Menurut kebanyakan manusia mimpi itu hanya bunga tidur yang menemani kesunyian malam, tapi tidak untuk ku bagiku mimpi adalah sesuatu yang sangat indah yang pernah kualami dimana seluruh manusia disana dengan tanpa jijik memeluk tubuh hancur ku.
Brak...
Tubuhku menabrak dengan keras lantai kamar ku yang dingin nan gelap, Aku menyeret kakiku yang penuh lebam dengan luka hampir diseluruh tubuh mendekat kearah kasur lipat tipis yang ada dipojok kamar.
Perlahan aku merebahkan tubuhku berusaha mengabaikan seluruh rasa sakit yang menyelimuti ku. Tangan kecil ku merusaha untuk meraih sesuatu yang tergeletak tepat disamping kasur lipat yang ku tiduri, sebuah tablet obat yang hanya tersisa tiga butir obat berwarna putih.
Dengan cepat aku meminum ketiga obat itu tanpa menggunakan air putih membuat ku hampir memuntahkan nya. Tidak lama setelah aku meminum obat itu mataku mulai mengantuk membuat ku memejamkan mataku dan masuk kedunia mimpi yang indah.
"Sayang." didepan ku terlihat seorang laki-laki tinggi dengan rambut coklat yang indah berjalan kearah ku.
"Hey apa kamu baik baik saja? Kenapa semakin banyak luka ditubuh mu."
Tanpa bisa ku tahan air mata yang selama ini ku sembunyikan akhirnya jatuh membasahi pipi tirus ku, membuat laki-laki didepanku bertanya untuk kedua kalinya.
"Hey hey kamu baik baik saja?"
"Jangan menangis aku selalu bersamamu." dia memelukku dengan lembut menyalurkan kehangatan ketubuh rapuh ku.
Tangan besar nan hangat miliknya menyentuh pelan pipiku yang dihiasi dengan bekas luka bakar yang di hasilkan dari rokok.
"Tenang lah kamu bisa bercerita semuanya kepada ku."
"Hikss... Sakit." entah kenapa hanya kata itu yang terlintas di benakku.
Dia tersenyum kearahku dan kembali memelukku, tangan besarnya dia gunakan untuk mengusap pelan punggung kecilku.
Tangisan ku semakin keras dari waktu ke waktu membuat ku lelah untuk menangis lagi, tapi tidak dengan dia yang masih setia memelukku dengan hangat.
"Sayang apa kamu ingin disini selamnya dengan ku?" tanyanya semakin mengeratkan pelukan nya dengan ku.
"Ya ya ya." kataku dengan suara pelan dan lemah, tanpa kusadari diriku mulai membalas pelukannya tidak kalah erat.
Lama kelamaan pelukan yang kurasakan semakin mengerat membuat ku tidak bisa untuk bernafas dengan normal. Tangan besar nan hangat tadi berubah menjadi ular besar yang melilit ku.
Mataku bergerak lincah melihat keseluruhan penjuru ruangan mencari sosok tampan penuh kehangatan yang selalu berada di siku. Tapi belum sempat ku temukan dia penglihatanku perlahan mulai menghitam dan membuat ku tidak bisa melihat apapun.
"Sayang sekarang kita akan bersama untuk selamanya."
Ujung bibir ku melengkungkan keatas mendengar suara yang ku rindukan membisikkan kata yang selalu ku nanti kan.
"Ya."