Aku adalah seorang manajer kecil di sebuah perusahaan di kota besar, berusia 37 tahun, putriku sudah duduk di Sekolah Menengah Pertama, perasaanku sering terombang-ambiing di antara kebahagiaan dan keraguan.
Dia adalah pemimpin utama perusahaan kami, 12 tahun lebih tua daripadaku, memiliki reputasi baik, cerdas, dia juga jarang terlihat marah.
Sebelumnya, aku selalu mendiskriminasinya karena menganggap orang yang sangat sabar mungkin hanya berpura-pura di depan orang lain saja, tetapi setelah berinteraksi lebih jauh dengannya, aku menyadari bahwa dia adalah orang yang sangat berbudi.
Dia menjaga bentuk tubuhnya dengan sangat baik, tidak ada lemak bergelambir layaknya pria paruh lainnya.
Di luar kantor, dia memanggilku dengan sebutan "Beb," dan aku memanggilnya "Honey".
01
Tujuh tahun yang lalu, dia dimutasikan ke perusahaan tempat kami bekerja. Dia adalah orang penting dalam perusahaan, pintar, bijaksana, dan berani dalam mengerahkan SDM. Semua tentangnya telah kudengar sebelumnya.
Aku masih ingat kesan pertamaku padanya ketika dia baru datang ke perusahaan kami. Tubuhnya tinggi dan besar, wajahnya ramah, terlihat berpendidikan, dan kesan pertamaku terhadapnya cukup baik.
Sejak saat itu, perusahaan berkembang semakin pesat di bawah kepemimpinannya.
Aku adalah orang yang bekerja keras dan selalu berusaha untuk mencapai kesempurnaan, aku juga selalu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh atasan tanpa mengeluh.
Lima tahun pertama bekerja bersamanya, aku bisa merasakan bahwa dia adalah seorang pemimpin yang tenang tetapi otoritatif, meski lembut dan santun, namun sangat dihormati.
Aku juga pernah dinas berdua dengannya. Sepanjang perjalanan, kami tidak banyak berbicara, dia hanya sesekali bertanya padaku, dan aku pun hanya menjawab dengan singkat.
Dia cukup baik kepada semua orang dan merupakan pemimpin yang sangat percaya pada anak buahnya. Singkatnya, saja juga sama seperti yang lainnya, aku juga sangat menghormatinya.
Pada tahun pertama, sikap dia cukup netral terhadapku. Namun pada tahun kedua, aku dipromosikan dan aku mulai menyadari bahwa dia sering mendukung gagasanku. Dalam rapat perusahaan pun, dia akan meminta pendapatku secara khusus, dan sebagian besar saranku diterima olehnya.
Dua kali nominasi karyawan paling maju dia berikan padaku dalam jangkauan yang wajar. Segalanya sesuai dengan prosedur dan aku juga bekerja sangat keras, sehingga orang lain tidak bisa mengomentarinya.
Selama lima tahun itu, selain komunikasi normal dalam pekerjaan, kami tidak pernah berhubungan secara pribadi dalam segala hal, dan kami memiliki hubungan sebagai atasan dan bawahan yang sangat normal. Tetapi perlahan aku merasa dia sangat akrab.
Tanpa sadar, hatiku mulai mendekat padanya.
02
Titik balik terjadi dua tahun lalu ketika aku melakukan perjalanan bisnis bersamanya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, temannya mengundang kami untuk makan malam secara pribadi malam itu, dan kami pun minum sedikit alkohol. Setelah makan malam, kami jalan bersama dan sekitar pukul sepuluh malam kembali ke kamar masing-masing.
Sesampainya di kamar, aku langsung mandi dan bersiap untuk tidur.
Pada saat ini dia mengetuk pintu. Aku bertanya ada apa? Dia menjawab bahwa ketel listriknya rusak, sehingga dia ingin meminjam ketel air panas di kamarku untuk merebus air panas. Aku melihat waktu di ponsel, ini sudah lewat dari pukul sepuluh, aku ragu apakah aku perlu membukakan pintu.
