Aku pun segera berlari menuju jalan di depanku. Sehingga mau tidak mau aku harus mengeluarkan seluruh tenagaku untuk mencapai rumah yang berada tepat di ujung pertigaan sebelah kanan jalan raya.
Inilah akibatnya jika aku telat bangun tidur yang akhirnya membuat jadwalku menjadi kacau sejak awal. Memulai sesuatu dengan sedikit ceroboh itulah aku, Chiharu Hanasuma-seorang kurir pos dengan segala keterbatasannya. Mulai dari sepeda yang lambat, penglihatan yang kabur-ini membuatku harus memakai kacamata dalam kesempatan tertentu, dan juga keterbatasan waktu. Karena jam kuliah pagi yang tetap ku paksakan ambil. Meskipun sedikit terganggu.
Ini adalah awal dari kehidupan sebagai seorang kurir pos. Dikarenakan aku yang berani menerima tawaran berkerja dari kenalan Yuko menjadi seorang kurir pos. Karena faktor gajinya yang cukup lumayan. Aku pun akhirnya tertarik menerimanya. Agar aku bisa kembali mengirimkan uang untuk keluargaku di desa.
Toh, aku sebenarnya jika tidak makan sampai tiga hari sebenarnya juga tak apa. Apalagi aku juga pernah mengalami hal yang lebih menyakitkan daripada ini ketika dulu. Yaitu bekas luka di leherku yang dikarenakan ingin menolong seseorang yang bahkan tidak kukenal. Andai saja kalau aku tidak menolongnya pasti bekas luka di leherku akan hilang.
Tapi luka ditanganku itu sudah berbeda lagi.
Tok Tok Tok
"Permisi, ini ada paket! " Teriakku melihat sekitaran rumah yang terasa seperti berada di rumah penyihir. Mulai dari pot-pot yang berserakan dengan bau busuk dari dalam rumahnya. Apa rumah ini tidak pernah dirawat oleh pemiliknya?
Aku pun segera menengok ke dalam jendelanya yang jelas-jelas dibuka lebar tanpa ada satupun korden yang menutupinya. Yang akhirnya membuatku menjadi bisa menangkap seluruh pemandangan dari luar. Tapi ada satu hal yang aneh bagiku di rumah seberantakan ini yang ternyata pemiliknya tidak memiliki satupun botol bir. Padahal rata-rata orang di sini selalunya ketika ada masalah harus ada sebotol bir yang menemaninya. Tak kusangka aku akan bertemu dengan seseorang yang memiliki pandangan sama sepertiku untuk aksi bebas bir yang menurutku bisa merusak fungsi kognitif otak jika dilakukan secara terus-menerus. Tapi ini juga bukan menjadi bukti bahwa pemiliknya adalah benar-benar seorang penyihir kan.
"Siapa di sana?!!" Teriak seseorang tiba-tiba dari arah belakangku yang membuatku terkejut karena gagal konsentrasi menganalisis keadaan rumah seseorang. "Anu, bapak tau yang punya rumah ini tidak. " Tanyaku dengan kikuk. Karena tinggi orang di depanku yang kalah jauh denganku.
"Saya sendiri. " Jawabnya dengan dingin. Dan aku baru tau ternyata dia baru berusia 25 tahun menurut data yang dicantumkan di paket posnya. Astaga kesalahan apalagi yang telah kubuat ini.
"Ini barangnya kakak. Maaf telah salah memanggilnya. Silahkan tanda tangan di sini ya."Kataku berusaha mencairkan suasananya yang terasa seperti sudah musim dingin.
"Baiklah. Biarkan aku memeriksanya lebih dahulu." Ia pun segera memeriksa seluruh bagian paketnya lalu membantingnya ke tanah dan menginjak-injaknya. Dengan senang yang membuatku seperti melihat seorang psikopat.
Uhh, aku ingin segera pulang sekarang.
"Bantu aku menginjak-injak ini. " Ajaknya dengan memandang tajam padaku yang membuatku terpaksa menerima ajakannya untuk menginjak paket yang sudah aku kirimi sendiri.
"Hahahahaha!!" Tawanya yang seperti itu entah kenapa membuatku semakin ingin cepat kabur.
"Anu kak. Permisi, aku mau pergi dulu boleh soalnya masih ada kerjaan lainnya. " Tanyaku dengan membungkuk untuk menghindari tatapan orang gila ini.
"Baiklah." Jawabnya singkat lalu tiba-tiba memberikan kalung yang berada di dalam paketnya untukku. "Berikan lehermu, biar aku pasang."
"Eh, apa?!"
"Lihat tanganmu, bukankah itu sakit. Biar aku membantumu memasangnya. Itu adalah tip mu karena telah membantuku menyingkirkan benda ini. " Ucapnya dengan nada dingin. Apa dia sama sekali tidak memiliki emosi. "Ini luka dilehermu kenapa?" Tanyanya sambil menyentuh leherku yang membuatku semakin tidak nyaman.
"Itu karena dulu aku pernah memiliki riwayat buruk karena menolong orang. Tolong kak segera di pasang soalnya waktuku terbatas. " Kataku dengan nada retoris demi mendesak orang gila ini agar pergi.
"Oh, oke terimakasih karena telah membantuku hari ini. Ini adalah kartu tanda pengenalku. Kau boleh menyimpannya untuk jaga-jaga atau sesuatu yang lain. " Katanya lalu ia pun segera pergi dengan langkah yang lebar-lebar. Tapi kenapa pipinya terlihat seperti sedikit memerah. Apa matahari bersinar terlalu terik ya?
