Hai, Namaku Aiza Faranisa, aku biasa dipanggil Aza, aku mempunyai seorang kakak laki-laki yang bernama Valentino Safwan, aku biasa memanggilnya Kak Valen, Aku tinggal di sebuah keluarga yang damai dan bahagia, ayahku atau biasa memangglinya papa berkerja di sebuah perusahaan yang dimilikinya, kalau ibuku mempunyai sebuah butik di Jakarta, dan butiknya sudah tersebar/bercabang di seluruh Jakarta dan sekitarnya, dan kakak Valen sudah bekerja sebagia dokter di rumah sakit milik bokap, sehingga semua anggota keluargaku sangat sibuk, sering banget aku ditinggalkan sendirian di rumah hingga malam, dan aku juga sering tidak makan malam, karena kesepian dirumahku sendiri, sehingga sekarang aku menjadi anak yang serba takut sama apapun, anak yang cupu, anak yang cemen, anak yang cengeng, dan anak yang penurut sama siapa pun.
Aku selalu ditindas di sekolah, di permaluin, dan di jadikan sebagai pembantu. Aku gak berani melawan, semua rasa dan sifat ini datang karena aku tidak pernah merasakan rasa kasih sayang oleh kedua orang tuaku, karena mereka selalu sibuk sama pekerjaannya sendiri, tetapi semua sifat ini bisa dihilangkan oleh satu orang yang special, dia sangat berarti di hidupku, hanya dia yang bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik, kalian pasti kepo yaa, siapa dia ?, Okelah akan ku ceritakan kok.
Suatu hari tepatnya saat hari ulang tahunku, aku sengaja bangun pagi-pagi, aku membuat kejutan di meja makan, yaitu aku siap-siap menghias meja, membuat sarapan, dan aku ingin banget menunjukan hasil ulangan kimia ku yaitu aku mendapatkan nilai terbaik dan terbesar seangkatan. Aku ingin banget mendengarkan pujian dari orang tuaku, dan senyuman dari mereka. Lalu datanglah papa, mama, dan Kak Valen, mereka datang hanya mengambil roti saja dan langsung pamitan padaku, belum sempat aku menunjukkan hasil ulangan ku, bahkan mereka tidak ingat bahwa hari ini hari ulang tahunku.
Setelah aku sarapan sendirian, aku pun langsung berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Btw ni ya, aku itu sekolah di sekolah internasional loo yaitu Alexcandrer Internasional School, disana aku baru kelas 10 atau 1 SMA, aku sekolah disana juga karena aku dapat gratisan nih, ya aku mendapatkan beasiswa full sampai lulus, karena aku pernah mendapatkan juara 1 olimpiade sains tingkat Profinsi saat SMP, makanya aku dapat beasiswa di sekolah itu, disekolah itu aku diperlakukan sangat tidak adil oleh siswa-siswi seangkatan dengan ku, disana aku sangat diremehkan, bilangnya aku cupu, dekil, miskin, katrok,pengemis, dll, disekolah aku sangat ditindas, di permaluin, di permainin, di jadikan pembantu, disuruh-suruh, dll, aku tidak berani melawan mereka karena aku sangat takut sama mereka.
Sesampainya aku disekolah, hal kutakutnya terjadi, mereka mulai membuli ku, saat disampai di depan kelas, mereka menyuruhku untuk membersihkan seluruh kelas sendirian, aku pun mau menjalankan perintahnya. Sesudahku membersihkan kelas, aku disuruh untuk membelikan mereka minuman, mereka itu adalah Justin dan Clara, mereka adalah ketua dan wakil osis di sekolah itu, makanya semua orang takut padanya. Disaat aku mebelikan mereka minuman, aku di WA, aku disuruh untuk membelikan boba yang ada di kafe star, yang tempat kafe nya lumayan jauh dari sekolah, aku ingin menolak perintah mereka, tetapi mereka mengancam, mereka bisa mengeluarkan aku dari sekolah itu, karena kata Clara papanya itu kepala sekolah di sekolah itu.
Aku sempat berfikir sih, bahwa pemilik sekolah ini kan bokap aku, kenapa situ yang ngancem ya, tapi akhirnya aku mau membelikan merekan boba yang mereka inginkan, dengan menggunakan sepeda milik salah satu temanku disana, karena aku tidak mempunyai cukup keberanian untuk melawan mereka. Setelah aku membelikan mereka boba yang mereka inginkan, aku langsung bergegas kembali kesekolah, sesampainya disekolah aku memberikan pesanannya itu, setelah itu mereka marah pada ku, katanya boba itu dibeli di pinggir jalan, bukan di kafe yang mereka inginkan.
