Jessica sama saja aku memberitahukannya ke semua orang.
...
Sejak hari itu, aku masih tidak dapat menemukan kebenarannya. Apakah kalian tau kenapa hal itu bisa terjadi? Yang pastinya, itu bukanlah halusinasi ku.