Sejak kecil, dibandingkan aku, kakak perempuanku selalu lebih unggul dalam segala hal. Alih-alih cemburu padanya, aku malah merasa bangga padanya. Ketika berkuliah, kakakku bertemu dengan suaminya, Jeremy Tjipto, mereka jatuh cinta dan menikah. Namun, semuanya berubah saat kakakku pergi ke luar negeri karena pekerjaannya dan suaminya mencium bibirku.
1
Liburan musim panas, saat seorang mahasiswa sedang tidak dibebani oleh tugas kuliah,
aku hanya ingin bersantai di tempat tidur. Kakak perempuanku dan suaminya adalah pemilik perusahaan publik. Jadi, liburan musim panas kali ini, aku berencana untuk menjadi seorang "gelandangan" di rumah. Tidak ada yang bisa menghentikanku!
Tetapi, aku tidak pernah menyangka kalau kakakku begitu licik.
"Nina aku tahu apa yang ada di benakmu. Aku sudah membicarakannya dengan kakak iparmu. Minggu depan kamu akan magang di perusahaan dan memulai pekerjaanmu sebagai asisten."
Teganya kakakku mengucapkan kata-kata seperti itu! Aku harus menunjukkan kekesalanku, "Kakak, tolonglah, aku tidak mau."
Kakak perempuanku hanya menikmati kopinya, seolah-olah dia tidak mendengar perkataanku. Padahal sebelumnya aku bisa mendapatkan apa pun yang aku mau hanya dengan berlaku sedikit manja, tapi kali ini kenapa tidak berhasil?
"Kak, apa Kakak tidak sayang padaku lagi?"
"Jangan berdebat dengan kakakmu, bekerja saja dengan baik."
Jeremy yang baru turun dari lantai atas masih mengenakan piyama sutranya. Dia terlihat sangat santai tetapi tetap berwibawa meski rambutnya tidak tersisir rapi. Sungguh sangat kontras dengan wajah tampannya.
"Kakak ipar, tentu saja kamu akan berada di pihak kakakku. Aku tak mau mendengar perkataanmu!" Saat aku mengatakan itu, aku mendorongnya dengan ringan. Tetapi, siapa sangka kain sutra itu sangat halus sehingga ketika aku menyentuhnya sedikit saja, kancing di bagian atas pakaiannya terlepas. Kemudian, kulitnya yang sedikit kemerahan pun terlihat. Meskipun aku belum pernah pacaran, dari yang kulihat di televisi dan yang kubaca di novel, aku tahu apa itu. Sedangkan kakak ipar malah dengan tenang mengancing kembali bajunya. Aku tidak tahan lagi, rasanya sangat memalukan.
"Kalian semua sudah tidak sayang padaku lagi, aku tidak mau bicara dengan kalian lagi." Tanpa ragu lagi, aku pun segera berbalik dan berlari.
Pembicaraan tentangku masih berlanjut di ruang tamu.
"Besok aku akan pergi dengan pesawat, setelah aku pergi, tolong jaga Nina baik-baik. Setelah aku kembali, kita harus memberitahunya tentang hal itu."
"Aku mengerti, semoga perjalananmu besok menyenangkan."
Pada hari pertama aku pulang ke rumah, aku begadang semalaman. Keesokan paginya, aku dan kakak ipar pergi ke bandara untuk mengantar kakakku. Begitu kembali ke dalam mobil, aku langsung terlelap dalam dunia mimpi.
Di dalam mimpiku, tiba-tiba aku merasa sangat ringan, sepertinya sedang bergerak. Aku perlahan membuka mata dan menemukan diriku berada dalam pelukan yang kuat. "Kakak ipar, kenapa Kakak tidak membangunkanku?"
"Melihatmu tidur nyenyak seperti itu, aku tidak tega membangunkanku. Lanjutkan saja tidurmu, aku akan membawamu kembali ke kamarmu."
Bagaimana mungkin aku bisa terlelap dalam keadaan seperti ini? Ini pertama kalinya aku digendong seperti seorang putri di dalam pelukan seseorang. Dari posisi ini, aku bisa melihat garis rahang kakak ipar yang tajam dan tegas. Hanya wanita sehebat kakak perempuanku yang bisa menemukan suami semenawan ini.
Aku diletakkan dengan lembut di atas tempat tidur. Dia memperlakukanku seolah-olah aku seperti porselen yang mudah pecah.
2
Pagi harinya, awalnya aku pikir, aku masih bisa tidur lagi, tapi ternyata aku dibangunkan oleh kakak iparku. Dia benar-benar akam membawaku pergi bekerja. Bahkan, suara dan nada bicaranya terdengar tidak menerima penolakan.
"Aduh, Kakak ipar, aku tidak punya pakaian kerja. Aku akan membelinya sendiri siang nanti, besok aku pasti akan pergi denganmu." Aku mencoba untuk menunda.
