Tanggal 11 November pukul 07.00 pagi, Kim Yura terbangun dari mimpi indahnya. Dia segera mandi dan bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya.
Pukul 8.30 pagi, Yura sudah terlihat keluar dan mengunci kamar apartemen miliknya yang bernomor 1111 dan terletak di lantai 11 itu dengan kata sandi. Nomor apartemen memang tidak sesuai dengan jumlah kamar. Nomor kamar pertama diawali dengan 2 digit nomor. Kamar no. 11 adalah unit pertama yang terletak di lantai 1. Bisa disimpulkan bahwa apartemen Yura adalah unit ke 111.
Apartemen yang ditempati Yura terletak di kawasan Cheondam-dong, distrik Gangnam, kota Seoul, Korea Selatan. Itu adalah sebuah kawasan yang terkenal sebagai tempat tinggal kalangan berada. Kim Yura sendiri memang bukanlah wanita sembarangan. Dia adalah seorang aktris yang sangat terkenal di negeri gingseng, Korea Selatan.
Kim Yura lahir pada tanggal 11-11-1991 tepat pukul 11.11 malam di rumah sakit bersalin di pinggiran kota Seoul. Uniknya lagi, kamar yang ditempati ibunya bernomor 1111. Itu sebabnya Kim Yura sangat tergila-gila dengan angka 1111. Bahkan plat mobilnya juga dipesan khusus dengan nomor 1111.
Pada pukul 9 pagi, Kim Yura sudah sampai di kantor agensi yang menaunginya. Terlihat Park Junho, kekasihnya, sudah menunggu dengan sebuket bunga mawar merah di tangannya. Ada 11 batang mawar dalam buket itu.
"Saengil chukha hamnida, Yura!" Junho mengucapkan selamat ulang tahun sambil menyerahkan buket yang dipegangnya.
"Gomawo, Oppa!" Yura memeluk Junho sambil mengucapkan terima kasih.
Park Junho adalah seorang CEO dari Gold Star Entertaiment, agensi yang menaungi Yura. Sebenarnya Yura belum genap setahun bergabung di perusahaannya Junho.
Junho berusia 32 tahun. Dia masih tergolong seorang CEO muda di Korea Selatan. Junho bertemu Yura di sebuah pesta kalangan atas. Setelah beberapa kali berkencan secara sembunyi-sembunyi, akhirnya tahun lalu tepat pada tanggal 11 November pukul 11.11 malam, Junho meminta Yura untuk menjadi kekasihnya. Tentu saja Yura menerimanya karena malam itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
"Sudah cukup, Yura-ssi! Jangan terlalu menunjukkan kemesraan di tempat terbuka! Nanti hubungan kalian bisa tercium media!" Lee Jae Ah, manajer Yura memberi peringatan.
"Mianhae, Eonnie!" Yura meminta maaf kepada wanita yang lebih tua 2 tahun darinya itu.
"Apa Yura ada jadwal hari ini?" tanya Junho.
"Tidak ada jadwal secara komersial, Sajangnim! Tapi ada satu jadwal untuk acara amal. Orang-orang tahu kalau hari ini adalah ulang tahun Yura, jadi acara amal ini sangat bagus untuk menjaga imagenya," jawab Jae Ah.
"Huh, membosankan sekali! Padahal hari ini aku ingin mengahabiskan waktu bersama Junho Oppa," keluh Yura.
"Omona, Yura-ssi! Ternyata selama ini kau hanya berpura-pura baik melakukan acara amal! Tidak kusangka seorang Korean Sweetheart sepertimu ternyata tak sebaik apa yang kau citrakan selama ini! Apalagi kau ternyata mengencani Junho-nim. Kalau netizen tahu, karirmu bisa tamat!"
Seorang wanita cantik tiba-tiba muncul dari belakang punggung Yura.
"Mau apa kau ke sini, Song Mina? Kau bukan berasal dari agensi ini, jadi buat apa kau ada di sini? Cepat pergi sebelum aku panggilkan bodyguardku untuk menyeretmu keluar!" bentak Yura.
"Aku ke sini tentu saja untuk bekerja. Tanyakan saja kepada kekasihmu itu! Bukan begitu, Junho-nim?" Mina tersenyum licik.
"Itu benar, Yura! Agensi yang menaungi Mina, mengajakku bekerja sama dalam sebuah proyek besar. Mina adalah aktris yang ditunjuk untuk proyek itu. Aku tidak bisa menolaknya karena sudah menandatangi kontrak kerjasamanya," sahut Junho.
