Cinta....
Cinta itu rumit nggak sih...
Menurut kalian bagaimana?
Kalau menurut Rein cinta itu aneh....
Mau tau kenapa....
Intip yuk dan berikan komentar positif nya ya....
*
Rain berlari agar tak telat masuk sekolah. Tapi sayang, hitungan detik berikutnya, pintu besi pagar sekolah sudah di tarik sama Pak Juned yang merupakan satpam sekolah dimana Rain menimba ilmu.
"Paaak, tunggu!" teriak Rain yang hampir sampai di depan pagar yang jaraknya sekitar lima langkah kaki Rain.
Napas Rain terengah-engah memegang pintu pagar yang sudah tertutup rapat.
"Pa_k kok di tu_tup sih?" tanyanya terputus-putus sambil mengatur napas yang ngos-ngosan.
"Bell tanda masuk udah bunyi dari tadi neng, Rain. Saya cuma jalankan tugas" tuturnya di balik pagar.
Sementara dari kejauhan Candra datang dengan santainya. Mendekat ke pagar yang sudah tertutup rapat.
"Jadi, kita nggak di bolehkan masuk nih, Pak?" Tanya laki-laki yang merupakan teman sekelas Rain.
"Udah tau, nanya. Nggak lihat apa, gue aja yang hampir sampai nggak dikasih masuk sama si Bapak. Apalagi lu" Ucap Rain sewot.
"Gue nggak nanya Ama lu" sargah Candra.
"Lu mau cari masalah ama gue?" Sela Rein yang makin kesal, udah nggak bisa masuk, malah ketemu anak jin yang super nyebelin.
"Siapa? Gue? Lu kali!" Gerutu Candra memutar bola matanya.
Rein melipat tangannya di atas perut. Gelisah, mengingat jam pertama ada ulangan. Rein nggak mau harus ketinggalan mata pelajaran, karena demi ulangan pagi ini, tadi malam ia belajar hingga larut malam agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Tapi sayang, paginya ia malah telat dan kesiangan yang mengakibatkan dirinya terlambat.
Rein memang terkenal salah satu siswi
pintar di kelasnya. Namun terkenal jelodog dan cuek. Bahkan baju seragamnya malah sering keluar dengan rambut panjang tergerai.
Tak berbeda dengan Cakra yang sembrawutan. Sering cabut dan jarang mengerjakan tugas sekolah. Tapi kalau ulangan maupun ujian remaja tampan ini selalu dapat nilai bagus. Bahkan Rein sempat bertanya dalam hati, kapan anak laki-laki itu belajar. Cakra yang mengerti akan kegelisahan Rein, menarik tangan gadis itu tanpa seizinnya.
"Mau ngapain lu, lepaskan tangan gue!" Menatap bingung ke arah Cakra yang menarik lengannya dan membuat Rein beranjak dari tempat ia berdiri tadi.
"Lu mau ikut ulangan atau mau terima hukuman duluan!" Tanya Cakra dengan tatapan nyalang dan tangannya masih memegang erat pergelangan tangan Rein.
"Ikut ulangan" jawab Rein lesu, tapi jujur.
"Ya, udah. Nggak usah bawel, ikut gue!" titah Cakra yang menarik pergelangan tangan Rein untuk terus mengikuti langkah Cakra ke samping pagar sekolah. Disana ada tangga dari bambu yang seperti nya sudah tersedia sejak lama.
"Naik" titah Cakra pada Rein yang berdiri dihadapannya menunjuk ke tangga bambu.
"Haah, serius lu!" Ucap Rein dengan mata melotot.
Tanpa menjawab Cakra menggendong Rein, mengangkat tubuh Rain ke tangga, membuat gadis itu kaget, sedikit menjerit. Tubuh Rein membeku dengan debaran yang sulit ia artikan.
"Nggak usah khawatir, gue nggak intip" ujar Cakra, yang melihat kewajah Rein dengan mendongak.
Entah keberanian dari mana, Rein menapaki tangga bambu sampai ke atas pagar. Meski tangan dan tubuhnya gemetar menahan takut. Namun mata Rein membulat saat melihat ke bawah, saat pijakan terakhir tangga habis.
"Tinggi juga" gumam Rein dengan menelan ludah sedikit sulit.
Entah sejak kapan, tubuh jangkung bermata coklat itu sudah ada dibalik pagar dan melihat kearah Rein yang terlihat pias.
"Loncat! Aku sambut!" Titah Cakra.
"Tapi..."
"Percaya sama gue."
BRUGH
Tubuh ni Rein berhasil mendarat di tubuh Cakra. Kedua netra mereka beradu pandang.
"Cepat bangun, sebentar lagi guru masuk" ucap Cakra yang menyadarkan posisi tubuh mereka saat ini.
Rein bangkit lebih dulu, disusul Cakra kemudian sambil merapikan dan membersihkan pakaian mereka.
Sekali lagi Cakra memegang erat pergelangan tangan Rein, menariknya dan mengajaknya berlari menuju kelas, tepat sebelum guru masuk ke kelas.
*
Ulangan selesai dan Rein bisa bernapas lega. Kedua netra Rein tertuju pada Cakra yang duduk satu bangku menghalanginya.
Rein bangkit berjalan ke tempat Cakra.
"Cakra, thanks ya, udah bantuin gue tadi" ucap Rein sambil menggigit bibir nya.
