Ceklik...
Apakah sebenarnya pertengkaran mereka hanya untuk mempromosikan film baru mereka?
Ceklik...
Masalah pertengkaran antara dua penyanyi dangdut yang sensual antara Camellia dan Alex masih belum bisa terselasaikan. Siapakah?
Ceklik...
Benarkah bahwa Camellia yang biasa akrab disebut Lia yang memulai pertengkaran?
Ceklik...
Alex menyangkal bahwa ialah yang menyebabkan menyulutnya pertengkaran yang memilukan ini.
Ceklik...
Saksikan film Arwah Goyang Camellia dan Alex di bioskop terdekat. Buruan sebelum di cekal!
"KAMPRET!"
Sore itu, seorang pemuda yang sedang sibuk dengan kegiatannya mengganti-ganti channel televisi yang berisikan hal yang tidak penting.
"Elah, ini acara pada gini amat. Isinya gosip semua, kalo ngga beginian pasti sinetron abal-abal yang ditayangin. Atau acara musik yang isinya para Alayers yang ngerusak mood gue. Gimana mau maju, kalo para pemuda dan pemudinya di kasih acara kaya begini!"
Sebut saja pemuda itu, Indra. Pemuda yang akhir-akhir ini meluangkan banyak waktunya di rumah petaknya di daerah jakarta pusat.
"Ini, tipi gewe yang salah ato gewe yang emang jauh dari keberuntungan ya," pemuda itu memulai cara bicaranya yang aneh.
"Hoi, Ndra." sapa seorang pria berambut putih yang hanya memperlihatkan sepertiga dari wajahnya saja.
Indra yang sedang mendumal terkaget dengan datangnya seorang pria ke kamarnya lewat jendela.
"Astajim, Kur. Elu bisa kagak sih kalo mau ke kamar gue lewat pintu! Buat apa pintu dibuat kalo manusia macam elo malah make cara primitif buat nyamperin orang. Begitu aja kok repot."
"Semprul! Laga lu Ndra...Ndra, pake quote segala sok dewasa banget lagi. Berenti ya, masalah pintu. Gue cuma mau ngasih tau, kalo nanti kita di suruh Bos ngurusin acara nikahan temennya. Kata temennya mereka mau di acara mereka ada yang heboh dan dapat ngehibur tamunya pake 'sesuatu' yang something special gitu, Ndra," pria itu terlihat sedikit antusias di balik wajahnya yang tertutupi.
Indra sedikit heran dengan sikap partner-nya yang tidak aneh itu,
"Nilai Bahasa Inggris jeblog aje, pake nyoba-nyoba. Tu-tunggu, maksud lo, Bos nyuruh kita nanganin client yang mau nikahan gitu? Mau jadi apaan kita? Pager ayu?"
.'-'.
Kini di tempat itu sang ketua sedang begitu sibuk menerima telepon dari client-clientnya, "Oke, tenang. Ini sekarang mereka ada di hadapan gue, pokonya acara lo bakal heboh," laki-laki itu menoleh ke dua pemuda di hadapannya.
Dua pemuda yang dimaksud memulai aksi sikut-menyikut, "Pokonya gue ngga bakalan ngecewain hari jadi sobat gue, tenang aja, Den." ungkap lelaki itu sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Laki-laki itu kemudian menatap para pekerja di depannya dengan cengiran mesumnya.
"Akhirnya kalian dateng juga, oke ngga usah basa-basi lagi. Temen gue tadi nelpon kalo dia mau lo berdua ngundang dua penyanyi dangdut yang lagi heboh belakangan ini, ya sapa lagi kalo bukan Camellia sama Alex."
Indra mendengar hal itu terdiam di tempat. Baru saja ia memaki kedua orang yang disebutkan oleh bosnya itu.
Kurnia yang memang update mengenai hal-hal seperti itu menanggapi timpalan yang diberikan oleh bosnya,
"Tapi mungkin sedikit susah untuk mengundang keduanya ke acara teman Anda, Bos. Mengingat mereka sedang ada skandal akhir-akhir ini."
"Itu urusan kalian, pokonya gue ngga mau sahabat gue kecewa gara-gara dia ngga dapetin apa yang dia mau di hari pernikahannya. Pokonya saat gue udah ada di sana, gue mau kalian ngga malu-maluin Bos kalian ini."
Pemuda berambut kuning itu sudah menyimpan rasa kesal di hatinya, 'Endasmu! Dikira gampang mikirin beginian apa? Sompret!' Indra terpaksa menerima tugas yang diberikan oleh bosnya, mau bagaimana lagi. Kurnia sudah begitu semangat mendapat tugas seperti ini.