Yura menunjukan raut wajah kecewanya. Song Mina adalah pesaing terberatnya di dunia hiburan. Meskipun Yura yang selalu memenangi penghargaan, tapi Mina selalu saja membayang-bayangi kariernya. Ada kalanya drama yang dibintangi Mina ratingnya lebih tinggi daripada drama yang dibintangi Yura, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua adalah rival di dunia K-Drama.
"Kau tidak perlu khawatir, Yura! Nanti malam aku akan mengajakmu merayakan ulang tahunmu. Hanya kita berdua saja. Aku janji akan memberikan malam terindah untukmu! Sekarang, aku harus mengajak Mina untuk rapat di dalam. Yang lain sudah menunggu dari tadi. Kau tidak apa-apa kan?" ujar Junho.
Yura hanya mengangguk dengan enggan. Dalam hatinya, dia tidak rela Mina terlalu dekat dengan Junho. Mina adalah rivalnya dalam urusan keartisan, bisa saja dia juga menjadi rival dalam urusan percintaan.
Melihat Yura kesal, Jae Ah segera mengajaknya untuk pergi ke tempat acara amal berlangsung.
***
Waktu menunjukan pukul 11.01 pagi. Acara amal sekaligus bazar itu terlihat sangat meriah. Banyak tenda dan stan tempat menjual berbagai pernak-pernik. Ada juga sebuah panggung untuk pertunjukkan. Terlihat beberapa Rookie Idol sedang bersiap untuk tampil. Acara itu juga sangat bagus sebagai ajang promosi untuk idol-idol baru itu.
Yura naik ke panggung untuk memberikan kata-kata sambutan. Dia juga menyerahkan sumbangan senilai 10 juta won kepada ketua panitia. Para fans berteriak histeris menyerukan namanya. Dia benar-benar sangat terkenal.
Setelah semuanya selesai, Yura bermaksud untuk kembali ke kantor agensinya. Dia berjalan menyusuri tenda-tenda diiringi oleh Jae Ah dan dua orang bodyguard.
Yura berhenti di sebuah tenda yang bertuliskan, 'Madam Esperanza'. Sepertinya itu adalah tenda seorang peramal.
Yura melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul 11.11 pagi. Yura segera masuk untuk menemui Sang Peramal.
Jae Ah menyuruh para bodyguard untuk menunggu di luar tenda, sementara dia ikut masuk menemani Yura.
"Selamat datang wahai wanita cantik! Hari ini adalah hari bahagia sekaligus hari berdukamu!" Kata seorang wanita tua saat melihat Yura masuk.
"Apa maksud perkataanmu, Ajumma?"
"Duduklah! Aku melihat ada awan putih dan juga awan hitam yang sedang menyelimutimu," kata sang Peramal lagi.
Yura duduk dengan penasaran. Sang Peramal menarik tangannya dan mulai membaca garis tangannya.
"Tidak salah lagi! Ramalanku ternyata benar!" gumam Sang Peramal.
"Apa maksudnya? Cepat katakan!" Yura terlihat sudah tidak sabar.
"Hari ini adalah tanggal 11 bulan 11. Nanti malam, tepat pukul 11 lewat 11 menit, kau akan menghadapi kematianmu!" Peramal itu terlihat serius.
"Apa kau bercanda? Aku tidak percaya dengan ramalan bodohmu!" Yura melemparkan selembar uang 10 ribu won kepada peramal itu. Dia terlihat sangat marah sekali.
"Ambillah uangmu! Aku tidak butuh uang dari wanita yang bernasib sial sepertimu!" kata sang Peramal dengan dingin.
Yura tidak peduli lagi omongan sang Peramal. Dia segera keluar dari tenda itu dengan kesal.
Pukul 1 siang, Yura masih terlihat menunggu Junho selesai rapat sambil menghapal naskah drama yang akan dibintanginya. Jae Ah juga masih setia menunggu di sampingnya.
Sekitar pukul 2 siang, Junho keluar dari ruang rapat dengan berjalan beriringan bersama Mina. Yura sangat tidak senang melihat hal itu.
"Kau lebih baik pulang dan beristirahat saja! Aku masih banyak pekerjaan. Nanti malam aku akan menjemputmu untuk merayakan ulang tahunmu sekaligus anniversary kita yang pertama," ujar Junho.
