Cerita ini mengisahkan tentang sesosok gadis yang selalu membangkang, dia Chaaya. Usianya kini menginjakkan 15 tahun, dan kini baru saja tamat dari jenjang SMP. Dimasa libur dia selalu menentang apa yang diberitahukan orang tuanya.
Dia mengaku sudah besar, bukan lagi anak kecil.
Satu kalimat yang paling dia benci keluar dari mulut ibunya, "apa kamu tidak ingin lanjut sekolah, ingin pengangguran? Jangan jadi anak yang tidak berguna bagi keluarga!" Ucap mamanya.
"Tidak berguna?" Ucapku benar-benar tidak sudah dengan dua kata itu, memang apa salahnya dengan bermain game. Bukannya yang penting aku suka dan senang?
Saat itu aku tidak sadar, didunia ini tak hanya kesenangan kita yang penting tapi orang lainpun harus mendapatkan kesenangan, hidup menjadi egois tidaklah menguntungkan.
Aku kesal selalu diceramahi pagi, siang, dan malam, ceramah itu tidaklah berhenti jika aku terus berada dalam rumah.
Akhirnya akupun menghubungi temanku, aku mengingat tawarannya dihari itu, "jika kau menang melawanku, aku akan memberimu tempat tinggal!" Itulah janjinya. Aku pun berfikir akan lebih baik aku menerima tawarannya, aku juga yakin dapat mengalahkannya bermain game.
Dimalam itu pun akhirnya aku pergi, kabur meninggalkan rumah menggunakan vespa ayahku. Aku anak tunggal namun tidak disayang apa masalahnya bagiku jika kabur, mereka juga kesal jika melihatku berada dirumah dan selalu menolak apa yang aku suka.
Selang beberapa waktu kemudian, tak perlu waktu lama aku sampai pada alamat yang ditujukan temanku, dia bernama Abimanyu.
Disana, banyak orang yang aku kenali tentunya karena mereka semua adalah teman SMP ku, mereka sangat antusias melihatku bermain. Bagaimana tidak, aku adalah pahlawan shadow game tersulit yang mereka tamatkan sedangkan diriku tinggal satu level lagi aku akan menamatkannya.
Tak sia-sia aku bermain terus dirumah, walau terus diterjang kemarahan tapi kini aku akan bebas ketika memenangkan pertandingan ini.
"Mulai saja!"
"Ya! Langsung mulai saja!" Seru mereka, ada sekitakan 10 orang lebih dari mereka yang datang.
Abimanyu dan akupun langsung saling mengangguk dengan senyum yang menungging, Kami pun login kedalam aplikasi, "Liat saja aku akan mengalahkanmu" gumamku membatin, aku sangat yakin akan hal itu.
Abimanyu salah satu orang yang mampu bermain hampir sehebatku tapi, aku tau dari caranya bermain aku bisa mengalahkannya.
*******
"Selamat Chaaya yang menang" ucap salah seorang selaku wasit disana,
Yap! Aku menang, persis seperti kataku aku mampu mengalahkannya.
"Yes! Kan aku gak salah"
"Bah aku akui keahlian chaaya!" Teriak mereka selaku penonton menyorakiku karena menang.
Abimanyu menatapku, "hm, kenapa kecewa 'kan? Sudahlah tepati saja janjimu" ucapku karena menang duel.
"Ya! Baiklah siapa peduli juga dengan kost an kecil itu" ucapnya, maklumlah dia berkata seperti itu, anak orang kaya biasalah.
Akupun mengangguk setuju setelah diberi kunci kost tersebut, "kalau gitu aku dulan" ujarku karena sudah tidak sabar, aku ingin menikmati tempat tinggal baruku.
Beberapa hari kemudian, orang tuaku mencariku, mereka terus menghubungiku setelah sadar aku yang tidak ada, mana peduli aku mereka pasti mencari karena vespa kesayangannya yang telah hilang.
Kini sudah 2 malam aku keluar dari rumah, kupikir mereka tidak mungkin menemukanku tapi aku lupa dengan kecanggihan dunia ini, hanya mencari lokasi ponselku mereka akhirnya menemukanku.
Tok-tok-tok..- awal orang tuaku datang langsung mengetuk pintu dengan pelan, mungkin mereka melakukannya agar aku tidak kabur.
"Chaaya.. nak buka pintunya, ini ibu' dan ayah" ujar ibuku, suaranya terdengar serak mungkin itu efek karena menangis.
"Chaaya kamu didalam? Buka pintunya" ucap ayahku juga sambil terus mengetuk pintu.
