Aku memiliki hubungan cinta dan benci dengan Candra, si siswa genius. Setelah ujian masuk perguruan tinggi, aku menciumnya dengan paksa di depan semua teman sekelas.
"Aku sudah mencobanya sendiri, ternyata … Candra biasa-biasa saja."
Kerumunan orang di sekitar kami langsung heboh. Pernyataan ini sangat menghina!
Namun, siapa yang mengira bahwa ketika aku merasa bangga karena berhasil mempermalukan Candra, aku jatuh dari panggung. Ketika aku bangun lagi, sepuluh tahun telah berlalu dan pemuda genius itu sedang berbaring di tempat tidurku!
Ketika melihatku bangun, dia langsung memeluk dan menciumku dengan penuh kasih sayang.
Kemudian, dia berbicara dengan nada lembut, "Istriku, biarkan aku memelukmu sebentar."
Istri? Dia sudah gila atau aku yang gila?
1
Aku pertama kali bertemu Candra Wijaya di ruang peralatan.
Ketika aku mendorong pintu hingga terbuka, aku melihat seseorang tengah berbaring di sofa yang berada di ruangan tersebut.
Awalnya, aku ingin pergi diam-diam. Akan tetapi, entah bagaimana aku tersandung sesuatu dan jatuh di atas tubuh pemuda itu. Tatapanku terkunci pada matanya yang dingin dan dalam.
Pada saat itu, aku mengenalinya. "Candra?"
Dia berhenti sejenak, kemudian tersenyum malas, "Kamu kenal aku?"
Sulit untuk tidak mengenalnya. Dia selalu bersaing denganku untuk posisi teratas. Dia dikenal sebagai "Siswa Genius yang Dingin dan Penyendiri".
Langkah kaki terdengar di luar ruang peralatan. Aku hendak bangun, tetapi dia tidak melepaskan cengkeramannya. Sesaat kemudian, dia berkata, "Karena kita sudah dalam situasi seperti ini, bukankah akan sia-sia kalau kita tidak melakukan sesuatu?"
"Apa?"
"Aku akan menghitung sampai tiga. Kalau kamu tidak menolak, aku akan menciummu."
Sebelum aku bisa bereaksi, dia menyeringai licik. "Tiga. Waktu habis."
Lalu, dia mencondongkan tubuh dan kupikir dia benar-benar akan menciumku. Namun, ketika bibir kami berjarak tepat tiga sentimeter, dia tidak bergerak.
Kemudian, aku mendengar seseorang di luar berseru, "Sial, sial!"
Selang beberapa saat, Candra mengerjap ke arahku dengan ekspresi menggoda. Wajahnya menunjukkan senyum nakal. "Hei, siswi ranking dua, tamat sudah riwayatmu."
Saat itu, aku tidak mengerti apa maksudnya. Sampai suatu hari, berita tentang cinta monyetku menyebar ke seluruh sekolah.
2
Sepanjang tahun akhir, semua orang terus mengatakan bahwa aku menyukai Candra.
Aku sudah menjelaskan berulang kali, tetapi tidak ada yang memercayaiku.
Sementara itu, ketika Candra ditanya oleh orang lain, dia hanya menunjukkan ekspresi cuek dan menjawab, "Kartika adalah orang yang baik. Tapi, sayangnya, dia hanya peringkat kedua. Aku tidak suka seseorang yang lebih buruk dariku di bidang akademik."
Aku sangat marah dan bergegas ke kelasnya untuk melabraknya.
Dia tertawa santai, kemudian menekan bagian belakang kepalaku dan berbisik di telingaku, "Kamu tidak terima? Kalau begitu, kalahkan aku. Setelah itu, kamu bisa mempermalukanku."
3
Ucapan Candra menyulut semangat juangku dan aku mulai belajar dengan gila-gilaan.
Namun, Candra benar-benar gigih. Di mana pun aku belajar, dia pasti akan selalu muncul.
Aku menahan siksaannya selama beberapa bulan. Akhirnya, selama ujian tryout ketiga, aku berhasil mengalahkannya dan menempati posisi pertama.
Dia tetap percaya diri seperti biasa dan berkata, "Aku sengaja membiarkanmu menang."
Aku memutar mataku padanya.
Tidak terpengaruh pada reaksiku, dia tiba-tiba mendekat dan berkata, "Karena kamu mendapatkan peringkat satu, kamu memiliki kualifikasi untuk mengejarku."
Saat itu, kata-katanya didengar oleh teman sekelas kami.
Setelah kejadian itu, semua orang percaya bahwa aku berjuang mendapatkan peringkat pertama karena Candra tidak menyukai seseorang yang berada di peringkat bawahnya.
