01
Aku adalah seorang psikolog yang khusus menangani masalah perselingkuhan. Klien yang datang menemuiku sebagian besar adalah wanita.
Aku menyukai pekerjaan ini karena aku dapat melihat sisi gelap pikiran mereka. Rahasia yang bahkan tidak mereka ceritakan pada suami mereka, malah diungkapkan di depanku.
Hari ini, ada seorang ibu muda yang cantik masuk ke kantorku.
Dia memiliki tubuh ramping dengan lekuk yang indah, kulit yang sangat halus, dan wajah yang menarik.
Meskipun sorot matanya tampak ketakutan dan cukup galak, namun sikap lembut yang dimilikinya membuat orang ingin mengganggunya.
Aku melihat ke daftar pasien, ibu muda ini bernama Jessy.
Aku membiarkannya duduk di sofa, menuangkan segelas air untuknya, lalu menenangkannya dengan suara lembut.
Dia tampak sangat gugup dengan dada naik turun. Namun kata pertama yang terlontar dari mulutnya sangat mengejutkan.
“Dokter, aku telah diperkosa, tapi... aku sangat bahagia .”
Setelah itu dia menceritakan kisah tentang seorang istri cantik yang telah ditinggalkan oleh suaminya dan akhirnya dimanfaatkan oleh rekan kerja suaminya di hadapanku.
Sebulan yang lalu, suaminya mabuk berat setelah pesta dan baru diantar pulang oleh temannya saat tengah malam.
Jessy biasa tidur telanjang. Awalnya dia ingin megabaikannya, tetapi mendengar suaminya bicara melantur di ruang tamu, dia pun turun hanya dengan mengenakan gaun tidur tanpa mengenakan pakaian dalam.
Ketika dia sampai di ruang tamu, dia mendapati suaminya sudah tidak sadarkan diri dan ada seorang pria muda tampan di sampingnya sedang melepas kaus yang basah oleh keringat dengan pasrah.
Pria muda itu bernama Leon. Dia adalah rekan kerja suaminya, juga seorang pria muda yang gagah.
Jessy mengatakan bahwa ketika itu Leon melihatnya dengan tatapan seperti serigala yang memancarkan kilau kehijauan.
Namun entah mengapa dia tidak muak dengan tatapan itu, malah ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya.
Dia terus mengamati otot perut Leon dan membayangkan dirinya dilecehkan.
Pada saat itu, dia sangat iri pada istri Leon. Menikah dengan pria yang gagah dan tampan seperti itu pasti akan sangat bahagia.
Mungkin karena alasan ini, ketika Leon menerkamnya, dia bukan hanya tidak melawan, sebaliknya malah membuka kedua kakinya.
Aku memberi isarat padanya untuk meneruskan ceritanya.
Jessy berkata, setelah kejadian itu Leon terlihat panik dan langsung lari begitu saja. Namun meskipun dia merasa sangat puas, tapi dia juga merasa sangat malu dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi suaminya.
Namun setiap malam dia akan membayangkan keindahan di malam itu.
Sayangnya Leon seolah merasa bersalah sehingga tidak pernah muncul di hadapannya sejak kejadian itu.
Aku menatapnya dan bertanya, “Jika kau bertemu lagi dengan Leon, kau ingin meneruskan hubungan kalian atau menamparnya?”
Jessy memegangi wajahnya yang merona sampai ke telinga, “Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu aku akan ganti pertanyaanku, apakah kau akan lapor polisi?”
Jessy tidak hentinya menggeleng, “Tidak, jika sampai tersebar, aku tidak akan mampu mengangkat kepalaku! Masa depannya juga akan hancur…”
Mendengar sampai di sini, duduk perkaranya sudah jelas sekali. Tubuh dan juga hati Jessy sudah menjadi milik Leon, oleh karena itu dia mempertimbangkan posisi Leon.
Memikirkan hal ini, aku merasa iba pada suami Jessy.
Baru disetubuhi satu kali oleh Leon saja, Jessy sudah melupakan suaminya.
Namun sebagai seorang psikolog, hal semacam ini sudah tidak aneh lagi. Pada dasarnya wanita adalah makhluk yang dominan, ini adalah genetik yang sudah mendarah daging. Terutama Jessy sedang berada di fase usia 30 yang penuh gairah. Siapapun yang mampu mendapatkan tubuhnya pasti akan bisa mendapatkan hatinya.
Jessy terdiam, setelah sesaat dia pun menghela nafas.
“Dok, aku selalu tidak bisa tidur sekarang, begitu memejamkan mata langsung teringat padanya, adakah cara untuk mengobatinya?”
