Andre mengikuti petugas hotel yang mengantarnya. Kamarnya ada di posisi paling ujung hotel tua itu. Mereka berdua berjalan melewati kamar-kamar. Lampu menyala setiap mendeteksi panas tubuh pegawai hotel itu dan padam begitu kehilangan sensor panas tubuh Andre.
Mereka melewati sebuah taman dan terdengar gemericik air. Namun Andre yang sudah lelah karena penerbangan panjang 11 jam hanya ingin segera membaringkan tubuhnya secepat mungkin.
Tiba-tiba Andre merasakan energi dingin yang aneh terpancar di sebelah kanan dan kirinya.
Andre mencek waktu dengan melirik ke pergelangan tangannya yang mendorong kopernya. Jam 11.11 malam. Andre memulai doanya untuk 'menutup' radar empath dan menguatkan jiwa indigonya. Hal yang selalu dilakukannya secara rutin setiap malam pada waktu yang sama. Mereka pun sampai di depan kamarnya. Andre mengucapkan terima kasih pada pegawai hotel itu dan memberikan tip padanya.
👀👀👀👀👀👀👀👀👀👀👀👀👀
Dia mendapat tugas meliput konferensi internasional di kota itu menggantikan reporter seniornya yang mendapat serangan jantung saat berolahraga. Dan seniornya itu memilih hotel ini dibanding hotel-hotel lain karena harganya yang murah.
Hal yang selalu Andre hindari seumur hidupnya adalah segala sesuatu yang mengeluarkan kesan 'tua'. Seperti tinggal di rumah tua, berlama-lama di museum maupun pemakaman.
Kehidupan seorang indigo dan sekaligus empath itu melelahkan. Andre bisa melihat dan merasakan kesedihan, kemarahan, kebahagiaan, depresi, dan semua jenis emosi yang dimiliki manusia ataupun makhluk halus di sekitarnya.
Beruntungnya dia karena Ayahnya mengajarkan padanya, cara 'menutup' radar empathnya kapan pun dia mau saat dia berusia lima tahun. Sedangkan kemampuan indigonya adalah satu hal yang harus dihadapinya dengan penuh keberanian.
Konferensi dua hari itu diakhiri dengan makan malam bersama. Suara musik instrumental mengisi ruang makan. Panitia konferensi itu menyediakan dua ruang makan untuk semua peserta konferensi termasuk para kru media.
Andre duduk sendirian di meja itu sampai seorang menegurnya terlebih dahulu. "Hai, boleh saya duduk di sini?".
Andre menengok dan menemukan seraut wajah yang cantik. Memakai gaun hitam pendek dan rambut terurai warna pirang. Tentu saja Andre membolehkannya. Dia butuh teman makan malam yang menyenangkan. Radar empathnya merasakan kehangatan dari wanita di depannya itu.
Namanya Caroline dan wajahnya menampakkan warna aristokrat yang elegan. Walaupun pembawaan wanita itu sangat chic dan kasual. Ternyata dia reporter dari media nomor satu di seluruh Inggris.
Andre sudah lelah mengalami keangkuhan orang-orang selama dua hari ini, orang- orang yang menganggap diri merekalah yang terbaik.Orang-orang yang tidak berpikiran bahwa kesopanan dan senyuman pada orang asing itu dapat membuat dunia jadi lebih baik.
Andre menyadari dia memang belum punya nama di dalam karirnya itu. Apalagi memang banyak yang mengatakan padanya bahwa dia terlihat seperti anak SMA walau usianya sudah 31 tahun.
Karenanya Andre selalu bekerja lebih keras daripada semua rekan kerjanya. Dia selalu mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum dia mewawancarai seseorang atau mendatangi suatu konferensi.
Hal itu yang membuat dirinya mampu memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada narasumber Press Release tadi siang dan semua reporter lainnya nampak bertanya-tanya di antara mereka menanyakan media mana yang dia wakili.
