The Last 11:11
Di dalam sebuah mobil Amanda Lorraine duduk dengan gelisah di kursi penumpang, sekarang dia tidak yakin apakah keputusannya pergi seorang diri adalah tepat. Ketika mobil itu terus melaju di tengah hamparan hutan pinus yang gelap, semakin menjauh, semakin menjauh dari di tempat tinggalnya di Bucharest, kegelapan dalam hutan itu seolah tidak akan pernah berakhir.
"Perjalanan masih jauh untuk tiba di Sibiu, nak. Kau bisa beristirahat dulu." Si pengemudi tua berkata padanya, dia sedari tadi memerhatikan kecemasan Amanda dari kaca spion.
Amanda meliriknya, seketika dia teringat Mr. Fletcher adalah seorang yang begitu apatis, ketika pria tua itu tiba-tiba menawarkannya untuk memberikan tumpangan seharusnya dia curiga, tapi kenapa Amanda tiba-tiba menerimanya begitu saja? Bodoh, dia sungguh tidak memperhitungkan itu.
"Salah satu kerabatku meninggal, dia tinggal di Sibiu. Aku mendengar kau juga akan pergi ke Sibiu, jadi aku menawarkanmu tumpangan." Mr. Fletcher tiba-tiba menjelaskan, seolah dia mengerti kecemasan Amanda. Amanda sekali lagi hanya meliriknya tanpa berkata apapun.
"Kau masih aktif dalam kegiatan sosial?" Meskipun dia orang yang terlihat tidak peduli dengan apapun di sekitarnya, Amanda tidak menyangka jika Mr. Fletcher adalah orang yang memerhatikan dalam diam. Amanda hanya mengangguk samar.
Mr. Fletcher menyalakan audio tua di dalam mobilnya, lalu dia memutar lagu 'Ultraviolence' milik Lana Del Rey, seketika suasana di dalam mobil itu semakin sunyi, sunyi dan dingin, seperti di dalam peti kematian.
"Dari kota-kota di Romania, tapi kenapa kau memilih Sibiu?"
Amanda membuka matanya, dia baru saja akan menenangkan dirinya ketika Mr. Fletcher tiba-tiba kembali bertanya.
Kenapa Sibiu? Amanda hanya merasa penasaran pada sebuah panti sosial di Sibiu, ketika itu muncul di dalam mimpinya. Tiga kali, tiga kali dia memimpikan sebuah tempat asing itu, sampai dia mencari tahunya di dalam internet, dan tempat itu benar-benar ada. Begitu terpencil di selatan Sibiu, keadannya menyedihkan dan tempat itu membutuhkan dana bantuan untuk menyelamatkan anak-anak asuh mereka. Saat itu dia tergerak, mungkin itu cara tuhan menunjukan jalan kepadanya.
"Aku hanya mengantarmu sampai disini."
Mr. Fletcher telah menghentikan mobilnya di pinggir jalan besar, Amanda bergerak turun dari mobil dan memandangi sekitarnya. Jalan itu besar tapi terlihat sangat sepi, sangat jarang terlihat kendaraan yang melintas. Ini jelas bukan di dalam hutan, tapi sejauh mata memandang masih banyak pohon-pohon yang dapat ditemui. Amanda mengeluarkan kertas yang bertuliskan alamat panti sosial itu, ketika dia menyocokkannya dengan papan penunjuk jalan, dia yakin itu sudah benar.
"Mr. Fletcher aku berterimakasih atas tumpanganmu." Amanda dengan tulus mengatakannya. Ketika dia melihat Mr. Fletcher, pria itu tersenyum lebar padanya seolah dia begitu senang, senyum pertama yang dia lihat dari pria tua itu, tidak tahu mengapa dia tersenyum seperti itu. Kaki Amanda membeku, tetap membeku saat mobil Mr. Fletcher mulai berjalan meninggalkannya. "Amanda selamat menikmati hari-harimu." Tangan kirinya keluar dari jendela dan dia melambaikan tangan padanya.
Jarak dari jalan besar itu menuju panti sosial rupanya cukup jauh, Amanda berkali-kali mengatur napasnya yang mulai memendek, ketika dia menemukan sebuah bangunan yang mulai terlihat akhirnya dia bernapas lega.
