"Mana yang kau suka? Dongeng Putri duyung atau dongeng putri tidur?"
Alison yang merasa bosan dengan topik tersebut berusaha untuk tak acuh tentang itu.
"Kok diem aja? Jawab dong."
"Aku gak suka sama dongeng kayak gitu. Lagian orang mana yang masih baca cerita penghantar tidur kayak gitu?" ucap Alison seraya memalingkan muka.
"Sembarangan, ini bukan cerita anak kecil. Orang dewasa juga harus baca dongeng bagus kayak gini."
Tidak peduli dengan itu, Alison beranjak dari bangkunya dan berjalan keluar kelas. 'Topik di kelas hari ini bikin ngantuk. Gak biasanya mereka bahas dongeng seantusias ini,' ucapnya dalam hati.
Setelah melalui pintu kelas, teriakan histeris yang bersumber dari kelas sebelah membuat langkahnya terhenti. "Ada apa kok rame-rame?"
Sesaat ia ingin mencari tau akan hal itu. Tetapi, seketika seorang siswa berlari keluar dari kelas tersebut dengan memegangi kepalanya dan berteriak. Alison menyadari jika lari siswa tersebut mengarah ke arah nya. Dengan sigap ia pun mengelak dari arah lari siswa tersebut. "Kenapa dia begitu? Aneh," gumamnya.
Semua mata pelajar lain tertuju pada siswa tersebut. Berlari sembari memegang kepala dengan kedua tangan membuat ia seperti orang gila. Namun, lagi dan lagi Alison tidak peduli dengan itu. Ia pun berjalan ke jalur yang berlawanan.
Pada akhirnya langkah nya terhenti di sebuah kantin. Sebelum ia duduk, ia memesan kopi susu dan membawanya ke meja kantin. Baru saja duduk, seketika pundak nya terasa di tepuk. "Alison. Sendirian aja?"
"Daniel?"
Kehadiran temannya tidak membuat hati nya senang. Malahan ia lebih merasa terganggu.
"Wih kayak nya enak tuh," rayu Daniel.
"Gak boleh! Beli sendiri sana."
"Dih, pelit amat."
"Biarin."
Sesekali Alison menyeruput kopinya dan berusaha menghilangkan jejak emosinya.
"Kamu tau gak kejadian di kelas B?" sahut Daniel.
"Tahun ketiga kan?"
"Iya."
"Itu bersebelahan sama kelas ku. Barusan aku ketemu sama tersangka nya," jelas Alison.
"Beneran?"
"Gak percaya banget," ucap Alison dengan mengerutkan alis nya.
"Ya rumor nya sih katanya anak itu sering denger teriakan di dalam kepalanya," ujar daniel sembari diam-diam meminum kopi Alison.
Tak menyadarinya, seketika Alison merubah topik. "Ya rumor kayak gitu meskipun gak masuk akal masih mending daripada obrolan di kelas ku."
"Hah? Emang anak-anak kelas mu bahas apa?"
"Dongeng." Mendadak Daniel terbahak-bahak setelah mendengar nya. "Udah gede masih aja bahas dongeng," ujar Daniel di sela tawanya.
"Sampai-sampai George tanya ke aku kalo aku lebih suka dongeng putri duyung apa dongeng putri tidur."
Mendengar nya, tiba-tiba Daniel berhenti tertawa. "Tapi kalo aku yang di tanya gitu udah pasti aku jawab putri duyung. Soalnya me—"
"Halah, kamu sama aja kayak yang lain," sahut Alison dengan gusar. Hening seketika, Alison mengangkat gelas untuk meminum kopinya. Namun tak satupun tetesan kopi terasa di mulut nya. Dengan cepat ia menengok ke Daniel yang ternyata sudah kabur dari nya. "Sialan."
•
•
Esoknya Alison terbangun dengan wajah yang memucat. "Huh... seperti nya aku mimpi itu lagi."
Sebuah mimpi yang selalu membuat nya ketakutan terjadi lagi di bulan ini. Gambaran yang tidak begitu jelas dan memberikan efek yang tidak enak membuatnya berharap agar mimpi itu lekas sirna. Meskipun gambaran mimpi nya tidak begitu jelas, namun Alison sering mengalami mimpi yang sama sebulan sekali sedari kecil hingga kini. Sehingga ia dapat menyimpulkan satu persatu subjek dan objek dari mimpinya.
