Tasha berlari mengejar Hanni yang tidak sengaja membawa kunci kamar kos miliknya. Namun usahanya gagal, Tasha lari tapi Hanni menggunakan motor. Bagaimanapun kuda besi itu jauh lebih cepat darinya.
"Ngejar apa sih?" Tanya Seseorang menepuk bahu Tasha. "Huhh?... Uh... Anu... Huh... Hanni..." Ucap Tasha terbata nafasnya terdengar gusar.
"Hanni? Kenapa dikejar?"
"Haahhh tanya mulu... Aku capekkkk... Bentar... Nafas dulu"
"Yeu... Kan cuma nanya Sha, lagian ada WhatsApp kenapa milih ngejar-ngejar gini sih?" Ucap Vania mengikuti Tasha yang berjalan mencari tempat duduk. "Tanya lagi! Huhh... Kunci kos ku kebawa Hanni, batrei ponsel ku habis... Eh astaga! Aku lupa publish karyaku, ini hari Rabu! Van, bawa power bank gak?" Tanya Tasha tergesa-gesa mencari ponselnya di tas.
"Bawa sih tapi kan kabel ku gak bisa dipakai dipunya mu Wu beda seri"
"Pinjem ponsel kalau gitu, aku login di ponselmu" Tasha mengarahkan tangannya didepan Vania. Vania memberikan ponselnya, "Sha, gak takut bikin cerita horor gitu?" tanya Vania memerhatikan Tasha. Tasha menggeleng "Diem dulu ya Van".
Vania mendengus kesal, kalau sudah tenggelam sama ceritanya Tasha susah diganggu. "Omong-omong kenapa gak chat Hanni pakai ponselku aja sih?" Ucap Vania menyadari masalah utamanya, tapi Tasha tidak menggubrisnya sama sekali.
"Ngomong sama tembok" Vania meninggalkan Tasha, mencari minum dulu. Dan Tasha masih asik mengetik beberapa bagian ceritanya yang belum lengkap. Hanya beberapa paragraf saja sebenarnya, namun Tasha adalah Tasha yang sama sekali tidak kenal dunia disekitarnya jika sudah tenggelam di ceritanya.
"Aku tidak suka disini, pulang"
"Tasha aku mau pulang"
"Tasha tinggalkan tempat ini"
"Jangan disini"
"Tasha"
Tasha mengerutkan dahinya tidak suka "Bisa diam tidak!" Pekiknya tanpa melihat sumber suara, namun suara itu langsung lenyap. Tasha menekan tombol PUBLIKASIKAN, namun tidak jalan sama sekali. Tasha mengguncang-guncang ponsel milik Vania mengarahkan keberbagai sisi, sampai Tasha menyadari kedatangan Vania memegang dua botol kaleng dan roti.
"Lho?" pekik Tasha.
"Hngg? Kenapa?" Tanya Vania yang melihat Tasha seperti bengong sekaligus kaget dengan kedatangannya. Tasha menggelengkan kepalanya kuat "Tadi aku nyuruh seseorang diam karena berisik, aku kira kamu" ucap Tasha bingung.
"Hah? Aku beli ini tadi" Vania memberikan satu botol kaleng pada Tasha. "Mampus! Kalau dosen gimana Van?" Panik Tasha.
"Hah? Gak tahu deh yaa... Aku gak ikut-ikutan" Vania membuka kalengnya. "Oh ya ini susah nih gak mau terkirim, kuotamu habis jangan-jangan" Tasha menyodorkan ponsel milik Vania.
"Heh yang bener aja, kan nyambung wifi kampus" Vania melihat ponselnya. "Oh... Btw makasih minumnya" Tasha membuka kaleng miliknya dan lagi-lagi suara tadi muncul.
"Pulang Tasha"
"Uhukk... Van..." Tasha mengusap hidungnya, perih, air sodanya keluar dari hidung. "Hmm?" Vania masih memainkan ponselnya, cek jaringan.
"Tadi denger orang manggil aku gak?"
"Enggak... Eh ini aku buka youtube bisa kok" Vania memberikan ponselnya pada Tasha lagi.
"Gak jadi update ah, nanti aja dikos" Tasha menekan tombol log out. "Lho kenapa?" Vania bingung menerima ponselnya.
Tasha berdiri "Aku mau balik aja hehehe ntar pinjem kunci cadangan ibu kos aja, pamit dulu ya Van"
Tasha meninggalkan Vania begitu saja. Berdebat sebentar dengan ibu kos yang susah minta ampun untuk dimintai kunci cadangan, bertanya apa siapa kapan dimana bagaimana kenapa kunci bisa hilang. Ayolah Tasha hanya butuh kunci cadangan satu hari saja, besok dikembalikan lagi.
Delapan belas menit perdebatan akhirnya kunci cadangan berada ditangan Tasha.
Ceklek
"Oh Tasha" ucap Daniel sumringah berdiri di sisi ranjang Tasha. Tasha menutup pintu mencari cas nya dan segera menancapkan port kabel tersebut.
"Mandi dulu ah, sekalian nunggu ponsel penuh." Tasha melepas kaos miliknya melemparnya ke tas laundry di samping pintu kamar mandi. Daniel memalingkan pandangannya, tidak akan tahan melihat Tasha telanjang didepannya.
Daniel kembali duduk diujung ranjang Tasha, menatap ponsel Tasha dengan tajam. Berharap benda pipih itu segera hidup dan disentuh lagi oleh pemiliknya.
