Rachel Jola, seorang wanita lajang, selalu mengira dirinya menikahi seorang pria baik hingga pria itu mengatakan sebuah rahasia menjelang kematiannya.
Suatu hari pada April 2002, seorang mak comblang datang melamarku kepada ibuku.
Pria itu berusia 46 tahun dan merupakan seorang duda, sedangkan aku berusia 30 tahun dan belum menikah.
Si mak comblang dengan akrab berujar, "Dia itu seorang mekanik, tidak temperamental dan pandai mencari nafkah. Dia juga rajin. Waktu libur, dia sering menjadi ojek untuk mencari sampingan bagi keluarganya. Dia punya dua rumah berlantai tiga. Tahun lalu, istrinya meninggal. Walaupun dia punya seorang anak perempuan berusia 16 tahun, seharusnya anaknya akan menikah tak lama lagi. Dia tidak akan menjadi penghambat."
Aku duduk di samping dengan kepala menunduk tanpa bersuara. Ibuku terlihat sangat puas dengan lamaran ini. Dia membahas pengaturan ke depannya bersama si mak comblang.
Sebenarnya aku tahu bahwa ibuku tidak mempermasalahkan Noval Atmaja yang merupakan seorang duda beranak satu bukan karena latar belakangnya yang terbilang baik, melainkan karena "noda" yang ada dalam diriku.
Pada tahun 1996, aku yang berusia 24 tahun mengundurkan diri dari pabrik tempatku bekerja, kemudian dengan tenang menunggu di rumah hingga hari pernikahanku tiba. Suatu hari pada bulan Juli, aku mengalami percekcokan dengan ibuku, lalu aku pergi ke kota untuk menenangkan pikiran.
Hari itu bukan hari Minggu, bukan pula tanggal merah sehingga jalanan agak sepi. Aku berjalan dengan pikiran berkelana sehingga tanpa kusadari, aku tiba di sebuah gang yang terpencil.
Tiba-tiba, seseorang memelukku dari belakang. Sebelum aku bereaksi, pria ini melakban mulutku dan menutup kepalaku dengan karung. Setelah itu, dia menyeretku ke samping, lalu memperkosaku.
Semua ini terjadi terlalu cepat. Hingga malapetaka ini berakhir pun kurang dari 20 menit, seperti sebuah mimpi buruk. Tapi, rasa sakit pada tubuhku memberitahuku bahwa semua ini nyata.
Pria itu sudah menghilang. Setelah berpakaian, aku makin berpikir makin ketakutan. Aku keluar dari gang itu dengan langkah terhuyung, kemudian menangis dengan histeris di jalanan kota. Pejalan kaki yang lewat sesekali menoleh ke belakang, menatapku dengan aneh.
Aku mengabaikan semua itu. Aku duduk di lantai, memeluk lututku sambil menangis sejadi-jadinya.
Seorang ojek di bawah pohon beringin di ujung jalan mengasihaniku dan menawarkan untuk mengantarku pulang.
Zaman itu, transportasi umum sangat sedikit, tidak ada bus yang lewat dari desa kami. Cara tercepat untuk tiba kota dari desa adalah naik motor. Ojek yang mengantarku tadi pagi sudah menghilang, sedangkan ojek yang ada di depanku ini terlihat jujur.
Aku naik ke motornya, lalu menangis dalam diam. Di jalan, si ojek dengan perhatian bertanya kepadaku, "Apakah keluargamu mengalami masalah?" Aku hanya menangis tanpa bisa mengucapkan apa pun.
Setelah aku pulang, di bawah paksaan ibuku, aku pun menangis sambil menceritakan kejadian itu dan bersumpah akan menuntut penjahat kelamin itu.
Namun, ibuku tidak setuju. "Bagaimana kamu menuntutnya? Kamu bahkan tidak sempat melihat wajahnya! Selain itu, apakah kenyataan ini bisa berubah sekalipun kamu menuntutnya? Tiga bulan lagi kamu akan menikah. Kalau keluarga tunanganmu tahu, mungkinkah pernikahan kalian diteruskan? Kalau masalah ini tersebar, mungkin kamu tidak akan bisa mengangkat kepalamu lagi. Orang yang paling dirugikan adalah kamu. Selain itu, adikmu juga belum menikah. Kalau aib ini tersebar, mungkin dia tidak bisa mendapatkan suami yang baik."
Inti dari omongan panjang lebar ibuku adalah menyuruhku memendam masalah ini, tidak boleh mengatakannya kepada orang lain. Aku merasa sedih, tapi tidak berdaya.
Setelahnya, aku bersembunyi di rumah sepanjang hari. Setiap malam, aku bermimpi buruk. Begitu angin bertiup, aku langsung gemetar karena takut orang lain mengetahui kejadian hari itu.
Akan tetapi, sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Sebulan lebih kemudian, nafsu makanku menurun, perutku terasa tidak nyaman, lalu aku teringat bahwa aku tidak lagi datang bulan. Aku langsung memberi tahu ibuku tentang hal ini. Begitu mendengarnya, ibuku langsung membawaku ke rumah sakit.
Benar saja, hal yang paling menakutkan telah terjadi. Aku hamil.
Karena terpaksa, ibuku hanya bisa membawaku pergi melakukan aborsi.
Saat dokter sedang menjelaskan detail operasi kepada kami, seorang tetangga kami yang membawakan ibu mertuanya ke rumah sakit pun melihat kami. Dan orang yang berbaring di ranjang sebelahku adalah tetangga kami juga. Kami saling mengenal.
Hal ini disebarluaskan hingga akhirnya tak bisa disembunyikan lagi. Setelah aku pulang, banyak orang di desa sudah mengetahui perihal aku melakukan aborsi.
