Aku adalah seorang samurai yang telah kehilangan semuanya. Aku telah kehilangan kejayaan, kehilangan semua anggota klan dan kehilangan tempat yang bisa disebut rumah. Sekarang aku hanya seorang pengembara yang bertahan hidup dari berburu di hutan.
Aku kehilangan semuanya karena kekalahan klanku dalam berperang memperebutkan wilayah. Tidak ada yang tersisa kecuali diriku. Semua anggota klan di bantai habis dan menyisakan diriku seorang. Sendirian dibalut luka dan penyesalan.
Hari-hari kujalani dengan tatapan mata yang kosong. Tak ada hasrat untuk terus hidup menanggung kesedihan. Sekarang seluruh wilayah hanya dikuasai oleh 2 klan besar, yakni klan shin dan klan hana. Terus hidup dan melihat klan musuhmu semakin jaya, membuat hatimu ter iris-iris.
Aku tinggal di sebuah kuil tua yang sudah tak terpakai, yang dibangun menggunakan kayu dengan gaya ornamen kuil aliran shinto. Dulu sebelum aku pindah kemari untuk mengasingkan diri, tempat ini sangat bau, kotor dan dipenuhi sarang laba-laba. Butuh waktu 3 hari untuk membersihkan semuanya. Ku letakkan katana dan baju perangku di sudut ruangan.
Aku tidak ingin melihat benda itu, yang membuat diriku semakin depresi. Aku membuat panah serta jebakan untuk berburu. Aku tidak pernah turun gunung untuk berbelanja, karena aku tidak ingin bertemu orang yang mengenaliku. Aku hidup hanya mengandalkan dari berburu dan tumbuh-tumbuhan hutan.
Meski aku tidak ingin lagi memegang katanaku, hati ini masih bergetar ingin mempertajam kemampuanku. Kuhabiskan hari-hari dengan meditasi dan berlatih. Berharap suatu saat bisa mengembalikan kembali kejayaan klanku.
Suatu hari aku mendengar suara kereta kuda dan beberapa suara ekor kuda sedang berlari. Padahal gunung yang kutempati terkenal sebagai gunung yang tidak sembarangan orang bisa lalui, karena kabut yang tebal sepanjang hari membuat siapapun tersesat. Gunung ini juga dipenuhi pepohonan yang lebat membuat, jalur setapak pun mulai tertutupi oleh akar pohon. Jadi akan sangat sulit jika dilewati menggunakan kereta kuda maupun kuda.
Ku ikuti suara kereta kuda itu dan suaranya berhenti tepat dibawah air terjun yang deras. Terdengar samar, suara pedang saling beradu, serta gesekan-gesekan pedang yang mengeluarkan bunga api. Aku tidak ingin ikut campur dan hanya mengamati dari atas air terjun. Lama kelamaan suara pedang yang saling beradu berubah menjadi suara daging yang terkoyak, hingga tak terdengar lagi suara pedang saling beradu.
Di antara suara gemuruh air terjun yang deras, terdengar suara wanita berteriak meminta tolong. Aku semakin penasaran dan mendekat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Samar-samar kulihat seorang wanita menggunakan kimono dengan rambut terurai tengah dikelilingi 4 lelaki. Aku bisa menduga mereka ingin mencicipi tubuh wanita itu. Aku tahu dari gerak-gerik mereka yang mulai meraba-raba tubuh wanita itu.
Aku paling benci melihat seseorang lelaki yang hanya melihat wanita sebagai alat pemuas nafsu saja. Aku segera berlari dan mengambil pedang yang terjatuh dari pengawal si wanita. Tanpa basa-basi aku menggunakan jurus berpedang.
*menarik nafas dalam-dalam*
"Jurus aliran air : Aliran air dalam sunyi" Aku berkata dalam hati sambil memegang erat pedang, melangkahkan kaki sesuai kuda-kuda yang kuat dan mulai mengayunkan pedangku. Jurus ini memang diperuntungan sebagai serangan kejutan yang cepat dan dapat membunuh banyak musuh sekali ayunan.
*suara orang-orang berjatuhan*
"A...... apa yang terjadi? Siapa kau yang berdiri didepanku"
" Aku tidak berniat menyakitimu, aku hanya ingin menolongmu. Aku sudah membunuh orang yang ingin mencelakaimu sekarang kau pergilah kembali pulang"
" Aku tidak tahu cara keluar dari gunung ini "
"Ikutilah bayanganku, aku tidak peduli jika kau tidak bisa mengikutiku"
Aku mulai berjalan dengan cepat dan sesekali menengok kebelakang melihat apakah dia bisa mengikutiku. Ku tuntun dia hingga tepat ke pintu keluar gunung.