📫📫📫
"Yuko-chan apa aku telah lama pergi ya? Sampai kau sekarang terlihat sangat cantik daripada yuko yang kemarin. " Pujiku pada Yuko yang duduk tepat di depan bangku ku.
"Kau sedang mengolok-olok ku ya?" Tanya Yuko sambil memeluk leherku dengan erat. "Hei, bagaimana dengan perkerjaan kurir posmu itu? Apakah menyenangkan atau kau malah sekarang sudah mendapatkan nomor cowok ganteng hingga nomormu akhir-akhir ini menjadi sulit dihubungi. Apakah sekarang kau sudah punya pacar."
"Ti..tidak!! Malah aku kemarin mendapatkan kesialan karena bertemu dengan seorang yang aneh. " Bisikku pada Yuko yang hanya menganggukkan kepalanya.
"Aneh bagaimana?" Tanya Yuko yang malah di luar dugaanku.
"Dia sebenarnya adalah salah satu pelanggan di pengirimanku. Tapi dari sikapnya ketika dia menerima paketnya tiba-tiba dengan pemikiran yang mungkin sedikit unik. Dia menginjak-injak paket itu bersamaku dengan rasa terpaksa lalu aku pun membantunya dan sebagai imbalan. Ia memberikan isi paket itu yang merupakan kalung mutiara yang sebenarnya cantik. Sehingga aku membawa ini padamu. Lihat. " Kataku pada Yuko dengan menunjukkan kalung yang diberikan cowok aneh itu kemarin padaku.
"Wow, kau mendapatkan kalung itu darimana? " Tanya Lay dengan rasa antusiasme tinggi tiba-tiba.
"Oh, ini aku mendapatkannya dari salah satu pelangganku kemarin sebagai uang tip ku. Dan kau ini sedang apa. Bukankah gerombolan ada di sana bukan di sini. " Tanyaku dengan nada sarkastis untuk Lay.
"Hey, tenanglah. Aku hanya akan memberikan saran padamu. Jika kau memang tak menyukai hadiahnya. Kau bisa kembali mengunjungi pelanggan mu itu untuk mengembalikannya kalung ini sebagai tanda loyalitas bahwa kau seorang kurir pos sejati. " Ucap Lay sambil tersenyum padaku.
"Ide yang bagus. Kenapa kau tidak mencobanya saja dulu. " Tambah Yuko sambil menyentuh dagunya seperti sedang mempertimbangkan tentang sesuatu.
Sepertinya patut di coba juga kalau begitu.
📫📫📫
"Permisi!" Teriakku menggema ke dalam rumah yang sebelumnya pernah ku panggil sebagai sarang seorang penyihir.
"Kau? Kenapa harus ke sini lagi?" Tanya seorang laki-laki dengan sarkastisnya. Dan parahnya aku juga masih belum tahu namanya.
"Aku ingin mengembalikan kalung ini pada kakak. Dan jika boleh tau siapa nama kakak ya?" Ucapku dengan nada sehormat mungkin pada orang yang berusia satu tahun lebih tua dariku ini.
"Namaku? Bukankah aku sudah memberikan kartu tanda pengenalku padamu? Kenapa kau tidak membacanya?" Tanya laki-laki itu dengan nada yang lebih sarkas dan dingin lagi.
"Ma..maaf saya kelupaan karena kemarin hanya memikirkan kalung ini saja. " Jawabku dengan jujur dan juga gugup karena rasa intimidasi yang kudapatkan.
"Namaku Kay Anazawa. Tapi sebelum kau melemparkan pertayaan lagi. Bolehkah kau jujur siapa yang sebenarnya kau tolong hingga membuatmu mendapat luka di lehermu? Karena aku yang sangat penasaran akan hal itu. " Ucapnya dengan nada yang sedikit aneh bercampur seram.
"Dia seorang anak laki-laki yang lembut tapi aku ingat ketika dia akan di injak-injak oleh orang-orang yang ada di bentrokan demo aku menolongnya karena kasihan melihatnya yang ketakutan karena sendirian di tengah-tengah demonstrasi. Tapi setelah semuanya berakhir seseorang mengambilnya dan berkata ialah orang tuanya. Sejak saat itu aku sudah tidak pernah melihatnya lagi. " Jelasku sesingkatnya.
"Jika aku jujur anak laki-laki itu adalah aku. Apa kau mau memulai semua dari awal lagi. "
"A...apa maksudnya?" Tanyaku dengan bingung melihat ekspresi Kay yang terlihat murung dan depresi. "Aku akan memikirkannya jika kau menjelaskannya sejelas mungkin sekarang. "
"Yang aku ingin jelaskan adalah bisakah aku memulai sesuatu yang baru lagi denganmu sebagai tebusan luka di lehermu jika kelak tak ada satupun laki-laki yang mau denganmu. Karena sejujurnya di setiap malam hari aku selalu terpikirkan tentang seorang anak perempuan yang telah berjasa untuk menolongku."
"Ta...tapi aku sudah memiliki teman kencan laki-laki. " Jawabku dengan berbohong.
"Tidak apa-apa kok. Aku akan menunggu di saat yang tepat. Nanti. "
A..apa laki-laki ini tau ia sedang membicarakan apa?
"Baiklah! Terserah kau saja aku kembalikan barang ini padamu!" Ucapku lalu segera berjalan pergi karena mukaku yang rasanya semerah tomat. Alamak.