Senja melukis senyum pada Sang Surya dan Sang Bulan, menghiasi pertemuan mereka dengan kehangatan.
=•=•=
Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil ...
Aku terduduk di kursi taman yang sepi itu sambil merunduk lesu. Pikiran tajam ini seolah memaksaku untuk terus menangis dan menangis.
Andai aku tidak tahu kebenarannya.
Belum percaya. Aku tahu ini semua hanya mimpi buruk yang tercipta karena aku sibuk belajar.
Haha, apa engkau serius, Tuhan?
Hanya kata-kata itu yang terlintas dalam benakku tatkala mengingat tentang ucapannya beberapa saat lalu. Dengan wajah anehnya itu, dia datang menghampiriku untuk minta maaf atas seluruh tindakan buruknya.
Lalu, menyodorkan uang dan mengucap syarat agar aku tutup mulut atas 'kecelakaan' ini.
Bodoh, aku terlalu bodoh. Mengapa aku bisa terlarut dengan mudahnya dalam arus yang tak jelas arahnya ini?
Hancur. Semuanya telah berakhir.
Isak tangisku semakin terasa pilu dan sakit setiap detiknya. Bibir yang tadi kugunakan untuk mengumpat lirih, sekarang hanya mampu bergetar seiringan dengan air mata yang jatuh. Sepintas, terlihat beberapa orang sedang memerhatikanku dengan tatapan aneh.
Karena tidak mau terlihat seperti orang yang cengeng, aku pun bergegas menggunakan telapak tangan untuk menutup akses turunnya air mata.
Ah.
Namaku, Senja. Dulu orang tuaku bilang, bahwa nama ini memiliki arti tentang kedamaian dan cinta. Begitu katanya.
Namun, sampai saat ini, aku masih bertanya-tanya. Apakah Senja memang ada untuk menyatukan? Atau, Matahari dan Bulan lah yang menolaknya?
Lucu.
=•=•=
"Aku pulang." Dengan wajah letih, aku berjalan lunglai menuju kamarku. Untuk saat ini, aku tidak peduli tentang hal lain.
"Oh, kamu udah pulang, Nak?" Suara lembut seorang wanita mengerjap masuk ke dalam sanubari. Ia tersenyum hangat seperti biasanya. "Lho, kamu kok kelihatan sedih begitu? Ada apa?" Wanita itu meraih kedua bahuku dan menatap lurus dengan dua netra maniknya.
Benar, dia ibuku. Seperti biasa, dia selalu menyambutku dengan kekhawatiran setiap aku pulang.
Aku menggelengkan kepala sembari melepas tangan yang mencengkram bahuku secara perlahan.
Ibu terlalu baik untukku. Beliau pasti akan merasa tertekan kalau aku menceritakan semuanya.
"Aku nggak papa kok, Bu. Cuma kecapekan abis kerja lembur aja," jawabku sembari tersenyum tipis demi menutupi segalanya.
Ibu sempat terdiam sesaat. Namun, dia tersenyum setelahnya. "Syukurlah kalau begitu. Ya udah, kamu ganti baju dulu, abis itu makan, ya? Ibu udah siapin makanan spesial buat kamu!" ucap ibu antusias.
Tanpa kusadari, senyuman palsu yang terukir mendadak berubah menjadi senyuman haru yang sesungguhnya. Di saat aku merasa bahwa hidup ini sedang menarikku ke dasar jurang, ibu selalu berada di sisiku dan tersenyum seperti malaikat.
Aku mengerjap merangkul tubuhnya yang nyaris setinggi diriku. Entah kenapa, aku merasa nyaman saat berada dalam pelukannya. Selalu seperti itu.
"Eh, kamu kenapa kok tiba-tiba meluk ibu begini?" tanyanya yang tentu kebingungan karena aksi tiba-tiba yang kulakukan.
"Nyaman. Ibu, aku pengen dipeluk ibu selama-lamanya. Begini terus, sebentar lagi ...."
Ibu tidak menanggapi lagi setelah aku mengucap kalimat tersebut. Pada malam itu, aku sedikit merasa lebih baik. Aku merasa bahwa aku masih memiliki kekuatan untuk menuntut hak yang telah direnggut oleh cowok tak tahu malu itu.
