Setelah putri kandung ibuku ditemukan, aku menjadi pelaku yang telah merebut milik orang lain.
Untuk menebus dosaku, aku melompat dari gedung.
Saat berbaring di ranjang rumah sakit, aku mendengar ibuku menangis. "Bangunlah, ibu menyesal karena telah menyalahkanmu ...."
Namun, seseorang yang telah kehilangan keinginan hidup tidak bisa bangun.
1
Berbaring di ranjang rumah sakit, aku tidak bisa melakukan apa pun kecuali bernapas.
Percobaan bunuh diriku gagal sehingga aku berada dalam keadaan koma, Akan tetapi, aku masih bisa mendengar segala sesuatu yang terjadi di luar.
Oh, ada seorang gadis yang datang menjengukku, namanya Sabrina Bagaskara.
Dulu aku juga bernama Sabrina.
Sekarang namaku menjadi miliknya, sedangkan aku mengubah namaku menjadi Sarah Maheswari.
Bagaimanapun, dia adalah putri kaya yang asli, sedangkan aku adalah putri palsu. Dia dibawa pergi oleh orang tua kandungku dan menderita kesulitan. Sementara aku tinggal di keluarga Bagaskara dan menikmati kehidupan mewah.
Dia duduk di samping ranjang. Sambil mengusap bibirku dengan kapas, dia berkata, "Aku akan pergi ke luar negeri. Sungguh bukan maksudku untuk membuat lelucon ini berubah menjadi tragedi. Sarah, cepatlah sembuh dan pulanglah. Aku tidak menyalahkanmu lagi ...."
Dia terdiam sejenak dan berkata lagi, "Omong-omong, Ervin akan pergi ke luar negeri bersamaku. Apa dia sudah datang menjengukmu? Seharusnya dia sudah memberi tahu kamu, 'kan?"
Ervin Wardana adalah tunanganku. Jika tidak ada halangan, kami seharusnya bertunangan bulan depan.
Kehabisan oksigen membuat detak jantungku naik turun hingga alarm monitor EKG berbunyi..
Sabrina buru-buru pergi mencari dokter. Ketika dokter datang melihatku, dia menghela napas. "Dalam kondisi sekarang, meski fungsi tubuhnya agak pulih, kesadaran subjektif pasien seolah menghambat vitalitasnya. Itu sebabnya kondisinya kembali memburuk."
Dokter berkata dengan serius, "Kamu kakaknya, 'kan? Kenapa orang tuamu sama sekali tidak datang? Sekarang aku curiga pasien sendiri yang tidak ingin bangun. Kalau ini terus berlanjut, dia akan..."
Aku mendengar Sabrina terdiam sejenak dan menjadi gugup. "Aku akan pulang untuk memberi tahu orang tua dan kakakku!"
Mereka tidak akan datang.
Mereka sangat membenciku karena aku adalah seorang pencuri.
2
Ibuku atau lebih tepatnya, ibu angkatku, sebenarnya telah datang.
Dokter terkejut dan menjelaskan dengan tegas, "Pasien sudah kehilangan keinginan untuk hidup. Beberapa hal tidak dapat diatasi dengan obat-obatan. Begitu harapan ditinggalkan, banyak penyakit akan memburuk dengan cepat. Masalah psikologis ini memerlukan kerja sama dari anggota keluarga untuk menyelesaikannya."
Kemudian, dokter berkata, "Selain itu, pikirkan tentang buku-buku yang biasa dia suka baca, drama-drama yang dia tonton, atau selebriti yang dia ikuti. Bacakan dan ceritakan lebih banyak untuknya. Mungkin hal ini bisa memperkuat keinginannya untuk bertahan hidup."
Ibuku berpikir sejenak dan menelepon kakak laki-lakiku.
Aku mendengar kakak laki-lakiku berkata dengan gembira, "Bu, aku sedang membantu Ervin merencanakan lamaran. Ada apa?"
Lamaran.
Apakah Ervin akan melamar Sabrina?
Ibuku juga terdiam sejenak dan berkata, "Pulanglah ke rumah. Lalu, Bawakan buku-buku yang biasa Sarah baca ke rumah sakit. Aku akan membacakan buku-buku itu untuknya."
Ibuku terdiam sejenak, tidak berkata apa-apa. Dia hanya menyuruh kakak laki-lakiku untuk buru-buru membawanya, kemudian menutup telepon.
Aku sangat memahami tindakan mereka.
Di mata mereka, aku sudah merebut rumah orang lain dan merugikan Sabrina beserta keluarga Bagaskara.
Pada bulan kedua setelah Sabrina pulang, ibuku mengetahui bahwa Sabrina menderita depresi.
Dia berkata bahwa dia terus mengingat masa-masa kemiskinan itu. Di masa-masa itu, dia dipaksa untuk bekerja dan tangannya pecah-pecah karena kedinginan. Karena kemiskinan, orangtuanya makin mudah tersinggung. Selain itu, dia selalu diejek di sekolah.
Untuk pertama kalinya, ibuku menatapku dengan tatapan dingin dan berkata, "Seharusnya kamu mengatakan sesuatu, 'kan?"
Seseorang yang memberi seluruh cintanya padaku dan ibu terdekatku sudah menghilang.
Pada hari kami menemukan Sabrina, ibuku memang pernah berkata bahwa aku masih anaknya. Keluarga Bagaskara hanya menambah satu kakak lagi. Namun, sekarang aku punya firasat bahwa segalanya tidak akan seperti itu.
Seperti sesuatu yang sangat aku takutkan akan terjadi.
3
Kakakku langsung datang membawa buku-buku yang dia temukan di rak bukuku.