"Aku sudah memandumu keluar"
"Huh..... tunggu sebentar" wanita itu masih mengambil nafas dan terengah-engah
"Apakah kau tidak bisa sedikit lembut kepada wanita?"
"Mulai sekarang aku tidak akan menemani perjalananmu pulang"
Perlahan kabut mulai hilang. Kabut di gunung sangatlah tebal dan akan tetap ada seharian, tetapi kabut tidak akan bertahan lama jika berada dibawah kaki gunung.
"Ternyata kau masih muda..... mungkin kau seusiaku"
"Tidak" Aku segera bergegas meninggalkan wanita itu
*Wanita itu menarik tanganku dan memeluk tanganku*
"Jangan tinggalkan aku sendirian, Klan Shin akan menangkapku dan menjadikanku tawanan" Wanita itu masih dengan erat memeluk tangan kananku.
"Aku tidak peduli" Aku mencoba menarik tanganku.
" Jika aku tertangkap, Klan Shin akan menguasai semua wilayah" Wanita ini menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dalam hatiku ada perasaan ingin membalaskan dendam atas kehancuran klan ku kepada Klan Shin, tetapi aku sudah tidak ingin berada di jalan yang dipenuhi darah.
"Kumohon tuan..... hanya dirimu yang bisa kuandalkan" Wanita itu mulai menangis dan memelukku.
"Baiklah, tapi aku harus mengambil pedangku dan beberapa benda yang ada dikuil"
Setibanya di kuil, matahari sudah mulai terbenam dan perjalanan tidak bisa dilanjutkan dan kuputuskan untuk bermalam terlebih dahulu.
"Makanlah, aku memasak rebusan ayam"
"Walaupun kau laki-laki ternyata kau jago memasak juga" Wanita itu tersenyum sambil menatapku.
"Cepat habiskan dan pagi-pagi sekali kita akan berkuda menggunakan kuda dari para pengejarmu"
"Tuan apakah aku boleh tahu namamu?" menatapku dengan penuh penasaran. Matanya yang bulat, pipi chuby yang kemerah-merahan membuatnya terlihat lucu.
" mmmm.....Ryu"
"Nama yang cocok untukmu, namaku Himawari. Namaku mirip seperti diriku kan?"
"mmmm..... iya"
"Jangan malu begitu, kau muda dan tampan kenapa sendirian tinggal disini?"
"Aku seorang Ronin"
"O... maafkan aku, tuan Ryu berasal dari Klan Mana?"
" Aku tidak ingin membicarakannya" Aku mulai menyandarkan punggungku ke dinding kayu dan mulai memejamkan mataku tetapi masih tetap waspada.
"maafkan aku" Himawari beberapa saat masih memainkan tangannya sebelum akhirnya tertidur.
Saat sebelum matahari terbit, aku merasakan beberpa langkah kaki mulai mengelilingi kuil. Aku berpura-pura masih tidur sambil bersiap siap mengayunkan katanaku.
Mereka perlahan memasuki area seranganku. "Jurus pedang katana, Sungai yang tenang" Aku mengayunkan pedangku dan terus menyerang sembari menghindari tebasan musuhku. Tak butuh waktu lama aku bisa mengalahkan mereka semua.
*suara tubuh yang mulai berjatuhan*
"Tuan Ryu suara apa itu? Ah......." Himawari kaget terdapat mayat tepat didepan wajahnya.
"Kita harus segera pergi, kita sudah terkepung." Aku memegang tangannya dan menariknya, bergegas mengendarai kuda bersama.
"Tuan Ryu, apakah kita bisa pulang dengan selamat?" Himawari memelukku dan melingkarkan tangannya ke perutku dengan erat.
"Kita bisa melewati ini semua"
Sudah banyak pasukan menunggu dijalan setapak yang biasa kulalui. Aku mengambil jalan rahasia untuk memutari mereka. Mengetahui aku memutari mereka, mereka mulai menghujani kami dengan anak panah. Beberapa dari mereka mulai mengejarku.
Aku mulai mengambil busurku dan bersiap untuk memanah mereka.
