Aku dan Steven sama-sama gila.
Pada hari pernikahan kami, aku memukul kepalanya hingga berdarah. Sementara dia mencekikku dan terus mengumpat.
"Nadindra, kamu tidak akan pernah bahagia kecuali kamu mati."
Setelah tiga tahun menikah, kami seperti sepasang binatang buas yang selalu bertengkar setiap hari dan terus-menerus saling memukul satu sama lain.
Aku berharap bisa menghancurkannya hingga berkeping-keping.
Dia berharap bisa memukulku sampai mati.
Namun, aku sudah mati.
Meskipun begitu, dia masih ingin mempermainkanku.
1
Saat itu, aku mendapati Steven berpelukan dengan seorang gadis yang berpakaian putih.
Riasan di wajah gadis itu sangat tipis dan kecantikannya terlihat natural.
Kehadiranku tidak menimbulkan keributan yang berarti. Steven bahkan tidak menatapku sama sekali.
Saat melihat adegan seperti itu.
Aku langsung berjalan menuju ke arah gadis di sebelahnya dan menariknya. Aku mengangkat tangan dan hendak menampar wajahnya.
"Nadindra, jangan berani-berani menyentuhnya!"
Plak.
Bunyi tamparan itu sangat keras.
Aku mengangkat daguku dan berkata, "Bagaimana? Apa kamu puas?"
"Dari hari ke hari matamu makin buruk saja. Apa kamu salah mengira kalau gadis ini mirip dengan kakakku?"
Sesaat berikutnya, dia mencekik leherku.
Dia memicingkan matanya padaku dan berkata, "Kamu juga sama saja. Mahasiswa laki-laki yang selalu kamu beri uang itu juga tidak bisa dibandingkan dengan kakakku sama sekali."
2
Semua orang di ruangan itu sudah pergi.
Mereka sudah terbiasa dengan hal itu.
Aku dan Steven sudah menikah selama tiga tahun.
Adegan-adegan seperti itu sudah terjadi di depan mata mereka berkali-kali.
Namun, Steven berkata padaku, "Apa kamu tahu kenapa aku menikahimu?"
"Dengan beban kehidupan yang berat di pundakmu, kamu tidak akan pernah bahagia seumur hidupmu!"
Aku berbalik dan meraih vas bungan di sampingku. Setelah itu, aku memukulkannya ke kepala Steven.
Darah mengalir di dahinya.
"Kepribadianmu yang bejat inilah yang membunuh mereka semua. Nadindra, kamu pantas mati!"
Kami berdua berharap bisa mengirim satu sama lain ke neraka.
Namun, sekarang aku tidak ingin bermain-main lagi dengannya.
Aku tidak ingin mati dengan menyandang nama keluarga Wijaya di belakangku.
3
"Cerai."
Keesokan harinya, aku membawa surat perceraian ke kantor Steven.
Steven merobeknya di depanku dan berkata, "Kamu ingin mengambil uangku dan berselingkuh dengan mahasiswa laki-laki itu?"
Aku mengangkat bahu dan menjawab, "Setelah bercerai denganmu, uangnya akan jadi uangku. Apa pedulimu aku aku pergi dan bercinta dengan anak kuliahan?"
"Bangunlah dari mimpimu! Kita tidak akan pernah berpisah selamanya."
Aku sudah sering mendengar kata-kata itu.
Aku menundukkan kepalaku dan mengepalkan tangan dengan erat. Aku berusaha mengendalikan emosiku.
Ketika aku mengangkat kepala lagi, wajahku sudah kembali tenang.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mati saja agar semuanya berakhir."
4
Setelah meninggalkan kantornya, aku pergi ke pemakaman dan tinggal di sana dari pagi hingga sore hari.
Di malam hari, aku kembali ke rumah untuk makan malam.
Kedua orang tuaku ada di sana.
Namun, tidak ada yang berbicara dan suasana di meja makan terasa sangat tegang.
Akhirnya, aku angkat bicara untuk memecah keheningan, "Ayah, mulai besok mungkin aku akan pergi untuk waktu yang lama."
Pada malam harinya, aku tidak kembali ke rumah hadiah pernikahanku. Sebaliknya, aku pulang ke apartemen kecil yang aku beli sebelum pernikahan.
Keesokan harinya, aku memposting foto-fotoku dan mahasiswa laki-laki yang sedang menikmati alam di semua media sosialku.
Sampai batas tertentu, aku merasa senang saat melakukannya.
Namun, tubuhku yang mengidap kanker tidak tahan lagi.