Tasha keluar dari kamar mandi, membuka lemarinya memilih kaos longgar mana yang akan ia pakai. Setelah memakai kaos nya merapikan sedikit rambutnya dan memakai beberapa lotion dan skincare yang ia butuhkan.
"Sudah berapa persen?"
"Tidak tahu aku tidak menyentuhnya"
"Hmm... Hidupin ah"
Tasha duduk disebelah Daniel meraih ponselnya yang masih terhubung dengan cas. "Update dulu kali ya..." Tasha membuka aplikasi berwarna biru putih tersebut. Sedangkan Daniel disampingnya mengangguk-angguk senang "Ayo update author-nim".
"Lho! Lho! Kok draft ku hilang?" Tasha menggeser kebawah tampilan draftnya berkali-kali berharap draft itu muncul. "Kan Daniel sudah bilang jangan disana tadi, Daniel gak suka".
"Ah apa karena tadi pakai ponsel Vania? Tersambung ke device lain jadi berubah? Bahkan hilang? Tadi kan bermasalah juga" Tasha berniat menelfon Vania untuk bertanya apakah akunnya masih terhubung aplikasi di ponsel Vania.
Namun Vania tidak mengangkat telfonnya, Tasha menghela nafas dengan segera mengetik kembali tiap-tiap paragraf cerita nya tersebut.
Tasha merebahkan tubuh, menatap ponselnya dengan serius. Mengetikkan kata tiap kata chapter terakhir cerita horor miliknya. Tasha beberapa kali mengedarkan pandangannya kearah kamarnya berpikir kalimat-kalimat yang cocok ia gunakan.
Dan Tasha menemukan kejanggalan. Tepat dibawah ponsel yang ia pegang terdapat celah sehingga ia bisa melihat lantai nya. Namun bukan lantai yang ia lihat tapi bayangan aneh, seolah ada sosok yang berdiri disamping ranjangnya.
Tasha melihat dari atas ponselnya. Deg.
Seseorang bertubuh tinggi tersenyum kearahnya dengan indah. Mata Tasha bertemu dengan mata sosok tersebut. Telinga Tasha memanas, dia kembali melihat kebawah ponselnya tidak ada kaki disana. Sontak Tasha menatap kembali dari atas ponselnya dan tidak ada apa-apa disana.
Tasha sontak melepaskan ponselnya, duduk ditepi ranjang mengedarkan pandangannya kesegala sudut kamarnya. Dia yakin tadi dia melihat sesosok laki-laki bertubuh tinggi tersenyum cerah kearahnya. Hanya saja Tasha tidak melihat kakinya, dan tubuh lelaki tersebut seperti... Ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan kecil.
"Halu lagi? Tapi akhirnya aku bisa melihat wajahnya... Cukup tampan" Tasha tersenyum miring. "Daniel? Kamu nyata?" Ucap Tasha.
"Author-nim Tasha, jangan selesaikan cerita ini... Aku masih ingin bersamamu dan para pembacamu..."
"Aku... Ingin mereka tahu tentang ku... Yang mulai mencintaimu, author-nim"
Tasha yang sama sekali tidak bisa mendengar suara Daniel kembali merebahkan tubuhnya. Kembali melanjutkan last chapter miliknya. Namun tiba-tiba kabel cas miliknya lepas dari stop kontak. Dan ponsel nya terlempar kearah kabel itu karena seperti ada yang manariknya.
"Huh ponselku!" Pekik Tasha langsung mengambil ponselnya, memastikan apakah ponselnya baik-baik saja. Untung, ponselnya masih hidup dan tidak lecet sedikitpun. Tapi....
"Yak!! Hilang lagi!"
"Ada apa sama Noveltoon? Kenapa busuk sekali seperti ini!" Tasha berkali-kali merefresh akunnya, login log out, tarik kebawah untuk merefresh ulang namun sepertinya chapter itu benar-benar terhapus.
Tasha marah, sudah dua kali mengetik cerita yang hampir 3000 kata itu tapi hilang begitu saja, author mana yang tidak kesal ceritanya hilang begitu saja. Tasha menyerah, membiarkan ponselnya dan memilih tidur.
"Jangan marah-marah, hehehe kan aku sudah bilang aku tidak ingin cerita ini berakhir Sha. Lanjutkan cerita ini tapi jangan pernah berakhir. Jadi... Ayo... Kita buat kisah kita lebih dulu." Daniel mengecup telinga Tasha.
Tasha mengusak-usak telinga nya berkali-kali karena terasa sangat aneh. Daniel mengusap lengan Tasha lembut, tangannya naik menuju dagu indah milik Tasha.
Mengusap lembut pipi milik author kesayangannya itu. Dan Daniel melumat bibir Tasha dengan kasar. Tasha membelalakkan matanya, nafasnya sesak tidak bisa berteriak bibirnya tidak bisa terbuka. Tasha memukul-mukul kasurnya berharap seseorang bisa mendengar dan menolongnya.
Namun Daniel sama sekali belum ingin mengakhiri lumatannya. Mengabaikan penulisnya yang meronta-ronta kehabisan nafas.
Kalian tahu cerita apa yang Tasha tulis?
Sebuah cerita tentang Daniel seorang mahasiswa yang meninggal di dalam kamar karena keracunan obat semprot serangga namun mayatnya tidak membusuk, mayat Daniel utuh hanya saja berlumut.
Kamar itu adalah kamar yang saat ini Tasha pakai.