Seharusnya aku hanya sebatas sosok tak teranggap dalam permainan ini, sosok yang mendamba atensi insan di sekililingku, sosok yang tengah melangkah dalam kepedihan yang dengan tak adilnya dibebankan buana kepadaku. Sesungguhnya, tak apa bila mereka tak menganggapku penting. Tak apa bila penderitaanku memberikan kebahagiaan bagi mereka. Tak apa, 𝗮𝗸𝘂 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝗯𝗶𝗮𝘀𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗹 𝗶𝘁𝘂. Setidaknya, aku tahu bahwa keberadaanku kini dapat berguna untuk mereka, membuktikan telah tewasnya sosok lemah yang selama ini tertanam dalam benak mereka.
Namun, kini aku sebatas insan egois yang menginginkan kepemilikanmu. Tentu kau bukan barang yang dapat diberikan dengan remehnya kepada siapapun. Kau lebih dari itu. Kau begitu cantik, hidup dan bercahaya, sungguh tak pantas disandingkan dengan sosok kelam seperti diriku. 𝗘𝗸𝘀𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻𝘀𝗶𝗺𝘂 𝗯𝗲𝗴𝗶𝘁𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗻𝗶𝗹𝗮𝗶.
Pada awalnya, terpikir olehku bahwa kau sebatas gadis lugu yang entah bagaimana begitu mudahnya terhasut sosok asing yang menipumu dengan dalih membantu pengujian game yang tengah dirancangnya. Terpikir pula kau yang kelak akan begitu mudah untuk kukendalikan dan terpikir… diriku begitu bodoh karena telah menganggapmu seperti itu.
Manusia tercipta bersama dengan kerumitannya, tak terkecuali dirimu. Namun, kerumitanmu lah yang menarikku untuk memahamimu lebih dalam. Pun terucapkan olehku pernyataan bahwa kelak aku akan menyelamatkanku walau aku sendiri tak mengerti perkara apa yang tengah menjeratmu kini.
Ya, ambisiku ialah memahamimu hingga luka terdalam yang selama ini terpendam jauh di sana, menyembuhkannya dan memberikan kebahagiaan untukmu. Menyelamatkanmu. Namun, angan tak selaras dengan realita. Alih-alih menyelamatkanmu seperti yang terucap olehku, kau lah yang berperan sebagai penyelamatku. Malaikatku.
Kau pun telah mengetahui sosok lain yang terpendam di dalam sana, sosok asliku yang menginginkan pembalasan akan segala derita yang diterimanya. Bahkan, kau telah lebih dahulu menyadari keberadaannya. Kau sadar bahwa sosok Ray merupakan ilusi yang tercipta dari efek Elixir agar mudah terkontrol oleh sosok yang selama ini dipanggilnya savior.
Masih teringat jelas dalam benakku saat sosok lain diriku itu datang menemuimu, namun tak nampak sedikit pun rasa takut terpancar dari netra indahmu. Dia mencengkrammu, menghambat pernafasanmu dengan tanggannya. Melontarkan ucapan-ucapan tak bermoril yang sungguh tak pantas ditujukan untukmu. Serta memperlakukanmu bagai mainan pribadinya yang akan terus tunduk padanya.
Lagi-lagi tak nampak sedikit pun tita yang mengalir darimu. Kau tak menangis saat ia mencengkrammu. Kau— kau tetap menunjukkan senyummu itu, senyum hangat yang biasa kau tunjukkan padaku namun begitu ‘ku benci pada saat itu. Aku benci mengingat senyummu itu, senyum yang tetap kau berikan walau sosok itu sedang mencoba membunuhmu dengan tangannya sendiri. 𝗔𝗸𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗼𝗯𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵𝗺𝘂 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻𝗸𝘂 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶.
Di balik senyum itu, masih terekam jelas kau yang tengah berusaha keras mengeluarkan suaramu. Bukan untuk berteriak, namun melontarkan pertanyaan pada sosok itu. Kau— kau bertanya padanya akan hidup seperti apa yang diketahui olehnya. Pertanyaan yang seketika membuat sosok itu melepaskan dinding pertahanannya.
