Ketika aku pergi ke toilet dengan teman masa kecilku yang sedang dirawat di rumah sakit, aku bertemu mantan pacarku yang sudah tidak pernah aku jumpai lagi selama lima tahun.
Dia memeluk seorang wanita hamil dengan penuh kasih sayang dan mendekapnya dengan erat.
Aku bisa mendengar dengan samar-samar bahwa wanita hamil itu memanggilnya "Sayang".
Setelah lima tahun putus, aku sudah membayangkan berbagai macam skenario pertemuan dengannya. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa dia sudah menikah.
1
Ibuku berkali-kali mengingatkanku bahwa Gerald baru saja selesai menjalani operasi. Gerald membutuhkan seseorang untuk menemani dan merawatnya di tempat tidur dalam beberapa hari ini.
"Gerald adalah anak yang baik. Ibu sudah merawatnya sejak kecil. Bagaimana mungkin dia kalah dengan Justin? Kenapa kamu keras kepala sekali?"
Aku tidak pernah menyangka bahwa bahkan setelah lima tahun lamanya, hanya mendengar nama itu membuat hidungku terasa sangat sesak dan hatiku masih terasa sangat sakit.
"Ibu boleh terus menjodohkanku dengan Gerald kalau Ibu mau. Tapi, Ibu perlu tahu kalau Gerald tidak menyukaiku."
Setelah merapikan tubuhku yang berantakan, aku melihat Justin mengenakan jas putihnya.
Dia sepertinya sedang menunggu seseorang.
Tiba-tiba, seorang wanita hamil muncul di sampingnya.
Pria itu sedikit menundukkan kepalanya dan memeluk wanita hamil itu dengan cukup mesra.
Hal yang membuatku merasa makin merinding adalah bahwa aku bisa mendengar dengan samar-samar bahwa wanita hamil itu memanggilnya dengan sebutan yang mencengangkan.
"Sayang."
2
"Hera, kenapa melamun?"
Tiba-tiba, aku tersadar kembali dari lamunanku dan hampir melepaskan pegangan botol infus di tanganku.
Saat aku hampir mendorongnya menjauh, tiba-tiba aku merasakan seseorang menatapku.
Tanpa sadar, aku langsung melihat ke arah Justin yang berada tidak jauh dariku.
Pandangan mata kami bertemu.
Jika hal ini terjadi lima tahun yang lalu, Justin pasti akan langsung mendekat dengan wajah dingin dan memeluk pinggangku dengan erat sebagai tanda kepemilikannya terhadap diriku.
Namun, sekarang dia hanya melihatku dengan tenang dan raut wajahnya sangat datar.
Kemudian, dia berkata dengan lembut ke arah wanita hamil di sampingnya, "Ayo pergi."
Saat aku melihat mereka berdua pergi, rasanya seperti sebagian besar hatiku terasa kosong.
Setelah lima tahun putus, aku sudah membayangkan banyak skenario pertemuan dengan pria itu.
Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa dia sudah menikah.
Dulu, akulah yang mengusulkan untuk putus.
Justin adalah orang yang memiliki gengsi yang tinggi. Dia sudah mencoba segala cara dan mengesampingkan harga dirinya sendiri untuk mencoba mempertahankanku.
Namun, aku tidak tahan dengan tekanan dan akhirnya meninggalkannya.
"Aku sudah mencari tahu soal Justin. Dia belum menikah." Kata-kata Gerald berhasil menahan air mataku.
Dadaku masih terasa sesak. Namun, aku berkata, "Tapi, siapa wanita hamil tadi?"
Gerald berpikir sejenak dan mengungkapkan kemungkinan yang ada. "Mungkin wanita itu belum menikah dan hamil duluan?"
Ketika Justin datang untuk menyapaku di malam hari, mataku sudah bengkak karena menangis.
Pertama-tama, dia menanyakan kondisi Gerald dengan sikap profesional. Kemudian, dia menanyakan beberapa pertanyaan rutin seorang dokter tanpa menatapku sama sekali.
"Hari ini aku makan bubur yang dibuat oleh Hera. Aku dengar dari ibunya kalau dia menghabiskan waktu tiga jam untuk memasaknya di rumah. Bahkan jarinya hampir terluka saat mengolah kepitingnya. Mantan pacarnya saja tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Aku merasa sangat beruntung!"
Tangan Justin berhenti bergerak untuk sejenak. Kemudian, dia sedikit menoleh dan melirikku dengan acuh tak acuh.
3
Gerald memberi isyarat pengusiran dan berkata, "Dokter Justin, karena tidak ada masalah lagi, kamu bisa pulang dan beristirahat lebih awal."
Gerald menyenderkan kepalanya dan mengangkat alisnya ke arahku. Kemudian, dia kembali menatap Justin sambil berkata, "Ini bukanlah masalah besar. Hanya saja ...."
Dia tersenyum santai dan berkata dengan makna tersembunyi, "Aku belum mandi selama beberapa hari. Hera bilang dia ingin membantuku untuk mandi."
Justin langsung tersentak setelah mendengar kata-kata itu.
