Saat membersihkan rumah, aku menemukan sebuah celana dalam seksi berwarna hitam di bawah sofa.
Aku yang konservatif tidak akan melihat benda semacam ini, apalagi memakainya.
Sebuah pemikiran yang mengerikan merasuki benakku, membuatku gemetar tak terkendalikan.
Suami yang sangat kupercayai telah berselingkuh.
1
Aku selalu mengira kehidupanku sangat sempurna. Aku memiliki seorang suami yang sangat baik dan pekerjaan yang bagus.
Tapi sekarang kenyataan memberitahuku bahwa semuanya hanya khayalanku semata.
Suamiku tak hanya berselingkuh, tapi juga membawa wanita itu ke rumah kami.
Dari segi logika, aku sudah menjatuhkan vonis mati kepada Brian. Tapi dari segi emosi, aku masih ingin memercayainya.
Mungkin dia yang membeli celana dalam ini?
Tapi, kenapa diselip di sofa?
Apakah tidak sengaja terjatuh atau sengaja diselip?
Kami mengenal pada tiga tahun yang lalu, saat aku magang di perusahaannya. Brian baru lulus setahun dan sudah bisa memimpin orang. Aku ditugaskan menjadi bawahannya. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi dekat.
Saat itu, aku baru tahu bahwa dia memiliki kebiasaan memberi beasiswa kepada siswa miskin. Hal itu juga menjadi salah satu alasan aku tertarik padanya.
Setelah aku selesai magang dan meninggalkan perusahaannya, kami mulai menjalin hubungan.
Usia pernikahan kami bahkan belum mencapai setengah tahun. Apakah dia sudah bosan denganku? Ingin mencari wanita baru?
Bagaimana mungkin?
Beberapa hari yang lalu, kami bahkan sedang membahas untuk memiliki anak. Kami tidak menggunakan kontrasepsi apa pun, tetapi sampai saat ini aku masih tak kunjung hamil. Kami berencana untuk pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan medis, mencari tahu masalahnya.
Hari ini adalah hari ulang tahun Brian, hadiahnya telah aku siapkan. Namun sekarang, setelah terjadi hal ini, aku sudah tidak ada suasana hati untuk merayakan ulang tahunnya.
Pikiranku berkecamuk. Saat ini, Brian melakukan panggilan video kepadaku.
Aku mengatur ekspresi wajahku sebelum menerima panggilan tersebut.
"Sayang." Brian tersenyum gembira di sana. Bisa dilihat bahwa dia sedang mengemudi, fokusnya tertuju ke depan.
"Ada apa?" Aku berusaha membuat nada bicaraku tetap normal.
Tampaknya dia tidak menyadari ada yang berbeda dari suaraku. Dia membalas dengan senyuman, "Cindy bilang ingin makan bersamamu sebagai ucapan terima kasih."
Berterima kasih untuk apa?
Oh ya, setelah menikah, Brian terus mendanai siswa-siswa. Sedangkan sebagian aset dalam pernikahan kami adalah milikku.
Sebelum aku sempat menjawab, dari seberang telepon terdengar suara seorang gadis bernada manja. "Bapak sudah beristri, mana boleh makan berdua denganku? Tentu saja Ibu harus diajak."
"Iya, deh."
"Apakah kamu di kantor? Aku akan menjemputmu."
"Aku di rumah."
Tidak lama kemudian, mobil Brian tiba di bawah gedung. Begitu aku membuka pintu mobil jok samping penumpang, aku melihat gadis itu. Dia tidak seperti yang aku bayangkan. Dia berpakaian sangat modis.
Ketika gadis itu melihatku, dia turun dari jok samping penumpang sambil berkata, "Ibu, jangan marah. Orang bilang saat berdua, duduk di jok depan baru sopan. Kalau aku duduk di belakang, rasanya seperti menganggap Bapak sebagai sopir."
Sebenarnya aku tidak suka orang lain duduk di jok samping penumpangku. Tapi dia sudah berkata begitu, jika aku masih marah, aku akan terlihat kekanakan.
2
Kami segera tiba di sebuah restoran. Biasanya aku jarang makan di luar, Brian juga jarang makan di luar. Hal ini memberiku rasa hangat dalam keluarga.
Tapi setelah terjadi hal seperti itu, aku merasa jijik ketika memikirkannya.
Dia dan Cindy berjalan di depan. Aku sedikit tertinggal karena memikirkan banyak hal. Ketika aku melihat ke depan, aku melihat dua orang itu berbicara dengan wajah berbinar.
Apakah Brian juga seperti ini saat bersama wanita lain?
Begitu berpikir bahwa wanita lain berbagi pria ini denganku membuatku merinding.
Begitu aku duduk, Brian menyerahkan menu kepadaku. Dulu aku sangat menyukai perhatiannya ini, tetapi sekarang aku merasa muak.
"Biar Cindy memesan dulu."
"Tidak perlu." Brian tersenyum. "Aku sudah memesan apa yang dia suka."
Kamu sudah memesan apa yang dia suka? Kenapa kamu tidak ingat apa yang aku suka?
Apakah mereka sering makan bersama? Kalau tidak, bagaimana dia tahu apa makanan kesukaan Cindy?
Karena tidak berselera, aku segera meletakkan sendokku dan berhenti makan. Hal ini membuatku bisa mengamati Brian.
Dia dengan teliti mengambil duri ikan untuk Cindy, lalu dengan perhatian memilih ketumbar yang tidak disukainya, seperti suami yang perhatian.
