"Kak, jangan bergerak-gerak!"
Grayson memegang pinggangku dan menahanku erat dalam pelukannya, sambil berbisik pelan di telingaku, "Berapa banyak pacar yang kamu kencani sebelumnya?"
Aku merasa wajahku memanas karena tatapannya yang penuh perhatian, sambil bermain-main dengan jari-jariku, aku pura-pura menghitung, "Satu, dua, tiga ...."
Barulah saat aku merasakan tangannya yang makin mendekap pinggangku, aku mengakui, "Kamu adalah yang pertama."
Ekspresi serius di wajah Grayson seketika berubah menjadi senyuman yang menawan, dia mendekatkan wajahnya dan menciumku, "Dan akan menjadi yang terakhir juga."
1
Pertama kali aku bertemu dengan Grayson adalah di taman kanak-kanak tempatku mengajar satu tahun yang lalu.
Pada saat itu, ada seorang gadis kecil yang sangat nakal dan sering bertengkar dengan anak-anak dari kelas lain. Karena sudah terpaksa, aku menelepon walinya untuk datang dan menyampaikan hal ini.
Di ruang kerjaku yang kecil, aku menyeduh secangkir teh dan memberikannya kepada seorang pria. Dia mengangguk sebagai ucapan terima kasih, tapi alis matanya tetap bertaut. Suasana di ruang kerjaku terasa amat canggung.
"Begini, Pak, mengenai perilaku Olivia di sekolah, saya rasa ...."
"Ada alasan di balik semua perilaku Olivia di sekolah. Biasanya dia selalu dijemput oleh pengurus rumah tangga dan di sekolah, dia selalu sendirian. Saya rasa, dia membutuhkan perhatian keluarga dan dia ingin menarik perhatian guru dan teman-teman di sekolah. Karena itulah dia sering bertengkar dengan anak-anak lain."
Pria itu menunduk, memikirkan kata-kataku sejenak dan tatapannya tertuju padaku, "Orangtuaku bekerja di luar negeri dan Olivia terpaksa harus tinggal bersamaku. Sementara saya harus bekerja dan tidak punya waktu untuk merawatnya dengan baik. Sebagai seorang kakak, saya telah gagal."
"Kalau begitu, bagaimana kalau saya membantu menjaga anak itu?" Aku mengucapkannya begitu saja sebelum menyadari bahwa perkataanku sedikit tidak pantas. Aku lalu menjelaskan, "Saya juga punya adik laki-laki, saat kecil saya yang merawatnya. Kalau memang bersedia, saya bisa membantu mengantar pulang dan menjemput Olivia, sambil memasak untuknya dan menemaninya mengerjakan tugas sekolah sebelum kembali. Lagipula, setelah pulang kerja, saya tidak ada urusan lain lagi."
Dia lalu bangkit berdiri dari kursi kecil mini yang tidak cocok dengan tingginya yang mencapai 190 cm dan dengan sangat bersemangat dia menggenggam tanganku. Terpancar ketulusan di bola matanya, "Kalau begitu, terima kasih banyak, Bu Millie. Saya akan membayar Bu Millie dengan honor sesuai yang seharusnya."
2
Pada sore hari ketika anak-anak pulang sekolah, sesuai dugaanku, pria itu tidak kunjung datang. Setelah semua anak pergi, aku menggandeng tangan Olivia dan membawanya pulang.
"Olivia, siapa nama kakakmu?" Aku bertanya padanya.
"Namanya apa ya?" Gadis kecil itu tampak berpikir sejenak, "Oh iya, nama kakakku adalah Grayson."
Pada saat ini, ponselku berdering, lalu aku pun mengeluarkannya. Aku baru sadar kalau aku sudah menambahkan Grayson sebagai teman. Aku membuka ruang obrolan dan muncul sebuah lokasi.
Alamatnya ada di ....
Kawasan perumahan mewah!
Kenapa keluarga seperti ini tidak mempekerjakan seorang pengasuh anak saja? Kenapa mereka malah menggunakan orang sepertiku yang bekerja sebagai pegawai dengan penghasilan enam hingga delapan juta per bulan?
Namun, dia sepertinya tahu apa yang ada di pikiranku. Dia pun dengan santai menunjuk ke sebuah kamar, "Pembantu rumah tangga kami dulu tinggal di sana, sekarang dia sudah pindah. Kalau Bu Millie bersedia, Bu Millie boleh tinggal di sini."
Supaya kamu tidak usah repot-repot mengantarku pulang? Menyebalkan sekali.
"Aku tidak membawa piyama." Aku menyerah.
Dia tersenyum simpul, "Di kamar sebelah kanan, di laci pertama di sebelah kiri, ambil saja piyama yang kamu mau di sana."
Aku mengangguk, aku masuk ke dalam dan membuka laci tersebut. Di dalamnya ternyata berisi berbagai pakaian tidur seksi.
"Pak Grayson, apa kamu sering membawa perempuan ke rumah?" Aku mengangkat beberapa helai pakaian aneh tersebut dan memperlihatkannya kepadanya.
"Ini apa! Ini bukan milikku," Dia membantah dengan tegas.
Aku mengangguk, "Memang ini bukan milikmu, pakaian ini tidak bisa menutupi bagian tubuhmu."
"Aku ... ini benar-benar bukan milikku!"
3
Jadi, begitulah, tanpa alasan yang jelas, aku bermalam di rumah seorang pria yang tidak sampai sehari kukenal. Tidak ada yang istimewa. Pagi hari berikutnya, Grayson sudah pergi.
Beberapa hari berikutnya, semua berjalan dengan tenang. Kehidupanku tidak banyak berubah, hanya bertambah pekerjaan paruh waktu setelah pulang kerja.
Namun, Grayson makin sering pulang sehingga kepribadian Olivia pun menjadi lebih ceria.
Menurutku dia orang yang keras kepala tetapi memiliki hati yang lembut. Menurutnya, aku naif dan penuh semangat. Meskipun kami saling tidak suka, sulit rasanya jika tidak bertemu satu hari saja.
Awalnya aku mengira hubungan kerja kami bisa terus berlanjut, sampai suatu hari ....
Ketika aku sedang membacakan dongeng Putri Salju kepada Olivia di tempat tidurnya, tiba-tiba Grayson masuk dengan tidak mengenakan baju. Otot perutnya yang kuat pun terlihat. Selain ayahku, aku belum pernah melihat pria lain tanpa mengenakan baju, tanpa sengaja aku memalingkan mata.
Anak itu terus meminta aku dan Grayson untuk tidur bersamanya. Dalam keadaan yang mengantuk, Olivia berbisik, "Kakak adalah ayah, lalu Bu Millie ...." Kami pun hampir dengan serempak menyangkalnya.
Anak itu pun menjadi cemas, "Apa Kakak tidak menyukai Bu Millie?"
"Suka, suka. Cepat tidur ya." Aku pun mengalihkan pembicaraan dan menghiburnya, berharap dia bisa tidur lebih awal.
Setelah dengan susah payah berhasil membuatnya tertidur, aku pun merasa lelah. Saat aku hendak kembali ke kamar untuk beristirahat, tiba-tiba ada tangan yang mengadang pintu. Aku merasakan hembusan napas panas dari belakang.
"Kamu bilang kamu menyukai aku."
"Aku bicara begitu untuk menidurkan anak kecil. Kalau tidak begitu, dia tidak akan mau tidur." Aku menjadi panik dan langsung menyangkal.
"Hmm, cuma untuk menidurkan anak kecil saja ya?"