Ia menjauh darimu, melepaskan dirimu dengan meninggalkan jejak merah kebiruan di leher jenjangmu itu. Kau tak lari menjauhinya, kau justru mendekatinya yang tengah terduduk tak bertenaga dan tak bersuara sedikitpun. Mendekati sosok yang sesungguhnya tengah menangis dalam kebisuan.
Diambilnya tangan itu olehmu, tangan sosok insan yang malang dan tak bahagia yang tak pantas mendapat welas asihmu. Kau— kau menggenggamnya erat dan menempatkannya di pipimu, dapat dirasakan tita yang mengalir lembut ke tangan sosok itu. Kau terisak. Malaikatku terisak. Bahkan, malaikat yang sesungguhnya pun ikut terisak melihat sosokmu yang seperti itu.
Tak hanya itu, kau juga mencium sosok itu. Kau menciumku. Kau menciumku tepat di bibirku. Ciuman hangat yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Bahkan, ibuku tak pernah memberikan itu untukku. Alih-alih memberiku ciuman hangat atau sebatas pelukan, ia hanya terus melontarkan kebenciannya padaku. Anaknya yang tak berguna dan tak secemerlang saudara kembarnya. Ah, rasanya aku ingin menertawakan fakta ironi itu. Aku ingin menertawakan segalanya, menertawakan fakta akan tak ada seorang insan pun yang menginginkanku. Fakta diriku yang dengan bodohnya percaya akan janji palsu kakakku untuk menjagaku, namun menghilang dan memiliki hidup baru yang nyaman bersama anggota RFA lainnya. Fakta diriku yang begitu lemah dan seharusnya tak mendambakan apapun.
Puluhan tahun sejak Tuhan mendetakkan jantungku dan menghembuskan nafas kehidupannya padaku, itu pertama kalinya aku menerima perasaan tulus dari sosok yang bahkan baru dikenalku dalam kurun waktu yang begitu singkat.
Aku membelalakkan mataku ketika menerima ciuman itu, tak balas memeluk maupun menciummu. Aku melarikan diri setelahnya, tak berani menatap wajahmu bagai pengecut yang baru saja mengetahui dunia luar dan tak berani untuk melangkah terus.
Aku pergi ke ruanganku, mencoba mengatur nafasku yang entah kenapa berubah tak beraturan. Wajahku memanas dan rasanya seperti ada sesuatu yang memenuhi dadaku. Tak dapat ku ketahui dengan pasti apa yang kualami saat itu, namun rasanya memberiku kebahagiaan yang harusnya tak dapat kurasakan.
Segera ‘ku cari sebotol 𝘦𝘭𝘪𝘹𝘪𝘳 untuk menenangkanku, diteguk olehku cairan itu dalam sekali tegukan. Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhku, namun entah bagaimana berhasil memberikan ketentraman bagi jiwaku.
Aku kembali ke kamarmu, memperhatikan betapa menawannya dirimu yang tengah terlelap dari sebelah jendela kamarmu yang pada akhirnya menarikku untuk melihatmu dengan lebih dekat. Kuberanikan diriku menyentuh bekas perbuatanku padamu, menciumnya lembut dengan harapan dapat meredakan rasa sakitmu seperti perbuatan konyol yang biasa berada dalam benak anak kecil saat tak sengaja melukai dirinya atau angan anak kecil yang ingin ibunya yang menciumnya saat ia merasa sakit.
Teringat lagi diriku akan pertanyaanmu itu, pertanyaan seputar hidup seperti apa yang kuketahui dan tentu saja tak dapat kuberikan pasti jawabannya. Bagaimana caraku menjelaskannya padamu perihal memori masa lampau yang tak ingin diingat lagi olehku. Terkurung dalam tempat yang sama selama bertahun-tahun tanpa ada sosok hangat yang mendampingi.