4
Aku menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Sampai akhirnya, aku berhasil melewati ujian masuk perguruan tinggi.
Pada pertemuan kelas terakhir, guru mengundangku dan Candra ke atas panggung untuk berpidato.
Aku yang saat itu sedang kesetanan mencium Candra dengan paksa di atas panggung dan di depan semua orang!
Seluruh orang yang hadir langsung gempar dan aku berbicara di mikrofon, menyampaikan kalimat yang telah kulatih berkali-kali, "Aku sudah mencobanya sendiri, ternyata … Candra biasa-biasa saja. Aku tidak akan mengejarmu lagi, kamu terlalu buruk."
Begitu aku mengucapkan kalimat tersebut, seluruh hadirin tersentak. Pernyataan itu sangat menghina!
Namun, siapa yang mengira bahwa ketika aku merasa bangga karena berhasil mempermalukan Candra, aku jatuh dari panggung.
Ketika aku bangun lagi, aku sedang berbaring di tempat tidur. Begitu aku membuka mata, aku melihat Candra berada di dekatku.
Dia membenamkan kepalanya di lekukan leherku dan napasnya yang hangat berembus dengan perlahan, "Apa aku biasa-biasa saja? Hm?"
Pikiranku kosong dan aku tercengang. Apa yang terjadi?
Namun, aku secara refleks membalas, "Sangat biasa, terlalu buruk."
Aku pikir aku menjadi gila karena Candra dan memiliki mimpi yang tidak masuk akal ini.
Akan tetapi, ketika aku bangun lagi, Candra masih di sana, dia bahkan memeluk dan menciumku dengan penuh kasih sayang. Dia juga berbicara dengan nada lembut, "Istriku, biarkan aku memelukmu sebentar."
Istri?
Apakah dia gila atau aku yang gila?
5
Pada hari-hari berikutnya, aku terpaksa menerima kenyataan.
Aku telah melakukan perjalanan waktu sepuluh tahun ke depan.
Yang paling mengejutkan ... aku menikah dengan Candra!
Aku membuka kontak ponselku dan menemukan nomor sahabatku dari sekolah menengah, Emily Hartanto. Kemudian, aku meneleponnya dan mengajaknya bertemu.
Dari dia, aku mengetahui bahwa setelah aku melakukan ciuman yang frontal di atas panggung dan jatuh pingsan, aku dibawa ke rumah sakit. Pada saat itu, mereka menemukan tumor di otakku.
Untungnya, tumor itu terdeteksi lebih awal dan masalahnya tidak serius.
Namun, temanku mengatakan bahwa Candra tampaknya cukup ketakutan. Alhasil, ketika dia memilih jurusan kuliah, dia menyerah pada jurusan fisika yang selalu dia banggakan dan memilih belajar kedokteran.
Aku merasa sulit untuk percaya. Apakah Candra benar-benar mengubah arah hidupnya untukku? Bagaimana Candra dan aku berakhir bersama?
"Masalah bagaimana kalian bisa bersama, seharusnya kamu jauh lebih mengerti. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya padaku?"
9
"Kartika?"
Tepat ketika sahabatku pergi, aku masih duduk di tempat yang sama dan melamun. Namun, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku.
Ketika menoleh ke arah suara itu, aku melihat seorang pria yang lembut dan elegan. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut dan senang. "Apa yang kamu lakukan di sini? Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu segera setelah kembali ke Indonesia."
"Mm, kamu siapa, ya?" Aku menyela ocehannya.
Wajahnya menegang. "Kamu tidak ingat aku?"
"Maaf, aku amnesia."
"Amnesia?"
Dia terkejut, "Mungkinkah itu efek dari penyakitmu sebelumnya?"
Saat itu, ponselku berdering.
Panggilan itu dari Candra.
Dia bertanya di mana aku berada. Aku merasa sangat tidak nyaman ketika mendengar nada bicaranya yang penuh kasih sayang.
7
Setelah menutup telepon, pria di depanku akhirnya memperkenalkan diri.
Dia mengatakan namanya adalah Brandon Tanujaya. Dia adalah seniorku dan Candra di perguruan tinggi.
Dia berbicara tanpa henti dan aku melihat bahwa di luar hari mulai gelap. Aku berbicara dengan ragu, "Kak Brandon, aku ... harus pulang."
"Aku akan mengantarmu pulang."
Aku hendak menolak, tetapi sesaat kemudian, seseorang meraih pergelangan tanganku dan suara Candra terdengar, "Tidak perlu."
Aku heran ketika melihat kemunculan Candra yang begitu tiba-tiba, "Mengapa kamu di sini?"