Lalu aku sudah menjelaskan semuanya, tetapi mereka berdua tidak percaya dan tetap marah-marah padaku, mepermalukan ku, dihadapan semua orang, dan mereka menyuruh ku untuk mengepel lantai dengan menggunakan rompi yang aku pakai, awalnya aku menolak, aku bilang bahwa lantainya sudah bersih, tetapi apa yang mereka buat, mereka malahan menjatukan bobanya itu ke lantai dengan sengaja, mereka marah-marah dan mengancam ku, dengan mereka bilang ke papanya Clara bahwa aku ingin meracuninya dengan membelikannya boba di pinggir jalan, aku tidak bisa ngomong apapun, dan pada akhirnya aku melepas rompi yang aku pakai, dan menggunakanya untuk mengepel lantai.
Disaat aku mengepel, ada seseorang cowok yang menyuruhku untuk berhenti, lalu mengambil dan membuang rompi ku, aku tidak mengenali cowok itu, tapi kata orang-orang disana bahwa cowok itu adalah mahasiswa baru, lalu dia menatap mataku, dan dia berkata “lho kenapa mau sih, disuruh-suruh sama mereka, emangnya lho itu pembantu mereka, berapa banyak sih mereka membayar upah lho ?”, setelah dia selesai ngomong, dia langsung pergi, belum aku dapat ngomong, aku sempat berfikir bahwa orang itu hanya cari sensai dan caper.
Setelah itu bel sekolah pun berbunyi, aku langsung bergegas masuk kedalam kelas, saat aku di kelas, aku melihat orang asing itu masuk kedalam kelas bersama seorang guru. Kata guru bahwa dia itu murid baru di kelas ini, lalu dia memperkenalkan diri dengan berkata “ Hai, Namaku Rafael Rafanza, aku biasa dipanggil Rafel, aku dulunya sekolah di LA Amerika Serikat, aku pindah kesini karena aku bosan sekolah di Amerika terus”. Setelah aku mendengar kata-katanya itu, aku merasa dia orang yang sangat sombong, dan pamer. Lalu guru menyuruh si Rafael itu duduk di tepat sampingku, karena bangku itu saja yang masih kosong. Disaat ada guru yang mengajar, aku ditemukan tidak memakai rompi, aku dihukum, aku disuruh untuk belajar di luar selama 1 jam, lalu aku berjalan keluar kelas, dan aku melihat Justin dan Clara menertawakanku.
Disaat aku di luar kelas, aku tidak mau membuang-buang waktu, aku langsung mengambil buku dan mempelajarinya. Tidak lama kemudian Rafael datang dan ikut duduk di lantai menemaniku, dia bertanya siapa namaku, ya aku beritau bahwa namaku Aiza Faranisa dan biasa di panggil Aza, lalu dia bilang bahwa namaku lucu, setelah itu dia menarikku dan mengajakku ke gudang sekolah, aku sangat ketakutan dan manangis, seketika dia mencoba menenangkanku dan mengapus air mataku, lalu dia berkata “Aza kenapa sih lho mau-mau aja disuruh sama si Justin sama Clara, emangnya dia itu siapa ?”, lalu aku menjawab “aku gak berani melawan mereka berdua, aku tidak cukup keberanian Rafel”, kenapa enggak, sampai kapan lho akan terus di tindas, dan dibuli, lho harus tunjukan jati diri lho yang asli, lho itu anak yang pinter, dan cerdas, lho pasti bisa buktikan bahwa lho itu lebih baik dari si Justin dan Clara tu”, kata Rafael. Lalu aku berfikir sejenak dan berkata, “lho bener Rafael, gue akan coba fikirkan kata-kata lho itu, gue mau kekelas dulu”.
Sampai di depan kelas aku disuruh masuk oleh guru karena waktu hukuman ku sudah selesai, lalu aku masuk kekelas, disaat aku duduk di bangku, Rafael memberika ku senyuman, seketika aku mempunyai keberanian untuk melawan Justin dan Clara, lalu aku memberikan tau bahwa sebenarnya penyebab aku tidak memakai rompi adalah Justin dan Clara, mereka sangat marah dan menuduhku tanpa bukti, lalu aku mengambil rekaman di handphon ku tentang mereka berdua yang menyuruhku untuk mengepel lantai dengan menggunakan rompiku, guru pun sangat marah dan meyuruhku untu mengirim vidio itu ke ponselnya, kemudian guru menyuruh Justin dan Clara untuk datang keruang guru disaat jam istirahat.
