Malam telah tiba. Tepat pukul 00.00 teman gadisku menjemputku untuk pergi melakukan kerja kelompok dirumah temanku yang lainnya. Lokasinya cukup jauh dari sini.
Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan teman kali yang lain. Kami pun berangkat bersama. Jalanan sepi yang hampir tidak dilalui kendaraan.
Lampu-lampu jalanan seolah hendak meredup saat kami melewatinya. Seingatku, rumah temanku ada di perumahan dekat sekolah. Tetapi entahlah, sekarang rumahnya ada dipedalaman yang berdekatan dengan hutan kecil.
Jalan disini belum diaspal. Kami terpaksa berjalanan kaki menuju rumah teman kami dan menitipkan kendaraan kami di tetangga-tetangga terdekat.
Rumah temanku memiliki halaman yang cukup luas. Didepan rumahnya ada sebuah kandang ayam yang berukuran setinggi manusia dan sangat lebar. Kira-kira sebanyak apa ayam yang dimilikinya hingga kandangnya sebesar ini? Pikirku.
Salah satu temanku memanggil nama si Tuan Runag, "Dani!!!" serunya cukup kencang. Angin berhembus sepoi-sepoi menambah dinginnya udara malam.
Aku merasa bulu kudukku berdiri. Memperhatikan sekitar rumah Dani. Beberapa pohon tinggi dan besar tumbuh disebelah rumahnya. Daunnya tumbuh lebat. Ranting-rantingnya bergelantungan.
"Eh tunggu, aku sedang BAB" sahutan suara tiba-tiba terdengar. Sumber suaranya berasal dari dalam kandang ayam itu. Aku mengenali suara itu. Suara milik Dani.
"Rupanya ini bukan kandang ayam ya? Hahaha" temanku mencoba bergurai sambil menepuk-nepuk bambu yang membentuk toilet kandang ayam itu.
Udara malam sangat dingin. Aku tidak mengenalan pakaian hangat. Tubuhku menggigil kedinginan. Lalu temanku menawari sebuah jaket. Aku mengambilnya.
Didepan kandang ayam itu terdapat benda-benda yang terbuat dari kaca. Sekilas seperti kristal yang berkilauan. Saat aku dan teman-temanku bercanda, salah seorang temanku tanpa sengaja mendorongku hingga aku terjatuh dan mengenai benda-benda kaca tersebut.
Pyar...
Semuanya pecah. Pecahan kacanya mengenai tanganku tetapi tidak melukainya sama sekali. Ibu Dani terbangun dari tidurnya. Seharusnya malam-malam begini tidak perlu mengganggu tidurnya.
"Siapa diluar?!" Seru ibu Dani keluar dari rumah dengan surainya yang berantakan.
"Eh, anu... Itu tadi kami berniat memberikan Dani suprise karena ini adalah hari ulang tahunnya sekaligus mau kerja kelompok dirumahnya tante" jawab temanku membuat alasan sembarangan.
"Besok ulang tahunnya Dani? Oh iya tante lupa. Kalau begitu kalian masuk dulu ya. Setelah ini ada acara perayaan kecil-kecilan"
Dani keluar dari toilet kandang ayam itu. Menatap ekspresi kami yang kebingungan. Temanku yang membuat alasan tadi kemudian bertanya kepada Dani.
"Dani, besok hari ulang tahunmu?"
"Masih belum. Bulan depan. Memangnya kenapa?"
"Tadi ibumu bilang mau merayakan ulang tahun kecil-kecilan"
"Eh?"
Kami menunggu diruang tamu rumah Dani. Ternyata ucapan ibunya benar, ada perayaan kecil-kecilan. Ia meletakkan sebuah kue tar diatas meja. Lengkap dengan pisau pemotongnya.
Anehnya, ibu Dani juga mengundang tetangga-tetangganya. Mungkinkah mengadakan acara saat tengah malam begini? Rasanya ada yang janggal. Mereka masih terbangun hingga tengah malam begini.
Kami merayakan hari ulang tahun palsu itu dengan normal. Mataku tertuju pada seorang gadis berbadan gemuk. Aku seperti mengenalinya tetapi aku lupa.
Saat sesi memakan kue bersama, aku mendekati gadis seusiaku itu. Memperhatikannya dengan seksama. Akhirnya aku ingat. Dia adalah tetangga bibiku yang sempat kuajak berkenalan dulu.
"Hei, masih ingat aku?" Ujarku bermaksud menyapanya.
"Eh, siapa ya?" Ia malah bertanya balik. Wajar saja bila lupa karena kami bertemu saat masih kecil.
"Aku keponakannya Bu Wartiyem. Masih ingat?"