Yura hanya mengangguk patuh. Dia tidak berani membantah kekasih, sekaligus atasannya itu.
***
Pukul 08.00 malam, Junho menjemput Yura di apartemennya. Lagi-lagi dia membawakan sebuket mawar merah berjumlah 11 batang mawar. Yura yang tampil dengan gaun malam berwarna putih, terlihat sangat bahagia menerimanya.
Pukul 08.30 malam, Yura dan Junho sudah terlihat menikmati makan malam romantis mereka di sebuah restoran mewah. Junho juga mengajak Yura berdansa dengan diiringi musik yang romantis.
Pukul 11.00 malam, Junho mengantarkan Yura pulang ke apartemennya. Junho juga ikut masuk ke dalam apartemen Yura.
Yura menyajikan beberapa botol soju dan camilan untuk Junho.
"Aku punya sebuah hadiah untukmu!" kata Junho sambil mengeluarkan kotak kecil berbentuk hati yang terbalut beludru berwarna merah.
"Apa itu, Oppa?" Yura tersenyum melihat kado kecil dari Junho itu.
Junho berlutut di hadapan Yura sambil membuka kotak di tangannya.
"Jeorang gyeolhonhae jullaeyo ... Maukah kau menikah denganku?"
Pukul 11.05, Junho melamar Yura dengan sebuah cincin bertahtakan berlian.
Yura sangat bahagia menerima lamaran Junho. Setelah mengatakan, iya, dia memeluk Junho dan mereka pun berciuman dengan mesra.
Waktu menunjukkan pukul 11.08 malam. Ciuman Yura dan Junho semakin panas. Junho merebahkan Yura di atas ranjang. Tangannya mulai nakal masuk ke dalam gaun malam Yura. Yura hanya bisa pasrah saat Junho meloloskan segi tiga pengaman yang menutupi area terlarangnya.
Yura melirik jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.09 malam.
"Huh, dasar peramal bodoh! Ramalanmu justru meleset 180 derajat. Bukannya sial menghadapi kematian, aku malah mendapatkan kebahagiaan malam ini. Malam ini aku dilamar Junho Oppa dan sebentar lagi aku akan menikmati surga dunia bersamanya," kata Yura dalam hati.
Waktu menunjukkan pukul 11.10 saat Yura dan Junho sudah terhanyut dalam buaian nafsu. Dengan masih menggenakan gaun putihnya, Yura memejamkan mata untuk bersiap menyambut surga dunia yang akan dihadiahkan Junho kepadanya.
"Sebentar lagi saatnya akan tiba." Junho berkata dalam hati sambil melirik jam di dinding.
Jarum jam terus bergerak melewati putaran waktu. Yura masih memejamkan matanya. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Junho kepadanya.
Junho mengambil sebilah pisau dari keranjang buah yang ada di meja samping tempat tidur. Waktu sudah memasuki pukul 11.11 malam.
"Sekarang sudah pukul 11.11 malam, terimalah hadiahmu ini, Yura!!!"
Yunho menghujamkan pisau ke perut Yura. Darah segar mengalir membasahi gaun putihnya. Yura membelalakan mata demi merasakan sakit tak terkira yang tiba-tiba dirasakannya.
Yura melihat sebuah pisau tertancap di perutnya. Wajah Junho terlihat sangat berbeda sekali. Dia bukanlah Junho yang ia kenal selama ini.
"Ka ... kamu ... ke ... kenapa???" Yura terbata karena tidak kuat menahan sakit yang dideranya.
"Apa kau ingat kejadian 2 tahun yang lalu? Tepat tanggal 11 bulan 11, pukul 11.11 malam, seorang pria muda melompat dari atas gedung berlantai 11. Dia bunuh diri hanya gara-gara seorang wanita, dan wanita itu adalah kau, Yura!!!" Junho berkata dengan penuh emosi. Ada kilatan dendam terpancar dari manik matanya.
"A ... aku ... ti ... tidak ... ta ... hu," jawab Yura terbata.
"Apa kau kenal Park Haejun? Dia seorang trainee di agensimu yang lama. Bukankah kau berpacaran dengannya? Setelah kau debut sebagai artis dan mulai terkenal, kau begitu saja mencampakkannya hanya gara-gara dia tidak kunjung debut. Akhirnya dia menjadi frustasi dan memutuskan bunuh diri." Junho berkata dengan dingin.
