Ada seorang wanita yang menambahkan saya di WhatsApp dan mengirimkan foto ke saya, "Suamimu sedang memotong mangga untukku."
Ketika kami bertemu, dia mengatakan bahwa di hadapan cinta, dia dan saya setara, juga bilang suamiku merasa tertekan ketika bersama dengan saya.
Saya merasa tak berdaya.
Tetapi, saya ingin membuatnya sepenuhnya memahami bahwa cinta itu tak berharga.
1
Saya bersama suamiku bukan karena dia begitu luar biasa, tetapi karena dia memperlakukan saya dengan baik.
Saya berpikir bahwa saya akan terus dimanjakan.
Sejak kecil, saya tahu bahwa saya akan hidup senang tanpa bekerja. Ayah saya, seorang manajer dari salah satu perusahaan real estate terbesar, memiliki aset yang cukup untuk memenuhi hidup saya seumur hidup, bahkan dapat hidup mewah.
Saya dan suamiku saling mengenal saat magang di kuliah tahun keempat. Saat itu, dia bertanggung jawab atas kerja sama bisnis sebagai pihak tuan rumah dalam sebuah konferensi industri psikologi, sedangkan saya hanyalah seorang karyawan biasa.
Pria tersebut memberikan kartu namanya kepada saya, Direktur Bisnis, Ikbal Winarta.
Kemudian, dia menambahkan WhatsApp saya.
Lalu, dia mulai mendekati saya.
Ikbal adalah pacar yang sangat perhatian.
Dia selalu ingat tanggal saya menstruasi, lalu menyiapkan termos berisi air gula merah dalam tas saya.
Dia akan mendampingi saya berbelanja, memberi banyak saran ketika saya mencoba pakaian, tidak seperti pria maskulin.
Dia juga sering memberi orang tua saya hadiah. Oh ya, kalau saya ada pacar, bagaimana mungkin saya melupakan orang tua saya.
Akhirnya, saya dan Ikbal menikah dengan senang, seperti yang diharapkan oleh ayah ibu saya.
Di pernikahan kami, saya mendengar pembicaraan orang lain, "Sayang sekali, semua kekayaan Pak Max akan jatuh ke orang luar yang tidak punya apa-apa."
Namun, kita memiliki cinta!
Memang orang-orang kampungan!
2
Cinta ini, satu bulan yang lalu langsung mengungkapkan sisi tergelapnya, memaksa saya melihat kehancuran itu.
Pada hari itu, setelah menyelesaikan sebuah konsultasi, saya membuka ponsel dan melihat bahwa seorang wanita telah menambahkan nomor WhatsApp saya.
Tapi, dia tidak menyapa, hanya mengirimkan sebuah foto kepada saya.
Di foto itu, seorang pria sedang membungkukkan kepala dan memotong buah mangga berwarna kuning menggunakan pisau. Wajahnya tidak terlihat jelas.
Kemudian, dia mengirim pesan lagi.
"Suamimu sedang memotong mangga untukku."
Saat itu, saya merasa tak bisa bernapas.
Pria itu adalah Ikbal.
Dia memiliki bekas luka di bagian tangan kirinya seperti yang terlihat dalam foto.
WhatsApp dari orang yang menambahkan saya tidak ada apa-apa, foto profilnya berupa kotak berwarna putih, tidak ada motto atau postingan di story pertemanan, bahkan nomor WhatsApp-nya adalah nomor palsu.
Saya memikirkannya berulang kali, lalu mengirimkan pesan, "Siapa kamu?"
Tapi setelah menunggu agak lama, tidak ada balasan dari dia.
3
Setelah lulus, saya membuka praktik konsultasi psikologi sendiri di Patanama. Ini adalah uang dari ayah saya, tetapi sampai saat ini bisnisnya belum bagus.
Semua orang bilang, saya hidup terlalu baik, memiliki orang tua yang begitu baik, memiliki suami yang memanjakan saya.