"Kamu dari negara Asia ya, dari...Indonesia? ", tanya Caroline setelah mereka berkenalan. Wanita itu sangat bersahabat berbeda dengan gaya orang berkebangsaan Inggris umumnya.
"Kok tahu?", balas Andre pura-pura kaget.
"Ya tahu, karena baju kamu!", jawab Caroline cepat. Andre tersenyum. " Kamu tahu ini Batik, berarti pernah datang ke Indomesia? "
"Ya. emmm ke Jogyakarta, Bali dan Bunaken", jawab Caroline, "Saya 11 hari di sana di bulan 11 , 11 tahun lalu", tambahnya.
"Ah, nice! ", ujar Andre sambil tersenyum.
Caroline tersenyum dan menyuapkan sepotong steak ke mulutnya. Andre pun kembali menikmati steaknya.
"Kamu sadarkah kalau hari ini tanggal 11 bulan 11? ", tanya Andre.
" Iya...dan saya ketemu satu warga negara Indonesia di sini!", jawab Caroline. Andre merasakan energi kebahagiaan melanda dirinya.
"Hei, kamu begitu bahagia bertemu orang Indonesia, walau baru pertama kali bertemu saya?", tanya Andre lagi.
Caroline melepaskan garpu dan pisaunya. Kedua tangannya kini memegang pipinya yang kini bersemu merah.
Jam tangan Andre menunjukkan 7.50 malam. Mereka pun memutuskan meninggalkan resepsi makan malam dan menikmati suasana kota London di malam hari.
Mereka menyusuri sungai Thames. Caroline memakai Blazer warna kuningnya dan scarf warna emas. Angin berhembus membuat rambutnya kadang menutupi wajahnya.
Andre merasa bahwa Caroline menyukainya. Dia bisa merasakan emosinya yang kini berubah menjadi melankolis. Andre agak heran apa penyebabnya.
"Kamu punya insta****?", tanya Andre. Merekapun berteman di insta****.
" Teman kamu banyak! ", seru Caroline.
" Kamu tahu jumlah populasi di negara kami?"
"Saya bisa googling", jawab Caroline.
" Kamu tahu kebiasaan generasi milenial negaraku yang menular pada orang tua mereka? "
"Apa itu?", wajah Caroline berhias keingintahuan.
" Folback!",
"Apa itu? ", Caroline masih belum faham.
"Saya add kamu, dan kamu follow back saya"
"oh yaaa? "
"Ya! "
Andre tersenyum sambil mengangguk. Membuat Caroline tertawa kecil berkepanjangan.
"Kenapa? ", tanya Andre.
" Saya rasa bahagia bersama kamu. Tapi jangan tanya kenapa ya, Andre! "
"... ok", jawab Andre. Andre pun menyukai Caroline.
Satu hal yang juga dirasakan Andre adalah adanya satu energi dingin yang selalu mengikuti Caroline.
Energi itu tidak memberikan emosi kemarahan ataupun keinginan mencelakai wanita itu. Tapi sebaliknya emosi yang Andre rasakan adalah kesedihan yang luar biasa.
Sejak tadi Andre merasakan keinginan energi itu menyentuh tangan ataupun wajah wanita itu melalui dirinya. Tapi Andre melawannya.
"Aku perlu bicara dengannya...Biarkan aku menyatu denganmu" , energi itu membisikkan keinginanya pada Andre.
"Siapa kamu?", bisik Andre ke arah energi itu.
"Apa...katamu? ", tanya Caroline sambil membalikkan badannya dan berjalan mundur sambil memandang Andre.
" Ah, tidak.. kebiasaan saya kalau teringat sesuatu seperti ini, bicara sendiri", Andre berbohong. Tidak ada gunanya mengatakan yang sebenarnya.
"Terlalu panjang untuk menceritakan padamu.. ", bisik energi itu kembali.
" Katakan, atau pergilah! ", bisik Andre tegas.