Dari jarak dia berada, mulai terdengar tawa anak-anak yang begitu jelas, dia melihat sekelilingnya sekali lagi. Di tengah rimbunnya pepohonan, jalan sepi yang tertupi dedaunan, anehnya tawa anak-anak itu tiba-tiba terdengar menyeramkan begitu melewati pendengarannya.
Panti Sosial St Peter's Lutheran
Sebuah bangunan yang cukup tua namun masih berdiri kokoh, hanya melihat dari bangunanya dapat di hitung jika tempat ini sudah berumur puluhan tahun. Di depannya ada sebuah batu yang mulai berlumut berukiran Panti Sosial St Peter's Lutheran.
Amanda tanpa sadar mulai menghitung anak-anak yang bermain di halaman, mereka ada sepuluh orang, enam laki-laki dan empat orang anak perempuan, usia mereka terlihat sekitar lima sampai lima belas tahun. Saat seorang anak laki-laki melihatnya berdiri di luar gerbang, anak itu tiba-tiba diam dan menatap kearahnya, tidak lama satu persatu dari mereka berhenti tertawa dan menjadi diam begitu melihat Amanda.
Amanda mencoba membuat senyum ramah di wajahnya, tapi itu tidak sedikitpun membuat mereka berhenti memerhatikannya. Dia menengok ke kanan, ke kiri, lalu belakangnya, tapi dia tidak menemukan selain dirinya yang berdiri disini.
Dia telah banyak menemui anak-anak, tapi tidak satupun dari mereka memiliki tatapan seperti itu seolah mereka tidak senang dengan kedatangannya.
Amanda tiba-tiba sungguh merasa tidak nyaman, tepat saat itu seorang wanita muncul dari pintu, dia mengenakan pakaian seperti biarawati, wajahnya terlihat ramah dengan senyuman, seketika aura mengancam disekitarnya menghilang. Ketika dia melihat Amanda berdiri di depan gerbang, lalu biarawati itu berjalan kearahnya.
Suara gerbang besi yang telah berkarat terdengar bising ketika di buka. Biarawati itu mendekati Amanda dan memperhatikannya sebelum dia bertanya untuk memastikan. "Miss Lorraine?"
"Benar."
Biarawati itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, lalu Amanda mengikutinya. "Suster Louisa," Kata biarawati itu memperkenalkan dirinya.
Mereka mulai berjalan memasuki halaman panti ketika Suster Louisa berucap, "Kami telah menerima surat darimu, dan merasa sangat senang mengetahui kau akan datang ke panti ini."
Amanda memberikan sedikit senyuman ketika dia mendengarnya, dia kembali mengamati sekeliling bangunan St Peter Lutheran, dia tidak menemukan bangunan lain yang berdiri di sekitarnya, sungguh tempat ini begitu terpencil dan sangat jauh dari keramaian.
"Anak-anak, perkenalkan ini Miss Lorraine, dia adalah donatur kita."
Amanda terkejut, saat melihat anak-anak itu dalam sekejap berubah ceria dan tersenyum padanya. Sejak kapan mereka tiba-tiba berubah? Amanda benar-benar bingung dengan suasana ini yang dalam sekejap menjadi lebih hangat.
Anak-anak itu meninggalkan dan menghentikan permainan mereka, lalu mengelilinginya dan memberikannya banyak pertanyaan khas seorang anak kecil dengan rasa penasaran mereka.
"Siapa namamu?"
"Apa kau datang dari kota?"
"Kau ingin bermain dengan kami?"
Amanda sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan mana lebih dulu, akhirnya dia mengatakan. "Amanda Lorraine, kalian bisa memanggilku Amanda."
Seorang anak perempuan berambut pirang tiba-tiba meraih tangan Amanda dan menggenggamnya dalam tangan kecilnya. "Namaku Mia, aku menyukai namamu, Amanda."
Tiba-tiba seorang anak laki-laki juga meraih tangan Amnada yang lainnya. "Ayo bermain bersama kami."
"Anak-anak bersikaplah dengan baik." Suster Louisa menegur mereka, suaranya begitu datar dan anak-anak itu langsung mematuhinya, mereka pergi begitu saja dan kembali dengan kegiatan mereka masing-masing. Tawa dan suara-suara mereka kembali terdengar.