Dia menatapku dengan ekspresi muram. "Ayo, pulang."
Dia menarikku dengan paksa.
8
Brandon sangat prihatin ketika mendengar tentang amnesia yang kuderita.
Keesokan harinya, dia meneleponku dan mengatakan bahwa dia mengenal seorang dokter terkenal yang dapat memeriksaku.
Aku merasa agak tidak berdaya karena sebenarnya aku tidak menderita amnesia. Itu hanya alasan untuk menghentikannya.
Namun, tidak peduli bagaimana aku menolak, Brandon tetap tidak terpengaruh dan bersikeras membawaku ke dokter. Dia bahkan datang ke rumahku untuk menjemputku.
"Ini alamatnya, simpanlah. Kami telah menjadwalkan pertemuan untuk hari Sabtu ini."
Baru saja dia selesai berbicara, aku melihat Candra, yang seharusnya berada di rumah sakit, muncul di pintu masuk lift.
Kapan dia tiba?
Meskipun aku tidak melakukan kesalahan apa pun, aku merasa sedikit bersalah ketika menghadapi tatapannya yang tenang dan dalam.
Dia mengambil langkah maju dengan kakinya yang panjang.
"Kamu, bagaimana kamu …."
Sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku, dia menarikku ke dalam rumah dan membanting pintu hingga tertutup.
Angin yang berembus ketika Candra berjalan cepat langsung meniup selembar kertas yang dipegang Brandon. Kertas tersebut sampai jatuh ke lantai.
9
Candra tidak mengatakan sepatah kata pun dan menekanku ke pintu masuk begitu dia masuk.
Merasa gelisah, aku angkat bicara, "A … aku tidak selingkuh, itu hanya …."
Kata-kataku kembali terhenti.
Setelah beberapa saat, kami mendengar ketukan dari luar pintu. Kemudian, suara ragu-ragu Brandon terdengar, "Kartika, kamu lupa catatannya."
Candra berhenti sejenak. Dia membenamkan kepalanya dalam-dalam di leherku dan berkata dengan nada sinis, "Haruskah aku membuatnya pergi atau haruskah aku terus menciummu? Pilih salah satu."
Tubuhku gemetar dan aku segera memilih pilihan pertama.
Meskipun itu agak tidak sopan.
"Kak Brandon, kamu pulang saja dulu. Aku akan datang pada hari Sabtu … mmph!"
Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimat aku, Candra menghukumku dengan menggigitku. "Kamu membuat janji dengannya tepat di depan ku?"
Tangannya yang melingkar di pinggangku menjadi makin erat dan suaranya yang biasanya dingin terdengar serak, "Kartika, kita belum bercerai."
10
Setelah itu, aku memutuskan untuk menjelaskan situasiku kepada Candra. Lagi pula, karena aku tiba-tiba melakukan perjalanan waktu ke sepuluh tahun kemudian, dia tampaknya satu-satunya orang yang dapat aku mintai bantuan.
Meskipun aku sudah dewasa, aku benar-benar tidak dapat menerima bahwa musuh bebuyutanku telah menjadi suamiku.
Namun, setelah aku selesai berbicara, Candra terdiam lama tanpa mengungkapkan pendapatnya.
Melihat ekspresinya yang aneh, kupikir dia tidak percaya padaku. Aku langsung berkata dengan cemas, "Aku tidak berbohong padamu, sungguh! Aku benar-benar diriku yang berusia 18 tahun."
Dia menarikku untuk duduk kembali dan berkata, "Aku tidak bilang aku tidak percaya padamu. Duduklah."
"Apa kamu benar-benar percaya padaku?"
"Kamu tidak hanya mencoba menenangkanku, 'kan?"
"Tidak. Setelah memikirkan hal ini dengan hati-hati, sebenarnya aku memang menyadari beberapa kejanggalan."
Aku bingung dengan ucapannya. Dia menatapku dan berkata, "Beberapa kali, kamu memang tampak kurang berpengalaman." Aku benar-benar tidak ingin mengerti apa maksud ucapannya.
Akan tetapi, wajahku langsung memerah.
Suasana tiba-tiba menjadi sunyi.
11
Setelah mengetahui bahwa aku telah melakukan perjalanan waktu dari usia 18 tahun, Candra mewakiliku untuk mengambil cuti dari perusahaanku.
Dia sangat khawatir kalau aku akan kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan sepuluh tahun kemudian. Dia mengajari aku ini dan itu. Pada akhirnya, dia masih belum yakin dan memintaku untuk pergi bekerja dengannya.
Aku merasa malu. Bukankah ini Candra yang sama yang selalu menggodaku dan membuatku marah sebelumnya?