Caroline tersenyum dan wajahnya agak terlihat sedih saat dia membalikkan badannya dan kembali jalan seperti biasa mendahului Andre.
" Saya kekasihnya Caroline.. ah..tidak. Dulu, saya kekasihnya", desah energi itu pelan.
Andre berhenti melangkah. Otaknya berpikir menghindari tipu daya energi dingin itu.
"Bagaimana saya yakin kau tidak berbohong? "
"Katakan padanya bahwa kau bisa menebak binatang kesukaannya. Kunang-kunang. Dia suka binatang itu. Dan tanyakan kenapa"
Jam menunjukkan 10.45 malam.
Andre mempercepat langkahnya dan menjejeri langkah Caroline. "Caroline, saya bisa menebak binatang kesukaanmu"
"Tidak mungkin! Pergi kau! ", ujar Caroline sambil tertawa-tawa.
Matanya memandang jauh ke arah aliran air sungai Thames yang memantulkan sinar bulan.
" Kalau saya benar, kamu harus katakan alasannya. Bagaimana? Ok? "
Caroline menghentikan langkahnya. Menimbang-nimbang. Kalau kamu salah, kamu harus menghabiskan waktumu denganku besok. Berani? " , tantangnya.
"Sure, why not? Kamu tidak merepotkanku sampai saat ini! ", balas Andre.
" Kamu harus mau menjadi kekasihku. Dan aku sangat menuntut terhadap orang yang kucintai, kau tahu? Kamu harus selalu beritahu aku rencanamu dan kamu tidak boleh pergi kalau saya tidak membolehkanmu", jawab Caroline sambil mendekati Andre dengan wajah menantang.
Caroline tidak menyadari bahwa wajahnya kini semakin imut saat di mata Andre.
"Hei! Saya tahu apa yang kamu pikirkan! ", bisik energi itu agak ketus pada Andre.
Andre berpura-pura batuk menutupi rasa malu karena ada yang mengetahui pikirannya.
"Kamu tahu, posesif akan mendekatkan pada kehancuran sepasang kekasih! ",tegur Andre pada Caroline sekaligus pada energi yang mengaku dulu kekasih Caroline. " Kamu suka kunang-kunang. Katakan sejujurnya. Dan katakan alasannya", lanjut Andre.
Mata Caroline membesar. Mulutnya terbuka. Sedetik kemudian, Caroline bergerak mundur ke arah pinggir sungai.
Andre terkejut. "Caroline, hentikan! Jangan mundur nanti kamu terjatuh!"
Tapi Caroline tidak mengindahkannya. Air mata menggenang di matanya.
"TIDAK!!! Cepat! Biarkan saya menyatu denganmu!", teriak energi itu kini.
"Caroline! Saya akan jadi kekasihmu. Kamu boleh posesif pada saya. Tadi saya bercanda! ", teriak Andre lagi, mengacuhkan energi itu.
"SETIAP TAHUN DIA MELAKUKANNYA! DIA AKAN MELOMPAT KE SUNGAI INI! Karena saya mati di sini sepuluh tahun lalu, dan dia menyalahkan dirinya!!!"
"MENYATULAH DENGANKU!", Andre mengizinkan energi dingin itu.
Jam Bigben menunjukkan waktu 11.11 malam.
"OLINE! OLINE, HENTIKAN LOVE!"
Caroline sudah ditepi Sungai Thames dan sudah mau menjatuhkan dirinya ke sungai yang deras dan dingin itu. Tapi dia tertegun mendengar panggilan Andre padanya.
"Kamu panggil apa saya? ", tanyanya pada Andre yang kini bersama Ben.
"INI SAYA BEN, OLINE! HENTIKAN MENYALAHKAN DIRIMU ... ", Ben menghampiri Caroline. Telapak tangannya terulur pada Caroline.
"Kamu bilang kalau aku seperti kunang-kunang, Oline"
Caroline menerima uluran tangan Ben yang kemudian menariknya ke pelukannya.
"Ben? Kamu benar Ben?"
