IQ kakak laki-lakiku hanya setara anak berusia lima tahun.
Sebelum meninggal, dia masih memegang kartu Ultraman yang aku berikan kepadanya, dengan senang menunggu aku datang mencarinya.
Tapi, aku hanya menemukan mayatnya.
Hati, ginjal, dan jantungnya menghilang dari tubuhnya.
Semua tragedi ini berawal dari pacarku tercinta.
Pacarku merawatku dengan baik. Dia tidak mengizinkanku begadang, mengemil, serta menjaga keseimbangan nutrisiku.
Dia melakukan semua itu karena ingin memberikan ginjalku kepada pujaan hatinya.
1
Sebelum kakakku meninggal, aku adalah pengagum Dennis.
Dulu, dia seperti seorang penyelamat bagiku dan kakakku.
Waktu kecil, aku sudah tahu bahwa salah satu tangan ayahku dipotong karena berutang sebesar 1,4 miliar akibat kalah judi. Setelahnya, tangan lainnya dipotong juga.
Dia bunuh diri untuk terbebas dari lilitan utang tersebut, ibuku pun melarikan diri, meninggalkan kakakku yang duduk di bangku SMP bersama aku yang masih SD.
Kakakku putus sekolah dan bekerja di sebuah toko roti agar aku bisa lanjut bersekolah.
Dia sangat pintar. Dia tidak hanya menjadi pelayan, tapi juga mempelajari cara membuat roti.
Kakakku bilang, setelah dia dewasa, dia akan membuka sebuah toko roti.
Masa-masa indah itu tidak berlangsung lama. Sebelum kakakku membuka toko roti, kami ditabrak ketika kakakku memboncengku dengan sepeda.
Kami berdua dibawa ke rumah sakit. Dengan kesadaran terakhir, kakakku berkata, "Selamatkan adik saya dulu."
Ketika dia terbangun, dia menjadi bodoh karena telah menunda waktu pertolongan pertama.
IQ-nya menjadi setara dengan anak berusia lima tahun. Dia melupakan segalanya.
Dia melupakan pemilik toko roti, perusahaan roti, dan bapak yang mengantar kami ke rumah sakit.
Dia hanya mengingat satu orang, yaitu aku.
Mulutnya miring, lalu air liur menetes dari sudut mulutnya.
Dengan mata berbinar, dia memanggilku, "Lily."
2
Setelah kakakku menjadi seperti ini, aku tidak dapat lagi bersekolah.
Saat aku berencana untuk berhenti sekolah, Dennis menemukanku.
Wajah ayah Dennis terdapat bekas luka dan terlihat sangar, tetapi dia mengenakan setelan jas rapi dan berkata, "Aku memiliki rumah sakit pribadi. Aku ingin melakukan pemeriksaan kesehatan gratis terhadap anak-anak sebagai perbuatan baik."
Dennis melihat lembar pemeriksaan kesehatan, kemudian mengulurkan jarinya ke arahku.
Pada saat itu, aku masih tidak mengerti. Setelahnya, aku baru tahu bahwa golongan darahku yang sama dengan "adik" Dennis menyebabkan aku bisa menjadi stok darah berjalan untuk Daniela sehingga aku menerima bantuan dari mereka.
Yang diberikan takdir untukku bukanlah hadiah, melainkan utang yang sulit dibayar.
3
Aku pikir aku akan selalu memuja Dennis dari jauh, seperti bunga matahari yang memuja cahaya matahari.
Namun, pandangan penuh kelembutan Dennis tiba-tiba tertuju padaku.
Pada tahun pertama kuliah, Dennis menemuiku dan mengatakan bahwa rumah sakit mereka membutuhkan seorang perawat magang. Dia bertanya apakah aku bisa membantu.
Lalu, Dennis dan aku makin dekat.
Demi belajar, aku mengulang pelajaran kedokteran di tengah malam dan bereksperimen dengan menusuk tanganku sendiri.
Saat aku sedang memasak, kakakku melihat bintik-bintik ungu di punggung tanganku. Kemudian, dia memegang tanganku sambil menangis.
"Lily nakal," katanya dengan marah.
Aku tersenyum lembut sambil berkata, "Lily tidak nakal. Lily sedang berlatih. Setelah berlatih, Lily bisa menjadi dokter."
Kakakku mengulurkan tangannya tinggi-tinggi. "Lily boleh menusukku."