"Miss Lorraine, aku meminta maaf karena sikap mereka."
Amanda menatap suster Louisa yang tersenyum padanya. "Tidak apa-apa, mereka hanya anak-anak," Katanya. "Disini apakah hanya ada sepuluh anak?" Amanda bertanya dengan penasaran.
"Sebelas." Jawab suster Louisa.
Sebelas? Tapi dia hanya melihat sepuluh orang anak.
"Masih ada Annelise, mungkin kau tidak melihatnya, dia ada di sana." Suster Louisa menunjukan seorang anak perumpuan yang duduk di kursi di bawah pohon oak. Rambut panjangnya tergerai lurus, dia mengenakkan dress gading selutut. Posisinya sedikit jauh dari kumpulan anak-anak lain, dia sendirian, dan terlihat tidak suka keramaian.
Annelise...
Jantung Amanda berdetak kencang, tiba-tiba tangannya terasa basah karena berkeringat. Kepalanya terasa pening saat dia mengingat kejadian sebelas tahun lalu saat dia kehilangan adiknya yang berusia tujuh tahun dalam sebuah kecelakaan.
Annelise.... Nama itu mengingatkan dia pada adiknya yang malang. Annelise....
"Aku ingin melihatnya."
Amanda berjalan mendekatinya, setiap langkahnya tidak lepas dari perhatian beberapa anak yang melihatnya. Suster Louisa berjalan di belakngnya dalam diam.
Ketika Amanda sudah berada di belakangnya, dia tahu anak itu sedang melukis. "Anne..." Suaranya bergetar saat dia mengatakan nama itu lagi.
Anak itu mengangkat kepalannya, wajahnya terlihat pucat, dan dia terlihat tidak senang begitu panggilan itu keluar. "Annelise, panggil aku Annelise." Lalu dia kembali melukis.
Amanda terkejut, dia hampir saja terjatuh di atas tanah jika dia tidak dapat mengendalikan dirinya dengan baik.
Dia... dia bahkan terlihat sangat mirip, tapi kenapa dia tidak menyukai nama 'Anne'? itu adalah panggilan kesukaannya.
"Miss Lorraine, dia tidak senang jika seseorang memanggilnya 'Anne'," Ucap suster Louisa menjelaskan."
Amanda mengangguk mengerti, dia mendekati Annelise, sedikit menekuk lututnya untuk melihat lukisan Annelise. "Baiklah Annelise, apa yang sedang kau lukis?"
Amanda memperhatikannya, lukisan itu menggambarkan beberapa orang anak yang sedang melingkari sesorang di tengahnya, seseorang itu nampak seperti suster yang sedang bermain bersama mereka. Amanda tersenyum, dia mengatakan, "Lukisanmu sangat bagus, apakah ini saat kalian sedang bemain? Lalu siapa suster ini?"
"Maria."
Mendengar itu suster Louisa tiba-tiba mendekati Annelise dan mengambil kuas yang di tangannya, tindakannnya yang tiba-tiba itu mengejutkan Amanda.
"Baiklah, waktu bermain kalian sudah selesai, segera masuk!" Setelah mengatakan itu suster Louisa membalik lukisan itu, dan anak-anak segera mematuhi perintahnya. Amanda masih berdiri, saat suster Louisa berkata padanya. "Perjalananmu pasti melelahkan, ayo kita masuk."
"Silahkan." Suster Louisa menaruh sepiring daging panggang dengan kentang tumbuk di atas meja, mempersilahkan Amanda untuk memakannya. Dia menggeser kursi lalu duduk. "Kami baru menerima surat darimu kemarin, dan sekarang kau sudah datang, jadi tidak mempersiapkan penyambutanmu dengan baik."
Mendengarnya, Amanda tersenyum canggung. "Penyambutan apa? Aku... bukan siapa-siapa." Amanda mulai menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya, dia benar-benar lapar.
"Ahh, aku hampir melupakannya." Amanda mengambil tas miliknya lalu mengambil sebuah amplop yang cukup tebal darinya. "Ini dana yang berhasil dikumpulkan dari komunitasku, semoga ini dapat sedikit bermanfaat." Amanda menaruhnya di atas meja dan menyerahkan pada suster Louisa.