Diriku semakin terlarut, anganku berkelana semakin jauh. Dadaku sesak dan tak sadar telah meneteskan bulir bening yang berasal dari netraku. Aku tak dapat bernafas dengan baik, rasanya begitu menyiksa dan mendorongku untuk berteriak. Suara-suara yang tak asing memenuhi kepalaku. Aku tak tahan, namun aku tak ingin membuatmu terbangun dari istirahatmu. Aku menutup telingaku rapat-rapat, berharap semakin hilangnya suara itu seiring dengan semakin kencangnya aku menutupnya. Namun, tentu saja cara itu tak membuahkan hasil sedikit pun. Suara itu semakin kencang dan menyiksa. Aku tak kuat lagi, tubuhku bergetar dan raungan-raungan kini terlontar dariku.
Aku melihat kau yang menggerakkan tubuhmu, terusik akan raungan yang aku keluarkan. Kau mengerjap-ngerjapkan netramu dan memanggil namaku pelan. Suaramu membuatku sedikit tenang dan merasa bersalah di saat bersamaan. Aku masih tetap tak bisa mengendalikan tubuhku, kau pun segera mendekatiku dan mendekapku ke dalam pelukanmu. Nyaman, tapi tetap tak bisa menghilangkan rasa sakitku.
Kau bisu. Tak bertanya apa yang terjadi padaku, namun tetap memelukku erat bersamaan usapan-usapan lembut di punggungku untuk menenangkanku. Tubuhku tak bergetar sehebat tadi, ketenangan mulai merasuki. Kau telah menyeretku keluar dari neraka itu.
“Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah merasa lebih baik?” Kau melontarkan pertanyaan itu dengan lembut tanpa menghapuskan senyum hangatmu.
Aku mengangguk pelan, tak bertenaga untuk mengeluarkan suara sedikit pun. Kau mengusap sisa tita di wajahku, menyuruhku untuk menutup mataku dan memberikan kecupan singkat di sana.
"Aku harap kau tak akan lari lagi seperti terakhir kali aku menciummu." ucapnya diiringi tawa kecil yang begitu menggemaskan.
Tak tahu apa yang tengah merasukiku, setelah kalimat itu dilontarkan olehnya, alih-alih melarikan diri, aku justru menyentuh wajahnya dan memberikan ciuman tepat di bibirnya.
“Ma… maaf…” ucapku pelan setengah berbisik dikarenakan rasa malu yang tengah menyergapku setelah melakukan itu padamu.
Kau tertawa, tawa yang sangat indah dan memukau. Tawa yang mungkin tak akan bisa kulakukan sepertimu.
“Kau begitu menggemaskan ray! Sungguh, aku tak mengerti bagaimana bisa kau semenggemaskan itu. Membuatku ingin menciummu lagi.”
“Saeran… panggil aku saeran.” ucapku kepadanya pelan, namun masih terdengar jelas.
“Saeran? Itu nama yang indah. Aku menyukainya. Aku menyukaimu.”
Aku membatu sesaat, rasanya wajahku memerah karena apa yang baru saja terdengar olehku. “Aku… aku tak mengerti.”
“Apa yang harus kau mengerti, Saeran?” tanyanya dengan senyum yang tetap sama seperti sebelumnya.
Aku terdiam sejenak dan berucap singkat. “7.8 miliar.”
“Kini aku yang tak mengerti ucapanmu.” ucapnya dengan senyum yang sedikit memudar.
"7.8 miliar insan di buana ini yang tengah mendetakkan jantungnya, namun mengapa kau detakkan itu untukku alih-alih kepadanya yang lebih mumpuni menjagamu dibanding aku?”
“Kepadanya? Siapa yang kau maksudkan itu, Saeran?”
“Saudaraku. 𝘙𝘦𝘥𝘩𝘦𝘢𝘥 yang sering kau panggil 707 itu dan selalu bersenda gurau bersamamu di dalam chatroom.”
“Apa kau cemburu?”
