Malam itu suasana malam cukup dingin, tampak terlihat dari kejauhan sesosok tubuh mungil tertutup mantel hangat nya yang berbulu. Perempuan itu berjalan dengan sedikit tergesa gesa.
"Shiitttt.... " umpatannya kesal.
"Harusnya aku Terima saja tadi ajakannya untuk pulang bersama. " omelnya pelan.
Dia berjalan tanpa menghiraukan sekeliling. Yah... Malam sudah semakin gelap, bulan sudah benar benar berada diatas kepala, jam tangan bermerk melingkar manis di pergelangan tangan nya menunjukkan pukul 1 dini hari, cukup malam bagi seorang gadis cantik untuk berada di luar rumah.
"Kenapa sepi sekali, gak biasanya seperti ini. " ucap gadis itu sedikit gusar.
Saat melewati gang yang terlihat sepi dan remang remang, hati nya merasa was was. Dengan setengah berlari gadis itu melewati gang sepi itu tanpa melihat sekeliling. Tanpa disadari sepasang mata menatap tajam dan penuh ekspresi bak iblis mengamati dari kejauhan. Gadis itu tak sadar kalo dia melewatinya, setelah mulai menjauh sosok itu keluar dari kegelapan dan membuang puntung rokok yang kemudian diinjak hingga mati.
"Hmm. Gadis yang cukup manis layak menjadi korban selanjutnya. " ucap nya sambil tersenyum smirk.
Pria dengan berbungkus jaket kulit hitam, berpenampilan maskulin, dengan rahang tegas dan tatap matanya yang tajam, dingin dan liar menatap penuh ekspresi. Mengikuti gadis itu dengan santai. Merasa diikuti gadis itu mempercepat larinya, hingga membuatnya tersandung dan jatuh.
"Haisss... Aduhhh sakitnya. " rintih gadis berambut pirang sambil terduduk.
"Perlu bantuan nona. " ucap seseorang tiba-tiba dari arah belakang sembari mengulurkan tangannya
"Ahhhh... Anda membuat saya terkejut Tuan. " ucap gadis itu menerima uluran tangannya.
"Panggil saya Victor. Lebih tepatnya Victor Smit. " ucap pria itu sambil membantu gadis itu untuk berdiri.
Gadis itu tersenyum manis menatap mata Victor.
"Saya Audrey Bennett. Panggil saja Audrey. " ucap Audrey memperkenalkan diri.
"Apa Anda pulang dari kerja ?. " tanya Victor.
"Ah iya, karena harus lembur saya jadi pulang kemalaman. " jawab Audrey.
"Akan saya antar Anda hingga sampai ketempat tinggal Anda. " tawar Victor.
"Tidak baik buat gadis secantik anda pulang selarut ini. " lanjut Victor.
"Oh dengan senang hati, dan Terima kasih sebelumnya. Saya juga sedikit khawatir karena ada berita yang membuat saya takut untuk pulang selarut ini. " ucap Audrey.
Keduanya pun berjalan beriringan.
"Berita apa yang membuat Anda takut. Hmm? " ucap Victor.
"Saya dengar ada Psikopat gila yang sedang berkeliaran, mangsanya ada gadis gadis muda. Itu membuat saya menjadi khawatir. " jelas Audrey.
"Oh iya kah. Wahhh saya ketinggalan berita kalau begitu. " sahut Victor sambil tertawa kecil.
Tapi tampak terlihat jelas kilatan matanya yang tajam dan ingin melahap gadis cantik disampingnya itu. Hingga perjalanan mereka berakhir di sebuah apartemen yang tidak terlalu mewah dan terbilang sederhana.
"Sudah sampai, saya tinggal disini. Lebih tepatnya di lantai 3 kamar nmr 105. Apa Anda mau mampir ke apartemen saya. " ajak Audrey.
"Tidak terimakasih, sudah sangat larut. Lain waktu saja saya akan berkunjung ke apartemen Anda. " tolak Victor.