"Semoga Tuhan selalu bersamamu. Seharusnya yang menerima ini adalah Father Peter, tapi father sedang pergi ke kota bersama dua suster lainnya. Aku akan menyimpannya." Suster Louisa berdiri dan pergi meninggalkan Amanda.
Makanan di piringnya sudah hampir habis, Amanda memakannya dengan perlahan karena daging panggang ini sangat lezat, ini adalah daging panggang terenak yang pernah dia makan. Piring itu benar-benar bersih, saat Amanda menghabiskan sisa saus terakhir di piringnya.
Amanda melihat ke sekeliling ruangan itu, dia merasa penasaran dengan tempat ini, dia berdiri dan berjalan mengitarinya, lalu kakinya berhenti di sebuah jendela yang cukup besar, pemandangan yang terlihat hanyalah pepohonan dan halaman belakang yang luas. Tidak banyak hal yang menarik, Amanda ingin berbalik saat tidak sengaja matanya menangkap sesuatu, dia menyipitkan matanya. Mulutnya terbuka saat dia menyadari itu adalah kepala beruang yang dipenggal, tidak jauh dari kepala itu ada kulit dari beruang itu yang sedang digantung, dan... dan... tulang-tulang yang seperti sudah dipisahkan dari dagingnya.
Amanda menelan ludahnya, seketika dia mengingat daging yang baru saja dia makan, dan tiba-tiba merasa pahit di tenggorokannya seperti dia ingin memuntahkan semuanya.
Amanda cepat-cepat menjauh dari jendala itu, dia mengambil segelas air lalu meminumya, lalu dia berusaha mencari perhatian lain dengan mencoba melihat foto-foto yang terpajang di atas nakas, dan dia mengambilnya.
Sebuah foto bersama, yang terlihat sedikit lusuh. Dia melihat seorang pria yang sudah berumur yang Amanda tebak dia adalah Father Peter, tiga orang suster salah satunya adalah suster Louisa, dan sebelas anak-anak itu yang tadi dia temui, tapi dia tidak melihat Annelise ada di foto itu.
Dia menghitung anak-anak di foto itu, itu ada sebelas. Saat dia menyadarinya, dia melihat satu orang anak perempuan yang belum dilihatnya, sekali lagi itu bukan Annelise.
Amanda melirik sebuah tulisan kecil di bawah kiri foto itu, dia terkejut, dan langsung menaruh foto itu dengan segara.
Romania, 1955.
Amanda berjalan mundur selangkah demi selangkah, bulu-bulu halus ditubuhnya meremang, jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal. Tidak mungkin kan, itu sebuah foto yang di ambil di tahun itu? Pasti itu kesalahan.
"Ada apa?"
Suara suster Louisa mengejutkan Amanda, dia bingung melihat Amanda yang terlihat ketakutan. "Apakah ada sesuatu yang mengejutkanmu?"
Amanda tidak mengatakannya, dia segera mengambil tas nya dan memutuskan. "Aku... aku harus segera kembali ke Bucharest. Ada hal darurat yang harus segera kutangani."
"Kau tidak akan kembali hari ini, langit akan segera gelap."
"Terimakasih suster Louisa atas perhatianmu." Amanda mengatakannya tanpa melihat kearahnya, saat dia membuka pintu tiba-tiba hujan turun begitu deras, dan terdengar petir bersahutan.
"Dan hujan sedang turun begitu deras," Kata suster Louisa. "Menginaplah malam untuk malam ini, aku akan mengantarmu ke kamar. Ayo."
Di sudut ruangan itu sedikit bocor, air menetes dari atasnya menciptakan suara yang begitu khas di dalam kamar itu. Kamar itu lembab, dan semakin dingin saat hujan turun. Amanda duduk di tepi ranjang saat Suster Louisa masuk membawakan selimut untuknya.
"Amanda, pakai selimut ini, malam hari akan sangat dingin." Suster Louisa menaruh selimut itu di sebelahnnya. "Kau... tidurlah sebelum pukul 11:11 datang. Tutuplah pintu kamarmu dengan rapat saat kau tidur. Apapun yang kau dengar saat malam, berpura-puralah seolah kau tidak mendengarnya." Seteleh menjelaskan itu suster Louisa pergi.