=•=•=
Keesokan harinya, di saat matahari hendak membenamkan diri, aku tengah berjalan pulang sambil membawa beberapa bahan makanan yang kubeli di toko swalayan di daerah ini. Saat itu, aku hanya bertingkah layaknya Senja yang biasanya.
Tidak, sampai kedua mataku menangkap sebuah pemandangan mengerikan. Aku menatap jelas seorang pria yang sangat familiar bagiku sedang bermesraan dengan seorang wanita berambut panjang.
Aku merasa tidak asing dengan keduanya.
Surya, BULAN?!
Jantungku seolah berhenti berdetak pada saat itu juga. Badanku kaku mematung dan seolah tak bisa digerakkan. Mulutku menganga, mataku memekak sempurna, memberikan ekspresi wajah yang mengatakan, 'Tidak mungkin!'
"Ahahaha! Sayang, kayanya kita harus beli mobil yang baru keluar it–Eh? Senja!" Lamunanku seketika buyar saat wanita yang kumaksud memergoki diriku sedang terdiam tak berdaya.
Bulan, aku tak percaya ini.
Bulan melepas rangkulan tangannya dari lengan Surya–mantan pacarku. Ia kemudian berlari menghampiriku dengan wajah sumringah. "Eh, Senja! Kenalin deh, ini suamiku, Surya! Dia juga anak Kampus Pelita Bakti, lho!" lanjut Bulan yang secara tiba-tiba memperkenalkan aku dengan pria yang hendak kuhapus dari memori itu.
Dan ... ternyata, dialah wanita yang menjadi alasan Surya untuk menolak mengakui anak di kandunganku?
"Dan, Sayang ... ini sahabatku yang udah kuanggap kayak saudariku sendiri. Namanya, Senja."
Oh, jadi Surya memang belum memperkenalkan hubungan kami kepadanya.
Yah, saat kami masih pacaran, dia memang jarang memperlakukanku sebagai seorang perempuan. Hanya saat di mana dia ingin memuaskan hasratnya, maka orang yang dipanggil pertama kali adalah aku.
Selebihnya, dia tidak mau mengakui.
Aku baru menyadarinya, ternyata hidupku ini memang sangat menyedihkan.
"Oh, iya. Aku Surya, salam kenal," lirihnya seraya mengulurkan tangan bermaksud untuk melakukan jabat tangan.
Semudah itukah? Semudah itukah kamu berpindah hati?
Atau mungkin, selama ini, aku memang tidak pernah ada dalam hatimu?
Aku iri dengan Bulan. Sungguh ....
Mataku berkaca-kaca meski aku hanya melihat tangannya. Ia berlakon seolah kejadian tempo hari hanya gurauan semata.
Dia sama sekali tidak peduli tentang masa depanku.
Tapi, aku tidak boleh menangis. Tidak untuk saat ini. Aku tak boleh terlihat lemah di depannya, aku masih punya ibu.
Benar.
Aku mengusap pelan mataku dengan punggung tangan, kemudian menjabat tangan Surya dengan senyum penuh sandiwara.
"Senja."
Setelah mengatakannya, aku pun segera menarik tanganku kembali. Pada saat yang bersamaan, mataku beralih memerhatikan wanita polos yang juga adalah korban saat ini.
Bulan tersenyum padaku. Aku juga tersenyum padanya.
"Selamat ya, Bulan. Aku do'ain yang terbaik buat kalian berdua!" ungkapku dengan tangan yang menggenggam jari-jemari Bulan.
"Huweeee ... makasih Senja! Kamu emang sahabat terbaik, deh!"
Bulan memang polos, masih belum berubah sejak dulu.
"Jangan nangis gitu dong!"
Setelah pertemuan singkat kami selesai, Bulan dan Surya kembali berjalan pulang. Mereka tampak sangat bahagia. Terlihat dari gelak tawa yang muncul di antara mereka.
Yah, aku memang iri dengan Bulan. Tapi, bukan berarti aku membencinya. Wanita itu meyakinkanku akan satu hal. Entah kenapa, mendadak aku bisa merelakan Surya. Rasa sakit di hatiku, perlahan mulai memudar.
Hum, sekarang, aku tahu apa makna sebenarnya dari Senja.
Senja ditakdirkan untuk mempersatukan Sang Bulan dan Sang Surya. Ia akan selalu tersenyum kepada mereka, meski kadang keberadaannya tidak diakui.
Begitu, kan?
~Tamat~