Di ruang kerjaku hanya ada satu set dongeng. Meski aku sudah dewasa, aku hanya suka membaca dongeng.
Set dongeng itu dibelikan oleh kakakku sewaktu aku masih kecil.
Dia selalu bersikap dingin kepadaku. Jadi, itu adalah satu-satunya hadiah yang pernah dia berikan padaku.
Dia membawa buku-buku tersebut dan memberikannya kepada ibuku. Dia batuk-batuk dengan canggung dan berkata, "Kenapa buku-buku lama ini masih disimpan?"
Buku-buku itu sangat berharga bagiku.
Ibuku membuka buku cerita dongeng itu. Jari-jarinya yang dingin dengan ragu menyentuh tanganku yang kurus. Dia mencoba melembutkan suaranya. "Sarah, ibu akan membacakan buku ini untukmu. Tolong cepat bangun."
Ketika dia mencapai bagian di mana ibu tiri memberi Putri Salju apel beracun, dia terbata-bata.
Aku ingat pernah menulis sebuah catatan di sana. Kenapa ratu sangat membenci Putri Salju? Dia jelas ibunya juga. Setelah bertahun-tahun dipanggil "ibu", seharusnya hatinya agak melunak, 'kan? Putri Salju tidak tahu apa-apa. Dia hanya melihatnya sebagai ibunya!
Aku mengingatnya begitu jelas karena aku tidak menulisnya saat aku masih kecil. Aku menulisnya sebelum aku meninggalkan rumah.
Setiap kata, setiap air mata, meninggalkan jejak di atas kertas.
4
Sebulan sebelum melompat dari gedung, aku meminta uang kepada kakak laki-lakiku.
Ayah kandungku di keluarga Maheswari harus dirawat inap di rumah sakit. Akan tetapi, kami tidak punya uang.
Aku mendapatkan pekerjaan kasir yang hanya cukup untuk menghidupi diriku sendiri. Alhasil, aku tidak punya uang tambahan untuk menutupi biaya yang keluarga Maheswari butuhkan.
Hanya saja, begitu kakak laki-lakiku mendengar aku membutuhkan uang, dia sudah mencibir sebelum aku bisa melanjutkan. "Di mana harga dirimu? Sudah menyerah?"
Kemudian, dia berkata bahwa dia sedang rapat dan sibuk. Setelah itu, dia langsung menutup teleponnya.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengunduh aplikasi pinjaman online.
Aku harus membayar tagihan rumah sakit untuk orang tua kandungku.
Ibu kandungku meneleponku dan berkata, "Kalau kamu tidak berbakti kepada orang yang sudah melahirkanmu, kamu lebih buruk dari bajingan."
Sejak hari itu, seolah-olah semangatku telah terkuras habis. Sulit sekali untuk bangun dari tempat tidur di pagi hari. Membuka tirai dan mencuci muka menjadi kegiatan yang menakutkan. Sebelum bisa bangun, aku harus berbaring lama untuk mempersiapkan mentalku terlebih dahulu.
Aku suka menutup tirai, berbaring dalam kegelapan tanpa melakukan apa-apa. Aku hanya berbaring dengan tenang sambil meneteskan air mata dan menangis hingga tertidur.
Pada saat itu, aku pikir aku hanya sedih dan akan pulih dengan cepat.
Tapi, aku tidak tahu ternyata itu adalah depresi.
Hari ini, kakakku datang sendirian. Aku mendengarnya berbicara di telepon. Sepertinya ibuku memaksa kakakku datang sehingga dia sangat tidak senang dan berbicara dengan kesal.
Dia terus membaca dan kebetulan membaca kalimat yang aku tulis di sana. "Tapi, siapa yang meletakkan telur angsa di tengah-tengah anak bebek? Itu sangat jahat!"
Tiba-tiba, dia menyentuh wajahku.
Saat aku masih kecil, aku selalu merasa kakakku pasti sangat membenciku. Karena, dia bahkan tidak ingin melihatku.
Sama seperti hari ini. Setelah selesai membaca "Anak Angsa yang Buruk Rupa," dia tiba-tiba berdiri, menendang kursi, dan pergi dengan tergesa-gesa.
Saat dia mencapai pintu, langkah kakinya berhenti sejenak. Aku mendengar dia menghela napas dalam-dalam, seolah-olah dia hendak mengatakan sesuatu. Akan tetapi, akhirnya dia tidak mengatakannya.
Dia menutup pintu.
5
Kadang-kadang aku tidak bisa memahami mengapa kakakku sangat membenciku.
Ketika aku masih kecil, aku menirunya dalam segala hal. Ketika aku dewasa, aku bersikap lembut dan patuh padanya. Akan tetapi, aku tidak pernah bisa membuat hatinya menghangat.
Setelah Sabrina kembali, aku melihat betapa kakakku sangat menyayanginya. Dia sering membelikan hadiah untuknya, seperti pakaian, tas, sepatu, perhiasan. Sabrina mendapatkan segalanya. Sementara itu, sejak kecil hingga dewasa, aku hanya mendapatkan satu buku dongeng.
Selangkah demi selangkah, aku juga ingin menjadi orang yang luar biasa seperti Sabrina.
Bukan untuk alasan lain, melainkan hanya agar kakakku bisa memperhatikanku lebih sering.
Aku benar-benar berusaha keras, bangun pagi dan pulang larut malam. Aku bekerja lembur setiap hari dan belajar dengan penuh semangat.
Aku berpikir bahwa dengan cara ini, kakakku akan bahagia.
Akan tetapi, aku tidak menyangka ketika dia melihatku makan malam dengan rekan kerjaku, dia pergi dengan wajah dingin.
Saat aku tiba di rumah, dia sedang berbicara dengan ayahku tentang sesuatu.