Orang itu hanya mengirimkan sebuah foto, apa yang bisa saya simpulkan dari itu?
Tapi saya benar-benar panik.
Malam itu, saya mengirimkan pesan kepada orang itu.
"Mari kita bertemu."
Dia sangat lama baru balas.
"Baiklah, di kantor kamu saja."
Dia bahkan tahu tempat kerjaku, tapi saya tidak tahu apakah orang itu pria atau wanita.
"Oke, pada hari Senin pukul empat sore."
Hari itu, janjiku sudah penuh, tapi hanya waktu itu yang kosong.
Sampai pukul tiga sore, seorang gadis asing duduk di area tunggu kantor.
Hanya dengan sekilas pandang, saya sudah tahu siapa dia.
Rambut panjang terurai, mengenakan gaun panjang berbahan linen, tidak mengenakan aksesori apa pun, penampilannya seperti seorang mahasiswi.
Kulitnya sangat putih, dadanya bergetar ketika dia mengangkat kepala untuk melihatku, tapi malah mengeluarkan aura yang memesona.
Inilah karakter yang disukai oleh Ikbal.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam, dia duduk di depanku tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Setiap orang memiliki hak untuk mengejar cinta, benar tidak?"
4
Saya tetap duduk tegak, tapi kalimat pertama yang diucapkannya ini membuat saya terkejut.
Saya sama sekali tidak menyangka percakapan kali ini akan dimulai seperti ini.
"Kamu tidak berniat memperkenalkan diri terlebih dahulu?"
Dia bilang namanya Kristin Makmur, saya menduga itu adalah nama samaran.
Berumur 22 tahun, kuliah tahun keempat, sekolahnya di Universitas Ikata, dari logat bicaranya, saya tahu kalau dia bukan penduduk sini.
"Hak asasi manusia, meskipun ada pembatasan dalam institusi pernikahan, seseorang tetap memiliki hak untuk mengejar cinta dengan berani dan bebas."
"Semua manusia dilahirkan setara, di dunia ini seharusnya tidak ada pernikahan."
"Di hadapan cinta, saya dan kamu berada pada posisi yang sama!!!"
Semakin dia bicara, semakin terbawa emosinya, setiap kata yang diucapkannya seperti sedang menantangku. Apa yang dia katakan benar, Ikbal juga tidak salah, cinta juga tidak salah.
Yang salah adalah saya.
Saya memang salah.
Saya sengaja menjatuhkan pena yang berada di tanganku, lalu membungkuk untuk mengambilnya sambil berkata, "Biarkan saya mengambil pena ini dulu."
Kemudian, saya mengambil inisiatif untuk berbicara.
"Apakah zodiak kamu adalah Aquarius?"
Dia terdiam, tidak menyangka saya tiba-tiba bertanya seperti itu, tapi dia tetap menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Bagaimana kamu tahu?"
Karena saya juga berzodiak Aquarius, di masa kuliah saya begitu romantis. Segala macam kisah patah hati, sepertinya cocok untuk menggambarkan pandangan cintaku saat itu.
Kristin tampaknya tidak senang karena saya dengan mudahnya dapat mengertinya. Selain itu, dia tidak senang dengan sikap acuh tak acuhku. Ekspresinya menjadi lebih masam.
"Apakah kamu bisa membiarkannya berpisah denganmu? Juga membiarkanmu mengakhiri hubungan ini? Jangan lagi saling menguras energi, serta menambah kebencian lagi."
5
"Apa yang membuatmu menyukainya?"
Kristin menundukkan kepala dan wajahnya merah.
Dia bertemu Ikbal di sebuah festival musik, dia pertama kalinya melihat pria yang begitu murung. Semua orang sedang bersenang-senang, tetapi hanya dia yang berdiri sendiri di luar sambil merokok dengan banyak pikiran dan tatapan yang mendalam.
Pada hari itu, ada enam orang yang meminta WhatsApp Kristin, tetapi hanya Ikbal yang memperingatkannya untuk kembali ke sekolah lebih awal, bahkan dia berkata bahwa seorang gadis yang sendirian di luar sangat berbahaya.
