Bukankah seharusnya hubungan antara ayah dan anak perempuan yang sudah harus punya batasan? Haruskah memperbedakan hubungan pria dan perempuan?
Mengapa pacarku dan ayahnya tidak terlihat memiliki batasan? Mereka terbiasa berpelukan dan berciuman. Bahkan yang lebih parahnya, aku mendengar bahwa pacarku terbiasa berkeliaran tanpa memakai pakaian setelah mandi?!
Namaku David, berusia 21 tahun. Tahun ini aku sudah memasuki semester 7.
Orang tuaku sudah bercerai cukup lama karena perbedaan sifat, sementara aku tinggal bersama ayahku sampai sekarang. Keluarga kami tinggal di sebuah kota kecil. Aku kuliah di Bandung. Sementara ayahku sudah lama menjalankan bisnis kecil-kecilan, sehingga kami tidak perlu mengkhawatirkan kebutuhan sehari-hari.
Mungkin karena aku tumbuh bersama orang tua tunggal, jadi aku sangat menghargai cinta. Sampai saat ini aku baru dua kali berpacaran. Satu kali saat SMA dan satu kali lagi sekarang ini.
Aku tidak akan memulai sebuah hubungan dengan asal, tetapi begitu berpacaran aku akan menjalani hubungan tersebut dengan tujuan yang jelas. Aku tidak akan berpacaran untuk kesenangan sesaat.
Pria harus memiliki rasa tanggung jawab. Jika membangun hubungan lalu sembarangan berpisah dengan mudah, maka pria itu tidak ada bedanya dengan pria jahat.
Aku terpaksa harus putus dengan mantanku karena dia bermigrasi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah, meski aku pribadi tidak ingin kami berpisah hanya karena hal seperti itu. Setelahnya, aku mengalami patah hati untuk waktu yang lama. Hingga suatu hari aku bertemu dengan pacarku yang sekarang di kegiatan organisasi kampus.
Panggil saja dia "S".
S adalah teman sekelasku, dia teliti dan lembut.
Dialah yang mendekatiku terlebih dahulu. Aku pernah menolaknya satu kali, tetapi dia tidak menyerah. Setiap di organisasi, dia selalu menjaga perasaanku dan dia memiliki kepribadian lugu juga polos. Setelah enam bulan berlalu, kami pun resmi berpacaran.
Dia adalah orang Bandung asli, berasal dari keluarga terpelajar dan kedua orang tuanya adalah guru SMP. Mereka mendidik S dengan sangat ketat. Bahkan sampai sekarang pun S dilarang untuk berpacaran selama masih kuliah.
Ketika kami baru berpacaran, pacarku tidak pernah membagikan postingan apa pun tentangku. Sampai suatu kali aku bertanya padanya, dia baru bercerita bahwa orangtuanya masih belum mengijinkannya berpacaran.
Aku berpikir itu hal yang normal bagi orang tua karena khawatir putrinya tertipu. Tetapi yang lucu adalah, setiap malam sekitar pukul delapan orang tua S selalu melakukan video call. Jika kami sedang berkencan, aku harus bersembunyi dan dia harus menenangkan diri agar tidak ketahuan sedang berpacaran.
Meskipun agak menyulitkan, S sangat kooperatif dan tidak pernah mengeluh.
Semua orang pasti pernah lepas kendali saat mengendalikan emosi mereka, tetapi S tidak pernah melakukannya di depan orang tuanya. Dia selalu patuh dan berbakti kepada mereka.