"Anda naiklah keatas, saya akan pergi setelah Anda masuk ke apartemen Anda. " lanjut Victor.
"Waoo Anda benar-benar pria gentleman. Sekali terimakasih dan selamat malam. " ucap Audrey sambil tersenyum manis.
"Selamat malam juga untuk Anda dan segera beristirahat. " jawab Victor sambil mengusap lembut pipi Audrey.
Sehingga membuat si empu tersipu malu dan bergegas masuk kedalam apartemen. Victor menatap punggung gadis cantik itu tanpa berkedip, sembari tersenyum smirk. Sesampainya Audrey dilantai 3 Audrey menyempatkan diri berdiri dipembatas balkon sambil melambaikan tangannya. Victor membalas lambaian tangannya. Audrey pun masuk kedalam apartemennya.
"Hmm... Gadis yang benar-benar polos, cantik dan manis. Mangsa yang sangat pas untuk saya bersenang-senang. " cuman Victor lirih tersenyum smirk.
Dan melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Audrey. Sedangkan Audrey didalam apartemen tersenyum senang dan tersipu malu.
"Ahh sungguh tampan pria tadi, tatap matanya tajam bak sebilah pisau tapi menghanyutkan. Benar benar pria tampan, semoga bisa bertemu lagi. " ucap Audrey sambil berbaring di ranjang nya usai membersihkan badannya.
Pagi menyapa, usai bangun dan beranjak dari ranjang nya, seperti biasa rutinitas pagi Audrey. Belum sempat dia membuat sarapan pagi terdengar pintu apartemen nya berbunyi berulang ulang.
Ting tong ting tong....
"Astaga iya sabar sabar. Pagi pagi sudah buat heboh saja. " ucap Audrey kesal sembari membuka pintunya.
"Nyonya Rebecca, tumben pagi pagi sudah bertamu. " ucap Audrey terkejut mendapati pemilik apartemennya.
"Tidak perlu basa basi Audrey, hari ini juga anda kemasi barang2 anda, apartemen ini sudah ada pemilik nya. " ucap nyonya Rebecca.
"But whatt... " pekik Audrey tak Terima.
"Nyonya, anda bilang apartemen ini tidak ada jual, terus sekarang anda bilang kalau ini sudah ada pemilik nya. Tidak bisa begitu dong nyonya." protes Audrey.
"Ini apartemen milik saya terserah saya mau jual atau saya sewakan." jawab Rebecca ketus.
"Tolong beri saya waktu beberapa hari, tidak mudah mendapatkan apartemen yang baru nyonya. " pintah Audrey.
"Tidak bisa, saya beri waktu anda 1 jam untuk membereskan pakaian Anda. Sedangkan untuk barang2 anda yang lain akan di bereskan oleh orang suruhan saya. " ucap Rebecca tegas.
"Anda keterlaluan nyonya, bagaimana bisa saya mendapatkan tempat tinggal secepat itu. " protes Audrey.
"Itu bukan urusan saya dan ini uang sewa anda saya kembali. Dan secepatnya anda keluar dari apartemen ini, karena pemilik apartemen ini akan segera tiba. " ucap Rebecca yang kemudian meninggalkan Audrey sendiri.
"Gila itu orang tidak begini jugakan. " umpat Audrey yang kemudian menutup keras pintu apartemennya.
Audrey segera mengambil 2 kopernya dan mengemasi barang2 milik nya yang benar2 penting. Usai semua rapi dan masuk kedalam koper segera Audrey keluar dari apartemen nya. Tidak disangka Nyonya Rebecca pemilik dari apartemen itu menunggunya di lobi apartemen. Dengan tatapan malas Audrey segera memberikan kunci apartemennya itu.
"Berikan alamat anda nanti kalo sudah mendapatkan apartemen yang baru, segera saya kirim barang2 anda ke alamat itu. " ucap Rebecca sambil menerima kunci.
"Barang2 itu saya tidak butuh lagi, silakan anda buang saja. " ucap Audrey ketus dan meninggalkan Rebecca sendiri.