"Ka ... kau ... si ... siapa?" tanya Yura.
"Aku adalah kakaknya Haejun. Dia memang sengaja tidak memanfaatkan nama atau jabatanku sebagai CEO agensi ternama. Dia ingin menjadi selebrities dengan usahanya sendiri. Itulah sebabnya kenapa kami merahasiakan hubungan persaudaraan kami," terang Junho.
"Ja .. jadi ..." Yura berusaha berbicara dengan sisa-sisa tenaganya.
"Iya! aku memang sengaja mendekatimu untuk membalaskan dendam Haejun. Bukankah kau sangat menyukai angka 1111? Bahkan Haejun bunuh diri di tanggal 11 bulan 11, jam 11.11 malam agar kau mengenangnya seumur hidupmu? Tapi kau begitu cepat melupakannya, bahkan kau menerima aku sebagai kekasihmu setahun kemudian di tanggal dan jam yang sama." Junho berkata dengan getir.
"Ma ... maaf!" Yura semakin tidak kuat menahan luka robek pada perutnya.
"Sudah terlambat, Yura! Malam ini adalah waktumu untuk mati! Selamat ulang tahun, sekaligus selamat tutup usia!"
Junho memegang gagang pisau yang masih menancap di perut Yura. Saat hendak menariknya, pintu apartemen dibuka seseorang. Sepertinya pintunya lupa dikunci tadi.
Jae Ah masuk dan mendapati Junho sudah memegang gagang pisau yang tertancap di perut Yura.
Yura merasa dewi penolongnya telah datang. Jae Ah adalah manajer yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.
"Ya ampun, Junho!!! Apa yang sedang kau lakukan???" Jae Ah membelalak ke arah Junho.
"To ... tolong ... a ... ku ... Eonni!" Yura memohon dengan kekuatan terakhirnya.
"Kenapa kau datang lama sekali, Sayang!" Junho tersenyum ke arah Jae Ah.
Jae Ah mendekati Junho dan memeluknya dengan mesra. Junho langsung menyambar bibir Jae Ah. Mereka berciuman tepat di hadapan Yura yang sudah tidak berdaya.
"Kenapa kau begitu lama melenyapkannya? Aku sudah tidak sabar mengumumkan kematiannya ke media," kata Jae Ah tanpa perasaan.
"Ka ... kalian!!!" Yura menyadari kalau Junho dan Jae Ah telah bersekongkol menghabisinya.
"Jae Ah adalah pacarku yang sebenarnya. Dia hanya berpura-pura menjadi manajermu," kata Junho.
"Cepat bunuh dia, Sayang! Aku sudah muak dengannya!" perintah Jae Ah.
Junho mencabut pisau yang menancap di perut Yura. Darah menyembur dari lukanya yang terbuka.
Yura sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya. Matanya mulai mengabur. Junho menancapkan lagi pisau itu di tubuhnya. Dan lagi ... dan lagi ... sampai 11 tusukan menghiasi tubuh Yura yang masih dibalut gaun putih yang sudah berubah warna menjadi merah.
"Akhirnya dia mati juga, hahaha ..." Junho tertawa dengan sangat mengerikan.
***
Pukul 07.00 pagi, Yura terbangun dari tidurnya. Dia sangat kaget sekali mendapati dirinya ternyata masih hidup. Seingatnya, semalam dia sudah dibunuh oleh Junho.
"Apa aku bermimpi? Tidak ... tidak mungkin ... kejadian semalam benar-benar sangat nyata!" gumamnya.
Yura memeriksa penunjuk waktu di ponselnya. Tertulis tanggal 11 November dan pukul 07.00 pagi.
"Aneh sekali, aku kembali di hari sebelum aku terbunuh. Apa maksudnya semua ini?" gumamnya lagi.
Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 pagi saat Yura tiba di kantor agensi yang menaunginya. Junho sudah menunggunya dengan sebuket mawar merah sama seperti kemarin. Dia juga mengucapkan selamat ulang tahun seperti kemarin dan Jae Ah juga memberi peringatan agar tidak bermesraan di tempat terbuka. Semua kejadian dan kata-kata yang diucapkan Junho dan Jae Ah sama persis seperti kemarin. Yura merasa kejadian kemarin terulang lagi padanya.
Mina juga datang dengan pakaian seperti kemarin. Yura sudah tidak mau ambil pusing. Mina tidaklah sejahat Junho dan Jae Ah. Ya, Yura kini sudah mengetahui sifat asli kedua orang dekatnya itu.
