"Huuuft... Suasana yang begitu tenang dan sunyi, tak terasa sudah 1 bulan aku tinggal disini." Ucapku sambil menghela nafas
Aku tinggal di rumah lamaku, rumah masa kecilku. Aku sendiri, tinggal di rumah ini. Suasana di rumah ini sangat tenang. Bukan tanpa alasan aku tinggal di sini, aku ingin menjauh dari kehidupan lamaku, dan mencoba kehidupan yang baru. Aku tinggal di sini bermaksud untuk menenangkan diri, namun keadaanku tak kunjung membaik.
Tepat hari ini adalah hari ulang tahunku. Seharusnya aku berbahagia dihari spesial ini. Namun nyatanya berbanding terbalik. Di tahun sebelumnya Hari ulang tahunku begitu spesial. Rasanya baru kemarin aku merasa bahagia dan sekarang aku sudah terluka. Hari terlalu cepat berlalu.
Aku pergi keluar rumah untuk menikmati tenangnya malam. Aku duduk termenung di ayunan sambil berayun pelan.
Tidak ada lagi yang peduli denganku, bahkan saat aku pergi ke rumah ini tidak ada yang mencari ku. Semuanya bahkan baik baik saja tanpaku, mungkin lebih baik tanpa aku. Aku merasa hidup ini sudah tak berarti. Harapanku sudah berakhir karena rasa kecewa. Memang tak ada yang salah, hanya saja aku jatuh karena harapan yang terlalu tinggi.
Aku terlalu menghargai orang lain hingga lupa dengan diri ku sendiri bahwa aku tak pernah dihargai. Aku hanya membuat semuanya risih karena kehadiranku, diriku ini juga tidak penting Dimata siapapun.
Sikapku yang cuek membuat teman temanku merasa bosan denganku, wajar saja kalau mereka tidak peduli lagi denganku karena banyak lebih asik dariku, mungkin mereka juga lebih baik dariku. Jika aku bisa memilih hidup, aku lebih memilih untuk tak pernah terlahir ke dunia. Aku merasa lelah dengan pikiranku sendiri. Mungkin tak masalah jika aku pergi selamanya dan tak kan pernah kembali.
"Kamu kenapa? Sini cerita denganku"
Aku tak tahu suara siapa itu. Tidak ada seorangpun disini. Mungkin aku terlalu lelah hingga berhalusinasi. Namun kalimat itu terulang kembali.
"Kamu kenapa? Sini cerita denganku"
"Kamu siapa?" Tanyaku pelan.
Tiba tiba ada gadis cantik datang tepat di hadapanku.
"Salam kenal, aku putri. Namamu siapa? Maaf jika kedatanganku membuatmu takut. Kamu kenapa begitu lelah dengan hidup?"
"Aku risa. Aku lelah dengan pikiranku. Aku terlalu susah menerima kenyataan ini. Aku tidak bisa memahami diriku sendiri."
"Hal yang bisa membuatmu bahagia adalah melakukan apa yang kamu sukai, namun itu tidak bisa kamu lakukan. Membuat kecewa dengan dirimu. Aku pernah berada di posisimu, aku tau bagaimana persis perasaan itu. Ada di posisi serba salah dan bingung dengan hidup kita sendiri. Ketika ditanya, sulit untuk jujur namun, ingin menjawab apa yang sedang dirasakan. Memang terlalu susah untuk menceritakan apa yang terjadi."
"Setelah itu apa yang terjadi pada dirimu?" Tanyaku penasaran
"Aku terlalu membenci diriku sendiri dan mengakhiri hidupku. Karena itu aku tak ingin kamu melakukan hal yang sama. Ini sudah malam, beristirahatlah. Besok kita lanjutkan. Selamat malam risa, mimpi indah" Ucapnya sambil memegang erat tanganku
"Baiklah, malam juga"
Aku mencoba untuk tidur, namun aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Mimpi mimpi yang aneh dan perasaan gelisah mengganggu tidurku. Aku selalu kurang tidur saat keadaanku seperti ini.
Setelah membereskan kamar. Pagi ini aku langsung keluar rumah dan duduk di ayunan sambil menunggu putri. Namun putri tiba tiba dia sudah duduk di sebelahku.
"Hai risa. Bagaimana kabarmu?" Putri menyapaku dengan wajah yang sangat ceria
"Hai.. Baik."
"Lebih baik jujur walau sulit. Jangan sibuk memikirkan perasaan orang lain jika kamu masih menyakiti dirimu sendiri. Kejujuran itu adalah kesederhanaan yang mewah. Kalau kenapa kenapa itu cerita ya. "
"Semalam kamu kenapa tiba tiba ada di sini?" Aku yang bertanya untuk mengalihkan topik
"Sebelum aku mengakhiri hidupku, ayunan ini adalah tempat untuk menenangkan diri. Pohon tempat ayunan ini bergantung adalah tempatku bercerita. Hembusan angin adalah respon dari cerita ku. Namun pada akhirnya aku tetap tidak berhasil untuk menenangkan diri. Hingga saat ini tempat ini masih menjadi tempat yang nyaman bagiku"
"sejak kamu pergi untuk selamanya tak ada yang mencari mu lagi?
