Setelah menghindari Albert selama lima tahun, Tina tidak pernah menyangka bahwa mereka akan bertemu kembali dengan cara yang tidak terduga. Saat itu, Albert adalah idola yang populer, sementara Tina adalah orang biasa yang tidak penting. Tina berpikir bahwa Albert membencinya, seperti akhir yang menyedihkan bertahun-tahun yang lalu.
Namun, pria itu tiba-tiba memeluk Tina untuk menunjukkan rasa cintanya. Albert bahkan mengakui keengganannya untuk melepaskan Tina. Albert, betapa beruntungnya aku karena memiliki cintamu. Kali ini, aku akan berani dan tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.
1
Saat pintu lift terbuka, Tina melihat dua orang pria di dalamnya. Seketika itu juga, wajah Tina memucat. Wanita itu bertindak lebih cepat daripada reaksi pikirannya. Dia berbalik dan mencoba lari, tetapi pria dengan kaki jenjang dan tangan panjang itu langsung meraih tubuhnya.
Ketika mereka saling menatap selama beberapa saat, Albert melihat ekspresi terkejut di wajah Tina, rona merah di pipinya, dan niatnya untuk melarikan diri. Secara naluriah, Albert mengulurkan tangan untuk meraihnya.
"Tina, kamu pikir kamu mau pergi ke mana?" Albert mencengkeram pergelangan tangan Tina, memaksa wanita itu untuk menatapnya.
Tina tidak berani memandangnya, tatapannya tertuju pada tangan Albert yang mencengkeram tangannya.
"Albert, jangan melupakan identitasmu."
Suara tidak senang Brandon terdengar, menarik Tina kembali dari pikirannya yang kacau.
Tina melirik ke arah lobi yang ramai tidak jauh dari sana dan menyadari sesuatu. Mengingat status dan identitas Albert saat ini, tidak pantas bagi mereka untuk bertengkar di depan umum. Dia mengerahkan kekuatan di pergelangan tangannya sekali lagi, berusaha melepaskan diri dari genggaman Albert.
"Tuan Brandon, Tuan Albert .... Halo, saya ...."
Sebelum Tina bisa menyelesaikan kalimatnya, tindakan Albert tiba-tiba menginterupsinya.
Albert melingkarkan tangannya yang lain di pinggang Tina dan menariknya lebih dekat. Saat ini, jarak di antara mereka hanya beberapa senti. Albert membungkuk untuk mencium pipi kiri dan kanan Tina.
Mata Tina langsung terbelalak. Dia tercengang selama beberapa saat hingga akhirnya mendengar Albert berkata, "Setelah lima tahun, akhirnya kita bertemu kembali. Kita telah berpisah untuk waktu yang lama. Jadi, ciuman seperti ini tidak berlebihkan, 'kan, Tina?"
Albert berbicara dengan santai, tetapi ucapannya itu membuat Tina terkejut. Pria itu masih menyalahkannya, selalu menyalahkannya.
2
Tina telah menghindari Albert selama lima tahun.
Tina terpaksa melakukan itu karena dia telah membohongi Albert.
Karena Albert berkata bahwa dia membenci Tina. Benci, bukan tidak suka.
Sampai sekarang, Tina masih mengingat kata-kata Albert dengan jelas, "Tina, aku membencimu." Pria itu mengucapkan hal itu dengan mata merah dan tatapan yang sangat dingin.
Albert bukanlah seseorang yang mudah mengekspresikan emosi. Dia bahkan tidak pernah repot-repot menunjukkan gejolak emosi ringan seperti "tidak suka", apalagi emosi yang intens seperti "cinta" dan "benci".
Dalam setiap kata-katanya, Albert adalah orang yang berdarah dingin. Dia terbiasa mandiri dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya, tidak pernah memberi atau meminta apa pun.
Namun, dia membuat pengecualian untuk Tina.
Dia memegang tangan Tina di kegelapan malam, melindunginya dengan payung selama dua hari, menyiapkan hadiah ulang tahun untuknya, dan mengabulkan tiga permintaannya. Albert juga mengajari Tina etika makan ala Barat, melukis, dan menemaninya belajar berenang.
Dia memberi tahu Tina, "Hal-hal yang kamu sukai, selain aku, aku mungkin tidak menyukainya, tetapi hal-hal yang kamu tidak suka, aku pasti akan membencinya sampai ke inti."
Dia memberinya semua kehangatan masa mudanya, mencurahkan isi hatinya yang tulus seperti seorang remaja yang berbakti, namun pada akhirnya berakhir dengan kebencian.
3
Tina berdiri di antara kedua pria itu, tidak yakin apakah kehadirannya membuat mereka canggung seperti ini atau apakah mereka sudah berkelahi sejak tadi.
Begitu melihat seseorang berjalan ke lift dan mengenali Albert, Brandon tidak ingin berdebat dengannya lagi. Dia melirik tangan Albert yang masih melingkari pinggang Tina dan mengatakan, "Hati-hati. Jangan melewati batasan." Setelah itu, dia langsung pergi.
Albert menyeret Tina menuju lift tanpa mengangkat kepalanya.