Keluarga tunanganku menyudutkan ibuku, bertanya apakah aku berselingkuh. Ibuku menangis sembari berkata, "Apanya berselingkuh? Dia diperkosa!"
Ibuku menceritakan insidenku dengan terbata-bata, aku pun tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Keluarga tunanganku menghela napas. Namun setelah menghela napas, mereka tanpa ragu mengumumkan pembatalan pernikahan kami. Mereka tidak bisa menerima seorang wanita yang memiliki noda.
Setelah hal itu tersebar, aku tidak bisa menemukan pria lain hingga berusia 30 tahun.
Karena itulah, kali ini ibuku sangat puas dengan lamaran si mak comblang. Dia pun mengiakannya untukku.
Si mak comblang sudah pergi, dan senyum masih menghiasi wajah ibuku, tetapi aku agak enggan menerima lamaran ini. Bagaimanapun, pria itu 16 tahun lebih tua dariku dan memiliki seorang putri berusia 16 tahun. Aku merasa sedih.
"Latar belakangnya cukup baik. Bersyukurlah." Ibuku mencibir. "Coba temui dia pada tanggal merah bulan ini. Kalau kamu memang tidak ingin bersamanya, nanti baru bahas lagi."
Aku tidak ingin menyia-nyiakan niat baik ibuku, lantas aku memberanikan diri untuk bertemu dengan pria bernama Noval itu sambil memikirkan cara untuk menolak lamaran ini.
Pada sebuah hari yang cerah di musim semi, kami bersepakat untuk bertemu di sebuah restoran kecil. Saat kami bertemu, aku terkejut. Dia memiliki tinggi 175 sentimeter, tubuh sedikit gemuk, wajah bulat, serta kulit gelap. Selain beberapa kerutan di wajahnya, dia terlihat hampir sama dengan enam tahun yang lalu. Aku langsung mengenalinya. Dia adalah ojek baik hati yang menawarkan mengantarku pulang setelah kejadian itu.
"Kok kamu?" Aku merasa terkejut sekaligus senang.
Dia agak bingung. Begitu aku berbicara, dia pun mengingat siapa aku. Karena pertemuan kami sebelumnya, aku tidak lagi begitu menjaga jarak darinya dan merasa sedikit hangat.
Karena mak comblang yang mengambil inisiatif untuk melamar, aku yakin si mak comblang sudah mencari tahu tentangku. Pria ini, Noval, juga pasti sudah mengetahuinya. Akan tetapi, aku tetap mencoba untuk bertanya kepadanya, "Masalahku ...."
Tak disangka sebelum aku selesai berbicara, dia mengibaskan tangan sambil berkata, "Aku sudah tahu semuanya. Itu bukan salahmu."
Aku menghela napas lega. Kesan baikku terhadapnya pun bertambah. Setelahnya kami mencoba untuk berinteraksi. Dia sangat perhatian padaku dan juga memang rajin. Dia membeli setumpuk barang setiap kali datang ke rumahku, juga merebut pekerjaan ibuku. Ibuku sangat menyukainya.
Setengah tahun kemudian, aku dan Noval menikah. Setelahnya, aku melahirkan seorang putra, Willy Atmaja. Noval sangat senang. Dia memperlakukanku dengan baik seperti sebelumnya. Terkadang putrinya menggangguku, dia pun membelaku.
Sesekali, ketika aku membawa putraku melewati supermarket, aku masih mendengar isu-isu tentang aku diperkosa.
"Lihat, dengar-dengar, dulu wanita itu diperkosa. Dia bahkan tidak melihat wajah si pemerkosa, lalu mengandung anak pemerkosa itu."
"Ya, tapi ada juga yang mengatakan kalau dia berselingkuh sehingga pertunangannya dibatalkan sepihak. Entahlah."
Aku tidak tahan lagi mendengarkannya dan langsung berlari pulang dengan marah. Mimpi buruk itu lagi-lagi menghantuiku hingga aku tidak fokus. Noval yang melihat kondisiku pun selalu bersikap perhatian, memelukku dengan lembut agar aku tenang.
"Tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu. Aku sama sekali tidak peduli."
Kehidupan tidak selalu berjalan mulus, tapi keluarga kecil kami memang bahagia.
Noval bekerja dengan rajin. Sepulang kerja, dia menjadi ojek untuk menghasilkan uang sampingan. Saat di rumah pun, dia tidak menganggur. Dia mencuci piring, mencuci baju, mengepel lantai serta melakukan pekerjaan rumah lainnya.
Dia ingat bahwa Willy suka makan kukis cokelat dan aku suka makan kukis almon. Begitu menerima gaji atau menghasilkan uang sampingan, dia tak lupa membelikan kami makanan-makanan enak ini. Semua warga desa memujinya merupakan suami sekaligus ayah yang baik.
Pada tahun 2010, putrinya menikahi seseorang dari kota sebelah. Aku tidak terlalu pusing. Putra kami juga cerdas, selalu mendapat peringkat di sekolah.
Aku merasa nasib memperlakukanku dengan baik. Namun, pada bulan Juli 2016, Noval didiagnosis menderita kanker paru-paru, stadium menengah. Aku merasa duniaku runtuh. Aku mengeluarkan semua tabunganku sebanyak 320 juta untuk menyelamatkannya. Akhirnya, penyakitnya terkontrol.
Selama beberapa tahun ini, Noval sangat bergantung padaku. Di tengah kesulitan, hubungan kami menjadi kian erat.
Tak disangka pada Oktober 2019, penyakitnya kambuh lagi. Selain itu, dokter mengatakan bahwa sel kankernya telah menyebar, kondisinya sangat parah, biayanya juga sangat tinggi. Dokter memintaku untuk menyiapkan setidaknya 400 juta.