Amanda berdiri untuk menutup pintu, tapi seekor tikus tiba-tiba melewati kakinya dan melompat karena terkejut.
Oh astaga, tidak tahu malam ini apakah dia akan benar-benar tertidur atau hanya berbaring di atas ranjang, sampil menunggu pagi datang.
"Hai."
Amanda melompat lagi ketika seseorang muncul di depan itu. Dia mlihatnya dan rupanya itu anak laki-laki tadi.
"Kau terkejut?" Anak laki-laki itu tertawa. "Namaku Daniel, kau belum mengetahui namaku." Amanda melihat anak itu membawa sebuah teko dan gelas di atas nampan. "Suster Louisa memintaku membawakan ini. Dia takut kau merasa haus. Dia sangat perhatian padamu."
Daniel menaruh nampan itu di atas meja, dia memperhatikan Amanda yang tidak bergerak seperti patung.
"Kalung yang bagus, itu cocok denganmu." Setelahnya Daniel tidak mengatakan apa-apa lagi dan segera berlari.
Tangannya bergerak menyentuh kalung pemberian ibunya di lehernya, dia semakin tidak bisa berhenti bergetar. Bagaimana anak itu tahu dia mengenakan kalung, saat Amanda mengenakan pakaian dengan kerah tinggi yang menutupi lehernya?
Amanda bergegas menutup pintu. Orang-orang disini benar-benar aneh. Dia mencari ponselnya untuk menghubungi sesorang, tapi sial dia tidak mendapatkan sinyal di sini.
Brak
Angin bertiup kencang dan jendela tiba-tiba terbuka, Amanda berjalan untuk menutup jendela itu, dia menatap keluar jendela yang diselimuti kegelapan, kemudian dia mendengar sebuah suara lonceng yang begitu jelas.
Satu
Dua
Tiga
Amanda mulai menghitungnya.
Empat
Lima
Enam
Amanda melihat ponsel di tangannya, dan itu menunjukan pukul 11:10
Tujuh
Delapan
Sembilan
Dia teringat perkataan Suster Louisa.
'Tidurlah sebelum pukul 11:11 datang. Tutuplah pintu kamarmu dengan rapat saat kau tidur.'
Sepuluh
'Apapun yang kau dengar saat malam, berpura-puralah seolah kau tidak mendengarnya'
Amanda melompat ke atas ranjang, dia menarik selimutnya sampi menutupi kepalanya, lalu memejamkan mata.
Sebelas
Suara bel itu berhenti, kedua mata Amanda tetap terpejam sembari dia mengatur napasnya yang berburu.
'Rupanya makhluk itu tidak pernah melepaskanku.'
Alis Amanda bertaut saat dia tiba-tiba mendengar suara ibunya.
'Selama ini dia menunggu kematianku di dalam kegelapan.'
Itu benar-benar suara ibunya. Tujuh belas tahun yang lalu, ketika ibunya baru saja melahirkan adiknya Annelise. Amanda mengingat kejadian ini, dan ini adalah saat ibunya akan...akan...
'Amanda, kematianku sudah dekat, aku akan memberikan kalung ini padamu.' Suara ibunya terdengar sangat sedih. 'Aku memiliki dua orang putri, tapi hanya memiliki satu kalung ini. Kau adalah seorang kakak, berjanjilah padaku untuk menjaga adikmu Annelise.'
Saat itu Amanda berjanji pada ibunya, dan menghilangkan kecemasan ibunya sampai kematian menjeputnya. Tapi.... Apa yang terjadi enam tahun kemudian membuat Amanda merasa terpukul dan kecewa pada dirinya sendiri. Bagaimana dia tidak bisa melindungi adiknya dalam sebuah kecelakaan. Amanda benar-benar menyesal.
"Aaakkkkhh...."
Teriakan itu kembali membuatnya tersadar, dan membuka mata. Amanda menyingkirkan selimut, dia segera turun dari ranjang, lalu ingin membuka pintu, tapi anehnya pintu itu terkunci, Amanda mengingat jika dia tidak menguncinya. Dia mencobanya lagi, tapi itu tetap tidak mau terbuka.