Ikbal mengusulkan untuk mengantarkan Kristin pulang ke sekolah, membantunya membuka pintu mobil, juga mengenakan sabuk pengaman, bahkan melihat dia hingga masuk gedung asrama.
Sejak saat itu, dia jatuh cinta pada kepedulian Ikbal.
Setiap kali mereka berdua keluar, Ikbal selalu melindungi dia dari belakang.
Mendengarkan semua kenangan manis mereka, saya hanya merasakan ironi.
Meskipun Kristin memang lucu, percaya pada kelembutan yang diberikan seorang pria yang sudah menikah.
Tetapi yang lebih lucu adalah diriku sendiri, bukan?
Saya pikir semua ini adalah cinta.
6
"Apakah kamu melihat cincin pernikahan di tangannya?"
Saya langsung bertanya.
Tetapi Kristin ragu, matanya tanpa sadar melirik ke tempat lain.
"Tapi dia bilang pernikahan kalian sudah tidak berarti lagi, dia pasti akan bercerai denganmu!"
Oh.
Ternyata bukanlah kasihan.
Tetapi bodoh.
"Apa dia pernah menyebutkan kapan akan bercerai dengan saya?"
"Ketika ibumu sembuh, itu adalah saat dia meninggalkan keluarga ini!"
Penyakit ibuku?
Melihat ekspresi kebingungan di wajahku, Kristin berkata lagi.
"Biarkan Ikbal bercerai denganmu. Saya bisa kehilangan segalanya, tetapi saya tidak bisa kehilangan cinta ini."
Saya melihat wajahnya yang penuh dengan air mata tanpa ekspresi.
"Kamu harus menyetujui tiga hal padaku. Jika kamu masih mencintainya seperti sekarang, setelah menyelesaikan ketiga hal tersebut, saya akan pergi. Tapi, semua ini harus dirahasiakan."
Pada saat itu, mata Kristin langsung berbinar, tetapi dia tidak langsung menjawab.
"Tidak melanggar hukum, tidak melanggar etika. Jika kamu tidak ingin melakukannya, kamu dapat menolaknya kapan saja."
"Baiklah! Kamu tidak boleh ingkar janji!"
Kesepakatan telah dicapai.
Kristin dengan angkuh meninggalkan tempat itu.
7
Pesan WhatsApp dari Kristin juga muncul di ponselku.
"Sudah disepakati, kita bertemu malam ini."
Dalam tiga hal yang dibicarakan dengan Kristin sebelumnya, yang pertama adalah mengatur pertemuan dengan Ikbal pada waktu yang telah ditentukan.
Pertemuan harus dilakukan langsung setelah pulang kerja pada hari penerimaan laporan pemeriksaan kesehatan.
Pukul sebelas malam, Ikbal pulang ke rumah dengan semangat yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Saya pura-pura tidak melihatnya, berperan sebagai seorang putri yang peduli dengan kesehatan ibu.
"Tunjukkan laporan pemeriksaan itu padaku. Baik-baik saja, 'kan?"
"Baik-baik saja."
Lalu, dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya, dokumen itu sudah kusut.
Seperti yang kusangka.
Saya membawa laporan tersebut ke ruang kerja, membuka komputer dan mencari istilah medis yang tidak saya mengerti.
Saya juga mengirim pesan WhatsApp kepada Kristin.
Meskipun melihat hasil pemeriksaan, Kristin masih percaya pada omong kosong pria bejat itu.
8
Kristin datang ke kantorku lagi.
Saya mengeluarkan sebuah bungkus dokumen transparan yang berisi hasil tes laboratorium yang telah diganti namanya, serta alat tes kehamilan.
Ketika saya menunjukkan padanya, dia langsung pasrah dan suaranya meninggi.
"Apakah kamu hamil?"
"Bukan saya, melainkan kamu."