Saat aku pikir dia akan mengatakan sesuatu atau bahkan melakukan sesuatu, dia malah langsung berdiri dan mengambil rekam medis milik Gerald. Kemudian, dia berjalan pergi dengan cepat.
Gerald menatapku sejenak sebelum bertanya dengan nada mengejek, "Kalian sudah putus hampir lima tahun, 'kan? Apa kamu masih tidak bisa melupakannya?"
Aku menarik napas dan berkata tanpa keraguan sedikit pun, "Ya, aku tidak bisa melupakannya."
4
Sejak ibuku bercerai dengan ayahku, sikapnya mulai berubah.
Dia jarang tersenyum, menjadi tegas dan mudah marah. Dia memiliki keinginan yang kuat untuk mengendalikan diriku dan selalu takut aku akan meninggalkannya seperti ayahku.
Sementara tentang Gerald ....
Kami sudah menjadi teman sejak kecil selama lebih dari sepuluh tahun. Dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Aku selalu mengikutinya sejak kecil ke mana pun dia pergi.
Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta padanya?
Namun, dia tidak menyukaiku.
Saat kelulusanku, aku mengumpulkan keberanian untuk memberikan surat cinta kepada Gerald.
Dia membaca surat itu dalam diam dan terlihat sangat serius. Kemudian, dia berkata jujur padaku, "Hera, aku selalu menganggapmu sebagai adikku."
Aku ingat bahwa sebelum Gerald pergi, dia mengirimiku pesan teks.
"Hera, aku tahu kamu ingin belajar di Universitas Kedokteran Brago. Jangan pernah mengecewakan hidupmu sendiri."
Kemudian, aku mengubah pilihan universitasku tanpa sepengetahuan ibuku dan pergi ke Brago.
Begitulah caraku bertemu dengan Justin.
5
Ada banyak faktor yang membuatku secara perlahan mulai berhenti menghubungi Gerald juga.
Saat itu, Justin dan aku sudah sepakat bahwa kami akan menikah setelah lulus.
Namun, siapa yang menyangka bahwa tepat setelah lulus, keluargaku mengalami masalah.
Saudaraku meneleponku dan memberitahu bahwa ibuku sakit parah. Aku langsung membeli tiket pesawat dan bergegas pulang ke rumah. Namun, aku mendapati bahwa mereka sudah bersekongkol untuk menipuku.
Ibuku tidak pernah memaafkanku karena mengubah pilihan universitas saat ujian masuk perguruan tinggi tanpa izinnya. Dia membenciku, membenci ketidakpatuhanku terhadapnya dan membenciku yang mencoba kabur dari kendalinya.
Selama periode itu, ibuku mengurungku di rumah dan menyita ponselku. Dia melarangku untuk menghubungi Justin.
Dia bahkan menggunakan ponselku dan berpura-pura menjadi aku untuk mengirim pesan yang penuh penghinaan kepada Justin.
"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan menikah denganmu yang ayahnya pecandu judi dan ibunya cacat?"
Ketika aku mengetahui hal ini dan bersikeras pergi menjelaskan segalanya kepada Justin, emosi ibuku tidak terkendali lagi.
Dia berdiri di balkon sambil menangis dan mengancamku. Dia mengatakan jika aku tidak putus dengan Justin, dia akan langsung melompat dari lantai 12.
Pada saat itu, aku merasakan dilema yang besar.
Tidak peduli seberapa besar cintaku pada Justin, aku tidak bisa membiarkan ibuku meninggal begitu saja.
Malam itu, Justin berdiri di luar gedung apartemenku. Dia terlihat pucat dan jauh lebih kurus.
Namun, dihadapkan dengan ancaman ibuku, aku bahkan tidak bisa turun untuk menemuinya.
6
Ibuku mengirim pesan lagi.
Kali ini, pesan teks itu berbunyi, "Apa kamu bertemu dengan Justin lagi?"
Aku mematikan ponselku dengan kesal. Ketika aku mendongakkan kepalaku, aku melihat Justin berdiri tidak jauh dari sana dengan ekspresi tegas dan dingin.
Di dalam penglihatanku, Justin berdiri dengan tangan di saku jasnya dan menatap lurus ke arah depan dengan tenang. Namun, tubuhnya memancarkan aura ketegasan yang samar-samar.
Setelah ragu sejenak, aku memutuskan untuk angkat bicara.
"Justin, aku terkejut saat melihatmu lagi. Aku senang ...."
Sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kata di belakang kata "senang", suara dingin dan tegas Justin menginterupsiku. "Aku sebenarnya tidak ingin melihatmu."
Meskipun dia mengatakan bahwa dia tidak ingin melihatku, dia tidak buru-buru pergi dan sepertinya malah menungguku. Dia bahkan masuk ke dalam kantor tanpa menutup pintu.
Setelah merenung sejenak, aku mengikutinya masuk.
"Kunci pintunya."
Tiba-tiba, bibirku terkunci dan dia menciumku dengan sangat ganas dan kuat hingga aku hampir tidak bisa bernapas.
Dia menatapku sejenak sambil mendengus pelan. Kemudian, dia tersenyum mengejek sambil berkata, "Bukankah ini yang kamu inginkan?"
Saat tangannya meraih resleting bajuku, ponsel Justin tiba-tiba berdering.