Rebecca menatap iba kepergian Audrey, ada perasaan menyesal sekaligus takut dimata nya. Setelah melihat tubuh Audrey yang menghilang dari pandangannya Rebecca segera menghubungi seseorang dengan rasa cemas dan gugup.
"Tu.. Tuan... No.. Nona Audrey sudah keluar dari apartemen. Kemungkinan besar dia ada di halte bis dekat apartemen. " 📲ucap Rebecca gugup.
"Tolong lepaskan putri saya tuan. " 📲lanjut nya.
"Bagus. Dalam 5 menit putri anda sudah ada di rumah. " 📲ucapnya tegas.
Benar dugaan Rebecca, Audrey duduk termenung di halte bus, dia bingung harus kemana.
"Haa.... Gimana caranya mendapatkan apartemen secepatnya. Gila nyonya Rebecca keluar tanpa konfirmasi dulu memangnnya semudah itu apa mencari apartemen. " gerutu Audrey.
Tanpa Audrey sadari sepasang mata menatap nya dengan tajam. Cukup lama pemilik mata itu mengawasi Audrey sehingga diapun melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan Audrey.
"Sendiri saja nona ? " sapa nya
"Astaga Tuan Victor, anda membuat saya terkejut. " ucap Audrey terkejut bukan main
Victor sang pemilik mobil tersenyum penuh pesona hingga membuat Audrey tersipu malu.
"Apa yang sedang anda lakukan di halte di pagi hari seperti ini? Dan koper koper itu. ? " tanya Kevin.
"Haaa.. Saya habis di tendang keluar dari apartemen saya Tuan, dan sekarang bingung mau tinggal dimana. " jawab Audrey sambil menopang dagu dengan kedua tangan nya.
"Panggil saya Victor tanpa embel2 tuan. " ucapnya yang kemudian turun dari mobil nya.
"Kebetulan apartemen disebelah tempat tinggal saya kosong. Apa Nona mau sewa disana? Jangan khawatir harga sewa nya tidak terlalu mahal. " lanjutnya sambil berdiri didepan Audrey.
"Benar kah, wahhhh saya tertolong sekali. Panggil saya Audrey saja. " ucap Audrey yang kemudian berdiri dari duduknya.
"Apa bisa sekarang kita kesana Victor, secara ini masih belum jam saya untuk bangun. Terus terang saya masih mengantuk sekali. " sahut Audrey tanpa malu malu.
"Sure." ucap Victor pendek yang kemudian membantu Audrey membawa koper miliknya kedalam bagasi mobil.
Senyum penuh kemenangan terpancar jelas di mata Victor, kilatan penuh nafsu menghiasi matanya yang tak pernah berhenti menatap ke arah Audrey. Sedangkan Audrey sendiri hanya cuek tanpa ada rasa waspada. Audrey duduk manis di dalam mobil Victor.
"Oh ya Audrey, maaf sebelumnya kita tidak langsung ke apartemen ada tempat yang harus saya kunjungi saya harap anda tidak keberatan ikut dengan saya. " ucap Victor sambil melajukan mobil nya.
"Tidak apa apa, hari ini saya free. " ucap Audrey sambil tersenyum manis.
Victor tersenyum penuh arti.
~"Kena juga kamu manis. "~ ucap Victor dalam hati.
Mobil melaju dengan kencang. Tak lama kemudian keduanya sudah berada di luar kota, mobil melaju melewati hutan dan sepi, bisa di bilang sangat sepi. Audrey mulai merasa was was karena dia tak melihat 1 mobil pun yang berpapasan dengan nya.
" Victor apa anda tidak salah arah, ini kita jauh dari perkotaan. " ucap Audrey sedikit mulai khawatir.
"Tidak. Saya lupa bilang, tempat yang kita kunjungin adalah perkebunan jadi tentu saja kita akan melewati hutan hutan. Jangan khawatir saya ada villa disana, disaat saya pergi anda bisa beristirahat di villa. " ucap Victor sambil tersenyum.
