Ruangan begitu terlihat ramai, namun ada salah satu wanita yang menatap salah satu pria bersama dengan satu pria yang lain. Mereka terlihat begitu membencinya, salah satunya orang yang begitu ia cintai. Tetapi wanita itu terlihat begitu menikmati, mungkin ia begitu suka jika semakin banyak yang membencinya bahwa hidupnya begitu terasa nikmat.
"Wanita jahat sepertimu tidak pantas hidup di dunia ini, mengganggu hidup orang. Apakah kau tidak sadar apa yang kau lakukan?" ujar salah satu wanita di keluarga itu.
Wanita itu tersenyum, hampir saja ia tertawa. Sungguh keluarga ini begitu lucu, pikirnya "Lalu aku harus menyesal begitu, maaf nona Alisa. Aku gak menyesal tuh, malahan aku sangat menyukainya. Aku melakukan karena hak ku sebagai tunangannya" ujar Andrea wanita yang jahat bagi mereka.
"Tunangan, kau itu hanya mantan tunangan. Jangan terlalu percaya diri dengan status lamamu" kata Derran.
Wanita itu kembali tersenyum "Hee, aku lupa. Tapi aku tidak pernah bilang bahwa aku akan meninggalkan Dellan" katanya.
Derran berjalan mendekat dengan wajah seakan ia ingin menampar wajah wanita itu "Kau tidak punya cermin, lihat dirimu. Kau dari keluarga kaya, namun sifatmu sangat menjijikan" tukas Derran begitu kesal.
Semua orang menatapnya begitu tidak menyukainya, namun Andrea melihat dengan sini.
Haah, aku suka melihat kebencian itu. Nikamatnya hidup dilahirkan dengan kebencian. batin Andrea.
Tetapi seorang pria di belakang yang menyaksikan semua itu, terdiam seakan ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilakukan wanita itu. Terlihat sekali dari wajah wanita itu bahwa dia begitu rapuh, Andrea... wanita yang sangat ia sukai baru-baru ini.
"Seorang pelacur tetap la pelacur, aku sama sekali tidak percaya keluarga Erjandra memiliki seorang anak yang begitu memalukan" ujar salah satu tamu disana.
"Aku rasa dia seperti aib bagi keluarganya, kenapa dia tidak mati saja. Kalau aku jadinya aku rasa aku tidak mau hidup lagi" ujar salah satunya lagi.
Andrea diam, bukan karena dia tidak dengar. Ia sangat tau apa yang orang katakan di belakangnya, namun ia sudah menutup telinganya rapat. Ia sudah bosan mendengar ucapan penuh kebodohan itu.
Mati ya... ia rasa ia sudah bosan melakukan hal itu. Berapa banyak lagi luka yang ia buat, jika saja ada mobil yang menabraknya hingga hancur ia mungkin sangat bersyukur kepada orang itu. Ia tidak akan marah atau pun benci, tetapi ia sangat senang bahwa ada orang yang begitu sengaja atau pun tidak sengaja melakukan hal itu kepadanya.
"Andrea, kau tidak malu dengan perbuatan hina mu. Aku saja mungkin sudah jijik dengan hidup sepertimu." ujar Alisa.
"Aku menikmatinya, aku hanya mempertahankan hak ku. Apakah salah?" ujar Andrea.
"Selama kami sudah memutuskan hubunganmu dengan Dellan kau sudah menjadi orang asing bagi kami, pergi jauh-jauh. Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di rumah kami, kau mati pun kami juga tidak perduli." ujar Alisa sambil menunjuk tepat di pintu utama yang terbuka lebar.
Andrea tertawa kecil lagi "Hah, baiklah aku akan pergi. Padahal kedatanganku cukup baik. Karena tidak ada yang mau mendengar aku akan pergi dengan santai. Aku juga tidak mau berlama-lama di rumah kalian" serunya.
Karena tidak ada lagi yang mau ikatkan, Andrea keluar dengan perasaan yang bercampur aduk. Bodohnya ia percaya dengan keyakinannya, tapi ia rasa itu sangat bodoh. Dellan sendiri malah tidak pernah melihat wajahnya. Baiklah, ia tidak perlu di pikirkan.
Kali ini ia harus tetap hidup untuk satu hatinya, bagaimana dia harus berpikir seperti dulu. Lagian dia juga tidak sendiri lagi, dia memiliki seseorang yang sangat ia cintai.
"Mama, kau sudah pulang" ucap seorang anak kecil yang berlarian mendekati Andrea.
Pada saat pikiran Andrea penuh dengan kekacauan, semua itu menghilang ketika ia melihat anaknya tersenyum dengan manisnya.