Disaat jam istirahat Justin dan Clara marah-marah padaku karena aku telah memberi tau kejadian tadi pagi keguru, karena aku melawan mereka, Justin malah ingin memukulku, ya aku langsung ambil tangannya dan melipatnya kebelakang, Justin sangat kesakitan dan minta maaf padaku, lalu aku ancam mereka dengan berkata” jangan lagi kalian mencoba mengancamku lagi karena aku bukan Aza dulu yang kalian kenal, ingat itu”, lalu aku pergi dan meninggalkan mereka berdua.
Setelah jam istirahat, aku kembali masuk ke kelas, guru mengumumkan bahwa ada olimpiade akademik yang akan di selenggarakan antar provinsi, dan hadiah utamanya yaitu mendapatkan beasiswa di sekolah internasional di Amerika Serikat. Aku sangat senang mendengarkan pengumuman, karena bersekolah di sekolah internasional di Amerika merupakan cita-cita ku sejak ku kecil.
Lalu aku langsung mendaftarkan diri, saat pendaftaran aku melihat Rafael yang ikut mendaftar, kemudian aku mendekatinya kenapa dia ingin ikutan olimpide itu, padahal dia sudah pernah sekolah di Amerika, dan dia menjawab karena dia ingin mendapatkan beasiswa. Karena pemenang olimpiade itu hanya 2 orang, jadi aku dan Rafael bekerja sama untuk agar bisa memenangkan olimpiade itu, dari sejak itulah aku dan Rafael menjadi sahabatan. Sepulang sekolah, sesampainya aku dirumah, aku diberiakan kejutan yang meriah oleh keluarga besarku, aku sangat senang, karena aku tidak menduga hal ini bisa terjadi, dan tadi pagi papa, mama, dan Kan Valen sengaja mecuekinku, karena itu tahap awal kejutan yaitu membuat ku merasa sedih.
Lalu aku merayan hari ulang tahunku ke 15 dengan keluarga besarku dengan sangat meriah. Malam pun tiba dengan sendirinya, tiba-tiba Rafael menghubungiku, dia bilang bahwa “Pemikiran dan Pelakuan bisa berubah Za, dan maka penampilan juga harus berubah Za” “lho tenang aja Raf liat aja nanti” balasan ku. Setelah aku berbicara dengan Rafael melalui handphon, lalu aku tidur. Keesokan harinya aku bertekat mengubah penampilan ku dari cupu menjadi lebih keren yaitu, aku tidak lagi mengikat dua rambutku, sekarang aku hanya megikat 1 rambutku dan memakai topi, memakai jaket, dan melepaskan kaca mata ku biasa ku pakai, setelah melihat perubahan yang drastic dari diriku, mama, papa, dan Kak Valen sangat terjekut melihatku, lalu kak Valen memberikan aku sebuah mobil sport yang bewarna kuning untuk ku bawa ke sekolah, aku pun mau mengendarai mobil menuju kesekolah.
Sesampainya aku di sekolah, semua orang disana sangat kaget melihatku, dengan perubahan penampilan ku, lalu aku pergi mencari Rafael, Rafael sangat kaget melihat perubahan penampilanku, ya aku bilang bahwa aku akan merubah semua hidupku, menjadi lebih baik. Setelah aku dan Rafael selesai ngbrol, kita bergegas masuk ke dalam kelas, dikelas semua orang sangat kaget melihatku, dan aku memutuskan untuk tidak mau disuruh-suruh lagi oleh Justin sama Clara. Saat guru masuk ke kelas, guru tersebut mengumunkan bahwa seleksi pemilihan olimpide beasiswa tersebut akan di laksanakan 2 hari lagi.
Sepulang sekolah aku dan Rafael memutuskan untuk belajar bersama, hari demi hari aku dan Rafael semakin akrab, dekat, dan akur. selang waktu hari pemilihan peserta olimpide pun berlangsung dan hanya 2 orang yang bisa mewakilkan sakolah ku, disaat pengumuman aku sangat kaget ternyata namaku, dan nama Rafael, yang disebutkan, kita sangat bahagia dan senang mendengar hal itu. Aku dan Rafael melawati hari-hari bersama, dan tiba waktunya perlombaan olimpide beasiswa tersebut pun berlangsung, kita sangat bersungguh-sungguh menjawab soal-soal olimpide itu. Karena pengumuman pemenang akan diberitau 2 hari lagi, aku sangat deg-degan menunggu hasilnya.