Keesokan paginya, Amanda tidak sedikitpun menceritakan kejadian semalam dan dia benar-benar menjadi sangat diam. Tidak ada yang lebih diinginkannya saat ini selain segera meninggalkan tempat ini.
Jika saja dia melihat Annelise ada bersama sepuluh anak lainnya untuk mengantarnya, Amanda tidak akan tiba-tiba bertanya. "Aku tidak melihat Annelise?"
Amanda memandangi wajah suster Louisa yang agak berbeda hari ini, suster Louisa tidak terlihat ramah seperti biasanya. "Itu bukan masalahmu untuk mempertanyakannya."
Amanda mematung, dia tidak memiliki hal lain untuk dikatakan jadi dia segera pergi meninggalkan tempat itu.
Di sepanjang jalan Amanda berjalan dengan tergesa-gesa, Amanda merasa seseorang telah mengikutinya dari belakang, ketika dia berhenti untuk melihatnya dia tidak menemukan siapapun. Amanda merutuki jalan ini yang begitu jauh tanpa kendaraan apapun untuk lebih cepat menuju jalan besar. Amanda menghentikan langkahnya, kali ini semak-semak bergoyang dan Amanda mulai waspada.
"D-daniel?"
Amanda tidak percaya jika itu adalah Daniel. Anak itu menundukkan kepalanya, kedua tangannya saling bertauan dengan gelisah.
"Kenapa.... Kau mengikutiku?" Amanda bertanya dengan waspada, mendadak perasaannya tidak enak.
Daniel mengangkat kepalanya dan wajahnya terlihat sangat ketakutan. "Suster Louisa.... Suster Louisa mengurung Annelise, kau harus menolongnya."
Melihat Annelise, Amanda merasa jika adiknya telah kembali dari kematian. Dan sekarang, mendengar jika Annelise dikurung, Amanda menjadi panik dan begitu saja mengikuti Daniel yang menununnya ke tempat Annelise dikurung.
"Aku melihat Annelise dibawa kesana." Daniel menunjuk sebuah gudang penyimpanan tua yang ditumbuhi rumput-rumput yang sangat tinggi. "Aku tidak bisa mengantarmu lebih jauh, suster Louisa akan mencariku, aku harus segera pergi."
Amanda menimbang apakah dia akan masuk atau tidak, Amanda tidak menepis jika dia merasa sedikit takut. Tapi pada akhirnya, kakinya terus membawanya masuk.
Gudang itu sangat gelap, ketika Amanda masuk dia dapat merasakan tempat itu sangat lembab dan dingin. Amanda mengeluarkan ponselnya untuk sedikit lebih memperjelas pengelihatanya. Dia semakin memasuki gudang itu, tapi kakinya tanpa sengaja menedang sebuah kotak sampai membuatnya berantakan.
Dia mengarahkan ponselnya untuk menyinarinya, dan dia menemukan sebuah foto yang terselip di antara kertas-kertas, Amanda mengambilnya, rupanya itu foto yang sama yang dilihatnya kemarin, tapi yang ini ada nama-nama mereka yang tertulis.
Father Peter, suster Louisa, Mia, Daniel.... Anastasia...
Rupanya gadis itu adalah Anastasia, tiba-tiba dia teringat ibunya.
Amanda.... Amanda....
Amanda segera tersadar dan membuang foto itu, dia mendengar suara yang memanggilnya.
Amanda.... Amanda....
"Annelise apakah itu kau?" Amanda segera mendekat, dia melihat gadis itu duduk dengan kepalanya yang menunduk, rambut panjang nya jatuh dan menutupi wajahnya.
Annelise tidak menjawab, jantung Amanda semakin berkejaran saat dia menyentuh tubuh Annelise yang dingin, sangat dingin, semakin membuat Amanda takut.
"Anne.... Anne...."
Ketakutan ini seperti terulang saat dia kehilangan adiknya.
Tes... Tes... Tes...
Amanda duduk di tepi ranjang dengan bingung. Dia melirik suara tetesan air itu yang rupanya dari atap di sudut ruangan yang bocor, rupanya di luar sedang hujan.