Kakakku melihat telapak tanganku yang memar, lalu dia menurunkan tangannya dengan ragu. Setelah berpikir selama beberapa detik, dia membulatkan tekadnya, kemudian mengangkat tangannya lagi sambil menggigit bibirnya.
Kakakku masih begitu menyayangiku. Aku merasa sangat bahagia. Karena aku harus kuliah dan magang di rumah sakit pribadi Dennis, aku sangat sibuk hingga hampir tidak bisa merawat kakakku.
Jadi, aku hanya bisa menipu kakak dengan sebuah permainan agar aku bisa keluar.
Aku berkata, "Kak, ayo kita main petak umpet."
"Ayo, main petak umpet."
"Kalau begitu Kakak jadi hantu, aku jadi manusia, oke? Aku akan bersembunyi di sebuah sudut di rumah, lalu Kakak mencariku. Kalau Kakak tidak menemukanku, tidurlah sebentar. Setelah Kakak bangun, permainan akan berakhir."
Tapi kemudian, kakakku dibawa pergi oleh ayah Dennis yang marah.
Ketika kakakku pergi, dia masih mengira sedang bermain petak umpet denganku.
Kakakku berbaring di gudang usang yang terletak di pinggiran kota. Bibirnya bahkan tersenyum tipis.
Aku menemukan kakakku, tapi tidak dengan ginjal, hati, dan jantungnya.
4
Sebelum kakakku meninggal, aku masih tidak tahu apa-apa.
Aku tidak merasakan ketenangan sebelum badai. Aku tidak bisa memaafkan kebodohanku saat itu, yang membicarakan tentang cinta sejati.
Pada saat itu, bisa-bisanya aku menyukai Dennis.
Untuk pertama kalinya, aku mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Aku tidak lagi hanya mengintipnya dari belakang.
Dennis tidak menolak kelembutanku. Dia pernah secara tidak sengaja mengatakan bahwa dia suka bunga matahari, jadi aku menanamkan sebatang bunga matahari di kebun rumah sakit untuknya.
Bunga matahari itu tumbuh dengan baik, tinggi dan tegap. Aku membawa Dennis pergi melihatnya, lalu dengan berani aku berkata, "Dennis, aku menyukaimu. Bagiku, kamu seperti cahaya matahari."
Dennis agak terkejut, tapi dengan senyum dia berkata, "Boleh, Lily."
Dia mengulurkan tangannya ke arahku, dan seketika aku merasa duniaku penuh dengan bunga matahari.
5
Aku dan Dennis menjalin hubungan. Kita berpacaran selama dua tahun lebih. Dennis sangat merawatku.
Dia melarangku makan camilan. Setiap hari, dia menyiapkan makanan dengan gizi seimbang untukku, memeriksa kondisi tubuhku secara teratur, dan mendorongku untuk berolahraga.
Berkat gaya hidup yang sehat, aku mulai menjadi lebih percaya diri dan ceria, tidak lagi merasa rendah diri seperti waktu kecil.
Dennis mengusulkan untuk menikah, tetapi tidak terburu-buru untuk mengadakan pernikahan.
Setelah menikah, kami tinggal bersama. Dennis mempekerjakan seseorang untuk merawat kakakku.
Pada hari ketiga setelah kami menikah, Daniela menarikku dari kasur di tengah malam. Dia mengenakan gaun putih, dengan air mata menggenang di matanya sambil berkata, "Kak, kenapa kamu tidur bersamanya?"
Dennis dengan santai menjawab, "Dani, dia bukan siapa-siapa. Kamu tidak perlu marah."
Aku kurang beruntung, tapi Daniela sangat beruntung.
Dia memiliki seorang ayah yang sangat memanjakannya. Pria yang terlihat menyeramkan itu bersedia menyingkirkan segala hambatan untuk putrinya.
Setelah Daniela pergi, aku berdiri di dalam kamar, menguping pembicaraan di luar.
Ayah Dennis berkata, "Kenapa kamu menjaga kesehatannya? Langsung ambil saja ginjalnya, persetan dengan hidup matinya."
Dennis dengan tenang menjawab, "Aku harus memastikan kualitas ginjalnya. Aku peduli dengan Dani. Bagaimana mungkin aku menyakitinya? Kondisi fisiknya lemah sejak kecil."