"Aku, Ben. Oline.. "
"Aku merindukanmu, Ben!"
"Oline, kamu secantik bayanganku sebelas tahun lalu! Hentikan perasaan bersalahmu!"
"Ben, aku bersenang-senang liburan sementara kamu bekerja sampai kamu bertemu pembunuhmu. Aku seharusnya tidak pergi liburan waktu itu... ", tangisan Caroline meledak.
"Tidak.. tidak.. Oline, tatap aku". Andre tercekat mendengar kisah mereka berdua. Dia pun membiarkan energi dingin itu menguasai tubuhnya.
Kini Ben mampu memperlihatkan wajahnya pada Caroline. Hal itu menambah deras air mata Caroline.
"Ini memang kau, Ben. I love You, Ben", tangis Caroline sambil memegang kedua pipi Ben.
Sebelas tahun lalu saat lulus SMA, Caroline mendapat hadiah berlibur ke Indonesia dari orang tuanya. Sementara Ben bekerja magang di suatu media cetak. Pada saat perjalanan pulang dari kantor redaksi, bulan nampak indah sekali.
Ben menghentikan kendaraannya di tepi sungai Thames saat itu.
Ben memotret dirinya dengan latar belakang bulan dan sungai Thames. Lalu ia mengirimkannya pada Caroline. Dan ternyata itu menjadi foto terakhir yang Ben kirimkan pada Caroline.
Pada saat itulah kematian menimpa Ben. Keesokan harinya, Ben ditemukan tewas tertusuk pisau. Dan tim forensik kepolisian menetapkan waktu kematian Ben jam 11.11 malam pada tanggal 11 bulan 11 tahun 2009.
Hal itu sangat memukul Caroline. Karena Ben yang tiga tahun lebih tua darinya menunjukkan banyak hal-hal baru baginya. Selalu menjaga perasaannya dan mencintainya.
"Oline,cintaku padamu tidak berkurang sedikitpun. Aku tahu kau pun sama. Tapi Oline, ingat ini. Mencintai laki-laki lain yang baik, tidak berarti kau melupakanku, Oline. Cinta baru akan melengkapi cinta lama yang ada dalam hati kita. Aku tak bisa lagi menemani langkahmu, tapi cinta dan doaku menjagamu", ujar Ben lembut pada Caroline.
Ben mencium bibir Caroline dengan lembut.
"Berjanjilah padaku, Oline. Hentikan rasa bersalahmu. Ini sudah sebelas tahun lewat. Temukan cinta barumu", Ben menatap Caroline dalam-dalam.
Caroline menggelengkan kepalanya. " Please Oline. Biar kutemukan ketenanganku", pinta Ben sendu.
"Ketenanganmu?.. Ben...Tidak terpikir olehku bahwa kau... ". Caroline memejamkan matanya.
Pedih hatinya membayangkan Ben yang tidak tenang karena dirinya.
"Ben, aku akan... ", bahu Caroline bergetar karena tangisnya yang tidak bersuara. Disandarkannya pucuk kepalanya ke dada Ben. Ben memeluk tubuh kekasihnya itu.
Jam menunjukkan 11.45 malam.
".. aku akan selalu mengingatmu. Akan selalu mencintaimu. Pergilah dengan tenang. Aku akan mengingat permintaanmu ini", bisik Caroline sangat pelan.
Jam menunjukkan 11.55 malam sebentar lagi hari akan berganti.
"Kenanglah hari ini sebagai hari perjanjian kita Oline. I love You... "
Ben mengecup telapak tangan Caroline. Dan seiring dengan pergantian hari Ben pun meninggalkan tubuh Andre.
"Terima kasih, kutitipkan dia padamu", bisik Ben pada Andre.
Bigben menunjukkan waktu 00.01.
TAMAT
Klik tanda like dan simbol hati ya. Juga bagi pada siapapun yang kalian kira akan menyukai cerita ini yaa
Terima kasih banyak atas dukungannya🥰😘