Aku menggeleng, “Kondisi seperti ini harus kau bereskan sendiri, fokuslah pada rumah tanggamu, seiring berjalannya waktu, maka kamu akan bisa melupakannya.”
Aku meresepkan obat tidur untuk Jessy dan mengingatkannya untuk tidak meminumnya jika tidak terpaksa, sebab obat ini dapat menyebabkan ketergantungan.
Jessy hanya mengangguk dan meninggalkan ruanganku.
02
Beberapa hari kemudian, ketika aku mengambil jalan pintas melalui sebuah gang kecil untuk pulang, aku melihat sosok Jessy.
Itu adalah sebuah gang sempit yang kumuh, selalu ada beberapa wanita penghibur yang lalu lalang di depan gang. Mereka mengenakan rok pendek yang seksi, mengekspos kaki jenjang dan putih mereka, membuat orang yang melihatnya berimaginasi. Tempat seperti ini, seharusnya sulit dikaitkan dengan Jessy. Sehingga ketika aku melihatnya, aku merasa sangat terkejut. Terakhir kali kami bertemu, Jessy terlihat malu-malu kucing, penuh dengan kesopanan seorang ibu muda dalam berbicara. Tubuh seksi namun tidak terlihat murahan, merupakan seorang wanita cantik berkelas yang memenuhi standar.
Lalu kali ini, dia terlihat seperti begitu berbeda. Dia mengenakan gaun ketat dengan belahan dada yang rendah, stoking jala yang melilitkan kaki panjangnya, dan riasan yang tebal. Terlihat seperti seorang wanita penghibur.
Pemandangan di depan saya membuat jiwa profesionalku menggebu-gebu. Meskipun aku bisa menerka alasannya, tapi aku tetap ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri untuk memuaskan rasa ingin tahuku.
Aku menghentikan langkahku lalu bersembunyi di balik tiang listrik sambil mengintip. Tidak seperti wanita penghibur lain yang kelompok, Jessy malah berdiri sendirian di bawah pohon besar.
Kepalanya tertunduk dan kedua tangan yang menggenggami tas dengan sedikit gugup. Tidak lama berselang, muncullah seorang pria nakal di sisi Jessy yang datang untuk menawar harga sambil menyentuh pipinya.
Saat itulah Jessy menyadari tatapanku dan menatapku tepat saat mengangkat kepalanya. Dia terlihat seperti anak-anak yang ketahuan sedang berbuat jahat. Jessy begitu terkejut sampai menutupi wajahnya dan berlari keluar gang. Reaksinya it memperlihatkan kepanikan yang sangat jelas.
Sementara itu, aku hanya mengikutinya dengan santai sambil menatap wanita muda yang cantik itu melenggang masuk ke dalam Mercedes Benz Sport dan melaju pergi.
Menatap lampu belakang mobil yang menghilang perlahan, aku teringat ekspresi malu dan menggebu Jessy beberapa hari yang lalu. Aku rasa, mungkin aku akan bertemu dengannya lagi.
Seperti yang diharapkan, keesokan harinya Jessy datang lagi.
Dia tidak mengenakan pakaian sopan seperti pertemuan pertama kami. Dia juga tidak berpakaian seperti beberapa hari yang lalu, mengenakan mantel tipis yang tidak sesuai dengan musim dengan pakaian yang begitu menggoda. Dia duduk di sofa, sementara aku menuangkannya secangkir air hangat untuknya. Jessy hanya menatapi gelas di depannya. Entah apa yang dipikirkannya sampai wajahnya memerah. Namun sepertinya aku tahu apa yang ada di pikiran Jessy, sehingga aku menghiburnya dengan berkata, "Aku akan menjaga rahasiamu, kapan kamu mulai menyadari perubahan pada dirimu?" Jessy tidak menghindari kontak mata denganku, sebaliknya malah menatapku dengan wajah memerah, "Aku menyadarinya sejak pertama kali datang untuk pengobatan denganmu. Bahkan saat ini pun, aku tidak memakai apa pun di balik mantel ini."
Aku menatap matanya, memperhatikan wanita cantik ini dengan seksama. Kondisi seperti ini tidak jarang terjadi. Ini adalah Sindrom Stockholm Klasik, yang membuatnya memiliki perasaan khusus saat menyakiti orang lain. Namun, karena Leon menghindarinya, membuatnya kehilangan objek yang dapat diandalkan, jadi dia berharap bisa mendapatkan perlakuan yang diinginkannya dari pria lain.
Tepat pada saat ini, Jessy membuka mantelnya perlahan, dia mengekspos tubuh putih dan mulusnya sambil menatapku dengan tajam, "Dokter, bisakah kau menaklukkanku seperti dia?"
03