Setelah Mengalami Transmigrasi, Aku yang Menentukan Siapa yang Menjadi Suamiku!
Protagonis priaku jatuh cinta pada wanita yang masuk ke dalam buku.
Dia mengatakan bahwa cintanya padaku adalah takdir yang dipaksakan oleh alur cerita. Sebenarnya dia menyukai gadis yang masuk ke dalam buku itu.
Dia mengatakan bahwa dia tidak ingin lagi menjadi protagonis pria.
Tetapi ketika aku berpacaran dengan si pemeran pendukung, dia bertarung dengan pemeran pendukung itu seakan gila.
"Akulah protagonis prianya!" isaknya sambil memohon kepadaku.
Aku dengan nada pelan berkata, "Kamu lupa kalau aku adalah protagonis wanita. Dengan siapa protagonis wanita bersama, dialah protagonis prianya."
1
Aku bertemu dengan Arlene Damira untuk pertama kalinya di acara reuni.
Seperti kata Luise Mahendra, Arlene memiliki penampilan yang lembut. Ketika dia mengenakan gaun putih, pinggangnya tampak ramping. Dia seperti bunga putih yang berkibar di angin, mampu menarik perhatian semua orang.
Saat melihatku, Arlene terkejut, kemudian dia tersenyum sambil menghampiriku untuk menyapa.
"Nona Casilda?" Dia mengamati penampilanku dari atas ke bawah. "Akhirnya aku melihatmu."
Seorang teman sekelas yang ada di samping kami pun tertawa sembari berkata, "Tak lama lagi Nina akan menjadi Nyonya Mahendra, dia tak bisa dipanggil Nona Casilda lagi. Karena apa? Luise dan Nina sudah berpacaran selama sepuluh tahun. Mereka mungkin sudah mau menikah."
Orang lain menimpali, "Kalau kalian tidak menikah, aku tidak akan lagi percaya dengan cinta."
Waktu berlalu begitu cepat. Dalam sekejap sepuluh tahun telah berlalu.
Fitur wajah Luise tidak berubah banyak, hanya menjadi lebih dewasa.
Namun, aku merasa bahwa dia berubah drastis.
Arlene menyingkirkan anak rambut dari sisi wajahnya sambil tersenyum provokatif.
"Belum tentu. Belum sampai akhir, siapa tahu alur ceritanya berubah." Suaranya sangat kecil sehingga hanya aku yang berada paling dekat dengannya yang bisa mendengarnya.
Aku mengangkat kepala, lalu menatapnya lekat.
Ternyata dia memang tahu alur ceritanya.
2
Aku mengetahui nama Arlene dari Luise.
Selama beberapa tahun berpacaran dengan Luise, kami selalu saling mencintai.
Dia seperti protagonis pria dalam semua novel, tidak tertarik pada wanita lain selain aku.
Hari itu adalah pertama kalinya aku mendengar protagonis wanita lain dari mulutnya.
Aku adalah protagonis wanita yang ditakdirkan untuk Luise. Aku tidak pernah khawatir dia akan jatuh cinta pada orang lain.
Namun, Luise makin sering menyebut nama itu.
Aku menunduk, melihat nasi yang ada di piringku.
Luise masih berbicara, tetapi aku tidak bisa lagi mendengarkannya.
Aku mengangkat kepalaku, lalu menyelanya.
"Apakah kamu menyukainya?"
Luise tertegun. "Apa?"
Aku pun mengulanginya. "Aku bilang, apakah kamu menyukainya? Setiap kali pulang, kamu menceritakan wanita lain kepadaku. Apakah kamu menyukainya, Luise?"
Luise mengerutkan kening, kemudian dia dengan raut kesal berkata, "Bisakah kamu berhenti memikirkan roman picisan seperti itu? Membosankan!"
Luise terlihat makin kesal, lantas dia dengan keras meletakkan sendok di meja, lalu berdiri.
Dia pergi ke kamar dengan langkah terburu-buru.
Saking terburu-burunya, dia tampak sedikit mengenaskan dengan perasaan bersalah yang kami sama-sama tahu.
Setelah beberapa saat, aku bangkit untuk mengambil sebuah buku dari rak di kamar.
Ujung buku itu sudah lecek saking seringnya aku buka. Namun, saat aku membacanya lagi, aku tidak juga menemukan nama Arlene.
Ya, aku tahu bahwa dunia kami adalah sebuah novel.
Aku dan Luise adalah protagonisnya.
Aku mendapatkan buku ini secara tidak sengaja setelah berpacaran dengan Luise. Kemudian, aku dengan terkejut menemukan bahwa nama protagonis pria dan wanitanya sama dengan kami, alur ceritanya bahkan sama dengan kehidupan nyata kami.
Seperti dalam alur cerita, kami saling membenci, lalu perasaan cinta tumbuh di antara kami. Kami mengalami kesalahpahaman, pertengkaran, hingga akhirnya bersatu kembali, kemudian hidup dengan bahagia.
Novel memiliki akhir, namun kehidupan kami harus terus berlanjut.
Seperti yang ditulis dalam novel, aku dan Luise saling mencintai. Aku pikir kami akan saling mendampingi sampai tua.
Namun sekarang, aku tiba-tiba merasa ragu.
Arlene tidak muncul dalam novel ini.
Awalnya, aku pikir Arlene hanya tokoh figuran yang tidak penting.
Tetapi sekarang, aku merasa ada yang tidak beres.
Adegannya dengan Luise jelas begitu banyak, bagaimana mungkin dia tidak memiliki nama dalam buku ini?
Kecuali ... dia bukan dari dunia ini.
Dia adalah orang yang transmigrasi ke dalam buku.
