Maaf, ayah dan ibu, aku sudah mencoba yang terbaik untuk tetap hidup.
Di atas meja tersisa setengah botol obat tidur, tanpa pikir panjang, aku menelannya semua.
Tiba-tiba ada pesan masuk di WhatsApp, pesan itu dari wakil ketua kelasku.
"Kamu sedang mencari anjingmu, ya? Lihatlah, di sini ia."
Mata berkaca-kaca Koli menatap kamera, tiga murid teladan di kelasku memegang pisau kecil, lalu menyayatnya sekali demi sekali.
Darah terus mengalir sampai membasahi bulu putihnya.
Mereka tertawa terbahak-bahak sampai Koli mati.
Uek...
Uek uek...
Aku mengoreknya!
Tanganku menjulur ke mulut, mencoba mengorek keluar obat tidur yang sudah tertelan.
1
Ketika ayah dan ibu masuk ke kamarku, aku masih muntah-muntah.
Setelah berjuang sebentar, ayah dan ibu membawaku ke luar dan segera menuju rumah sakit.
Dokter mengatakan, untung saja aku dibawa ke rumah sakit dengan cepat dan sudah memuntahkan sebagian obat tidur, kalau tidak, aku tidak akan selamat.
Aku tidak boleh mati.
Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka!
Mengapa mereka menyiksa Koli, anjingku?!
Mengapa mereka membunuh Koli?!
Aku harus kembali!
Jika itu adalah neraka, aku akan mati bersama mereka!
2
Seperti biasa, aku masuk kelas dari pintu belakang dengan kepala tertunduk.
Setelah dilihat orang, sekitarku langsung berbisik-bisik, aku dapat mendengar kata-kata seperti "Oliv", "Obat", "Tidak Mati" dari suara kecil mereka.
Aku berjalan menuju kursiku di barisan belakang, tetapi teman di depanku menepuk bahu orang di sebelahnya dan menatapku sambil berbisik-bisik dengan mereka.
"Hei, Oliv."
"Bukankah kamu mencoba bunuh diri dengan obat tidur? Oh, dosisnya tidak cukup, ya?"
Cindy menopang satu tangan di atas mejaku dan memiringkan kepalanya sambil menatapku, kuncirnya yang panjang mendarat di mejaku.
Baru setengah hari, mereka sudah tidak tahan.
Ketika aku kembali dari toilet, aku melihat genangan berwarna merah darah di kursi yang tidak jauh dariku, warna merahnya agak hitam. Aku bernapas terengah-engah. Setelah aku melihat darah itu, aku teringat, bagaimana anjingku mati dengan tampak mengenaskan.
Bang!
Aku membanting kotak pensil ke meja. Seketika ruang kelas menjadi hening, juga ada beberapa orang menatapku dengan kaget.
"Siapa yang melakukannya?"
Kring, kring, kring ...
Nanti adalah pelajaran wali kelas. Tidak ada yang menjawab, mereka semua segera kembali ke tempat duduk mereka.
"Oliv, kenapa kamu masih berdiri? Kelas sudah dimulai, jangan menunda waktu orang belajar!"
Tidak ada keadilan.
"Bu, apakah Anda mencoba menyemangati perbuat onar semacam ini?"
"Hari ini kursiku yang diwarnai, besok kursi siapa? Mungkinkah kursi Cindy?"
Aku menunggu reaksi wali kelas. Jika dia tidak mengatasinya, hal yang sama bisa terjadi pada murid-muridnya yang baik.
Setelah diam beberapa detik.
Wali kelas akhirnya bertanya dengan raut wajah serius, "Siapa yang melakukan ini?"
Tidak ada yang berbicara.
"Kelak tidak ada yang boleh melakukan hal semacam ini," kata wali kelas sambil mengambil buku pelajaran di atas meja. "PR hari ini, buku latihan akan ditambah dari 32-33 menjadi 32-35, ditambah dengan menyalin teks pendek sebanyak sepuluh kali."
"Jika tidak ada yang mengakui kesalahan, seluruh kelas akan dihukum bersama-sama. Jika hal itu terjadi lagi, PR akan dilipatgandakan dari biasanya."
Ternyata aku tidak perlu mendapat ucapan minta maaf karena telah ditindas.
Ternyata di mata guru, ditindas adalah perilaku yang salah dan harus dihukum.
Setelah bel berbunyi, guru keluar dari kelas. Detik berikutnya terdengar suara keluhan dari dalam kelas.
Saat aku kembali dari membuang sampah, aku mendengar seseorang di sebelahku mengomel, "Hari ini, si jelek ini sangat aneh, apa dia kerasukan?"
"Mungkin saja, rumahnya tidak jauh dari gedung besar itu, 'kan?"
"Jangan cerita lagi, ngeri sekali."
3
"Gedung besar itu" adalah sebuah bangunan yang terbengkalai.
Sudah lama terbengkalai dan kabarnya akan dirobohkan dan dibangun kembali, tapi sampai sekarang tidak ada perkembangan.
Siswa di sekolah kami suka membuat rumor, mengatakan bahwa tempat itu ada hantu.
Ketika orang melewati depan gedung di malam hari, ada yang mendengar suara tangisan wanita. Kemudian, ada bayangan berwarna merah yang melayang sambil bertanya, "Di mana anakku?"
Wanita itu memegang boneka kain yang robek dan pisau tajam, wajahnya terus mengalir darah dan sangat menakutkan. Setelah melihat itu, malam itu pria itu langsung sakit, kemudian melompat dari gedung dengan memeluk boneka.
Masih ada rumor lain, rumor itu tersebar lebih mengerikan.
Karena terpencil dan angker, harga sewa di sana lebih murah.
"Oliv, kami akan datang mencarimu Sabtu malam, jangan bilang tidak boleh."
Cindy berkata dengan suara pelan, "Jika kamu tidak datang, aku jamin seluruh sekolah akan melihat foto telanjangmu."
Karena foto itu, aku tidak pernah berani melawan. Setiap kali Cindy memukulku atau Nikita memintaku melakukan sesuatu, aku hanya bisa patuh saja.
Tapi, tidak perlu menolak dalam hal ini.
"Baiklah."
Aku menjawab dengan satu kata dan lanjut mengerjakan soal latihanku.
Jika gedung terbengkelai itu benar-benar ada hantu, aku berharap mereka semua mati di sana.
4
Kita masuk ke sebuah ruangan di lantai dua, begitu masuk, Cindy berteriak kaget.
Aku baru saja berbalik, ketiga orang itu berlari keluar dari pintu salon, bahkan tidak lupa mengunci pintunya. Sepertinya mereka membawa kunci itu sendiri untuk mengurungku di sini, karena pintu di sini sudah tidak bisa dikunci lagi.
Tapi apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa tempat ini dekat dengan rumahku, jadi aku sudah pernah ke sini sebelumnya?
Aku memakai celemek di salon yang terkena cat merah, lalu membawa kepala boneka palsu keluar dari pintu belakang salon.
"Uh ..."
Angin malam ini cukup kencang, jadi sulit membedakan suara angin atau tangisan seseorang.
Mereka melihatku, lebih tepatnya, mereka melihat seorang wanita berbaju merah berambut acak-acakan berdiri di tangga yang jauh dari mereka.
Cindy ketakutan sampai duduk di lantai, Calvin mengabaikannya, hanya menarik Nikita dan berlari.
Cindy berlari tanpa henti, tapi dia tersesat di dalam. Sebentar bertemu dengan mata panda yang berkilauan, sebentar menginjak boneka kain yang aneh, sebentar bertemu dengan aku yang mengenakan pakain merah putih.