Keesokan harinya aku pergi kesekolah dengan sangat ceria, karena sepulang sekolah kan diumunkan pemenang olimpiade tersebut. Sesampainya aku di sekolah aku tidak melihat Rafael, tapi kata temannya bahwa Rafael sekarang tidak masuk dan tanpa keterangan, aku tidak percaya bahwa Rafael bolos, lalu aku menghubunginya, tetapi malah dirijek, aku sangat takut ada terjadi sesuatu pada Rafael, dan memutuskan untuk datang kerumahnya sepulang sekolah.
Saat pulang sekolah, salah satu pengurus olimpide memberitaukan aku bahwa aku dan Rafael memangkan juara utamanya, aku sangat senang mendengarkan hal itu, kemudian aku datang kerumah Rafael dan tidak ada satupun yang menghuni rumah tersebut, aku mencoba menghubungi Rafael, tetapi malah dirijek lagi, aku bingung dimana keberadaanya, padalah aku ingin banget memberitahuinya bahwa kita memenangkan olimpiade itu.
1 bulan pun terlewatkan aku sangatlah kesepian tanpa adanya Rafael, aku tidak mengetahui dimana keberadaanya, kabarnya,dia selalu merijek panggilanku, bahkan dia tidak pernah kesekolah, setiap hari sepulang sekolah aku selalu datang kerumahnya. Saat itu sepulang sekolah aku pergi lagi kerumahnya, seperti biasa, rumahnya sepi, lalu aku melihat tetangga yang lewat di depan rumah Rafael, aku langsung menanyakan dimana keberadaan Rafael, orang itu tidak mau meberitaukan ku dimana keberadaan Rafael, lalu aku memaksa orang itu, dan akhirnya dia mau meberitahuku bahwa sekarang Rafael sedang dirawat di rumah sakit Jakarta Medika, aku pun langsung bergegas kesana.
Sesampainya aku di rumah sakit, aku meliat keluarga Rafael di ruang ACCU aku langsung bertanya apa yang terjadi dengan Rafael, awalnya keluarga Rafael tidak mau memberitau tapi akhirnya aku memaksa mereka dan memberitauku, bahwa Rafael menderita penyakit gagal ginjal, aku sangat kaget mendengarnya, dan kata ibunya Rafael bahwa Rafael bisa diselamatkan kalau ada orang yang mendonorkan ginjal kanannya untuk Rafael dan harus seusia Rafael, Rafael sengaja merahasiakan hal itu dari karena Rafael tidak mau aku sedih.
Lalu aku masuk ke dalam ruangan Rafael, sekarang dia sedang koma, dan umurnya tidak lama lagi keluarga Rafael sangat sedih. Malam pun tiba, aku di suruh pulang oleh ibunya Rafael, saat perjalanan pulang, aku sangat sedih, dan terus memikirkan Rafael, tanpa kusadari aku menyebrang jalan tanpa melihat sekeliling, tiba-tiba mobil dengan kelajuan penuh menambraku, dan meninggalkanku begitu saja, kemudian ada warga yang melihatku, dan membawaku ke rumah sakit, bertepatan di rumah sakit dimana Rafael dirawat. Lalu mama, papa, dan kak Valen datang menjengukku.
Tidak lama kemudian aku pun sadar, aku minta kepada semua keluarga ku agar meberikan ku izin untuk mendonorkan ginjal kanan ku dan kuberi kepada Rafael, awalnya semua keluarga ku marah, dan tidak meperbolehkanku, tetapi pada akhirnya aku menceritakan semua yang kualami di sekolah bersama Rafael tentang tanpa adanya Rafael mungkin aku masih terpuruk kayak dulu, hanya dialah yang bisa membangkitkan semangatku, lalu semua keluarga ku memberikan ku izin, agar aku bisa tetap tersenyum.
Keesokan harinya aku dioprasi dan diambil ginjal kanan ku, dan dipasang ke tubuhnya Rafael, setelah selesai oprasi kondisi tubuhku melemah, dan aku mengalami koma, hal yang sama juga terjadi kepada Rafael, dia juga mengalami koma, setelah selesai menjalani oprasi.