Pukul 11.01 pagi, Jae Ah mengajak Yura ke tempat bazar amal. Yura sudah hapal dengan runtutan peristiwa yang akan dialaminya. Dia hanya menunggu pukul 11.11 pagi untuk bertemu dengan peramal yang tepat meramalkan nasibnya kemarin.
"Bisahkah kau menunggu di luar?" Yura bertanya pada Jae Ah. Tidak seperti kemarin, Yura tidak ingin Jae Ah ikut masuk ke dalam tenda sang Peramal.
"Selamat datang wahai wanita cantik! Hari ini adalah hari bahagia sekaligus hari berdukamu!" Kata sang Peramal saat melihat Yura masuk. Itu sama dengan kata-katanya kemarin.
"Aku percaya pada ucapanmu, Ajumma! Tolong beritahu aku, kenapa aku bisa hidup lagi dan mengulang kejadian kemarin?" tanya Yura. Kali ini dia menanggapi sang Peramal dengan serius.
"Ada orang yang mengikat perjanjian dengan iblis untuk mengutukmu! Kau akan terus mengulang kematianmu sampai 1111 kali setiap jam 11.11 malam," ujar sang Peramal.
"Bagaimana aku bisa menghentikan semua ini?" tanya Yura penasaran.
"Kau harus membunuh orang yang mengikat perjanjian dengan iblis itu," sahut sang Peramal.
Belum sempat Yura bertanya lebih jauh lagi, Jae Ah masuk untuk mengajaknya pulang. Yura terpaksa harus menuruti Jae Ah agar dia tidak curiga.
***
Pukul 08.30 malam, Junho mengajaknya makan malam seperti kemarin sampai jam 11 malam. Tapi kali ini Yura menolak untuk diantarkan sampai ke pintu apartemennya. Sebelum pergi tadi, dia sudah sempat mengganti kata sandi unit apartemennya.
Junho sepertinya tidak mengikutinya sampai ke unit apartemennya.
"Sepertinya sudah aman. Kali ini aku harus melewati pukul 11.11 malam ini dengan tetap hidup," gumam Yura.
Tiba-tiba Yura teringat Jae Ah. Wanita itu juga bisa mengancam nyawanya. Yura mengambil ponselnya dan mengecek posisi Jae Ah lewat GPS ponselnya. Sepertinya Jae Ah ada di rumahnya. Yura akhirnya bisa bernapas lega.
Jam dinding sudah menunjukan pukul 11.10 malam. Yura sudah memastikan pintu apartemennya terkunci. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang dengan lega.
Jarum jam bergerak sampai ke angka 11.11 malam. Yura yakin bahwa dirinya sudah sangat aman.
Tiba-tiba dari arah lemari pakaian, keluar pria tak dikenal. Dia langsung memburu ke arah Yura dengan sebilah pisau terhunus. Yura tidak sempat mengelak dan lagi-lagi dia tertusuk tepat di perutnya.
"Si ... siapa kamu?" tanya Yura.
"Aku penggemarmu! Sudah lama aku menguntitmu. Aku tahu semua tentangmu, termasuk nomor sandi unit apartemen sebelum kau menggantinya. Untung aku sudah masuk sebelum kau menggantinya tadi. Aku kecewa kau berpacaran diam-diam dengan CEO agensimu. Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain juga tidak bisa!"
Pria penguntit itu berkata dengan geram sambil menusukkan pisau bertubi-tubi sebanyak 11 kali ke arah Yura. Yura pun mati untuk yang kedua kalinya.
***
Yura lagi-lagi terbangun pukul 07.00 pagi. Dia segera mengecek waktu di ponselnya. Lagi-lagi tanggal 11 bulan 11 terulang untuk yang ketiga kalinya.
"Ya Tuhan! Aku tidak ingin mati untuk yang ketiga kalinya. Itu sangat menyakitkan dan membuatku menderita. Apalagi aku harus mengalaminya sebanyak 1111 kali. Junho Oppa dan Jae Ah Oenni sangat kejam mengutukku dengan kematian yang berkali-kali ini." Yura meneteskan air matanya. Dia sudah tidak sanggup lagi menjalani hari yang terulang ini.
"Aku harus mengganti alurnya," pikir Yura. Dia memutuskan untuk pergi ke luar kota. Dia harus mengubah alur ceritanya dengan cara tidak pergi ke kantor agensi, maupun ke bazar amal, terlebih lagi ke tenda sang Peramal.