"Himawari pegang kendali kuda ini"
"Tapi aku tidak bisa berkuda"
"Sudah pegang sebentar saja"
"Baiklah!!!!!!"
Aku melakukan salto kebelakang dan berdiri tepat dibelakang himawari. Satu persatu ku bidik yang mengejar kami hingga mereka semua terjatuh akibat terkena anak panahku.
Aku kembali duduk dan mengendarai kuda lagi.
"Tuan Ryu, kenapa kau ada dibelakangku. Rasanya aneh jika kau mengemudi kuda dan berada dibelakangku. Aku serasa di peluk dari belakang."
" Sudahlah... ini keadaan genting. Kita akan sampai ke tempat ayahmu dalam tiga hari"
Setelah dirasa aman kami berdua mengistirahatkan kuda kami dan menyiapkan beberapa perbekalan untuk berkendara dimalam hari.
" Tuan Ryu, apakah kita tidak berkemah disini? Sebentar lagi malam tiba"
"Kita tidak bisa berhenti sekarang, Aku akan mengemudi kau tidur saja nanti"
" Masakannya sudah matang Tuan Ryu"
"Lain kali biarkan aku saja yang memasak"
*Ketika hendak melanjutkan perjalanan*
"Jadi begini caramu agar aku bisa tidur meski sedang berkuda?"
"Sudah jangan mengeluh"
"Mengikat tubuh kita berdua? Aku merasa malu, apakah tidak ada cara lain?"
"Sudah lakukan saja"
Dalam perjalanan kami saling bertanya dan mengobrol satu sama lain tentang diri masing-masing. Himawari mulai menyadari Ryu adalah sosok seorang laki-laki yang bertutur kata halus dan bersikap lembut. Meski begitu Ryu juga memiliki sosok yang kuat, berani, dan berprinsip teguh.
Himawari mulai bersimpati kepada Ryu. Selama perjalanan Himawari bertanya tentang masa lalu Ryu yang suram. Ryu adalah anak seorang samurai biasa. Ryu mulai ikut berperang saat berusia 15 tahun. Di usia muda, dia sudah melihat pemandangan mengerikan di medan tempur. Ryu juga melihat kematian ayahnya sendiri di medan tempur. Semenjak kematian ayahnya Ryu mulai bertekad dan berusaha menjadi seorang ahli pedang. Tujuannya menjadi lebih kuat, untuk melindungi semua orang yang dicintainya. Tetapi semenjak Klannya musnah dia sudah tidak memiliki tujuan lagi.
"Aku dulu memiliki 4 saudara seperjuangan, meski kami berempat tidak memiliki hubungan darah"
"Sekarang mereka berempat dimana?
"Aku hanya tahu kakak pertama dan kakak kedua sudah gugur di medan perang. Sedangkan adik keempat aku tidak tahu kemana"
"Siapa yang telah mengalahkan klanmu?"
"Klan Shin yang telah menghancurkan Klanku. Aku tahu di antara klan kami ada yang berhianat tapi aku tidak tahu siapa"
"Jangan terlalu dipikirkan, hal itu akan membuatmu sedih" Himawari memegang tangan Ryu dan kemudian tidur di dekat api unggun.
Besoknya perjalanan Ryu sudah hampir sampai tetapi Klan Hana menghadang Ryu dan berkata bahwa mereka yang akan mengantar Nona Himawari kembali ke kastil. Ryu masih curiga dan meminta untuk menemani Himawari sampai bertemu dengan pemimpin Klan Hana.
"Tidak apa-apa tuan Ryu, aku mengenal salah satu diantara mereka"
"Tapi aku merasa ada yang aneh"
*Himawari turun dari kuda dan mulai berjalan menuju kereta kuda yang telah disiapkan*
Ryu hanya bisa memandangi Himawari dari kejauhan. Melihat Himawari yang mulai menghilang, masuk kedalam kereta kuda. Saat kereta Himawari sudah mulai berjalan tiba-tiba ada anak panah yang melesat ke arah Ryu. Ryu menghindarinya tetapi masih menggores bahu kirinya. Darah segar mulai mengalir dari luka Ryu yang terbuka.
Mengetahui situasi ini Ryu lari mengejar Kereta yang dinaki Himawari. Dengan susah payah sembari menghindari anak panah yang mencoba mengenai tubuhnya, Ryu akhirnya bisa menyusul dan menghentikan kereta kuda tersebut. Dengan Sangat cepat Ryu menebas semua orang yang berada di kereta kuda tersebut dan membawa Himawari segera menuju ke tempat Klan Hana.