Meskipun keraguan itu hanya sebentar, namun banyak pikiran yang muncul di pikiranku. Orang yang naif dan tidak berpengalaman pun tahu bahwa seorang pimpinan laki-laki tidak seharusnya datang ke kamar anak buahnya yang merupakan perempuan selarut ini. Tapi mengingat sikapnya yang selalu sopan dan bijaksana, mungkin aku salah paham dan dia memang hanya ingin minum air hangat. Aku juga sempat tidak ingin membukakan pintu dan berniat memanggilkan pelayan untuk membawakan ketel baru ke kamarnya, tetapi akhirnya aku memutuskan untuk membukakan pintu.
Kemudian, cerita selanjutnya seperti pada umunya. Awalnya, dia tampak agak canggung dan kami membicarakan tentang pekerjaan selama beberapa menit. Lalu dia berkata ingin memelukku. Aku tertegun sejenak, dan sebelum aku sempat merespon ucapannya, dia sudah mendekat dan langsung memelukku. Aku berusaha mendorongnya, tetapi dia tetap mendekat dan menciumiku, ciuman yang dalam dan panjang, mungkin itu berlangsung selama sepuluh menit.
Dia berniat melakukan yang lebih jauh lagi, tapi aku menolaknya.
Aku bertanya apakah dia tahu apa yang sedang dia lakukan, dan dia menjawab bahwa dia tahu. Aku bertanya lagi apakah dia tahu konsekuensinya, dan dia mengatakan bahwa dia tahu, tetapi dia tetap ingin melanjutkan. Namun, karena penolakanku yang gigih, dia tidak berhasil mendapatkannya.
Setelah dia kembali ke kamarnya, aku merasa cemas dan takut, aku menghabiskan malam yang tak terlupakan dalam perasaan bimbang. Jika ingin menyimpulkannya secara berlebihan, dia yang telah menghancurkan prinsipku. Selama ini dia tampak sangat ramah dan sopan, tidak kusangka dia akan berbuat seperti itu. Sejujurnya, kehidupan keluarganya cukup baik dan memiliki istri yang rajin mengurus rumah tangga. Anak-anaknya sudah menikah, juga cukup sukses.
Keesokan harinya, dia terus mengirimiku pesan untuk meminta maaf dan mengungkapkan perasaannya. Dia mengatakan setelah lima tahun kenal denganku, dia menyadari betapa baiknya diriku. Selama beberapa tahun ini, dia terus menyimpan perasaan terhadapku. Tetapi, dia merasa aku
lebih muda dari dia dan sangat cantik, jadi dia tidak berani berharap untuk memilikiku. Malam itu dia begitu berani karena pengaruh alkohol, tetapi perasaannya padaku benar-benar tulus.
Dua bulan setelahnya, karena cemas dan takut, juga perasaan campur aduk lainnya, aku sering mengalami sulit tidur dan kehilangan nafsu makan. Menyebabkan tubuhku menjadi lebih kurus. Dia selalu memberikan perhatian padaku dan memberikan banyak kesempatan kerja padaku.
Sebenarnya, aku selalu mengagumi dan hormat padanya, bahkan menyukainya dalam hatiku, tetapi aku tidak pernah berpikir ke arah sana.
Secara bertahap, aku mulai menerima sampai mulai menyukainya, lalu jatuh cinta kepadanya selangkah demi selangkah.
Cerita berikutnya pun sama seperti biasa, dua bulan kemudian, dia memberiku cincin dan mengucapkan janji yang sangat mengejutkan. Dia mengatakan, meskipun dia tidak bisa menikahiku secara sah, aku tetaplah pasangannya, dan dia akan bertanggung jawab sepanjang hidupnya, serta tidak akan pernah meninggalkanku.