.'-'.
"Gue mau tapi kalo ada si... ya elo taulah, gue bakalan nolak ini," suaranya sedikit mencekik telinga Kurnia, dijauhilah ponsel yang kini digunakannya.
Kurnia mengerti, "Oke, tenang. Gue gabakalan bikin kalian sepanggung kok, lex," tukas lelaki itu bijak lalu memutuskan sambungan komunikasinya.
Indra menatap harap pada partner-nya. "Gimana? Mau ngga?" Kurnia memberinya kode jari yang membentuk huruf O dan K yang disambung.
"Tapi bukannya mereka ngga mau sepanggung? Terus gimana sama Lia, apa dia mau dateng?" Indra penasaran kenapa teman kerjanya itu mempunyai nomor ponsel penyanyi-penyanyi seperti itu.
Kurnia menatap serius layar ponselnya, "Ya...," ia memulai mengetik nomor yang akan ia hubungi,
"semoga. Halo? Ya, Liq. Gue butuh bantuan lo nih, bos gue temennya nikahan, temennya doi mau elu dateng ngehibur hari jadi mereka. Tapi, ya... Ada ulet kecil yang elu gasuka nanti. Tapi tenang, gue handle semuanya. Lo ngga bakalan sepanggung sama dia kok," balasan suara belum terdengar di telinga Kurnia, mungkin sedang mempertimbangkan tawaran Kurnia.
"Oke, pokonya gue percaya sama lo," suara itu menutup sambungannya kini.
Kurnia memberikan tatapan yang menggembirakan pada Indra, ya meskipun bagi Indra tak ada bedanya, "Beres," diikuti tanda ibu jari yang diacungkan.
Indra menatap teman kerjanya lemas, "Yaelah semangat amat." Tidak mudah bagi Indra menerima kenyataan hidupnya. Ia masihlah berumur sembilan belas tahun tapi sudah dibebani dengan pekerjaan yang aneh.
Sebenarnya Indra merupakan pemuda yang berbakat dalam hal bela diri, tapi pamannya Kurnia menyeretnya ke kota jakarta yang entah dari mana ia tahu tempat aneh itu. Ia hanya pemuda yang mengantongi ijazah SMU, kalau mau cari pekerjaan juga susah.
Indra memang sebatang kara, tapi ia punya paman yang mengerti dirinya. Pamannya membawa Indra karena tidak tahan dengan kehidupan di tempat tinggal yang sebelumnya ecara sepihak memperlakukan dirinya dan Indra. Ia memang pengangguran yang tampan, tapi ketampanannya tidak mungkin bisa membiayai kuliah Indra.
Tapi untung saja, ia mendapat pekerjaan. Ya meskipun pekerjaannya adalah sebagai Kurir. Kurir di sini berbeda dengan kurir biasanya yang hanya mengantar barang, di sini kurir disebut seseorang yang menjalankan suatu tugas dan menyelesaikan masalah tersebut. Karena belum ada sebutannya, makanya disebut kurir. Kurir yang aneh.
Daripada ia menganggur di rumah, lebih baik ia bekerja bersama dengan pamannya yang mempunyai selisih delapan tahun darinya. "Kur, elo yakin mereka bakalan dateng? Kasian tuh pengantennya," Indra menunjuk seorang pria dan perempuan yang memakai gaun pengantin berwarna putih.
Lelaki yang sedang menjamu para tamunya itu menghampiri Kurnia dan Indra, "Bagaimana? Apa mereka mau datang?" Indra menatap lelaki itu dengan heran.
Kurnia menanggapi pertanyaan itu, "Tenang saja, pasti mereka akan datang," ucapnya meyakinkan.
"Emm, gue kira orang kaya dia ngga bakalan ngomong pake bahasa sehalus itu. Aneh juga ya, temennya Bos itu." Indra menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Setelah setengah jam menunggu akhirnya tamu itu datang, seorang biduan dangdut yang mempunyai warna rambut nyentrik. Sontak kedatangannya membuat seisi gedung pernikahan itu dibuat kaget.
Seperti sedang diburu hantu semua mata melihat ke arah penyanyi itu dengan tatapan nakal, kecuali Indra, "Hah? Ternyata bener ya, iklan yang gue liat tadi pagi emang itu orang. Engga tau kenapa liat penyanyi itu jadi inget lagunya Keti Pera yang judulnya Burung Merak." Oke, omongan Indra mulai ngawur.