Kakak iparku seolah sudah tahu kalau aku akan berkata seperti itu, dia pun tersenyum dan berkata, "Aku sudah menyiapkan pakaianmu, kamu tinggal bangun saja.
Aku pun tidak punya alasan untuk menghindari nasibku ini. Lalu, aku melihat pakaian yang disiapkan oleh kakak ipar, ternyata itu adalah rok yang pendek dan ketat. Di sekolah, aku termasuk ke dalam kelompok orang yang cukup konservatif. Pakaianku kebanyakan adalah hadiah dari kakak.
Melihat rok pendek di depanku, aku hanya bisa terdiam. Tiga menit kemudian, aku mengenakan blus putih dan rok pendek hitam itu lalu naik ke mobil kakak ipar.
Di dalam mobil, aku terus menarik-narik rokku, aku merasa tidak nyaman. Kakak ipar sepertinya melihatku terus menarik-narik rokku. Dia melirikku sejenak, aku pun segera duduk diam.
Namun, kenapa dia masih melihatku?
"Nina, saat kita masuk ke kantor nanti, aku akan menempatkan seorang asisten yang akan membantumu. Kalau ada yang tidak kamu mengerti, hubungi saja aku, mengerti?"
Hari ini kakak ipar mengenakan setelan jas hitam. Dia terlihat sangat tampan, aku tidak bisa menahan diri untuk memandanginya beberapa kali. Tiba-tiba terlintas dalam benakku, jika setiap hari aku bisa melihat pemandangan yang menawan seperti ini, bekerja pun tidak jadi masalah.
"Baik, kakak ipar."
Kakak ipar mengusap-usap kepalaku, "Lakukan yang terbaik. Saat kakakmu pulang, aku akan berbicara baik tentangmu."
Tch, aku tidak peduli.
Sebelumnya, aku belum pernah menginjakkan kaki ke suatu perusahaan. Aku tahu kakak dan kakak iparku hebat, tetapi tidak kusangka mereka sehebat ini. Seluruh gedung ini adalah milik mereka.
Aku pun mengikuti kakak ipar, aku naik lift eksekutif khusus dan menuju kantor. Setelah kakak ipar masuk, dia meminta asistennya, Mardi, untuk membantuku. Awalnya kak Mardi sangat ramah, tapi setelah kakak ipar pergi, dia langsung berubah, tatapan matanya padaku menjadi sedikit tak menyenangkan.
Dia melemparkan beberapa dokumen di atas meja dan menyuruhku melihat sendiri, "Bu direktur sedang dalam perjalanan dinas, dia akan kembali dalam dua bulan."
Hmm, aku tahu kalau kakakku akan kembali dalam dua bulan. Aku hanya tidak mengerti apa yang dipikirkan Mardi, aku juga tidak mau tahu, hanya saja aku tidak menyangka kalau kakak akan mempekerjakan seorang asisten yang temperamental seperti ini.
Sambil memegang berkas-berkas dokumen, aku pun membacanya sendiri seharian. Melihat huruf-huruf yang padat di atas kertas itu, mataku perlahan menjadi sedikit kabur. Aku mengantuk sekali.
Baru saja aku akan bersandar di atas meja untuk tidur sejenak, tiba-tiba telepon di atas meja berdering, "Nina, tolong bawakan segelas kopi untukku." Setelah mendengar suara kakak ipar di seberang telepon, rasa kantukku seketika lenyap.
"Baiklah, segera, ya."
Aku pun pergi ke pantry untuk menyiapkan kopi. Belum masuk saja, aku sudah mendengar suara berbisik di dalam.
3
"Apa maksud Pak Direktur? Padahal, baru saja Bu Direktur pergi, dia sudah membawa seorang mahasiswi langsung ke perusahaan, bahkan langsung dijadikan sebagai sekretaris pribadi yang selalu menempel dengannya. Berani sekali dia."
"Benar, benar. Aku tidak bisa menerima Bu Direktur dipermainkan seperti ini. Saat Bu Direktur kembali, aku pasti akan memberitahunya tentang hal-hal ini."
Haha, lucu sekali. Aku ingin melihat mereka memberi tahu kakakku dan akhirnya diusir dari kantor nanti.
Aku masuk ke pantry dengan riang, mereka pun terkejut seolah-olah telah melihat hantu, hampir saja mereka menjatuhkan gelas mereka.
Setelah menuangkan kopi, aku juga keluar dengan riang. Setelah itu, aku mengetuk pintu ruangan kantor direktur.
"Masuk."
Aku membungkukkan tubuhku sambil meletakkan kopi di atas meja kakak ipar, "Pak Direktur, silakan dinikmati."
Setelah kakak ipar mendengar perkataanku, dia pun tersenyum, "Bagaimana kabarmu?"