Tina mendadak lupa akan tugas mengirimkan dokumen kepada manajer. Dia meronta, ingin meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Dia belum siap menghadapi Albert.
Albert mengencangkan cengkeramannya di pinggang Tina dan mengancam, "Kalau kamu ingin aku mengungkap hubungan kita di depan umum, kamu bisa mencobanya. Kamu bisa lihat apa skandal ini bisa merusak server."
Tina menegang.
Dia paling tahu bahwa Albert adalah pria yang memegang kata-katanya. Tina langsung takut dan tidak berani mengabaikan konsekuensinya. Jadi, dia berhenti meronta dan membiarkan Albert setengah menyeretnya ke lift.
4
Saat ini, Albert adalah idola yang paling terkenal.
Tingginya 186 cm, dengan ketampanan yang memesona, pendidikan tinggi, dan latar belakang bersih sejak dia debut. Dia tidak terlibat dalam skandal atau gosip, menjadi angin segar di industri hiburan. Fans bahkan memanggilnya "idola sempurna".
Itu sebabnya, lima tahun terakhir ini tidak mudah bagi Tina.
Berita yang luar biasa itu tidak mungkin dia abaikan. Dia selalu mendengar dan memikirkan berita tersebut.
Namun, dia tidak punya pilihan selain menutup diri dari berita yang berhubungan dengannya.
Kalau tidak, Tina takut jika suatu hari dia akan menjadi gila dan melakukan sesuatu yang sembrono, hingga akhirnya membuat masalah bagi Albert.
Karena menutup diri dari berita tentang Albert, Tina tidak tahu bahwa Albert telah kembali ke Indonesia setelah lulus dan menjadi idola yang populer. Semuanya dimulai setelah program wawancara dan Tina tidak tahu apa arti episode itu baginya.
Acara televisi tersebut adalah program yang dibawakan oleh seorang presenter populer yang terkenal dengan gaya bertanyanya yang tajam dan pedas. Dia berkata kepada Albert, "Temperamenmu terlalu bersih, melankolis, dan tampan. Kamu sangat cocok dengan gambaran cinta pertama seorang wanita dalam sebuah novel. Tapi aku adalah kakak perempuan yang jahat. Aku ingin menanyakan pertanyaan pribadi dan kamu harus menjawabnya dengan jujur. Apa kamu masih memiliki ciuman pertama dan malam pertama?"
Saat itu, Albert menjawab tanpa ragu, "Ciuman pertamaku saat berusia 15 tahun. Aku belum bertemu lagi dengan orang yang ingin aku ajak tidur bersama dan aku tidak berniat untuk memilih orang lain."
Kata-katanya dielu-elukan sebagai salah satu kalimat paling klasik di era baru dan dia sendiri dicap sebagai "orang baik yang sangat penyayang." Jawabannya itu membuatnya mendapatkan popularitas yang tinggi.
5
"Bisakah aku pergi dan mengirimkan dokumen ke manajer terlebih dahulu?" Tina menggigit bibirnya dan berbicara dengan ragu-ragu. Pada akhirnya, dia menambahkan, "Aku berjanji akan segera kembali."
Tina mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh, bukan untuk melarikan diri dari Albert.
Awalnya, dia ingin melarikan diri karena dia yakin Albert tidak ingin melihatnya. Apalagi, reuni mereka begitu tiba-tiba dan membuat Tina lengah.
Namun, sekarang, entah Albert ingin memaafkannya atau membalas dendam, Tina ingin menghadapinya secara langsung. Bagaimana dia bisa melarikan diri dari semua ini?
Tina masih memiliki rambut sebahu yang sama seperti sebelumnya dan Albert merasakan ketenangan yang tak bisa dijelaskan. Dia mengenakan riasan tipis, menambahkan sentuhan profesionalisme pada penampilannya. Akan tetapi, wajahnya yang sebelumnya tembam menjadi lebih kurus, memperlihatkan dagu lancip yang membuat orang merasa kasihan padanya.
Melihat Albert mengerutkan alisnya, Tina mengira dia tidak setuju dan hendak berkata, "Lupakan saja." Akan tetapi, beberapa saat kemudian, Tina mendengar Albert bertanya, "Manajermu pria atau wanita?"
Tina tercengang sejenak, tetapi langsung mengerti dan mengklarifikasi dengan tergesa-gesa.
"Dia seorang wanita. Manajer kami adalah seorang wanita."
Setelah dia selesai berbicara, Albert melirik jam tangannya dan berkata, "Lima menit."
Tina mengangguk, berbalik, dan berjalan menuju lift. Ketika dia sampai di pintu masuk lift, dia tiba-tiba dipeluk dari belakang oleh Albert.
Dia melingkarkan lengannya di tubuh Tina dan meletakkan dagunya di bahu wanita itu. Albert tampak tak berdaya, tetapi sangat memanjakannya. Dia berkata, "Tina, aku berubah pikiran. Aku tidak tahan melihatmu menjauh dariku lagi."
Air mata langsung mengalir di wajah Tina dan dia tidak bisa memegang dokumen di tangannya. Dokumen itu langsung jatuh ke lantai.