Amanda berdiri dari ranjang, dia melihat pintu yang belum di tutup lalu bergerak untuk menutupnya, tapi tiba-tiba lewat seekor tikus dan mengejutkannya.
Brak
Suara lain terdengar dari jendela yang terbuka karena angin kencang. Amanda mengernyitkan alisnya. Suara tetesan air, tikus, dan jendela yang terbuka. Kenapa ini seperti dejavu?
Amanda membeku, lalu... apakah suara lonceng juga akan berbunyi.
Satu
Dua
Tiga
Amanda terkejut, itu benar!
Empat
Lima
Enam
Amanda mulai menghitungnya kembali.
Tujuh
Delapan
Sembilan
Dia teringat lagi apa yang dikatakan Suster Louisa. Dia melihat ponselnya dan itu menunjukanpukul 11:10
'Tidurlah sebelum pukul 11:11 datang. Tutuplah pintu kamarmu dengan rapat saat kau tidur. Apapun yang kau dengar saat malam, berpura-puralah seolah kau tidak mendengarnya'
Sepuluh
Amanda menyadari pintu yang belum tertutup, dia segera berlari untuk menutupnya, tapi pintu itu tidak bergerak sedikitpun, dan sangat sulit di tutup.
Sebelas
Amanda mengerahkan semua tenaganya, dia semakin panik saat suara lonceng itu berhenti, tapi pintu itu belum tertutup juga. Amanda meninggalkannya, dan segera bersembunyi di bawah ranjang.
Dia tidak tahu apa yang sedang menunggunya, pikirannya hanya mengatakan agar dia segera bersembunyi. Tidak ada yang terjadi selama beberapa saat, itu benar-benar sepi sampai Amanda dapat mendengar detak jantungnya yang begitu keras.
Tapi tiba-tiba dia melihat bayangan seorang mencul, dalam sekejap bayangan itu menghilang ketika lampu yang menyala satu persatu menjadi padam. Amanda menutup mulutnya agar tidak berteriak. Tubuhnya semakin menjauh dari ranjang, Amanda merasakan tubuhnya di tarik, dia mencoba meraih apapun tapi dia tidak bisa, namun tubuhnya tetap terseret.
Amanda menutup matanya, dia tidak berani melihat sosok itu yang semakin mendekat padanya. Tidak tahu apa yang sedang terjadi dengannya, dia merasakan tubuhnya yang ringan dan bergerak sendiri tanpa kendalinya. Ketika dia membuka matanya, Amanda terkejut menyadari dirinya dalam posisi melayang begitu tinggi, cukup tinggi sampi kakinya tidak dapat menyentuh lantai.
Dia ingin berteriak, tapi suaranya tertahan dan seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Sosok itu, sosok itu berada di dalam kegelapan, seluruh tubuhnya gelap, Amanda dapat merasakan keberadaannnya.
Tangannya bergerak dengan sendirinya, seluruh tubuh lainnya tidak dapat dia Gerakan. Perlahan, tangannya semakin bergarak kearah lehernya, jari-jari tanganya terbuka, dan menekan kearah lehernya dengan keras.
"Arrggghh." Paru-parunya mulai kekurangan udara, napas Amanda semakin pendek, mulut dan kedua matanya terbuka lebar.
Sosok itu sungguh ingin membunuhya?
Setitik cahaya biru bersinar di ruangan itu, Amanda menggerakkan matanya saat dia melihat cahaya itu keluar dari kalungnya.
Bruk
Amanda terjatuh dengan keras, dari ketinggian itu cukup membuat tangannnya patah, dia menggigit bibirnya sendiri agar tidak berteriak. Barang-barang disekitarnya mulai berjatuhan, sebuah gelas jatuh di depannya dan membuat wajahnya terluka.
Amanda perlahan menggeser tubuhnya, ketika dia sedikit mengangkat kepalanya dan melihat sosok itu, dia benar-benar tidak dapat bergerak, dan suaranya bergetar.
"Ssuster Lloissa?"
"HAHAHAHA."
Mata Amanda yang tertutup sedikit bergerak. Itu seperti tawa seorang pira yang terdengar berat yang membuatnya terbangun, saat dia mencoba bangun seluruh tubuhnya terasa sakit. Amanda tidak mengerti kenapa dia seperti datang dan pergi dari sebuah mimpi.
