Semburat oranye di langit yang tampak sedikit mendung itu tampak sangat indah di sepasang mata biru milik gadis cantik yang tengah berdiri di bibir pantai.
Senyuman tipis terukir dengan manis di bibir indah gadis itu. Membiarkan kakinya tersapu oleh ombak sehingga membuat dress bagian bawahnya basah.
Tetesan darah segar terus mengucur dari tangannya yang terkena luka tusuk.
"Kau terlalu mencintai senja sampai mengabaikan luka yang kau punya"
"Jika yang aku cintai menjadi obat dari segalanya lalu apalagi yang ku perlukan?"
Sebuah dialog dari seorang gadis dan pemuda yang saling bersahutan namun tak ada kontak mata di antara keduanya.
"Langit itu indah bukan?" tanya pemuda itu.
"Sangat indah dan aku selalu mengaguminya setiap saat" ucap sang gadis
Pemuda itu menoleh menatap sang gadis. "Tapi kamu lupa jika itu hanya sementara" ucap pemuda itu menarik senyuman tipis dari sang gadis.
"Sama seperti seseorang"
"Kita terlalu asik untuk menikmati kebersamaan. Seolah amnesia jika perpisahan itu ada. Kita bahagia dengan kebersamaan dan menangis di saat perpisahan"
Hembusan angin menerbangkan rambut sang gadis hingga surai indah itu menutupi sebagian wajahnya.
Pemuda itu melangkah lebih dekat. Tangannya terulur untuk menyelipkan rambut sang gadis di balik telinganya. Senyuman tipis itu kembali terukir dengan sangat manis.
"Kamu tau— sebaik apapun cara perpisahannya itu akan tetap meninggalkan luka"
"Tapi banyak orang memikirkan cara berpisah agar tidak terlalu menyakiti. Tapi mereka tidak sadar jika perpisahan itu selalu menyakitkan"
"Itu tidak lagi jika kita ikhlas"
Sang pemuda menyisir rambut gadisnya dengan pelan. "Ikhlas? Aku bahkan tidak percaya dengan kata-kata itu"
"Kenapa?"
"Apa ada kata ikhlas yang benar-benar ikhlas jika ditinggalkan? Itu hanya sebuah alibi. Yang ada terpaksa kemudian menjadi terbiasa"
Pemuda itu tersenyum dan mengambil tangan sang gadis yang sudah dipenuhi oleh darah. "Kenapa membiarkan lukanya terbuka?"
"Biar aku tau jika rasa sakit itu ada. Semua sakit itu meninggalkan bekas. Dari hal itu manusia harusnya bisa berpikir untuk bertindak sesuatu kepada orang lain. Karena kita tau, setiap manusia punya hati tapi kita tidak tau apa dia terluka karena kita atau tidak"
Pemuda itu menarik gadisnya untuk berjalan di bibir pantai dengan tangan yang saling bertaut.
"Selain pecinta senja ternyata kau juga pecinta kata-kata" ucap pemuda itu.