Yura mengemudikan mobilnya ke arah kota Ulsan yang berjarak sekitar 375 km dari kota Seoul. Setidaknya membutuhkan waktu sekitar 4 jam dengan mengendarai mobil.
Ponsel Yura terus berbunyi. Junho dan Jae Ah mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi Yura enggan untuk menjawabnya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Yura akhirnya sampai di kota Ulsan. Dia mengarahkan mobilnya ke Daewangam Park, taman tepi laut yang terletak di pantai sebelah timur yang indah.
Waktu menunjukkan pukul 2 siang saat Yura menikmati panorama alam yang membentang indah di hadapannya. Dia sudah mengubah alur ceritanya sekarang. Dia yakin akan selamat nanti malam saat pukul 11.11 yang menakutkan itu datang.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 05.11 sore. Yura terlalu asyik dengan lamunannya. Dia sampai lupa bahwa dia belum memesan kamar hotel.
Yura mencari kamar hotel, tapi rata-rata sudah penuh. Ada sebuah hotel yang mempunyai kamar kosong, tapi Yura mengurungkan niatnya untuk memesan karena mengetahui kamar itu bernomor 1111.
Yura pun memutuskan untuk pergi ke Jjimjilbang atau tempat sauna khas Korea sekaligus tempat pemandian umum. Tempat seperti itu biasanya buka 24 jam dan memiliki berbagai fasilitas termasuk rest area. Yura berniat untuk tidur di sana saja malam ini.
Yura sengaja memilih tempat yang ramai yang terdapat banyak mobil di halaman parkirnya. Berada di keramaian akan membuatnya lebih aman dari percobaan pembunuhan.
Yura menikmati waktu-waktunya di dalam sauna. Dia sengaja mengenakan masker agar tidak dikenali.
Tiba-tiba Yura teringat sesuatu. Dia ingin mengecek posisi Junho dan Jae Ah, tapi ponselnya tertinggal di dashboard mobilnya.
Saat Yura melewati dua orang gadis yang sedang mengobrol, Yura tidak terlalu mendengarkan obrolan mereka.
"Hei, apa kamu tahu kalau di daerah ini sedang berkeliaran seorang pembunuh berantai?" Gadis muda itu berkata kepada teman di sebelahnya.
"Aku melihat beritanya di televisi. Sebaiknya kita jangan keluar sendirian malam-malam!" sahut gadis yang satunya.
***
Merasa berada di tempat yang aman, Yura segera menuju ke tempat parkir. Waktu menunjukkan pukul 11.10, saat Yura berhasil mendapatkan ponselnya.
Yura segera mengecek GPS. Sepertinya Junho dan Jae Ah masih berada di Seoul. Waktu di ponselnya sudah menunjukkan pukul 11.11 malam.
Saat berbalik, tiba-tiba seorang pria berpakaian hitam menusuknya dengan sebilah pisau. Belum sempat berteriak, pria itu menusuk Yura lagi ... dan lagi ... hingga 11 tusukan dan membuat Yura kehilangan nyawanya untuk yang ketiga kalinya.
"Ini adalah korbanku yang ke-11," gumam pria yang ternyata adalah pembunuh berantai itu.
***
Sesuai dugaan, Yura sudah terbangun lagi pukul 07.00 pagi di waktu yang terulang, tepatnya tanggal 11 bulan 11.
"Aku tidak bisa membiarkan kejadian ini terulang terus menerus! Aku harus membunuh Junho dan Jae Ah!" kata Yura berapi-api. Tekadnya sudah bulat.
Yura mengambil sebuah pisau dapur dan memasukkan ke dalam tasnya.
Seperti yang diperkirakannya, saat dia tiba di kantor agensinya, Junho sudah menunggunya dengan sebuket mawar merah. Yura mencoba mengikuti alurnya sampai Jae Ah muncul.
Saat Jae Ah akan muncul, Yura diam-diam meraih pisau dari dalam tasnya dan menusuk Junho yang sedang memeluknya. Dia menghujamkan lagi pisau itu sampai 11 kali dan membuat Junho kehilangan nyawanya.
Jae Ah yang melihat kejadian itu menjadi panik. Tapi Yura dengan cepat menghujamkan pisau tepat di jantung Jae Ah dan membuatnya tewas seketika.