"Mama tau, disekolah aku menggambar mama. Tapi bu guru bilang apakah Delrea sangat mencintai ayah, Mama tau apa yang aku katakan?" ujar Delrea begitu antusias
"Apa? Apa yang Delrea katakan" ujar Andrea tersenyum.
"Delrea bilang, dari kecil Delrea hanya memiliki mama. Delrea tidak tau seperti apa seorang ayah. Namun bagaimana pun Delrea sangat bersyukur walaupun Delrea tidak punya ayah tapi Delrea masih punya mama. Delrea tidak mau minta apa pun, hanya saja Delrea tidak mau jika mama juga akan pergi. Meninggalkan Delrea seperti ayah meninggalkan kita." ujar Delrea dengan wajah polosnya.
Tetapi Andrea tidak atau bagaimana dia harus bersikap ketika anaknya sendiri tidak membutuhkan ayahnya, mungkin kali ini pikirannya salah bahwa Delrea begitu membutuhkan ayahnya.
"Delrea sayang, seperti apa pun ayah. Dia tetap ayahmu, dia orang yang baik hanya saja ada sesuatu yang membuatnya pergi. Jangan salah menanggapi apa yang mama katakan, jangan membencinya. Kau tau ayah sangat mencintaimu, dan sekarang kau juga harus mencintainya seperti ayah mencintai mu. Ayo berjanjilah kepada mama kalau Delrea selalu sayang ayah" ujar Andrea menyentuh tangan Delrea dengan lembut.
"Delrea sayang tapi sayang Delrea tidak sebesar Delrea sayang mama. Jangan pernah datang lagi kepadanya, Delrea tau mama selalu menangis untuk ayah. Tetapi Delrea sangat tidak suka kalau mama menangis hanya untuk ayah yang sama sekali tidak perduli untuk kita. Lupakan dia, mama punya Delrea dan Delrea punya mama. Bukankah itu sudah cukup untuk keluarga kita" tukas Delrea.
Sungguh Andrea sama sekali tidak percaya dengan apa yang anaknya katakan, bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah berpikir begitu dewasa di usianya. Andrea tidak mengerti bagaimana dia harus bersikap ketika anaknya lebih dewasa darinya. Mungkin untuk wanita bodoh sepertinya, memang tidak pantas memilik anak sebaik Delrea.
Keesokan harinya seorang pria kenalan keluarga itu bertemu secara tidak sengaja dengan Andrea. Tidak tau kenapa pria itu begitu sangat senang, bahwa akhirnya dia bisa bertemu wanita pujaan hatinya. Haah selamat datang untuk kehidupan baru baginya...
"Apa yang kau lakukan" kata Andrea.
"Aku mencarimu" ujarnya.
"Haah"
Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Aku mencarimu karena ada sesuatu yang ingin aku katakan" katanya.
"Apa? jika kedatangmu ada berkaitan dengan keluarga itu. Maaf lebih baik kau pergi jauh-jauh" ujar Andrea dengan ketusnya.
"Tidak, aku ingin berbicara denganmu. Tidak lama hanya sebentar, setelah itu aku akan pergi" ujarnya.
"Baiklah, cepat. Jangan lama-lama melihat mu saja membuat ku kesal" ujar Andrea begitu tidak senang.
"Hei Andrea, apa kau lupa denganku?" ujar pria itu
Andrea menaut kedua alisnya "Apa yang kau katakan, aku tidak mengenalmu" katanya.
Seketika wajah pria itu menjadi murung "Aku datang karena janjimu, jika aku kembali kau akan selalu menungguku. Tetapi ketika aku sudah kembali kau malah pergi meninggalkan ku"
"Haah"
"Lupakah itu, kau mungkin memang tidak mengenalku tetapi aku sangat menangalmu. Bagaimana ketika kau kecil kau selalu menghiburku" ujarnya lagi.
"Kau..."
"Alvin, nama ku Alvin. Pria cacat yang hampir mati di rumah sakit. Kau selalu datang mengunjungi ku, ketika kau menjenguk untuk bertemu ayahmu di rumah sakit" Sambung Alvin
"Aku tidak mengerti"
"Kita kau datang di kehidupan ku, aku percaya hari-hari ku penuh kebahagiaan" serunya
Andrea terdiam, sepintas ia seakan mengingat sesuatu.
"Andrea aku mencintaimu ketika aku masih kecil, pertama kali aku melihatmu. Seperti itukah kebahagiaan sesungguhnya? aku selalu melihatmu dari kejauhan, tetapi ketika kita semakin dekat. Aku pergi karena pengobatan ku dan kita sudah berjanji satu sama lain kita aku kembali kau akan datang kepadaku" jelas Alvin, tetapi Andrea sama sekali tidak luput menghenti pandangannya.