Audrey hanya mampu menganggukkan kepalanya tanda kalau dia paham. Tak lama kemudian sampailah keduanya di villa yang cukup terpencil
Audrey sedikit merasa takut saat melihat villa yang ada didepannya itu.
"Kenapa Audrey? " tanya Victor.
"Tidak ada apa apa. " jawab Audrey sedikit ragu.
"Jangan khawatir disini aman, kita cuma sebentar disini. " ucap Victor menyakinkan.
Victor memasukkan mobilnya ke garasi dan kemudian membuka pintu bagasi mobilnya.
"Haruskah menurunkan koper juga, bukan kah kita hanya sebentar saja disini ? " tanya Audrey terkejut.
"Hanya buat jaga jaga saja. Bukankah anda juga perlu mandi dan juga ganti baju. " jawab Victor sambil tersenyum.
"Ahh iya juga. " jawab Audrey yang kemudian turun dari mobil.
Sedangkan Victor membantu Audrey menurunkan kopernya dan membawa masuk kedalam villa.
"Kamar tamu sudah dibersihkan, tadi saya sudah memberi kabar ke asisten rumah tangga kalau saya bawa gadis cantik kemarin. " ucap Victor sambil menunjukkan kamar tamu.
Tentu saja itu membuat Audrey tersipu malu dan kemudian berjalan ke arah kamar yang ditunjuk oleh Victor.
"Saya pergi dulu dan anda silahkan beristirahat. " lanjut Victor.
"Iya, dan terimakasih. " sahut Audrey yang masuk kedalam kamar.
Setelah menatap punggung Audrey yang telah masuk kedalam kamar, senyum iblis Victor menghias sempurna di wajah Victor. Victor sendiri bukannya pergi keluar melainkan pergi menuju ruang kerjanya. Yang kemudian duduk di meja kerja kesayangannya. Dengan elegan Victor mulai menyalahkan laptop di depannya hanya dengan sekali klik terpampang dengan jelas ruang dimana Audrey berada sekarang. Yah....
Kamar yang Audrey tempati penuh dengan CCTV, baik di sampai tempat tidur, meja rias, ujung dinding kamar hingga kamar mandi. Hampir semua tempat tak luput dari CCTV.
(Audrey)
Setelah Audrey masuk kedalam kamar.
"Waoooo kamar yang indah sekali. " ucap Audrey kagum.
Segera Audrey melepas mantel yang membungkus tubuhnya dan berkaca.
"Hemmm cukup cantik, walau sedikit kusut. " ucap Audrey.
"Lebih baik sekarang mandi lalu istirahat sambil menunggu Victor pulang. " lanjut Audrey sambil melepas semua bajunya di luar kamar mandi.
Dengan tanpa waspada Audrey masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan badannya. Tak membutuhkan waktu yang lama Audrey keluar dari kamar mandi dengan badan tanpa sehelai benang pun, hanya handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut nya. Yang kemudian membuang handuk itu kesembarang tempat. Dirasa sudah kering Audrey beranjak menuju ranjang dan berbaring tanpa memakai baju kembali hanya dengan menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang telanjang bulat. Dan mulai memejamkan matanya.
(Victor)
Di dalam ruang kerja Victor tersenyum smirk.
"Dasar bitch!!! " desis Victor tersenyum smirk.
Tanpa menunggu terlalu lama, Victor mulai beranjak dan berjalan ke almari hitam yang elegant. Di raihnya sebuah koper hitam yang kemudian berjalan keluar ruang kerjanya menuju ke kamar tamu dimana Audrey tertidur pulas.
Membuka knop pintu kamar dengan perlahan menutup pintu kembali dan menguncinya. Melangkah lebar mendekati Audrey yang tertidur lelap, dengan kasar Victor menyibakan selimut dan menatap tubuh telanjang Audrey yang terpampang jelas di hadapannya. Dengan segera menindih tubuhnya dan mengunci semua pergerakannya, tidak susah bagi Victor melepas kemejanya dan membuang ke sembarang arah memperlihatkan tubuh atletis nan berotot milik nya.