Akupun terbangun saat itu, "ibu? Ayah? Bagaimana bisa?" Aku bingung dan langsung beranjak membuka pintu, begitu membuka pintu betapa terkejutku begitu melihat ada 2 orang polisi dibelakang kedua orang tuaku. Tapi untuk apa aku bersembunyi begitu membuka pintu, memangnya apa salahku? Aku tidak berbuat salah apapun.
Begitu membuka pintu, kedua polisi itu langsung menerobos.
"Eh pak ada apa ini" ujarku begitu terkejut. Kedua orang tuaku menarikku keluar dan membiarkan kedua polisi itu masuk.
"Nak kamu kenapa kabur dari rumah?" Ujar ibuku, dia memelukku secara sepihak. Betapa berdosanya aku tidak membalas pelukannya karena ogah.
Aku hanya menghiraukan kekhawatiran mereka dan berkata, "sebenarnya apa mau kalian? Dirumah aku dimarahi tiada henti sekalinya aku pergi dan udah dapat tempat nyaman kalian malah nyusahin nyari-nyari padahal aku gak kenapa-napa! Panggil polisi lagi!" Ucapku marah, aku tak mau disalahkan.
"Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu! Dasar tidak tau sopan santun- ayahku masih ingin mengatakan sesuatu, tapi kupotong seenaknya dengan tawa jahanam.
"HaHahaha, berbicara sopan santun? Diam saja kau ayah, pagi kerja. malam? Marahin aku, terus tidur.. pagi berulang lagi? Wajar dong gaya bicaraku begini.. gak pernah diajarin, cih!" Ungkapku dengan berdecih. "Dasar anak ini-!"
Ayahku nampak kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulutku sehingga hampir saja dia melayangkan pukulan padaku, untungnya kedua polisi itu sadar tentang konflik yang terjadi diantara kami.
"Apa kalian ini!" Ungkap salah satu polisi yang mendapati kami, pertikaian meredah.
"Anak anda aman saja disini tidak ada tanda-tanda dia tinggal dengan orang lain namun anehnya, apa kost ini milik kalian?" Pak polisi heran, dasar bodoh mengapa dia bertanya yang jelas-jelas bukan milik mereka, ini milikku.
"Ini milikku!" Ucapku. Tanpa sadar aku berkata demikian dan memperpanjang masalah. Aku dibawa mereka ke kantor polisi untuk diinterogasi. Ahh dasar menyebalkan apa yang terjadi ini membuatku kehilangan saham.
***
Kini aku berada diatas ranjang dan bermain shadaw di ponselku, menjelang malam pun tiba aku berniat untuk menamatkan game ini.
Tapi ada gejala bagiku, sebagai anak tunggal sangatlah susah karena selalu diperhatikan kapanpun itu,
Aku masih saja sering dimarahi kedua orang tuaku, katanya mereka kesal dan malu karena aku yang kabur dari rumah, lantas untuk apa mereka mencariku kalau aku hanya membuat malu? Dasar keluarga gak jelas, aku benci mereka.
"Kamu, katanya besok orang-orang sudah mendaftar sekolah, jangan sampai kamu jadi pengangguran, kamu harus sekolah!"
"Iya-iya besok aku mendaftar kok"
Akupun bertingkah menurut,
"Begitu dong kamu harus menurut apa kata orang tua"
"Cih" aku berdecih setelah ayah yang menceramahiku berbalik akan keluar dari kamarku.
"Kamu sekarang, jangan sampai saya dapati kamu bergadang!"
Aku mengangguk atas peringatannya setelah itu diapun keluar dengan menutup pintu.
"Bacot kau bapak tua!" Kesalku lalu langsung membuka hp.
"Haha.. saatnya gue namatin nih game"
1 jam 2 jam 3 berlalu aku masih stay dibawah selimutku bermain game, gamenya sangat sulit dan panjang mungkin akan tamat pada jam 4.
Dan persis seperti yang kuperkirakan jam sudah menunjukkan pukul 4 malam, dimana saat-saatnya aku menang ayah masuk dan mengejutkanku.
Aku tidak sadar akan hal itu, aku berteriak ketika dia membuka sepraiku.
Pas juga aku meraih kemenangan.
"YES! AKHIRNYA AKU MENANG!" teriakku,
Aku tersadar ada seseorang berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.
Saat itu juga aku berfikir untuk menghilang dari muka bumi ini, "habislah aku" aku membatin dan memohon aku menghilang karena jika tidak aku akan dihukum atas siksaan ayahku.
Karena berfikir demikian aku membentur benturkan kepalaku pada handpone digenggamanku.
"Apa yang kau lakukan hah! Apa kau sudah menggila?" Ucapnya dengan nada yang sedikit membentak, dia menarik telingaku dengan kencang.