Yahh, kejadian di masa lalu. Ketika semua orang mulai membencinya, dia pergi jauh dan melupakan semua janjinya. Dan ketika ia melihat pria itu kembali dia merasakan rasa bersalah yang begitu menyakiti hatinya. Sakitnya melebihi ketika semua orang membencinya.
"Aku ingat, Aku memiliki masalah..."
"Aku tau, ketika aku kembali aku datang mengunjungi kerabat ayahku. Kau disana sebagai tunangan sepupu ku, namun kau tidak mengenal ku. Haa ketika mengingatnya kau membuatku sakit hati" ujar Alvin sedih
Andrea menatap dalam diam "Maafkan aku, aku tidak ingat bahwa kau benar-benar akan kembali. Jika kau memang kembali kenapa kau tidak menghentikan ku" ujar Andrea
"Jika aku menghentikan mu apakah kau akan percaya kepadaku.??"
Kali ini Andrea tidak bisa mengatakan apa pun, mungkin pria itu juga membencinya seperti yang lain. Tetapi entah kenapa dia begitu tidak suka jika hal itu memang terjadi.
"Aku tidak membencimu, malah aku semakin menyukaimu setiap harinya. Namun aku sangat marah dan kecewa ketika kau memiliki anak dari Dellan. Kenapa kau melahirkannya? sungguhkah kau masih mencintainya" tukas Alvin.
"Dia sama sekali tidak berdosa jika aku melakukan kesalahan besar lagi, bukankah aku semakin jahat" tukas Andrea, bagaimana pun juga itu haknya untuk marah.
Alvin diam
"Aku mengerti"
Sekarang Alvin diam tanpa mengatakan apa pun, mungkin dia sudah selesai dengan masalahnya. Mungkin datang kembali untuk berharap bahwa wanita itu juga masih mencintainya, ia rasa itu tidak mungkin. Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda kalau dia sangat suka dengan kedatangannya. Bisa saja dia masih mengharapakan Dellan untuk kembali kepadanya. Bodohnya kalau dia masih saja percaya semua itu.
"Sebelum aku pergi aku ingin mengatakan untuk yang terakhir, Terima kasih untuk hari kebahagiaan yang dulu. Aku senang ketika melihatmu dan kau juga orang pertama yang begitu aku cintai, untuk terakhir ijinkan aku untuk memelukmu sekali saja sebelum aku pergi. Aku berjanji ini yang terakhir, dan aku juga tidak akan menganggu waktu mu lagi" Pinta Alvin, namun Andrea terdiam ketika ia spontan mengangguk kepalanya.
Ketika pria itu memeluknya begitu erat, Andrea merasakan kehangatan dari pria itu. Kenapa.. ada apa.. bagaimana, ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Lalu kenapa dia pergi apa yang salah, apakah ia mengatakan hal yang menyakiti hatinya. Dia kembali lalu pergi begitu saja. Apakah dia bodoh?! apa yang salah, dia belum mendengarkan apa yang ia katakan. Lalu setelah ia mengingat semua yang sudah ia lupakan ia akan pergi begitu saja.
Tidak, tidak... dia tidak boleh pergi. Bodoh sangat bodoh.
"Apa yang kau lakukan, setelah semua yang kau katakan. kau akan pergi begitu saja. Jangan mengantakan kalau kau juga membenciku!!" teriak Andrea begitu kencang.
"Kenapa kau bodoh!!" ujar Andrea lagi
Alvin berdiri mematung "Aku tidak tau, aku merasakan kau semakin jauh dari ku. Lalu apa gunanya jika aku mengharapkan mu tapi kau sendiri tidak menyukai ku" katanya.
"Berikan aku waktu untuk memikirkannya, jangan memberi kesimpulan sesukamu. Jangan membuat ku marah juga kepadamu" ujar Andrea.
Alvin tersenyum "Baiklah, aku akan menunggumu dengan jawaban yang sudah lama ingin aku dengar. Datanglah temui aku, aku akan selalu menunggumu. Keputusan ada ditangan mu" serunya.
Kini Alvin pergi meninggalkan Andrea, untuk terakhir kalinya dia tidak akan membiarkan semua kebahagiaan menghilangkan lagi dari genggamannya. Biarlah semua kebodohan bagaikan angin lalu. Namun untuk yang satu ini dia tidak akan membiarkan orang itu juga meninggalkan dirinya.
"Aku akan mengatakan apa yang aku pikir yang menurut aku benar, tidak akan ada lagi kesalahan yang sama"
The End....