3
Sepanjang acara kumpul-kumpul, Luise tampak tidak fokus.
Aku hendak berbicara dengan Luise, tetapi tatapannya terpaku pada sebuah arah, kemudian dia spontan berdiri.
Aku menoleh ke arah yang menjadi pusat perhatian Luise, lalu mendapati Arlene tengah ditarik seorang pria gemuk.
Luise mengerutkan kening sambil berjalan mendekat dengan langkah lebar.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Luise langsung meninju wajah pria itu.
Pria itu terhuyung-huyung. Sesaat kemudian, dia baru menyeka darah dari sudut bibirnya. Lalu, dia menerjang Luise dengan gusar.
"Sialan!"
Seketika, situasi menjadi kacau. Luise terus menghajar pria gemuk itu tanpa ampun hingga akhirnya dia mengerang di lantai, tak bisa berdiri.
Luise ditahan oleh sekelompok orang, tetapi dia masih ingin maju.
Dia dengan marah berteriak, "Coba saja kalau kamu berani menyentuhnya lagi! Aku beri tahu, aku akan membunuhmu!"
Arlene masuk ke dalam pelukan Luise sambil menangis. Luise memeluk Arlene erat sembari menepuk punggungnya untuk menghiburnya.
Di bawah cahaya berwarna-warni, mereka berdua terlihat seperti pemeran utama dalam cerita.
Aku berdiri diam di tengah kerumunan orang, menjadi tokoh figuran yang tidak penting.
Sesaat kemudian, Luise menarik tangan Arlene untuk membawanya keluar.
Dari awal sampai akhir, dia sama sekali tidak melirikku.
Beberapa teman yang mengenal kami menunjukkan ekspresi canggung, menatapku tanpa berkata apa pun.
Kukuku menancap telapak tanganku, tapi rasa sakit itu ditenggelamkan oleh kesedihan yang meluap dari hatiku.
Aku mencoba mempertahankan sikap terhormat, tetapi bibirku tidak mampu tersenyum meski aku berusaha sekuat tenaga.
Aku hanya bisa pergi dengan mata memerah di bawah tatapan semua orang.
4
Luise pulang sangat larut.
Dia tidak menjelaskan apa pun kepadaku, melainkan langsung berkata, "Nina, kita putus saja."
Aku mendongak tanpa ekspresi.
Dia memandangku dengan tatapan merendahkan. Tatapan yang dulu penuh kelembutan itu kini telah hilang.
"Aku sudah mengerti. Kita adalah pemeran utama di dunia ini sehingga aku menyukaimu."
Aku memandang wajahnya yang agak asing, mengernyitkan kening, lalu dengan pelan berkata, "Tapi, bukan itu yang dulu kamu katakan."
Saat pertama kali tahu bahwa kami adalah pemeran utama, Luise dengan gembira memelukku. Dia sangat senang.
Aku mendorongnya. "Kenapa kamu tersenyum?"
Dia menggigit telingaku, embusan napasnya yang hangat menggelitik telingaku. "Ternyata kamu adalah protagonis wanita yang ditakdirkan untukku. Kalau begitu, lain kali aku tidak perlu khawatir kamu akan pergi."
Akan tetapi, sekarang dia memberitahuku bahwa dia jatuh cinta padaku karena pengaturan alur cerita.
"Tapi alur cerita ini diatur oleh dunia ini, bukan keinginanku sendiri," jawab Luise dengan alis bertaut.
Aku melihatnya berbicara, tapi hatiku mulai terasa mati.
Aneh sekali. Aku menyentuh jantungku sendiri. Jantungku terasa sakit hingga mau hancur, tapi aku masih bisa duduk dengan baik sambil mendengar kekasihku memberitahuku kenapa dia tidak lagi mencintaiku.
"Setelah Arlene datang, aku baru tahu bagaimana rasanya hidup untuk diri sendiri." Saat menyebut nama itu, sudut bibir Luise pun terangkat.
"Nina," panggilnya. "Aku tidak ingin lagi menjadi boneka dunia ini yang hidup mengikuti kehendak orang lain. Kali ini, aku ingin hidup untuk diriku sendiri."
Jantungku hampir berhenti berdetak. Aku refleks menarik ujung bajunya saat Luise berbalik, kemudian dengan gemetar berkata, "Tapi kamu adalah protagonis pria yang ditakdirkan untukku, Luise. Kalau kamu pergi, apa yang harus aku lakukan?"
Saat ini, kekhawatirannya hanya untuk wanita lain. Dia menyingkirkan tanganku tanpa perasaan, lalu dengan teganya berkata, "Siapa pun boleh menjadi protagonis pria ini, yang jelas aku tidak menginginkannya lagi."
5
Ketika Luise pulang untuk mengemas barang-barangnya, Damon Carlito sedang memberiku hadiah ulang tahun.
Dia adalah sahabat Luise dulu, sekaligus pemeran pendukung dalam cerita ini.
Kami sering bermain bersama waktu SMA, tapi sejak aku berpacaran dengan Luise, kami saling menjauh.
Namun, dia memberiku hadiah ulang tahun setiap tahunnya.
Saat itu, aku merasa canggung karena berstatus sebagai pacar Luise. Aku menyuruhnya untuk tidak perlu memberiku hadiah lagi.
Namun, Damon terlalu keras kepala. Dia bilang, itu adalah janjinya kepadaku sehingga dia tidak pernah absen memberiku hadiah sekali pun.
Jika dia tidak datang, aku bahkan tidak ingat bahwa hari ini adalah ulang tahunku.
Ketika Luise dan Arlene masuk, Damon sedang memberikan sebuah brooch kepadaku.