Saat itu juga, aku muntah di kamar mandi apartemen.
Perutku sangat sakit dan aku meringkuk di samping toilet.
Ponselku terus berdering berkali-kali.
Telepon itu dari Steven.
5
Namun, aku bahkan tidak memiliki kekuatan untuk mengulurkan tangan dan menutup panggilan itu. Jadi, aku hanya bisa membiarkan panggilan itu terputus dengan sendirinya.
Rasa sakit berdenyut-denyut di perutku terus berlanjut.
Tiba-tiba, aku merasa sangat tidak berguna.
Pernikahan ini berjalan sesuai keinginan Steven.
Aku akan membiarkan Steven mendapatkan keinginannya bahkan setelah dia meninggal.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi.
Harry berdiri di ambang pintu sambil memegang permen kapas berbentuk babi berwarna merah muda.
"Nona Nadindra, aku melihat ada yang jual permen kapas ini di bawah. Jadi, aku membeli satu untukmu."
Aku merasa bingung saat melihat orang itu terlihat mirip seperti permen kapas yang sedang dipegangnya.
Seketika itu juga, kesedihan yang terpendam di dalam hatiku meledak.
Mataku berkaca-kaca.
"Aku ingin bercerita padamu."
6
Sejak kecil, aku tidak terlalu dihargai saat berada di rumah.
Semua itu karena aku memiliki kakak yang luar biasa.
Dia bisa melakukan segalanya. Dia tahu cara membaca dan menulis, pandai bermain piano, bermain catur, dan juga melukis.
Dari kecil hingga dewasa, dia selalu menjadi kebanggaan keluarga.
Aku tidak sebanding dengannya.
"Jadi, mereka tidak peduli padaku."
Aku mendengus kecewa.
"Tapi, apa semua orang harus jadi luar biasa? Apa kita tidak boleh menjadi biasa saja?"
"Mereka tidak peduli padaku, jadi mereka tidak tahu kalau aku pandai memahat patung. Aku diam-diam mengikuti kompetisi memahat patung dan bahkan memenangkan juara pertama dalam kategori kreativitas."
"Setelah mereka mengetahuinya, alih-alih bangga padaku, mereka malah bilang kalau memahat patung hanyalah kegiatan bermain-main dengan tanah liat. Mereka bilang gelar juara itu tidak berguna."
Aku menundukkan kepalaku dan berkata dengan suara lirih, "Tapi, aku juga punya hati."
Pria gemuk itu mendekat ke arahku sambil membawa permen kapas berbentuk babi merah muda dan memberikannya padaku.
"Cengeng. Jangan menangis lagi nanti wajahmu jadi terlihat jelek. Ini permen kapas untukmu."
Aku bertanya siapa namanya.
Dia berpikir sejenak dan tiba-tiba menegakkan badannya sambil berkata dengan serius, "Namaku Jacob."
Aku mengerucutkan bibir dan meniru postur tubuh kakakku. "Namaku Siska."
Setelah itu, aku mengikuti Jacob seperti bayangannya. Tetangga-tetangga berkelakar bahwa suatu hari nanti mungkin aku akan menikah dengan Jacob.
Namun, pada akhirnya Jacob menggandeng tangan kakakku dan berkata kepada orang tuaku dengan pelan dan serius.
"Paman, Bibi, aku ingin menikah dengan Sisca."
Aku tahu bahwa Steven menyukai kakakku. Ketika aku terus mengejar Kak Jacob, dia juga mengejar kakakku.
"Ibuku menamparku dan bilang kalau orang sepertiku tidak pantas untuk menyukai Jacob. Dia juga bilang sikap keras kepalaku sudah membunuh kakakku dan Kak Jacob."
Kakakku dan Kak Jacob khawatir tentangku. Jadi, mereka menggunakan nomor identitasku untuk memeriksa informasi penerbanganku dan membeli tiket pesawat untuk mencariku.
Namun, pesawat itu mengalami kecelakaan.
Tubuh mereka hancur dan tidak ada yang tertinggal.
Harry yang selama ini diam akhirnya berbicara untuk pertama kalinya.
"Aku percaya apa yang kamu katakan, tapi aku yakin itu bukan cerita lengkapnya."
TIba-tiba, rasa sakit yang menyiksa di perutku kembali mendera. Sebelum aku bisa berkata, aku sudah pingsan terlebih dahulu.
7
Ketika aku terbangun, aku mendapati diriku sudah berbaring di ranjang rumah sakit dengan infus terpasang di tanganku.