Mayat itu di keluar dengan ditutupi kain putih.
Dia berdiri di kejauhan dengan topi hitamnya sambil melihat luar jendela dan merokok.
Dari awal hingga akhir, dia bahkan tidak meliriknya, seolah orang yang berada di balik kain putih itu tidak memiliki hubungan dengannya.
Orang-orang di sekitar menatap mobil pemindahan jenazah itu sambil berbisik-bisik.
"Kematian mendiang itu tragis sekali. Dengar-dengar dia disiksa sampai mati?"
"Sepertinya ada hubungannya dengan pacarnya."
"Dosa! Orang tuanya akan sangat terpukul kalau mereka mengetahuinya."
1
1 Oktober 2018.
Aku putus dengan pria yang telah menjadi pacarku selama tiga tahun.
Dia belum tahu bahwa aku sudah tahu tentang perselingkuhannya dan masih memohon agar aku kembali.
Keesokan harinya aku mengundurkan diri dari tempatku bekerja. Aku menghabiskan sebagian besar tabunganku untuk membeli sebuah Shepherd bekas, lalu berangkat ke kota Dally sendirian.
Yang lebih tak tertahankan dari kemacetan lalu lintas adalah menahan pipis.
Aku akhirnya melihat sebuah rumah pertanian, jadi aku buru-buru keluar dari mobil, kemudian pergi meminjam toilet.
Ternyata toiletnya dikenakan biaya.
Seorang pria bertopi nelayan hitam di sebelahku melihat kesulitanku, lantas dia memberiku 10 ribu untuk membantuku.
"Terima kasih."
Pria itu melambaikan tangannya tanpa berbicara, yang kuartikan sebagai ucapan sama-sama.
Saat aku sedang dilema untuk meminta nomor teleponnya, hujan pun turun.
Dia berjalan ke sebelah mobilku. "Sepertinya kamu tidak bisa pergi malam ini. Biar aku traktir makan malam."
"Oke." Aku tersenyum tanpa sungkan.
Kami mencari sebuah restoran yang terang, lalu duduk.
Aku memperhatikannya yang memilih menu dengan serius, kemudian terpikir akan sesuatu. "Bisakah kamu membantuku?"
"Mantan pacarku berselingkuh, tapi dia mengira aku tidak mengetahuinya dan masih menggangguku. Bolehkah aku mengatakan kalau kamu adalah pacarku untuk menyingkirkannya?"
2
Setelah dia mendengarnya, dia tersenyum dan menatapku dalam diam, membuatku sedikit cemas.
Aku menghela napas dalam-dalam, lalu mengambil ponselku untuk melakukan panggilan video.
Mantan pacarku mengeluarkan sebuah cincin berlian dengan tatapan penuh cinta yang membuatku mual. "Mila, aku sudah bersiap untuk melamarmu, tapi kamu malah memperlakukanku seperti ini?!"
Pria bertopi nelayan itu tiba-tiba mendekat ke layar dengan mata memicing. "Sepertinya aku mengenalmu."
Si pria bertopi nelayan melepaskan topinya. "Coba lihat, apakah kamu mengenalku?"
Rambutnya sangat pendek. Lebih pendek dari potongan cepak.
Orang yang memiliki gaya rambut seperti ini pasti seorang tentara.
"Jasper? Setelah menjadi temanku selama bertahun-tahun, kamu merebut pacarku?"
"Huh ... sejak kapan kamu menjadi temanku? Aku hanya ingin memberitahumu untuk tidak mengganggu pacarku lagi lain kali."
Mantan pacarku mengumpat, lalu memutuskan panggilan videonya.
3
Keesokan paginya.
Aku dan Jasper bertukar nomor telepon. Setelah berberes, ayah, ibu, paman dan adik perempuan Jasper berdiri di samping sebuah Jeep.
Ibu dan adik Jasper menatapku dengan sangat hangat.
Adiknya mendekatiku, lalu berbisik kepadaku, "Kak, meskipun menyukai kakakku sangat sulit, jangan pernah menyerah, ya!"
Jasper memotong rasa ingin tahu mereka dengan mendorong mereka ke dalam mobil. "Aku dan Mila satu mobil. Kalian berangkat dulu."
Tanpa alasan yang jelas, aku bergabung dengan perjalanan keluarga mereka begitu saja.
Kami tiba di kabupaten Ludi. Jasper menjelaskan sejarah setiap objek wisata. Aku tiba-tiba merasa seolah ditarik kembali ke masa perang yang penuh dengan konflik.
Mataku tanpa sadar basah, denyut jantungku berdetak kencang.
"Kalau kamu bercerita lagi, aku akan merasakan kesalahan atribusi kegairahan padamu," kataku.
Dia menatapku dan tersenyum dengan sangat ceria.
Awalnya aku tidak berniat untuk jatuh cinta pada seseorang lagi secepat ini, tapi Jasper masuk begitu saja ke dalam hidupku, seperti perjalanan-tanpa-rencanaku.
Ketika kami kembali ke kabupaten Wencu, dia menerima sebuah panggilan telepon dan mengatakan bahwa liburannya sudah berakhir. Dia harus segera kembali bertugas.
Jasper pergi malam itu.
Sebelum pergi, dia seolah ingin mengatakan sesuatu.
Aku memberinya dukungan dengan tatapan, namun dia hanya tersenyum dan menghela napas. "Aku akan mengatakannya padamu saat liburan berikutnya."
Dia berjalan dua langkah, lalu kembali ke sisiku. "Jangan melupakanku."
4
Ketika kami bertemu lagi, lima bulan sudah berlalu.
Dalam kurun waktu tersebut kami tidak berhubungan.
Jasper tiba-tiba muncul di bawah gedung kantor kami.
Dia hanya memiliki waktu 48 jam sebelum kembali pergi. Tempatnya bertugas bukan di kota Cendu. Dia telah menghabiskan 8 jam perjalanan untuk menemuiku, belum lagi 8 jam yang akan dia habiskan untuk kembali.
Kami hanya memiliki 32 jam bersama. Jika dikurangi 8 jam untuk kerja besok dan 8 jam untuk tidur, kami hanya memiliki 16 jam.
Entah kapan, dia telah memegang tanganku.
Pada persendian kedua ibu jari, jari tengah, jari manis, dan jari kelingkingnya memiliki kapalan.
Hmm, ini adalah tangan yang memegang senjata.
Aku mengambil cuti, lalu kami menghabiskan 32 jam di hotel.
Kami hanya berciuman di hotel, tidak melakukan hal yang lebih intim. Kami hanya bersantai, menonton film atau bermain game bersama.
Namun, sekalipun kami tidak melakukan apa-apa, waktu terus berjalan.
Pertemuan ketiga kami terjadi dengan cepat, hanya berjarak dua bulan lebih dari pertemuan terakhir.
Dia berdiri di bawah gedung kantor kami seperti sebelumnya.
Dia membawa mobil, aku duduk di jok samping pengemudi. "Kita mau pergi ke mana?"
"Bertemu dengan orang tuamu. Bukankah kita sudah membicarakannya sebelumnya?"
Dia melepaskan satu tangannya untuk menyentuh tengkukku. "Gawat. Aku sudah melamarmu ratusan kali dalam mimpi, kamu selalu menerimanya. Sepertinya aku sudah tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan."
5
Aku menelepon ibuku dan mengatakan bahwa aku akan membawa pacar pulang. Ibuku yang kelewat bersemangat langsung membawa ayahku pulang dari kompleks menari.