"Ya, itu mengapa saya memilih untuk pergi"
Putri memang baru mengenalku namun dia begitu tau tentangku. Mungkin karena kami merasakan hal yang sama. Dia orang yang cantik, baik namun sayangnya dia mengakhiri hidupnya.
Putri sering bermain ayunan di sini ketika malam hari. Rambutnya yang panjang, wajahnya yang pucat terlihat sangat menakutkan namun, putri sangat peduli denganku, untuk saat ini dia menjadi tempat ceritaku. cerita keluh kesah ku. Meskipun dia bukan manusia namun dia bisa memahami perasaanku. Dia hanya tidak ingin aku melakukan hal yang sama dengan nya
Aku menatap langit langit kamarku, saat sendiri aku selalu teringat dengan semua masa yang telah berlalu. Aku selalu membandingkan hidupku sekarang dengan yang telah lalu. Kenangan kenangan itu sangat membekas di ingatanku. Aku rindu dengan masa masa itu. Mengingat itu aku kembali meneteskan air mata.
"Kebiasaan nih, kalau sudah sendiri sukanya melamun terus. Kenapa lagi? Kan ada aku, sini cerita. " Putri yang selalu datang ketika aku merasa tidak baik baik saja.
Setiap hari putri selalu berusaha untuk menghiburku. Kehadirannya memang membuatku tertawa, namun aku tetap tidak bisa melepaskan masa masa yang telah berlalu. Walau masih gelisah tapi Keadaan perlahan membaik.
Sampai suatu ketika, saat malam putri mendatangi kamarku namun raut wajahnya begitu sedih.
"Hai... Risa. Malam ini aku ingin mengobrol denganmu untuk terakhir kalinya"
"apa maksudmu?"
"Aku tau, kalau kamu masih tidak bisa menggantikan posisi mereka di hatimu dan menghapus kenangan itu dari pikiranmu. Namun kenapa kamu tidak kembali ke kehidupanmu?"
"Aku ingin kembali namun mereka sudah tak lagi sama seperti dulu. Mungkin di sini aku lebih baik"
"Kembalilah, kini keadaanmu sudah membaik. Kamu hanya memperburuk keadaanmu jika kamu terus di sini. Kamu hanya saja terlalu cepat menilai mereka. Mereka mungkin merasakan hal yang sama denganmu, mereka rindu dengan kehadiranmu risa"
"Tapi, aku merasa nyaman di sini"
"Sudah kembalilah. Nih.. Dipakai gelangnya. Aku juga memakai gelang yang sama. Ini tanda kalau kita pernah bertemu"
"Aku masih ingin disini putri. Ingin menemanimu."
"Kembalilah... Banyak yang menunggu kepulangan mu. Bahkan kamu spesial dimata orang yang kamu spesial kan. Ada hal yang membuat bahagia di sana." Ucapnya meneteskan air mata
"Aku tidak yakin akan hal itu, lebih baik aku disini bersama denganmu"
"Terima kasih untuk semuanya, Maafkan aku. Jika kamu tidak mau untuk pulang, maka aku yang akan pergi"
"Jika kamu pergi, lantas dengan siapa aku bercerita ketika aku sedang tidak baik baik saja?"
"Orang yang ada dalam hatimu, akan menggantikan ku. Di sini aku ingin membuat bahagia seperti dulu. Mungkin nanti kita akan bertemu kembali. Jika kamu rindu denganku lihat saja gelang itu. Jangan menyakiti dirimu lagi ya"
"Kamu akan kemana? Disini saja temani aku" Ucapku sambil berteriak
Itu kata kata terakhir yang di sebut putri sebelum dia pergi. Pantas saja kalau malam ini raut wajahnya begitu sedih. Kepergiannya membuatku kembali sedih, aku lelah, aku ingin mencoba tidur malam ini.
***
Suara alarm dari ponselku berbunyi keras, membuatku terbangun dari tidurku.
"Sepertinya aku tidur sangat nyenyak semalam."
Aku sudah tidak berada di rumah itu lagi.
"Apakah itu hanya mimpi? Atau aku berimajinasi disaat aku kesepian? Apakah dia hanya sebuah teman khayalanku? Namun itu terasa begitu nyata. "
Aku merasa keheranan, tapi entah kenapa aku sedikit merasa lebih tenang. Namun, saat melihat tanganku
"Gelang ini kan, Gelang yang diberikan putri. Dan maksud putri memberikan ini pertanda kalau aku pernah bertemunya. Sepertinya dia bukan sekedar khayalanku. tapi bagaimana itu bisa terjadi?"