“Kumohon jawab saja pertanyaanku.” ujarku dengan wajah memelas yang dimaksudkan untuknya menghentikan pertanyaan beruntun itu dan menjawab pertanyaan yang telah dilontarkanku terlebih dahulu.
“Kau sungguh mempertanyakan itu? Jawabannya sederhana Saeran, itu karena—”
Belum sempat mendengar jawaban terlontar dari mulutnya, rasa sakit kembali menyergapku. Suara itu kembali muncul dan menggema di kepalaku.
“7.8 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶 𝘢𝘭𝘪𝘩-𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘶𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶? 𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢, 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘺𝘰𝘭 𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘪𝘥𝘪𝘰𝘵?! 𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶?!"
“Kau… itu bukan urusanmu!” Balasku terhadap suara itu yang sesungguhnya merupakan sosok lain diriku.
“864.000 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘣𝘶𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶?!
“Kau tidak berhak mengucapkan itu!”
“𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘰𝘭𝘰𝘭𝘢𝘯𝘮𝘶!"
“Kau tidak mengenalnya!”
“Ray— Saeran, apa yang terjadi?” wajahmu menyiratkan kepanikan, kau mencoba mendekapku seperti yang dilakukanmu terakhir kali. Namun, sosok lain yang tengah menguasai separuh tubuhku ini mendorong tubuhmu.
“𝘔𝘦𝘯𝘺𝘪𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢! 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘥𝘪𝘰𝘵 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪."
“Ya, aku seorang idiot. Tapi, tak akan sedikitpun aku izinkan sosokmu melukainya!”
“𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢? 𝘚𝘰𝘴𝘰𝘬 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶?"
Tiba-tiba dirasakannya pelukan erat dari belakang tubuh saeran yang membuat sosok itu semakin murka. Sosok itu mencoba menghempaskan tubuhmu lagi, namun tak berhasil karena cengkramanmu yang begitu kuat.
“𝘚𝘶𝘤𝘩 𝘢𝘯 𝘢𝘪𝘳𝘩𝘦𝘢𝘥! 𝘓𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩."
Kau semakin memeluk tubuh itu kuat. “Aku tahu kau masih berada di sana. Tenanglah. Kau akan baik-baik saja, aku akan melepaskan penderitaanmu Saeran.”
“𝘐𝘥𝘪𝘰𝘵! 𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶? 𝘔𝘦𝘮𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶?! 𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢, 𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶!"
“Kau hanya sebatas ilusi yang kelak akan segera hilang.”
“𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘴𝘰𝘴𝘰𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘪𝘭𝘶𝘴𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶. 𝘋𝘪𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢!"
“Itu tidak akan bertahan lama, ini semua akan segera berakhir!”
“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘴𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪!"
“Terkutuklah kau dan pergilah ke neraka!”
“𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢, 𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘶𝘮𝘱𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘥𝘪𝘰𝘵!"
Tubuhku bergetar hebat, tak mengerti apakah sosok lainku itu sungguh menghilang atau tidak. Namun, lagi-lagi kau mencoba menenangkan dan menyeretku keluar dari segala rasa takut yang menyelimutiku.
“Saeran… abaikan itu. Lihatlah aku.”
Suara lembutmu kini dapat terdengar lebih jelas oleh indera pendengaranku. Kau membalikkan tubuhku dan menatap lekat netraku, menutup kedua telingaku oleh tangan indahmu.
"Abaikan suara itu, aku akan menghentikan penderitaanmu Saeran. Membawamu keluar dari neraka itu dan kembali ke surga. Apa kau percaya padaku?”
"Aku percaya.”
Kau memberikan senyumanmu lagi padaku, senyuman yang bagiku lebih indah dari sebelum-sebelumnya. Kau menepati janjimu dan berbisik pelan untuk terakhir kalinya kepadaku.
“𝘠𝘰𝘶'𝘳𝘦 𝘧𝘳𝘦𝘦 𝘯𝘰𝘸 𝘮𝘺 𝘵𝘰𝘳𝘮𝘦𝘯𝘵𝘦𝘥 𝘭𝘰𝘷𝘦.”