Orang-orang yang mendengar jeritan Jae Ah saat Yura mencabut nyawanya, berhamburan menyelamatkan diri. Yura seperti orang gila yang sedang kesetanan.
Polisi pun dipanggil untuk menangkap Yura. Yura digiring ke kantor polisi dengan puluhan wartawan yang meliputnya.
Yura menceritakan semua kejadian yang dialaminya, tapi tidak ada yang mempercayainya. Bahkan dia divonis mengalami gangguan jiwa oleh dokter yang memeriksanya.
Yura kini sudah terkurung di rumah sakit jiwa. Setidaknya itu lebih baik baginya daripada harus mengulang kematian sebanyak 1111 kali.
Malam pun mulai beranjak. Waktu menunjukan pukul 11.10 malam. Yura merasa dapat melewati malam ini dengan tenang. Tiba-tiba seorang pasien datang ke kamar selnya dengan menggengam sebilah pisau berlumuran darah. Dia sudah membunuh penjaga kamar isolasi tempat Yura dikurung dan merebut kunci sel kamar Yura.
Jam dinding menunjukkan pukul 11.11, saat Psikopat Gila itu masuk dan menusuk Yura sampai 11 kali. Yura lagi-lagi kehilangan nyawanya untuk yang ke-4 kalinya.
***
Pukul 07.00 pagi, Yura terbangun dengan perasaan bingung. Dia sudah membunuh Junho dan Jae Ah, tapi mengapa hari itu terulang lagi? Apa dia sudah salah membunuh orang?
Yura tidak punya ide lagi bagaimana keluar dari lingkaran waktu yang mengikatnya itu. Dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya lebih awal.
Yura mengambil sebilah pisau lalu menancapkan tepat di jantungnya sendiri. Dia pun kehilangan kesadarannya.
Yura terbangun di sebuah kamar rumah sakit dengan Junho dan Jae Ah yang menunggunya dengan cemas.
Jae Ah menceritakan bahwa dia menemukan tubuh Yura yang berlumuran darah dan segera menelepon ambulance. Untung saja pisaunya meleset 11 milimeter dari jantungnya, jadi nyawanya masih bisa diselamatkan.
Bukannya senang, Yura malah menjadi sangat kecewa. Dia harus mengalami kematian sekali lagi malam ini.
Jam di dinding kamar rumah sakit sudah menunjukkan pukul 11.10 malam. Jae Ah sudah pulang dan Junho yang malam ini menjaga Yura sedang pergi membeli kopi.
Seorang perawat masuk ke kamar Yura. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.11, saat perawat itu menghujamkan pisau 11 kali ke perut Yura. Yura lagi-lagi tewas dengan 11 tikaman di tubuhnya.
"Selamat tinggal Kim Yura! Pacarku adalah fans beratmu, bahkan dia sangat tergila-gila padamu sampai tega memutuskanku hanya demi akrtis sepertimu yang bahkan sama sekali tidak mengenalnya," kata perawat wanita itu dengan senyuman yang mengerikan.
***
Pukul 07.00 pagi, Yura terbangun lagi di tanggal 11 bulan 11.
"Tidak!!! Aku tidak mau mengulanginya lagi!!! Aku sudah bosan mati berkali-kali!!!" Teriak Yura histeris.
***
Di sebuah kamar yang temaram, tampak foto dan poster Kim Yura memenuhi dinding-dindingnya. Di lantai, ada sebuah simbol pentagram besar dengan lilin di sekelilingnya. Sesosok orang misterius duduk di dalamnya. Dia adalah orang yang membuat perjanjian dengan iblis untuk mengutuk Kim Yura.
"Apa kau menikmati hadiah dariku, Yura?" Orang itu mulai berbicara sendiri.
"Bukankah kau sangat menyukai angka 1111? 1111 kematian adalah hadiah terbaik yang bisa kuberikan kepadamu. Saengil chukha hamnida, Yura! Waktumu masih panjang untuk bisa menemukanku. Aku akan selalu menunggumu datang untuk membunuhku. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa bebas dari kutukan itu. Tapi sebelum kau menemukanku, kau harus melewati beberapa kali kematian yang menyakitkan. Saranghaeyo, Yura! Cintaku akan terkubur abadi bersama 1111 kematianmu!"
Sosok misterius itu tersenyum, lalu berteriak. Lilin-lilin mulai padam saat dia menyeru sebuah nama, Baphomet!!!
***
TAMAT
***