Hal kedua, adalah memberi tahu Ikbal bahwa Kristin hamil.
Setelah mendengarkannya, Kristin ragu.
Jika itu terjadi sebelum langkah pertama, Kristin yang berdebat denganku tentang "setiap orang memiliki hak untuk mengejar cinta" pasti akan melakukannya tanpa ragu-ragu, bahkan mulai memikirkan adegan Ikbal segera bercerai dan menikahinya.
Tapi sekarang, dia kehilangan keyakinan itu.
Namun, Kristin tetap setuju.
Dua hari kemudian, sesuai rencana, Ikbar lembur.
Kristin memberitahukan Ikbal tentang kehamilannya.
"Kakak, ayo kita menikah."
Ikbal tidak menjawab.
Lalu, sebelum Kristin bertanya lebih lanjut, percakapan sudah diakhiri.
"Tunggu kabar dariku dulu."
Kemudian terdengar suara pintu ditutup, serta suara tangisan Kristin.
9
Setelah itu, selama tiga hari, Kristin tidak menghubungi saya dan Ikbal tidak pernah mengunjungi Kristin lagi.
Hanya saja, Ikbal semakin banyak merokok, setiap malam dia akan mengerutkan kening di balkon sambil mengembuskan asap, tangannya masih memegang ponsel dengan layar menyala.
Hari keempat, Kristin masuk ke kantor saya dengan marah, melewati meja resepsionis dan masuk begitu saja.
"Apakah kamu memberi tahu Ikbal sesuatu?"
Saya terlihat kebingungan.
Saya dengan tulus menjawab, "Tidak ada yang saya katakan."
Setelah mendengar ini, Kristin memandang saya dengan mata terbelalak, air matanya terus mengalir.
"Dia sudah seharian tidak membalas pesanku, tadi malam, tadi malam, dia masih mengucapkan selamat malam kepada saya!"
Kristin menjadi seorang yang ditinggalkan.
"Ikbal tidak akan membiarkanmu melahirkan anak, apalagi menikahimu, bahkan tidak akan mencintaimu."
Saya langsung menghancurkan harapan terakhir dalam hati Kristin.
"Karena kamu lebih kaya daripada saya, karena kamu bisa bekerja di kantor yang bagus, karena kamu lebih ... lebih ..."
Kristin tidak bisa melanjutkan ucapan tersebut. Dia merasa rendah diri, saya menduga kata ini mungkin merupakan sesuatu yang tidak mungkin bisa dia capai.
"Apakah hanya karena hal-hal itu, Ikbal akan mencintaimu?"
Saya menundukkan kepala untuk melihat foto keluarga saya, Ikbal dan orang tuaku yang di atas meja.
Mungkin dia mencintai ayahku.
Mencintai identitas dan statusnya, sekalian mencintai saya yang satu-satunya anak perempuan dari ayahku.
10
"Apakah kamu masih ingin melakukan langkah ketiga?"
Kristin ragu, lalu menggelengkan kepalanya secara naluriah.
Tapi, saya ingin melanjutkannya.
Saya menatap mata Kristin, juga menunjukkan arogansi seorang elite, lalu berbicara dengan nada suara yang tidak boleh dibantah.
"Langkah ketiga akan membuatmu tahu, siapa sebenarnya yang dicintai oleh Ikbal."
11
Kristin menunggu Ikbal selama tiga jam di lobi lantai satu perusahaan.
Saya juga menunggu selama tiga jam, di belakang tanaman hijau kafe lantai satu.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Bukankah saya sudah bilang untuk menunggu pesanku? Mengapa kamu datang ke sini sekarang?"
Suara Ikbal penuh dengan kejengkelan yang tidak terbendung.
Kemudian, dia mendekati Kristin dengan suara yang dingin.
"Gugurkan anak ini, uangnya akan kusediakan. Taatilah, mengerti tidak?"
Kristin ketakutan, dia tidak tahu harus berkata apa.