Ia pernah mengadu ke ayah nya soal mimpinya itu. Sebuah ruangan gelap dengan seutas gambaran putri duyung dan meja roulette. Ayah nya pun hanya bisa tersenyum dengan aduan anaknya itu, di karena kan ayah menganggap itu hanya lelucon anak kecil. Merasa tidak berguna untuk mengadu ke ayah nya, Alison pun berhenti membicarakan soal mimpinya.
Itu lah sebabnya mengapa Alison tidak senang orang lain membicarakan putri duyung. Hal itu dapat membuat nya mual. Akan tetapi mimpi nya kali ini memberikan klise tambahan dalam mimpinya. Terdengar ucapan "Ubahlah semuanya" membuat Alison yakin jika ada sesuatu yang janggal dari mimpinya.
Akhirnya ia memutuskan hari ini untuk meminta uang kepada ayahnya untuk membeli beberapa buku dongeng putri duyung dan papan roulette.
"Yah, Boleh minta uang?"
"Untuk apa?" tanya ayah nya yang tengah membaca koran.
Ibu Alison yang sedang menyiapkan kopi dan sarapan pun menyaut, "tumben kamu minta uang?"
Pada awalnya Alison bingung untuk menjawab. Hingga akhirnya ia mendapatkan alasan yang tepat. "Akhir-akhir ini aku sering bosan sama kehidupan yang gitu-gitu aja. Jadi aku ingin membeli barang untuk sekedar hiburan."
"Barang apa?" tanya ayah.
Akhirnya Alison terpaksa untuk mengungkapkan tujuan nya. "Ya beberapa buku dongeng sama satu papan roulette."
Mendengar perkataan dari anak nya, ayah pun tertawa. "Buat apa kamu beli buku dongeng? Udah besar kok beli buku dongeng. Lagian kamu ini masih remaja udah tertarik buat belajar gumbling ya."
"Udah ayah, biarin dia mau apa. Lagian kan Alison udah besar, jadi biarkan dia ambil cara hidup nya," tutur ibu.
"Hahaha...iya deh iya. Nih cukup kan?" tanya ayah sembari mengulurkan uang ke Alison. Alison pun mengangguk dan menerima uang nya. Alison pamit kepada orang tuanya dan beranjak keluar rumah. "Kalo kamu udah bisa main curang roulette, kasih tau ayah ya. Biar ayah juga pintar mainnya," ucap ayah dengan sisa tawa.
"Iya."
Sesudah ia membeli barang yang ia inginkan, pertama-tama Alison mulai dari yang lebih mudah dahulu. Yaitu membaca buku dongeng putri duyung. Sekitar 16 buku dongeng putri duyung dengan seri yang berbeda ia beli. Ada yang tipis dan juga ada yang tebal. Berjam-jam ia habiskan di dalam kamar nya hanya untuk membaca buku itu. Namun, rasanya Alison seperti terjerumus ke dalam dunia putri duyung. Betapa seriusnya ia membaca buku-buku tersebut.
Hingga akhirnya ia menghabiskan semua cerita nya. Alison adalah anak yang pintar. Tak lupa ia memberikan kesimpulan pada setiap buku yang ia baca. Merasa lelah, ia pun mengantuk dan tertidur di atas meja belajar.
Dalam tidurnya, terjadilah suatu yang tak biasa. Kali ini dan pertama kalinya ia mempimpikan hal yang sama dua kali dalam sebulan. Tetapi kali ini dengan klise tambahan yang sedikit panjang dan berbeda.
Di dalam mimpinya ia hanya berdiri telanjang bulat. Dengan gambaran yang samar-samar, mimpinya memberikan klise yang berbeda setelah seutas gambaran putri duyung dan meja roulette melintas. Sesosok remaja berusia delapan belas tahun berdiri di dampingi sesosok makhluk bersayap. Di susul dengan ucapan, "ubahlah takdir. Saat kau berhasil, kita akan bertemu. "
Setelah itu, mimpinya di sambung dengan seorang pemuda berjas berdiri di hadapan nya dan berkata, "tidak ada uang dalam putaran mu. Ini bukan soal judi atau taruhan harta. Tapi ini adalah taruhan nyawa. Ciptakan cara putaran mu sendiri untuk mengubah takdir. Karena aku adalah William Logan."