"Singkirkan kalung itu!"
Tubuh Annelise perlahan berdiri dan berjalan kearahnya, saat dia mengangkat kepalanya dia menatap Amanda dengan tajam.
"SINGKIRKAN KALUNG ITU!" Suara berat itu keluar dari mulut Annelise.
Brak
Tubuh Amanda terlempar menabrak dinding, barang-barang disekitarnya berjatuhan. Dia melihat kearah Annelise, dan kedua matanya mulai berair. "Anne...."
"Berhenti memanggilku Anne!" Sosok jahat dalam tubuh Annelise berkata padanya, perlahan dia berjalan mendekat, dan membuat Amanda berdiri dengan mengendalikannya.
"Kau tidak akan bisa membunuhku." Amanda berkata dengan lemah, tapi suaranya terdengar yakin dan membuat sosok itu marah.
Sosok dalam tubuh Annelise menarik Amanda mendekat, saat dia melihat leher Amanda, tidak menemukan kalung di sana.
"Maafkan aku Anne."
Amanda mengangkat sebuah salib di tangannya, dia telah memecahkan kalungnya yang berisi air suci dan membasahi salib itu dengannya.
Jleb
Salib itu tertancap di tubuh Annelise.
"Pleaca nu te mai intoarce ramai de unde vii."
Sosok jahat itu berteriak, sebuah bayangan hitam keluar dari tubuh Annelise, bergerumul, sebelum perlahan-lahan mulai menghilang.
Amanda menangkap tubuh Annelise, bau anyir yang begitu tajam mulai tercium, meskipun begitu dia tetap membawa tubuh Annelise dalam pelukannya.
"Anne... Anne...."
Enam puluh tahun yang lalu, krisis terjadi di Romania, menyebabkan satu persatu donatur Panti sosial St. Peter Lutheran menarik diri. Selama itu mereka hidup dalam kesulitan, Father Peter seringkali ke kota untuk mendapatkan bantuan, tapi berkali-kali Father Peter tidak membawa hasil.
Suatu malam, Suster Louisa tiba-tiba mendapatkan bisikan dan dorongan. Dia pergi ke dalam hutan dan diam-diam melakukan ritual. Keesokan harinya, semuanya tiba-tiba kembali normal, dan panti kembali mendapatkan donatur untuk mendukung kehidupan mereka.
Tapi apa yang mereka dapat, tidak sebanding dengan apa yang satu persatu mereka alami. Suatu hari Father Peter dan kedua Suster lainnya tiba-tiba meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kejadian-kejadian aneh sering muncul di panti saat malam datang, tepatnya saat waktu menunjukan 11:11 datang, lalu paginya di temukan tubuh seorang anak yang penuh luka di tubuhnya.
Suster Louisa tidak menyadari jika perbuatan itu karena dirinya yang di rasuki sosok jahat, sampai tiba saat dia mengetahuinya dia terpukul dan menjadi depresi, lalu membakar seluruh panti bersama dengannya.
Malam itu adalah malam yang mengerikan, ketika petugas penyelamat datang, mereka menemukan seorang anak yang selamat dari kebakaran itu. Anastasia....
Matahari yang sesungguhnya mulai terlihat, menyinari seluruh bangunan Panti sosial St Peter Lutheran yang telah rusak meninggalkan jejak-jejak sisa kebakaran. Amanda masih menyimpan tubuh Annelise dalam pelukannya, air matanya tidak lagi tertahan dan dia menangis keras.
Amanda telah mendapatkan penglihatan tentang semua kejadian ini. Kalung yang di berikan ibunya padanya adalah sebuah air suci yang selama ini untuk menjaganya dari sosok jahat yang mengincarnya. Dan kenyataan bahwa... bahwa Annelise ini adalah adiknya yang telah tewas sebelas tahun lalu. Sosok jahat itu telah menyamarkan penglihatannya dan menjebaknya untuk membunuhnya, karena dia adalah persembahan terakhir.
Cerita ini hanya fiktif belaka, murni khaylan, dan tidak bermaksud menyinggung siapapun.