"Oh, keponakannya. Ingat-ingat"
"Bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu"
"Aku baik, bagaimana denganmu juga?"
"Baik. Oh iya sejak kapan kamu pindah kesini?"
"Beberapa bulan yang lalu. Masih bisa dihitung dengan jari"
"Oh..."
Sejenak aku melupakan kejanggalan tadi karena asik berbicara dengan teman lama. Hingga acara perayaan selesai dan semua tamu kembali kerumahnya masing-masing, aku lupa bertanya bagaimana bisa ia menghadiri acara dadakan yang diadakan tengah malam.
Kupikir itu tidak terlalu penting. Ibu Dani kembali tidur dikamarnya. Sedangkan aku dan teman-temanku memutuskan untuk membeli bahan-bahan yang akan digunakan untuk tugas kelompok ini.
Bodohnya seharusnya aku sudah membelinya sejak pagi tadi. Mungkin saja nanti kami menemukan toko yang buka 24 jam.
Dani tergolong menjadi keluarga mampu. Ia memiliki dua buah mobil yang dititipkan digarasi tetangga. Garasi tersebut letaknya didepan gang. Jadi kami bertujuh menempuh perjalanan dengan berjalan kaki melewati hutan kecil ini.
Sejak awal aku merasa ada yang mengikuti kami. Namun aku tidak berani menoleh kebelakang. Berusaha menenangkan diri dan berpura-pura tidak merasakan apa-apa.
Selang waktu berlalu, kami tiba di garasi tempat kedua mobil Dani diparkirkan. Aku semobil dengan Dani. Ia yang mengendarai mobil ini.
Kami segera meninggalkan garasi. Isi mobil yang kutumpangi ini ada empat orang. Dua perempuan dan dua laki-laki. Sedangkan mobil kedua diisi oleh satu laki-laki dan dua perempuan.
Dalam jarak beberapa meter melaju, aku tidak melihat keberadaan mobil kedua dari kaca spion. Bahkan kami sempat berhenti untuk menunggu mobil itu tiba. Lama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
Ponselku berdering. Panggilan dari temanku yang mengendarai mobil kedua. Dia bilang mobilnya mogok dan tidak bisa diperbaiki. Kemudian kami terpaksa putar balik menyusul mobil tersebut.
Tiba di lokasi, Dani segera memperbaiki mobil yang mogok tersebut. Hanya dalam hitungan menit semua selesai. Saat hendak kembali masuk kedalam mobil, aku melihat bayangan sosok perempuan bersurai panjang terurai dengan lidah menjulur panjang.
Aku bergidik ngeri. Tubuhku mengeluarkan keringat dingin karena ketakutan. Hanya aku yang melihat sosok itu. Kemudian teman gadisku menepuk pundakku.
"Hei!" nafasku tersenggal. Aku hampir mati karena sesak nafas. Untungnya temanku menepuk pundakku.
"Ada apa?" Tanyanya melihat ekspresiku yang ketakutan. Sebelumnya aku tidak pernah melihat sosok seperti ini.
Aku menunjuk sosok yang kulihat dan ternyata dia juga melihatnya. Kami berdua ketakutan kemudian segera masuk kedalam mobil. Aku berpesan kepada Dani agar segera menjalankan mobilnya.
Dani menginjak pedal gas. Posisi kami sekarang berada dijalanan gang. Saat mobil melaju seolah tidak menemui ujungnya, seolah kami sedang berada dilabirin tanpa jalan keluar.
Aku begitu panik. Begitu juga temanku yang tadi melihat sosok itu bersamaku. Tiba-tiba ada banyak ranting berdaun lebat yang menghalangi jalan kami. Entah darimana asalnya. Teman lelakiku mencoba menyibak dedaunan itu agar mobil bisa melewatinya. Sia-sia. Ranting itu menumbuhkan lebih banyak daun lagi.
Aku semakin panik. Bagaimana ini? Rasanya kami sudah terjebak dalam ilusi sosok itu. Mobil yang kutumpangi dan mobil kedua segera berputar balik.
Jalannya tidak dihalangi oleh apapun. Dani buru-buru menginjak pedal gas kemudian mengendarai dengan kecepatan tinggi. Sepertinya yang lain mulai memahami keadaan.
Mobil kedua memimpin didepan. Entah apakah yang kulihat ini benar atau salah, jalanan yang seharusnya aspal namun berubah menjadi jalanan lembab yang kadang bisa menanjak dan menurun seperti dipegunungan.
Tunggu sebentar... Ini bukan jalanan. Ini adalah lidah sosok itu tadi. Kami terombang-ambing seperti menaiki kapal. Berkendara diatas lidah, itu lebih mengerikan daripada tanganku terluka oleh pisau.