Meskipun di hadapannya adalah orang yang dia cintai, ketika seorang pria benar-benar marah, wanita juga merasa takut secara naluri, takut dia akan memukulnya, bahkan melakukan tindakan yang lebih kejam.
Ikbal menundukkan kepala sambil melihat Kristin yang berada di lantai, nada bicaranya seperti mengusir pengemis yang mengganggu.
"Tidak mengerti bahasa manusia?"
12
Keesokan harinya, saya menerima pesan WhatsApp dari Kristin.
"Tolong saya."
Kali ini, kami janjian di apartemen yang disewa oleh Kristin.
Saat saya memperhatikan tubuh Kristin, saya terkejut. Tangannya ada memar yang jelas dan dahinya bengkak.
"Malam kemarin, dia datang."
"Apakah dia memukulmu?"
Saya melihat luka di tubuhnya dan bertanya.
Kristin terlihat tertekan, menggeleng dan mengangguk, akhirnya menundukkan kepalanya.
Hal ketiga adalah membiarkan Kristin meminjam uang dari Ikbal, tidak banyak, hanya 200 juta.
Alasannya adalah, tidak hanya karena dia harus menggugurkan kandungan, tetapi juga karena orang tua di rumah mengalami kecelakaan, jadi membutuhkan biaya operasi.
Setelah mendengar ini, Ikbal akhirnya berhenti melontarkan makian dan segera tenang.
"Saya akan mengatur semuanya."
Kristin memercayainya.
Namun, keesokan harinya, Ikbal mengabaikan Kristin, bahkan memblokir nomornya. Ditelepon juga, tidak bisa diterima.
13
Bulan Juli, itu adalah hari kelulusan Kristin.
Ini juga hari ulang tahun ayah saya yang berzodiak Kanker, karena pandemi, juga karena pengaturan khusus dari saya, kami hanya merayakannya bersama keluarga.
Pukul delapan, Kristin dengan tepat waktu membuka pintu ruang makan.
Di dalam ruangan, kecuali saya, ketiga orang lainnya terkesiap.
Wajah Ikbal memucat begitu melihat Kristin.
Ikbal segera bertindak, "Dari mana kamu? Salah masuk ruangan? Tidak melihat ada orang di sini?"
Selesai berbicara, dia pun mendorong Kristin keluar.
Kristin segera melawan, lalu berkata pada Ikbal dengan kejam.
"Ayahku terluka dan butuh biaya operasi, saya juga butuh biaya aborsi, biaya nutrisi, kerugian psikologis. Setelah memberiku 200 juta, saya tidak akan mengganggumu lagi!"
Kristin menatapku lalu berkata, "Suamimu berselingkuh, inilah buktinya."
Dia seperti mencurahkan isi hati, lalu dia melihat Ikbal dan berkata, "Jika kamu tidak memberikan uang, saya akan memberikan laporan ini kepadanya."
Ayahku menatap Ikbal dengan tajam, lalu bertanya.
"Apa itu benar?"
Ikbal pun panik, suaranya bahkan terdengar menangis.
Kemudian, dia berlutut.
"Ayah, saya sudah tahu salah. Sayang, waktu itu saya hanya ceroboh saja, saya berjanji tidak akan melakukannya lagi, sungguh. Saya berengsek, patut mati."
Ayah dan ibu juga menunggu jawaban dari saya.
"Baiklah, mari kita cerai."
Ikbal merangkak untuk berlutut di dekat kakiku, "Sayang, saya mencintaimu, saya tidak ingin bercerai denganmu, setelah kamu pergi, tidak ada yang akan menjagamu."
"Saya tidak sedang bernegosiasi denganmu." Setelah itu, saya langsung berdiri dan pergi.
Dengan bantuan ayahku, Ikbal menyetujui perceraian kami.
Kristin juga lulus.
"Berikan saya nomor rekeningmu."
"Untuk apa?"
"Uang 200 juta itu, saya akan berikan padamu."
"Saya tidak mau, itu bukan uang yang harus kudapatkan."
"Baiklah."