Tak kuasa menahan tekanan dalam mimpi, mendadak Alison terbangun dari mimpinya dengan keringat yang cukup untuk membasahi seluruh badannya. Dengan kepala yang masih pusing, sesegera ia mengambil papan roulette dan memutar roulette serta menggelinding kan bola nya. Sesampai putaran dan bola nya berhenti, ia melihat bola berhenti tepat pada angka nol.
Sekilas kepalanya teringat dengan ucapan dalam mimpinya. Ia pun memasang dinding di antara angka tiga puluh enam dan memutar roulette itu kembali namun tidak dengan bolanya. Dengan cepat ia hanya menaruh bola tersebut tepat pada angka tiga puluh enam.
•
•
Esok nya Alison mendapat kabar jika sekolah nya libur sementara karena sedang berkabung. Salah satu guru pengajarnya meninggal dunia dan terpaksa sekolah diliburkan beberapa hari. "Hah? Libur lagi? Padahal kemarin baru aja aku bolos. Membosankan."
Untuk menghilangkan rasa bosan, Alison beranjak keluar dari rumah dan mencoba berjalan-jalan mencari udara segar. Di tengah perjalanan nya, tak sengaja ia temui anak laki-laki seumuran nya sedang duduk meringkuk di bangku taman. Alison pun menghampiri nya.
Semakin mendekat Alison menyadari jika anak itu adalah siswa yang berteriak histeris di sekolah nya beberapa hari yang lalu. "Ngapain kamu di sini?" tanya Alison.
Terkejut dengan kehadiran Alison, anak itu semakin kuat untuk memasang raut gelisah.
"Aku Alison. Kalo kamu?"
Dengan gugup anak itu menjawab, "aku Noel, Noel hans."
"Noel ya. Noel, ngapain kamu di sini kayak orang ketakutan? Dan lagi kenapa kemarin kamu berteriak di sekolah?"
"Kamu gak bakal ngerti. Pasti nganggep ucapan ku hanya lelucon," ujar Noel dengan terbata-bata.
"Aku orangnya gak kayak gitu. Udah cerita aja. Kali ini aku adalah orang yang pertama kali nganggep kamu ada."
Seketika mata Noel tidak layu kembali. "Beneran?"
"Iya."
Noel pun mengungkapkan keluh kesah nya. "Sedari kecil aku selalu mendengar teriakan di dalam kepalaku. Tidak hanya itu, aku juga sering melihat sesosok menyeramkan menghantui ku. Meskipun begitu, sampai sekarang aku gak tau penyebab hal ini terjadi. Yang aku tau seperti nya aku sedang di kutuk."
Mendengar penjelasan Noel, Alison merasa jika ia merasakan hal yang sama. Namun dengan kemasan yang berbeda. Sembari menelaah ucapan Noel, Alison mendapat ide untuk membuat skenario. "Aku percaya dengan ucapan mu. Seperti nya aku sama dengan mu. Tapi dengan tragedi yang berbeda."
"Apa itu?" tanya Noel.
"Sedari kecil aku sering bermimpi tentang putri duyung dan meja roulette sebulan sekali. Jadi aku rasa kita punya nasib yang sama. Aku setuju dengan ucapan mu. Rasanya kita seperti sedang di kutuk," jelas Alison.
"Kita memang terlahir sial," keluh Noel sembari meringkuk.
"Tapi, meskipun kita di takdirkan buruk, kita bisa membuat dunia lebih buruk dan merasakan apa yang kita rasakan," ucap Alison dengan seringai.
•
•
Di perjalanan pulang, matahari memberikan sinar lelah untuk mengiringi Alison sendirian untuk merenung. Berjalan dan memikirkan hal-hal yang akhir-akhir ini terjadi, membuat nya menyimpulkan dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Dengan langkah yang senyap, ia berkata pada dirinya sendiri, "aku sudah bosan dengan dongeng putri duyung yang berakhir dengan bahagia ataupun bertema indah. Jadi, seperti nya menulis dongeng putri duyung dengan tema tragis cukup menarik."
"Akan ku ubah takdir putri duyung di generasi berikutnya," sambung nya dalam hati.
Bersambung.