Aku pun dipindahkan keruangan yang sama di tempat Rafael, kita sebelahan, mengalami nasib yang sama yaitu koma. Setelah 3 hari, Rafael sadar dan melihatku terbaring di sampingnya, dia pun bertanya kenapa Aza bisa disini, mamanya pun memberitaukan semuanya bahwa Aza yang telah mendonorkan ginjal kanannya kepada Rafael, setelah mendengar hal itu, Rafael sangat marah, dan sedih. Hari demi hari kondisi Rafael mulai membaik, sementara aku kondisi ku semakin memburuk, karena ada benturan di kepala ku saat aku ditabrak, sehingga sampai sekarang aku masih koma.
1 minggu pun terlewatakan setiap hari Rafael selalu mendoakanku, semoga aku cepat sadar dari komaku, tepatnya hari itu, hari ulang tahunku ke 16, Rafael membawakan ku kue ke rumah sakit, tiba-tiba kondisi ku memburuk, lalu dokter masuk dan memeriksa ku, dokter sudah menyerah, karena ginjal kiri ku tidak bekerja dengan baik, dan pendarahan yang terjadi di otak kecilku sudah parah.
Seketika Rafael masuk lagi keruanganku, dengan sendirinya, dia berusaha membangunkanku, tapi tidak berpenaruh, hingga dia menyatakan perasaanya di telingaku bahwa dia suka padaku,dia bilang tepat disaat hari ulang tahunku, ajaibnya, setelah dia menyatkan perasaanya, aku pun terbangun dari koma, Rafael sangat senang, dan semua keluargaku juga ikut senang, bahkan dokter juga heran, kenapa aku bisa melewati masa kritisku, dan dokter itu bilang bahwa semua adalah keajaiban.
Hari pun berjalan, kondisi ku mulai membaik, Rafael selalu menajaku dirumah sakit, tetapi dia masih marah padaku, karena kau sudah nekat mendonorkan ginjal kanan ku kepadanya, aku juga marah padanya karena dia sudah merahasiakan semua padaku, tetapi akhirnya kita baikan, dan tidak marah-marahan lagi, 3 hari terlewatakan, aku diperbolehkan pulang kerumah. 1 minggu pun juga terlewatkan, kita berdua sudah kembali sehat, dan bisa belajar kesekolah. Lalu aku memberitaukan bahwa kita memenangkan olimpide waktu itu, Rafael sangat senang mendengarkan hal itu, termasuk juga aku.
2 hari kemudian kita berangkat ke Amerika untuk melanjutkan sekolah disana, semua keluarga ku dan keluarganya Rafael ikutan senang. Saat dipesawat aku bertanya, “kenapa Rafael pindah ke Indonesia”, dia pun menjawab “aku pindah ke Indonesia karena aku melihat ada seseorang sedang terpuruk, aku melihat semua yang terjadi padanya di sekolah melalui kamera CCTV yang ada di sekolah, karena aku juga anak dari pemilik sekolah itu , lalu aku memutuskan untuk pindah ke sekolah itu, dan mengubah nasib anak itu, karena saat itu umurku tidak lama lagi, aku ingin berbuat baik dulu sebelum meninggalkan dunia ini dan anak itu kamu Aiza”, aku sangat terharu mendengar semua itu, dan kita berdua berjanji bahwa selama kita berada di Amerika, kita kan menjalani hari-hari bersama, karena kita sama hanya mempunyai 1 ginjal sampai kita mencapai cita-cita kita yaitu menjadi S3 kedokteran.
1 tahun pun berlalu, dimana juga hari ulang tahunku ke 17, Rafael mengajakku untuk menaiki balon udara yang ada disana, saat itulah Rafael menembakku dan menyatakan perasaanya padaku secara langsung, aku pun menerimanya, karena aku juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Rafael dari sejak hari itu kita sudah mulai jadian.
Hari demi hari pun berlalu, kita pun sudah mencapai cita-cita kita yaitu menjadi Professor, kita sangat tidak percaya bahwa cita-cita kita yang sangat tinggi bisa kita raih bersama, dan kita juga tidak melibatkan uang dari orang tua, karena kita kita selalu mendapatkan beasiwa sampai lulus, hingga menjadi Professor.
Kemudian kita pulang ke Indonesia, semua keluarga kita sangat senang dan bangga mendengarkan bahwa kita sekarang kita sudah menjadi Professor dengan kerja keras kita sendiri, dan satu lagi semua keluarga kita juga bahagia mendengar bahwa kita sudah jadian. Sejak hari itu kita berdua hidup dengan bahagia.