Merasa berat dan ada sesuatu yang menindih tubuhnya Audrey terbangun dan terkejut bukan main melihat Victor telah berada diatas tubuhnya yang telanjang bulat.
"APA YANG KAMU LAKUKAN VICTORRRRR.. " teriak Audrey terkejut bercampur marah.
"CEPAT TURUN DAN LEPASKAN SAYA BAJIANGANNN. " Pekik Audrey kembali.
Tak menghiraukan teriakannya segera Victor meraih borgol dari balik kantung celananya dengan sigap mengunci pergelangan tangannya diikuti mengapit kedua kakinya diantara kedua paha Victor sambil tersenyum smirk.
"Tidak semudah itu bitch. Hari ini kamu milikku. " ucap Victor sambil tersenyum bak iblis.
Tatap matanya berubah menjadi mengerikan, tatapan membunuh terpancar jelas dimatanya, senyuman yang menyeringai bak hewan buas menemui mangsanya. Audrey bergidik ngeri melihatnya. Audrey mencoba memberontak dengan bergerak ke sembarang arah agar bisa terlepas dari apitan Victor tapi semua percuma.
"Saya mohon lepaskan saya Victor, saya bukan bitch, saya mohon lepaskan BAJINGANNNNNN. " teriak Audrey penuh dengan rasa takut.
"Stttt diam!!..." ucap Victor dengan menatap tajam kearah Audrey .
Yang kemudian menyumpal mulut Audrey yang berisik dengan gumpalan kain memenuhi mulutmu lalu beralih merantai kedua kakimu menjadi satu sisi disusul tamparan keras dipantatnya yang berisi hingga meninggalkan jejak kemerahan telapak tangan Victor.
Sfx ; PLAKKK!! PLAAAKK!!
" Your mouth is really noisy bitch!!, Ku beri sesuatu nanti "
"Ukhhh.... " teriak Audrey kesakitan.
Menatap puas segera Victor beranjak dari ranjang meraih tombak besi panas yang berada di perapian kamar, tombak besi yang merah menyala namun tak terlalu panas menurut Victor, walau tampak mengepul diujungnya. Sambil menatap penuh senang Victor mulai berjalan mendekati Audrey. Audrey mulai merasakan takut yang teramat sangat, Audrey hanya mampu menggelengkan kepala sembari meneteskan air mata dan menatap memohon untuk dilepaskan. Bukan Victor sang psikopat namanya jika merasa iba. Dengan tersenyum bak iblis segera Victor mengangkat kaki Audrey keatas memperlihatkan vagina Audrey yang terawat. Victor menatap senang, sebentar Victor meletakkan tombak panas di meja kecil yang tadi dia simpan dan melepas sumpalan dimulut Audrey seraya berkata.
"Berteriaklah cantik, semakin kau berteriak semakin saya bersemangat. " ucapnya terkekeh senang.
Diraihnya kembali tombak panas itu dan kemudian memasukan secara kasar ujung tombak yang digenggamnya hingga masuk setengahnya membakar dingin vaginanya.
"Aargggggggg...... Panaassssss..... " teriak Audrey tak kuasa menahan rasa panas di bagian vaginanya.
" ini vagina nakal, harus dihukum!! " ucap Victor terkekeh senang.
Victor terkekeh renyah mendapati lubang Audrey yang kian membesar dan kulit yang mulai melepuh didaerah sana dengan cepat memaju-mundurkan hingga penuh sampai masuk kedalam.
"Aaarrggggggg......... Lepasssss cabut kembaliii Victorrrrrrr....." teriak Audrey histeris.
Bukannya merasa iba, Victor malah tertawa senang.
"Hahahaha.... Teriak lebih keras cantik, suara membuatku lebih bersemangat lagi. " ucap Victor sambil memaju mundurkan tombak hingga masuk sempurna ketubuh Audrey.