Pasalnya dari awal masuk kelas sepuluh, mereka selalu nggak bisa akur. Entah kenapa Cakra tetangga sebelah rumah sekaligus teman semasa sekolah itu tiba-tiba berubah acuh dan cuek padanya.
"Nggak usah Ge_er!" Jawab Cakra yang bangkit dan meninggalkan Rein dengan wajah merah nahan amarah.
"Dasar sok cool lu," melempar tubuh Cakra dengan kertas yang dibuat seperti bola.
Cakra acuh dan terus melangkah keluar di ikuti Anton teman sebangkunya.
Di kantin sekolah, Cakra duduk di sudut sambil menunggu pesanannya datang, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Bro, kenapa lu kejam amat sama tuh si Rein. Dia kan salah satu cewek cantik, pintar, idola lagi di sekolah kita. Kalau Lo nggak suka biar buat gue aja" cerocos Anton yang selalu memperhatikan tingkah Cakra dan Rein tiap beradu pandang.
"Emang dia mau ama lu?" Cakra balik bertanya.
Anton malah nyengir nggak mau menjawab. Udah jelas, Cakra yang keren jauh dibanding dengannya yang punya tampang pas-pasan.
"Jangan terlalu benci, benci ama cinta itu tipis lho jaraknya" ucap Anton sok bijak.
Pesanan mereka datang dan mulut mereka pun terkunci dengan suapan yang masuk ke mulut mereka.
*
"Rein, lu sama Cakra kenapa sih? Padahal kalian kenalkan udah lama ya, dari bocil ampe sekarang. Bahkan rumah kalian sebelahan, tapi kenapa kalian nggak akur seperti dulu?" Tanya Amel yang juga teman Rein dari kecil.
"Nggak tau tuh. Dia tiba-tiba berubah sejak masuk kelas sepuluh. Bosan kali dia lihat muka gue melulu" jawab Rein sambil mengunyah cemilan di tangannya.
Rein melihat kearah lapangan basket, di sana terdengar sorak sorai adik dan kakak kelas mengelu-elukan nama yang nggak asing di telinganya.
"Cakra_ Cakra go, go...!"
"Joss narsis amat ctuh cewek-cewek" gerutu Rein melihat sinis ke arah adik kelas dan seangkatan yang begitu mengelu-elukan Cakra.
Jam pelajaran olah raga hari ini tema bebas, karena guru pengajar tidak masuk. Nongkrong di kursi penonton adalah hal yang dilakukan Rein dan Amel saat ini.
"Lihat tuh, dia selalu jadi idola. Nggak heran sih, tampan, pintar dan oooowh, Cakra emang perfeck" racau Amel memperhatikan permainan Cakra.
"Hiiis lebay amat. Biasa aja kali" cebik Rein memutar bola mata nya.
Dug
Lemparan bola basket mengenai kepala Rein yang tak siap menyambut lemparan bola yang mendadak. Rein pingsan tak sadarkan diri.
*
Cakra menggenggam erat tangan Rein yang masih terpejam. Rasa khawatir menghantuinya karena sudah sepuluh menit Rein belum juga sadarkan diri.
"Bangun Rein. Kalau lu sadar gue mau jujur ama perasaan gue" ucap Cakra mengecup jemari Rein.
Rein yang sebenarnya sudah sadar, mengurungkan niatnya membuka mata. Penasaran akan kelanjutan ucapan Cakra barusan.
Lima belas menit berlalu, Rein masih menutup matanya rapat, namun telinganya ia tajam kan pendengaran nya.
"Rein, maaf selama ini gue cuek dan acuh sama lu, gue cuma ingin memastikan perasaan gue yang buat bingung. Gue cuma ingin memastikan diri, bener nggak gue suka ama lu. Tapi ternyata, rasa itu bukan sekedar rasa suka biasa. Gue cinta ama lu Rein. Tapi gue takut lu akan menjauh kalau tau akan perasaan gue. Tapi saat lihat lu pingsan, sumpah! Gue khawatir. Janji gue akan jujur ama lu, kalau lu cepat sadar Rein," curhatan hati Cakra di samping brankar UKS.
Di genggam nya erat jemari Rein, berharap gadis itu membuka mata. Cakra menundukkan kepalanya.
Rein tersenyum mendengar pengakuan Cakra, dibalasnya genggaman erat Cakra, hingga membuat lelaki itu menegakkan kepala dengan wajah memerah.
"Lu serius dengan yang lu bilang barusan?" tanya Rein dengan mata berbinar. Pusing di kepalanya sirna seketika.
Cakra hendak melepas genggamannya karena malu, namun Rein menahannya kuat.
"Sejak kapan lu sadar? Apa lu dengar sem...,"
Belum selesai Cakra berucap, Rein mengangguk cepat dengan senyum dibibir mungilnya.
Cakra membuang pandangannya, Rein bangkit dari pembaringan. Turun dari brankar dan keluar UKS. Menggenggam tangan Cakra yang masih terdiam. Rein tak perlu menanyakan hal itu dua kali. Bahasa tubuh Cakra sudah menjawabnya, begitupun Cakra.
Cakra membiarkan Rein terus menggenggam tangannya, seolah memamerkan pada seisi sekolah dan dunia. Kalau cinta milik mereka saat ini.
Rumit dan membingungkan!
Ya begitulah cinta. Di sembunyikan bagaimanapun, tetap sulit menutupinya.
Thanks gays, udah mau intip cerpen ku. Kalau suka, tunggu cerpen selanjutnya ya.