Indra dengan paksa menarik Kurnia dan langsung menuju orang yang mempunyai warna rambut nyentrik—yang masih bingung dengan perlakuan tamu undangan terhadapnya.
"Ayo, cepat. Isi acaranya," pinta Indra pada biduan itu.
Biduan itu melihat Indra lekat-lekat dan sesekali melirik Kurnia yang penutup wajahnya sudah basah, entah karena apa, "Kok rambut kita bisa sama ya? Jangan-jangan kita jodoh lagi. Oke gue manggung nih, inget tanpa 'dia' ya," ungkap biduan seksi tersebut. Kata-katanya membuat Indra sedikit ingin mimisan juga, tapi ia adalah Kurir Professional.
Biduan itu pun memulai aksinya di atas panggung yang sudah disediakan oleh empunya. Ia membuka jaket kulit hitamnya yang ketat didominasikan oleh awan merah, lalu menonjolkan pakaian minimnya. Hingga lekuk tubuhnya kelihatan begitu jelas.
Stop kau mencuri hatiku, hatiku... Stop kau mencuri hatiku...
Biduan yang biasa disebut Alex tersebut memulai goyangannya, biasa goyang gergaji dan membuat para kaum adam mimisan parah. Bukan main, meski memang ada sesuatu yang kurang-yang tak perlu diperjelas, tapi tetap ya efeknya mimisan bagi kaum adam atau pun semaput bagi kaum hawanya.
"Den, kalau kau benar-benar ingin menjadi ayah yang baik bagi bayi yang ada di kandunganku ini. Tolong, jaga matamu!" Sang mempelai wanita mengusik kesenangan suaminya dengan gertakan kecil, tapi ampuh.
Selesai sudah satu jam biduan itu menghibur para tamu undangan dengan goyangannya yang heboh. Dan akhirnya biduan itupun pamit karena sejoli-nya yang akhir-akhir ini sedang ada konflik dengannya, datang memenuhi undangan yang diminta oleh tuan rumah.
"Kaka, Indra, gue balik ya. Thanks ya udah mau ngundang gue. Bilangin makasih juga ya buat Bos lu dan semoga langgeng buat Deni sama Sinta. Gue pamit, males liat komodo makan orok. Dah!" Biduan itu pamit dengan melambaikan tangan dan sedikit melirik ke Indra dengan mengedipkan mata, memberikan isyarat diacungkannya ibu jari dan keliling lalu didekatkan ke telinga. Pastinya itu membuat Indra kaget.
Tamu kedua datang dengan riasan yang begitu membuatnya..., entahlah seperti para lelaki menjuluki 'seuatu' bak gitar spanyol. Ia datang dengan seorang pria yang merangkap menjadi kekasihnya, kekasihnya itu adalah seorang pemain bola.
"Kurnia!" Penyanyi itu memanggil orang yang tadi meneleponnya.
Orang yang merasa terpanggil langsung saja menghampiri penyanyi wanita eksotis tersebut.
"Tenang, baru aja dia pamit. Oke, langsung isi acara aja ya," pinta Kurnia pada biduan dangdut yang sering disapa Lia itu.
Tanpa basa-basi Camellia naik ke panggung dan memulai aksinya. Dengan lagu perdananya yang berjudul Belah Nangka, ia membuat para tamu dipukau oleh aksi panggungnya yang tidak kalah heboh dengan Alex. Bahkan mungkin lebih.
Belah Nangka di malam hari... Paling enak bersama kekasih... Dibelah bang, dibelah...
Jujur saja bagi Indra penyanyi dangdut yang hanya bermodal goyangan dan tubuh serta aksi panggung yang, ya terkadang bisa merusak moral mungkin tidak kalah terhinanya dengan seorang pelacur. Tapi pikiran itu ditepis oleh Indra ketika Bos mesumnya datang dan menghampiri dirinya yang masih dibalut rusaknya moral bangsa.
Pria tua yang gagah itu menepuk pundak pemuda yang kini ada di sampingnya, "Jangan melihat sesuatu dengan tampilan awalnya. Dia tidak seburuk yang kau pikirkan, nak. Itu sudah pekerjaannya, dia adalah seseorang yang professional. Lebih lagi jika kau tau betapa baiknya dia pada orang di sekelilingnya. Haha."
Indra tertegun, tetapi setelah bosnya mengatakan hal itu, ia pun tak ada bedanya dengan keadaan penonton kaum adam; mimisan, menggila, dan meracau aneh.
