"Haaah," kuhembuskan napas untuk yang kesekian kalinya. Semua penjelasan yang diterangkan guru di depan sama sekali tidak masuk ke kepalaku.
Sepertinya Pak Rizal menyadari ke-tidak-fokusan-ku. "Naomi!" panggilnya, lebih mirip berteriak.
Tiba-tiba suara bising sekitar langsung memenuhi indra pendengaranku. Kutatap Pak Rizal yang sedang menatapku tajam. "Ya Pak?"
"Tolong perhatikan pelajaran dan jangan melamun."
"Ah baik Pak, maafkan saya. Ini tidak akan terjadi lagi." Sambil tersenyum aku membuka buku dan bersiap mendengarkan.
Semua orang dikelas terkejut. Mereka menatapku heran, namun aku tidak keberatan. Ku balas tatapan mereka dengan senyuman saat tak sengaja bertemu pandang.
Pak Rizal nampak senang lalu melanjutkan menjelaskan lagi. Maafkan aku pak, aku tidak benar-benar akan mendengarkan yang bapak katakan. Semua itu tidak akan berguna untukku.
Ku lirik Jaya, salah satu teman dekatku. Ia yang paling tampak terkejut. Tentu saja ia kaget. Aku, Naomi Reynaldi, meminta maaf dan bersikap sopan kepada guru.
Aku dikenal seluruh sekolah sebagai murid nakal. Membolos, membully, mempermalukan guru, semua hal itu menjadi keseharianku. Jaya adalah salah satu murid nakal yang menjadi 'teman'ku dan selalu menuruti apa yang ku perintahkan. Ia pasti kaget karena aku berubah menjadi murid yang sopan.
Pelajaran Pak Rizal berakhir. Tidak ada satupun perkataan Pak rizal yang melekat diotakku. Tapi aku tidak peduli.
Saatnya istirahat. Jika hari sebelumnya aku akan pergi ke kantin diikuti oleh 'teman-teman'ku dan melakukan sesuatu yang membuat kami berakhir di ruang konseling. Tapi, tidak dengan hari ini.
Pertama, aku mencegah Ryan keluar dari kelas. Tidak susah untuk mencegahnya, bukankah tadi ku bilang ada teman-temanku?
Jaya menyuruh Farid dan Ridho untuk mencegah Ryan keluar dari kelas atau bahkan mendongak untuk menatapku. Ia pasti berpikir aku akan membully Ryan sebagai kegiatan hari ini.
Kusuruh Farid dan Ridho menjauh. Mereka tampak kaget dan tidak mau. Namun setelah kutatap dengan tajam, nyali mereka ciut. Akhirnya Ryan bisa bebas menatapku. Dia memberikan tatapan memohon, seperti meminta pengampunan. Oh ayolah, aku bukan tuhan.
Laki-laki yang terkenal cupu itu mulai menangis. Mengira aku akan berbuat sesuatu yang kejam padanya seperti hari-hari sebelumnya.
Ku letakkan tanganku dibahunya. Baru begitu saja ia sudah sangat ketakutan. Ku keluarkan senyumanku yang paling manis. "Ryan, maaf ya?"
Semua orang yang melihat hal itu melongo. Bahkan sepertinya roda otak Ryan berhenti berputar. Ia menatapku terheran-heran.
Aku mengulangi kata-kataku. "Hari-hari sebelumnya aku selalu mengganggumu. Jadi aku mau minta maaf atas semua itu. Maaf ya?" Aku mengulurkan tanganku menunggu kami bersalaman. Namun tampaknya ia tidak memaafkanku.
"Kalau kau tidak mau memaafkanku tidak apa-apa. Yang penting aku sudah minta maaf." Baru saja aku akan menurunkan tanganku, Ryan menyambutnya dengan semangat. Bahkan dengan kedua tangan.
"A-aku maafkan Naomi kok! Jadi tenang saja." Ryan tersenyum manis padaku dan kuakui ia sangat manis.
Setelah melepaskan tanganku Ryan bertanya. "Kenapa Naomi tiba-tiba jadi baik? Apakah Naomi sudah diruqyah atau apa?"
Aku hanya bisa tertawa menanggapinya. "Haha, anggap saja begitu. Sekarang mau ikut denganku?"
Ryan mengangguk dengan semangat lalu ikut berjalan berdampingan denganku ke suatu tempat. Jaya, Farid dan Ridho tidak mengikutiku lagi. Entah apa yang ada dipikiran mereka sekarang, aku tidak peduli.
Aku pergi menemui 'korban' kebodohanku. Semua orang yang pernah kubully dengan temanku yang lain. Mereka awalnya tidak percaya, tapi melihat Ryan yang tersenyum sambil berjalan bersamaku menjadi bukti. Aku bahkan pergi ke ruang guru. Tentu saja untuk minta maaf atas kelakuanku sebelumnya. Pak Rizal ikut membujuk para guru untuk memaafkanku.