"Baik-baik saja, rekan kerja di sini semua baik, Kak Mardi juga sangat perhatian terhadapku."
Aku tidak mengatakan hal buruk tentang mereka, karena sedari kecil aku tidak pernah suka mengadu kepada guru.
Seperti merenung sejenak, kakak ipar melihat jam tangannya, dia lalu menutup laptop, "Waktunya makan, ayo, aku akan membawamu makan."
Kami lalu mendatangi sebuah restoran, makanan di sini sangat lezat. Kalau bisa makan di sini setiap hari, pasti akan sangat menyenangkan.
Setelah selesai makan, kakak ipar dengan lembut menyeka bibirku. Setelah kembali ke kantor, kakak ipar dengan baik hati mempersilakanku ke ruang istirahatnya.
Kakak ipar benar-benar baik.
Ruang istirahatnya tidak terlalu besar. Saat berbaring di tempat tidur, aku bisa mencium aroma yang lembut dari selimutnya. Aku pun menciuminya terus, setelah itu aku menyadari kalau kelakuanku ini agak memalukan, wajahku pun merona merah.
Malam harinya, saat berendam di bak mandi sambil menonton film, tiba-tiba petir menggelegar di luar. Aku tersentak terkejut. Kemudian, lampu di kamar mandi tiba-tiba mati, semuanya menjadi gelap gulita. Sejak kecil, aku sangat takut gelap, suasana yang begitu gelap membuatku tidak nyaman. Aku terus berteriak memanggil kakak ipar, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian, aku pun teringat akan sumber daya cadangan di lantai dua, tepat di sebelah kanan pintu kamarku.
Akan tetapi, aku sangat takut gelap. Lagipula, aku juga tidak mengenakan apa pun saat ini.
Waktu terus berlalu, kegelisahanku makin menjadi-jadi. Ketika aku hendak bangkit dari bak mandi, aku mendengar suara kakak ipar, "Nina, kamu baik-baik saja?"
Akhirnya ada yang berbicara, aku pun tidak takut lagi. Apalagi itu suara kakak ipar, dia sangat bisa diandalkan.
"Kakak ipar, aku baik-baik saja."
"Aku akan menggunakan sumber listrik cadangan, kamu tetaplah di sini, semua akan baik-baik saja." Suaranya yang tegas selalu menenangkan.
"Ya, aku tidak takut."
Tidak lama kemudian, lampu menyala kembali. Baru saja, aku berdiri dan bersiap-siap untuk berpakaian saat kakak ipar tiba-tiba masuk.
Aku tidak mengenakan apa pun!
4
Raut wajah kakak ipar yang tadinya cemas seketika merona merah, dia pun terdiam di tempatnya. Aku langsung mengambil jubah mandi di tempat tidur dan menaruh di depan tubuhku untuk menutupi bagian-bagian pribadi. Pergerakanku pun menyadarkan kakak ipar yang terdiam, dia pun dengan cepat berbalik, "Nina, aku datang untuk memeriksa keadaanmu."
Setelah berbicara, kakak ipar keluar dan menutup pintu. Aku pun tersadar kalau kakak ipar saya sepertinya bergerak seperti robot.
Sambil memegangi jubah mandiku, aku tertawa terbahak-bahak saat membayangkannya. Jantungku pun berdegup kencang, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Beberapa saat setelah berpakaian, aku lalu turun ke lantai bawah. Begitu aku sampai di sana, aku melihat di meja makan sudah penuh dengan hidangan yang sudah disiapkan. Hari ini, bibi tidak kemari, apakah kakak ipar yang membuat semua hidangan ini?
"Nina, kamu pasti sudah lapar. Ayo cuci tangan dan makan." Suara kakak ipar begitu lembut sampai-sampai membuatku salah tingkah dan berpikir bahwa dia tidak seperti kakak iparku, tetapi seperti seorang pacar yang perhatian.
Tak satu pun dari kami yang berbicara di meja karena kejadian barusan. Aku makan dengan sangat cepat dan bergegas meninggalkan suasana meja makan yang canggung setelah selesai makan.
Jeremy perlahan-lahan menghabiskan makanannya dengan senyum di wajahnya. Jika rekan kerjanya melihat Direktur Jeremy yang biasanya kejam dan tidak pernah tersenyum ini tersenyum seperti sekarang, mereka semua mungkin akan ternganga sanking terkejut.
Keesokan paginya, aku kembali harus bekerja. Seharusnya kecanggungan kemarin sudah hilang bersama angin. Saat aku sedang bersiap-siap, terdengar ketukan di pintu kamarku dan yang mengetuk adalah kakak ipar.
Kakak ipar juga baru saja bangun tidur dan belum berganti pakaian, "Nina, berkemaslah dan ikutlah bersamaku ke Kota Selatan untuk perjalanan bisnis, kita akan tinggal di sana selama tiga hari."