Tapi dia suamiku.
Cindy tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih dengan manis, "Terima kasih, Pak. Sikap Bapak tidak membuat Ibu cemburu, kan?"
Brian pun tersenyum. "Tidak, istriku sangat lapang dada."
Lapang dada? Huh! Sekarang aku tidak lagi memercayai Brian, bahkan kecewa berat terhadapnya.
Acara makan ini berakhir. Saat Brian membayar tagihan, aku berdiri di samping.
Saat ini, kasir berkata, "Tuan, anggota di sini akan mendapat diskon sebesar 20%."
Brian memberikan kode pembayaran ketika aku melihat syarat untuk menjadi anggota restoran ini.
Isi ulang dapat menjadi anggota.
Namun, untuk menjadi anggota harus makan di sini sebanyak dua puluh kali.
Dia belum pernah membawaku ke restoran ini, jadi siapa yang dia bawa?
Jika dia harus makan bersama klien, biasanya dia pergi ke hotel kelas atas. Wanita mana yang dia ajak makan di restoran ini?
Saat aku dengan senang hati menyiapkan makan malam di rumah, dia makan di sini bersama wanita lain?
Begitu berpikir demikian, makanan yang baru saja kumakan langsung ingin kumuntahkan.
"Pak, ada boneka baru di sini."
Si kasir berkata, "Ya, poin bisa ditukar dengan boneka."
"Apakah kamu menginginkannya?"
"Ya!"
Brian tersenyum saat mendengar jawaban Cindy. "Pilihlah."
"Oke! Terima kasih, Pak!"
Akhirnya, Cindy memilih sebuah boneka kelinci merah muda. Kelinci yang imut itu tersenyum, tapi menurutku itu adalah senyum mengejek. Mengejek aku yang bodoh.
3
Setelah meninggalkan restoran, Brian menyarankan untuk mengantar Cindy pulang bersama.
Aku tidak keberatan.
Di jalan, Cindy tiba-tiba berkata, "Lift-nya rusak, entah sudah diperbaiki atau belum."
"Seorang gadis naik tangga darurat sendiri tidak aman."
"Benar," sahutku. "Kalau begitu kita masuk bersama saja, sekalian antar sampai depan pintu."
"Aku merasa tidak enak." Cindy tersenyum manis.
Brian dengan perhatian berujar, "Ini tidak merepotkan, keamanan terpenting."
Mendengar itu, tentu Cindy tidak menolak lagi.
Hanya saja, aku tidak menyangka jika seorang siswa yang menerima beasiswa seperti Cindy sanggup menyewa kompleks kelas atas di luar kampus.
Dari mana dia mendapatkan uang?
Rumahnya memiliki dua kamar dan sebuah ruang tamu. Dekorasinya sangat hangat. Ada banyak boneka di sofa.
"Apakah kelinci ini juga mau diletakkan di sofa?"
Cindy malah menjawab, "Taruh di kamarku saja."
Brian berjalan ke dalam, sedangkan aku berjalan ke balkon.
Ada banyak pakaian yang menggantung di balkon, dan aku melihat celana dalam seksi berwarna hitam itu.
Bahan celana dalam ini sama persis dengan celana dalam yang aku temukan di rumah.
Aku bak tersambar petir. Sebuah pikiran yang konyol terbentuk di benakku.
Detail yang tak terpikirkan olehku sebelumnya perlahan muncul.
Kenapa Cindy duduk di jok samping pengemudi?
Kenapa ada begitu banyak boneka di rumah Cindy dan kebetulan restoran tadi bisa menukar boneka?
Kenapa Brian langsung tahu di mana letak kamar Cindy pada kunjungan pertama?
Poin terpenting adalah, kenapa celana dalam yang ada di balkon ini sama dengan yang ada di rumahku?
Semua bukti ini memberitahuku bahwa Brian telah berselingkuh dengan siswa yang disponsorinya.
Tapi sekarang aku tidak boleh bereaksi berlebihan. Sekarang mereka berdua, kondisiku tidak menguntungkan.
Otakku bekerja dengan cepat. Ketika Brian keluar, aku sudah berdiri di ruang tamu dengan raut normal.
"Sayang, kenapa kamu tidak duduk?"
Duduk? Entah kalian pernah bercinta di sofa ini atau tidak. Aku merasa jijik.
"Bukankah kita langsung pergi?"
"Benar."
Cindy tampak enggan ketika melihat kami pergi. Dia berkata, "Sampai jumpa, Pak, Bu!"
"Sampai jumpa." Brian melambaikan tangan tanpa mengubah ekspresinya.
Mereka berakting dengan begitu natural di depanku. Saat aku tidak ada, mereka bercinta hingga lupa segalanya.
Berpikir demikian, hatiku serasa diremas.
4
Keesokan harinya, aku tidak pergi bekerja, melainkan mencari satpam dengan alasan cincinku hilang dan ingin melihat rekaman CCTV.
Benar saja, aku melihat Brian membawa seorang wanita pulang. Hanya saja CCTV di depan pintu terlalu jauh sehingga wajah wanita itu tidak terlihat jelas.
Dalam perjalanan pulang pun, mereka sengaja menghindari CCTV.
Tampaknya aku tidak bisa mencari bukti dari sini.
Melihat rautku muram, satpam itu bertanya, "Apakah kamu menemukan di mana cincinmu hilang?"