"Aahkkkkkk..... " teriak Audrey sambil membusungkan dadanya merasakan sakit yang teramat sakit, air mata nya mulai berlinang tak dapat di bendung lagi.
Tak menggubris permohonan Audrey dengan gencarnya Victor memutar ganggang tombak mengobrak abrik dinding vaginanya hingga membuat darah keluar merembes dari bibir vaginanya membasahi ranjang.
"Aahkkkk..... Aaaagggrrrrr....... " teriak Audrey keras.
Dengan kasarnya mencabut tombak itu dari dalam vaginamu membuat bau anyir darah kian mengguar dalam indra penciuman ku ; membuang asal tombak itu sehingga membuat terdengar begitu nyarinya lemparan ku
Sfx ; TRANGGG!!
"Aahkkk... . " pekik Audrey saat tombak tercabut kasar dari tubuh nya.
Beranjak dari ranjang menuju koper yang dibawanya tadi kemudian mengambil sebuah cambuk bergerigi besi pari. Dengan segera merubah posisi tubuh Audrey menjadi doggy-style. Melihat apa yang di bawa Victor Audrey makin ketakutan.
"Ti... . Tidak.. . . Tidak lagi.... . Saya mohonn tidak lagi tuann.. . Hikss.. . Le.. . Lepaskan saya tuannn.. ." rintih Audrey.
"Ahkk... . " pekik Audrey saat tubuhnya berubah posisi.
Tanpa aba aba Victor cambukan punggung nya beberapa kali.
Sfx ; CTAASSS!! CTAAASSS!!
" Jangan membangkang!!... "
"Aaahkkk...... . Aargggggggg.... . . " teriak Audrey menggema diseluruh kamarnya.
Gerigi besi menancap sampai daging membuat kulitnya mengangga lebar sehingga darah mengalir dari luka cambukan Victor. Victor menatap datar tubuh telanjang mulus penuh darah itu diikuti cambukan menghujani kembali sambil tersenyum bak iblis penuh dengan kesenangan.
Sfx ; CTAASSS!! CTAAAASSS!!!
" Sialan, teriakanmu bener sangat indah sayang." ucap Victor sambil terus mencambuk punggung Audrey.
Audrey berteriak dengan kencang sambil menahan sakit dibagian punggung dan vaginanya. Setelah puas barulah Victor melempar cambukannya kesambarang arah dan kemudian menampar kembali kedua pantatnya yang berlumuran darah dengan begitu kencang sampai tubuhnya sedikit terguncang serta meremas pantat berisinya secara memutar dan kasar
Sfx ; PLAAAKK!! PLAAAKKK!!
"Ahkkkk..... . .. Sakitttt.. . .. . " rintih Audrey yang makin melemah.
Victor menatap puas kearah Audrey yang terbujur lemah tak berdaya, darah mengalir deras dari punggung dan vaginanya. Aroma darah segar menyeruak memenuhi kamar, ranjang yang awalnya berwarna pink lembut berubah menjadi merah darah. Victor menghirup kuat kuat aroma yang ada.
"Hmmmm sungguh nikmat aroma darah mu cantik. " ucap Victor sambil mendekat sambil membawa pisau kecil yang entah kapan di ambilnya dari dalam koper.
Victor tersenyum bak iblis kembali mendekat dan duduk disamping Audrey.
"Apakah sakit tadi cantik, maaf kalau membuat mu berteriak kesakitan. Tapi...... " ucap Victor mengantungkan kata katanya sambil meletakkan pisau di buah dadanya.
"Saya suka mendengar teriakanmu. " ucap Victor ter senyum senang sambil menancapkan pisau di buah dada Audrey dan merobek dengan kasar hingga darah mengalir dengan derasnya.
"Aaarggggggg........ " sekali lagi Audrey berteriak dan akhirnya tak sadarkan diri.
Melihat Audrey sudah tak sadarkan diri. Victor beranjak pergi dan meninggalkan Audrey terkapar tak berdaya di atas ranjang.
The end