"Dasar lelaki hidung belang!" Indra pun berlalu dan menghampiri pengantin yang kini sedang menjamu kekasih dari penyanyi yang sedang menghibur para tamu undangan. "Tuan, apa ini tandanya tugas kami selesai dan berhasil?" Mempelai pria melirik wanitanya yang sedang dikelilingi api cemburu.
Lelaki itu mengangguk, "Ya, terima kasih atas semua pelayanannya. Oya, tenang. Pembayarannya sudah saya transfer ke rekening bos kalian, saya juga sudah mengancamnya untuk tidak mengambil bagian kalian. Maaf, saya tidak terbiasa memegang uang tunai." Mau bagaimana lagi, ini memang sudah pekerjaan yang diterima Indra.
"Akhirnya selese juga. Ribet juga kalo tiap hari liatin yang begituan beberapa jam doang." Indra melirik Kurnia yang wajahnya sudah dilumuri darah mimisan yang parah. "Dasar bego!"
.'-'.
Perjalanan pulang dipenuhi dengan aksi Indra yang meghelakan napasnya karena kelakuan bodoh pamannya.
"Udah gue bilang, kalo ngga kuat jangan maen ambil kerjaan kaya gini! Kalo dikasih kerjaan tuh milih-milih dikit kek!" Indra menyikut tangan pamannya yang sedang menyumbat hidungnya dengan kapas.
"Anjrit! Elu jadi keponakan kaga ada sopan-sopannya ya? Lagian kalo milih-milih kapan kita bisa dapet duitnya? Toh, gue emang ngga salah pilih kok," katanya dengan senyuman seringai yang mungkin tak akan ada orang yang tau.
"Iya emang ngga salah pilih buat bujang lapuk kaya elo. Eh, Kur kok bisa sih lo tau nomer telepon mereka berdua? Terus kayanya lo akrab banget ama mereka," Indra memang penasaran dengan kedekatan pamannya dan para biduan eksotis itu.
Pertanyaan Indra kini membuat pipi Kurnia merona merah, "Ceritanya panjang. Waktu itu, gue emang temenan ama Camellia sama Bos juga. Pas gue kuliah Camellia yang bayarin, ya dia baek. Dan sebenernya bos itu mantan suaminya Camellia, tapi Camellia lebih milih Rizki pesepak bola itu." Indra mengangguk mengerti.
"Kalo sama Alex? Kenapa ya, gue ngerasa dia itu punya keanehan gitu. Ya, gimana ya, aksi eksotisnya itu dibuat-buat," tambah Indra.
Kurnia menelan ludahnya, "Nah, kalo si Alex waktu itu kita pernah kerja bareng di kota. Gue bingung mau kerja apalagi. Terus karna gue tau apa yang gue lakuin itu salah, gue berenti. Dan dia juga alasan kenapa gue ngebawa elo ke kota ini. Sebulan gue berenti, jadi tenar dah dia."
"Oh, yang elu sering pulang pagi itu. Emangnya kenapa lo berenti? Dan kenapa gara-gara dia?" Indra semakin penasaran.
"Iya yang itu. Soalnya dia bilang dia suka sama gue...," Indra mengangguk dan menelaah perkataan pamannya, "...karna gue masih normal gue tolak dan sekaligus gue berenti dari kerjaan itu. Dia itu gay." Seperti Kurnia yang biasanya, menjawab pertanyaan dengan air muka yang datar.
Sontak pengakuan Kurnia membuat Indra kaget. "Hah? Gay?" Kini Indra berkutat sendiri dengan pikirannya.
"Ka-kalo dia g-gay, be-berarti dia itu laki-laki!" Kurnia mengangguk menanggapi terkaan Indra.
"Apa? Terus, ka-kalo di-dia itu laki-laki jangan-jangan kerjaan yang elo maksud i-itu ngebanci. Ma-maksud gue, berarti du-dulu lo itu kerja jadi banci? Hah?"
Berulang kali Indra menepis pikiran bodohnya itu. Meskipun paman sematawayangnya itu hina, tapi ia tidak mungkin mau melakukan hal sekonyol itu. Indra berkali-kali berusaha meyakinkan pikirannya.
Ya, siapa yang tidak mengacungkan jempolnya untuk keacuhan Kurnia dengan kejujurannya. Hebat! "Iya, banci," jawab Kurnia dengan datar. Berbeda dengan Kurnia, Indra kini merasa hidupnya benar-benar runtuh.
The End~⋆˚.•✩‧₊⋆
𐂂 Terimalah kenyataan buruk yang menimpa hidupmu. Karena suatu saat Dia akan menggantinya dengan hal yang baik. Percayalah pada kuasa-Nya.