Jewerannya sangat sakit, "kumohon-kumohon" ucapku yang masih saja terus membenturkan kepalaku pada layar hp yang masih menyala, disana tertulis 'win' dan ucapan selamat bagiku karena menamatkan game.
Ayahku kesal karena tak kugubris sama sekali, dan dengan kejamnya merebut ponsel yang kugenggam, aku seperti menggila, air mataku mengalir ke pipi.
Sepertinya benar kata ayahku aku gila!
BRUKK*
Dia melempar ponselku kedinding dengan keras sehingga dapat terpecah berai.
"Dasar anak gila! Kalau saja saya tau kamu akan menyusahkan kami, saya akan membunuhmu bahkan sebelum lahir! Lebih baik kau menghilang saja sekarang! Atau masuklah kedalam game mu itu!"
Ucapnya, apa yang dikatakannya sangatlah buat sakit hati.
Ibuku masuk kedalam kamarku karena aku yang mulai meninggikan suaraku membuatnya terbangun.
"Chaaya ada apa sayang?" Dia tiba-tiba muncul dan memelukku dan berniat membelaku.
"Menyingkir! Jangan menyentuhku!" Aku mendorongnya.
"Dasar anak tidak tau diuntung?" Ayahku kesal hanya karena aku mendorong ibu, aku saat itu tertawa jahat dengan air mataku yang masih menetes.
"Ohya? Anda bilang lebih baik saya menghilang kan? Ya, aku harap aku menghilang sekarang juga, kalau anda ingin memukul saya, pukul sekarang! Pukul!." Aku berteriak, membuatnya terprofokasi. Ayah akhirnya mengangkat tangannya dan ingin memukulku.
"Pukul!" Ucapku lagi.
Tiba-tiba percahan handponeku yang pecah bersinar dan berubah menjadi abu lalu berterbangan dilangit-langit kamar.
Aku terkejut sekaligus bingung begitu juga kedua orang tuaku, seakan ada sihir yang keluar, abu tersebut berjatuhan diatasku. Aku tiba-tiba kesakitan, "ahh tolong, apa ini?" Aku bertanya entah kepada siapa, rasanya sangat sakit dan perlahan tempatku berada berubah.
Penglihatanku menggelap dan perlahan aku tertidur bahkan ketika sekujur tubuhku masih saja kesakitan.
****
Beberapa waktu berlalu, aku sangat menyesal. Kejadian beberapa waktu lalu terngiang ngiang dihati dan pikiranku, hatiku terasa seperti terperas sekarang.
Awalnya aku bertanya tanya aku dimana sebelum aku sadar dimana aku berada, dan sekarang aku menjadi sosok player didalam game yang tersulit didaratan bumi. Lebih tepatnya cahaya itu membawaku masuk kedalam game.
Suasananya sama seperti dulu, orang-orang mendukungku dalam bermain karena karakterku yang hebat namun anehnya lama kelamaan aku merasa bosan dan timbul perasaan yang sangat mendalam di hatiku.
Aku berandai andai tentang hidupku dahulu, disini aku seakan hidup dinaungan bayangan dan tanpa warna.
"Aku belum sempat minta maaf"
Ya, hanya itu yang kuharapkan bisa kulakukan, tapi entah sampai kapan aku terjebak didalam dunia ini, ini sangat bodoh. Semua yang kutemani disana hanyalah sistem dan tak ada perasaan. Lantas mengapa aku hidup bersama sistem mati yang hanya bergerak disaat player terpilih untuk duel.
Aku menangis tiap saat, dan berharap aku kembali kekehidupanku sebelumnya, kembali kekeluargaku, kembali kepelukan mereka dan lagi jika itu sudah tidak mungkin ijinkan aku melihat mereka sekali saja.
Tiba-tiba didalam ruangan gelap itu timbul satu cahaya kecil, dia bersuara seperti sistem.
Bib-bip. "Kamu memiliki 1 permintaan yang dapat dipenuhi" ucap butiran cahaya itu, aku terdiam dan berfikir sejenak.
Aku mengeluh dalam hatiku, "mengapa hanya satu?". Aku kecewa dengan ucapan sistem itu.
Bib-bip. "Sistem memperingatkan. Sistem memperingatkan"
Bib-bip. "Kamu tidak bisa hidup kembali. Tapi kamu bisa berhenti menjadi player." Bib-bip.
"Apa? Bagaimana bisa, padahal yang kuinginkan cuman bisa hidup dan kembali"
Mataku berkaca-kaca, lagi. Aku merasa tidak adil dengan pilihan hidup yang kumiliki, apa yang harus kuminta. Jika kukatakan akan berhenti menjadi player tapi tetap saja aku tidak bisa menyampaikan permintaan maafku, aku juga sangat ingin melihat mereka walau hanya sekali.