"Maafkan saja Naomi. Dia itu masih remaja masa depannya masih panjang. Saat dia mau berubah kita semua harus mendukungnya kan."
Aku tersenyum miris menanggapi perkataan Pak Rizal. Lalu para guru bersedia untuk memaafkanku asal aku tidak mengulanginya. "Tentu saja, saya pasti tidak akan mengulanginya!"
***
Sepulang sekolah, teman-teman sekelasku menyapa dan mengucapkan selamat tinggal atau sampai jumpa lagi. Ku tanggapi mereka semua dengan perkataan yang sama atau hanya senyuman. Sebelumnya tidak pernah ada yang berani berbicara tidak penting kepadaku. Tapi hari ini semua berubah. Ah andai saja aku tidak bodoh dan kekanakan, aku pasti bisa merasakan bagaimana suasana sekolah yang damai dan menyenangkan.
Saat aku akan pulang, Farid dan Ridho menyuruhku menemui Jaya di taman sekolah. Mereka bilang Jaya akan mengatakan sesuatu.
Saat sampai di taman aku tidak melihat siapapun. Aku berniat pulang namun sesuatu yang bau dan basah menimpaku. Air pel, aku yakin itu. Ternyata Jaya yang menyiramkannya. Dibelakangnya ada Farid dan Ridho yang tertawa terbahak-bahak.
"Ada apa denganmu?" tanya Jaya setelah melemparkan ember kepadaku.
"Maksudmu?"
"Pura-pura tidak tahu? Baiklah nikmati hari barumu disekolah besok." Jaya dan kedua temannya pergi meninggalkanku.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan kesal. Ternyata begitu rasanya dibully. Apakah semua orang yang pernah kubully merasa seperti ingin menghajarku? Entahlah.
Ayah dan ibuku kaget begitu melihat aku pulang dengan keadaan kotor dan bau. Mereka berdua mulai menginterogasiku, namun dapatku hindari dengan alasan ingin mandi.
Makan malam tiba, aku tidak bisa menghindar lagi. Akhirnya aku berbohong dan mengatakan kalau aku terjatuh ke selokan. Mereka tertawa dan tidak menanyakan apa-apa lagi. Maafkan aku ayah dan ibu, aku terpaksa berbohong.
Selesai makan malam aku meminta kedua orangtuaku untuk memonton film bersama. Itu adalah rutinitas kami dulu sebelum mereka berdua sibuk. Perlu banyak bujukan dan rayuan agar mereka mau mengabulkan permintaanku.
Tepat pukul setengah sebelas malam film pun selesai. Ibu menyuruhku untuk segera tidur karena besok sekolah. Aku tersenyum meragukan hal itu namun tetap menuruti ibuku.
Disinilah aku sekarang. Berbaring kaku di atas kasur. Hanya suara jam yang memenuhi kamarku. Bahkan suara detak jantungku terdengar. Ah, aku tidak pernah begitu memperhatikan detak jantungku sampai hari ini.
Karena tidak bisa tidur aku bangun dan menuliskan sesuatu dilembar kertas. Sebuah surat. Surat itu ditujukan untuk kedua orangtuaku, para guru dan teman-temanku.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku melangkahkan kaki menuju kamar ayah dan ibuku. Kubuka pintu dengan pelan dan berbaring ditengah-tengah mereka. Ibu terkejut mendapatiku sedang berbaring di sebelahnya.
"Naomi? Kenapa ada disini?"
"Pengen aja. Aku mau tidur disini malam ini, boleh kan?"
Ibu tersenyum lalu memelukku. "Boleh dong sayang."
Sepertinya percakapanku dengan ibu membangunkan ayah. Awalnya ia juga kaget, namun kini aku berbaring dengan kedua tangan melingkar diperutku. Ah ini hari paling bahagia dalam hidupku. Sungguhan.
Pukul sebelas lewat sepuluh. Ini dia yang menggangguku seharian penuh. Sebuah cahaya tampak memasuki ruangan. Cahaya itu perlahan membentuk sebuah sosok seperti manusia.
"Sudah siap?" sebuah suara terdengar ditelingaku. Aku yakin ini suara sosok itu meskipun bibirnya tidak bergerak.
Aku bahkan tidak menyadari bahwa pertanyaannya barusan sangat tidak masuk akal. Air mataku mulai mengalir. Aku menangis dalam diam. Sosok itu mendekatiku dan melakukan sesuatu.
Tiba-tiba seluruh tubuhku terasa sangat sakit lalu perlahan mati rasa. Dimulai dari ujung kaki dan naik ke bagian atas. Seluruh ringkasan hidupku terputar seperti film di pikiranku. Sampai akhirnya gelap dan kehampaan sejauh mata memandang.