Aku terdiam beberapa menit,
Bib-bip. "Kamu bisa memberi penawaran, jangan merasa tidak adil. Bodoh!"
"Ha?" Aku kaget, bisa-bisanya sistem ini mengataiku bodoh.
Bib-bip. "Kalau tidak mau mati saja" Bib.
Setelah sistem berkata demikian seakan aku tertarik menerimanya, bagaimana tidak aku sangat capek berada disini, dibanding tidak bisa hidup didunia lebih baik mati bukan? Aku ini masih manusia didalam sistem.
"Ya, baiklah aku berhenti menjadi player tapi ada syaratnya"
Bib-bip. "Apa itu wahai mantan pengendali" Bib.
Haha.. aku tertawa, benar apa yang dikatakannya aku memang mantan pengendali, bahkan mantan pengendali sial.
"Baiklah biar kusebutkan syaratnya,
Syaratnya yaitu.. kau sistem goblok* buat playerku keluar dari sistem dan beri aku waktu dibumi untuk menulis surat dan melihat kedua orang tuaku walau sekali"
Kupikir syarat yang kuberikan akan ditolak mentah mentah tapi tak kusangka..
Bib-bip. "Sistem setuju" Bib, "tapi waktumu hanya 15 menit" Bib-bip.
Sistem berakhir.
Perlahan akupun berpindah tempat, perlahan keberadaanku berdiri tepat didepan meja belajar kamarku, tepat dimana sebelumnya aku pindah.
Rasanya tak sesakit sebelumnya, kali ini terasa seperti aku dimakan angin lewat.
Sejak muncul disana, aku langsung bergegas mengejar waktu yang menurutku itu sebenarnya tidaklah cukup. Tak terasa air mataku kembali mengalir dipipi, aku menuliskan surat diatas meja itu, haha- aku meliahat air mataku menetes tapi dengan cepat menghilang.
"Benar-benar aku akan menghilang ya?" Aku pasrah dengan takdirku, aku sempat menatap kamarku yang terpajang foto-foto ku dari kecil hingga aku penamatan.
Aku keluar dari kamar mencari apa kedua orang tuaku, untunglah waktu itu sedang malam, mereka tertidur tapi aku mendapati ibuku yang berbalik dan menangis.
"Ibu?" Imbuhku heran dengan ibu yang menangis tidak tidur. Bahkan,
"Ayah?" Imbuhku lagi heran, keduanya tidaklah tidur dan saling membelakangi.
"Apa ini karenaku?" Aku menangis melihat mereka, aku mendekati ibuku.
Aku menghilangkan semua ego yang kumiliki, "aku minta maaf bu.." aku menangis sambil memeluknya. Walaupun mereka tidak dapat mendengarnya aku tetap meminta maaf pada mereka. Aku naik diatas ranjang, dan tidur ditengah mereka berdua. Ya, kupikir saatnya aku pergi.
Terdengar suara nyaring didalam kepaku, suara itu adalah awal kesakitan yang kurasakan.
Aku menjerit kesakitan, rasanya tubuhku yang hitam layaknya bayangan itu sedang mencari tubuhku yang asli namun hasilnya nihil aku hanya mendapati tubuhku yang menjadi transparan.
"Selamat tinggal ibu. Ayah."
Aku pun menghilang dengan debu kecil nan transparan yang bertebaran keluar dari sela-sela lubang jendela.
"Chaaya?" Ibuku terbangun dari baringnya, dia seperti merasakan secara fatal kepergianku, hubungan ibu dan anak yang tidak pernah putus itu yang membuktikan.
Ibu langsung berlari kekamarku dan saat itulah dia melihat secarik kertas yang kutulis tadi.
"Sayang, ada apa denganmu?" Ayah ikut mengejar ibuku karena khawatir.
"Chaaya sayang, lihat ada surat disini" ungkapnya dengan menunjukkan secarik kertas ditangannya.
Disana tertulis tulisanku.
"Ibu.. Ayah.. Maafkan sikap Chaaya yang selalu membangkang, Chaaya khilaf. Chaaya akui kalau bersalah, dan ketahuilah aku memang kekanakan saat itu. Maaf, karena Chaaya tidak dapat mengatakan ini langsung, mungkin Chaaya udah gak ada saat itu. Maaf yang Chaaya ucapkan sangat mendalam. Ayah, ibu juga tenang aja, gak usah marah-marah lagi, Chaaya gak bandel lagi kok, Chaaya menyesal tidak mendengar apa yang kalian katakan. Maafin Chaaya ya, ibu ayah, jangan nangis juga anaknya gak kenapa-napa kok, gak usah khawatir lagi. Jaga diri, jaga kesehatan,
Maaf. from Chaaya. "
-SELESAI-