Ryu akhirnya bisa menerobos masuk kastil Klan Hana dan membawa Himawari menemui ketua Klan Hana. Ryu dan Himawari akhirnya turun dari kuda dan bertatap muka dengan pemimpin Klan Hana di halaman Kastil Klan Hana.
Himawari segera berlari ke arah ketua Klan Hana yang ternyata merupakan ayahnya.
"Jangan sakiti dia ayah, dia yang telah menyelamatkanku dari Klan Shin"
"Dia adalah orang yang telah membunuh kedua kakakmu. Aku tidak bisa membiarkan dia hidup. Aku senang mendengar kabar klan Iruna telah musnah dan berharap dia ikut mati bersama Klannya"
*Himawari memeluk ayahnya dan mencegah ayahnya mendekati Ryu"
"Pasukan pemanah bersiap!!! Panah dia"
Ryu dengan lincah menghindari semua serangan dan segera pergi dari Kastil Klan Hana. Saat Ryu telah berhasil keluar dari Kastil, Klan Shin sudah bersiap untuk menggempur Klan Hana.
"Lama tidak berjumpa kakak ketiga. Sepertinya kau terlihat sehat"
"Kenapa kau bersama Klan Shin? Ternyata kau yang menghianati Klan!!!!" Raut muka Ryu berubah menjadi murka tetapi juga sedih
"Kau tahu, aku sejak dulu sudah hidup sendirian dan meskipun aku mengabdi kepada Klan Iruna aku tidak akan pernah mendapatkan kejayaan"
"Kau menghianati kita semua hanya demi itu. Dasar Kepar*t!!!!!!!"
Ketua Klan Shin yang masih muda muncul dan mulai berbicara dengan Ryu.
"Aku membiarkanmu selamat dari pembataian klanmu karena dulu kau pernah membiarkanku hidup dan Adikmu ini juga meminta agar kau tetap hidup supaya dirimu menderita"
"Tidak sudi aku menganggap dia Adik dan seharusnya aku membunuhmu saat itu, aku hanya kasihan dan membiarkanmu hidup karena dulu dirimu masih kecil. Sekarang aku menyesal tidak membunuhmu"
Dari kejauhan Pasukan Klan Hana juga sudah bersiap melihat pasukan Klan Shin datang menyerang.
"Pasukan pemanah Tembak!!!!!"
Klan Hana sudah mulai menembakkan anak panah mereka ke arah pasukan Shin. Pemimpin Klan Shin segera memerintahkan pasukannya untuk meratakan Klan Hana.
"Jangan Ragu, Kita akan musnahkan Klan Hana Saat Ini juga. Mereka sudah kalah perang sebelumnya dengan kita dan jumlah mereka saat ini hanya sedikit. SERANG!!!!!"
*Gemuruh teriakan ribuan pasukan dan suara getaran langkah kaki yang mulai berlari"
Ryu meghadang pintu masuk Kastil Klan Hana seorang diri. Himawari melihat Ryu yang sendirian menghadapi ribuan pasukan Klan Shin, hanya bisa menangis dan berlari berusaha menyelamatkan diri bersama beberapa pelayannya.
Ryu mulai menebas pasukan Klan Shin Tapi karena terlalu banyak, pasukan Klan Shin bisa menerobos masuk tembok Kastil Klan Hana.
"Aku dengan bangga mati di medan perang dan membalaskan dendam Klanku"
Juno adik seperjuangannya turun dari kudanya dan akan mulai menyerang Ryu.
"Kau tahu kak, aku yang paling lemah dibandingkan kalian bertiga dalam ilmu pedang. Tetapi aku yang paling pintar diantara kalian. Aku sudah tahu gaya bertarungmu dan aku pasti akan menang"
*Tiba-tiba pasukan Klan Shin membawa penghalang dan mulai membuat penghalang dari tameng untuk mempersempit ruang gerak Ryu*
"Kau tahu kak, kau tidak bisa kemana-mana. Kau hanya bisa berlari lurus ke arahku, tetapi sebelum sempat kau mendekatiku kau sudah mati ku tembak"
"Aku tidak takut akan kematian"
Juno mulai mengambil persiapan membidik Ryu dan mengarahkan pistolnya kearah jantung Ryu. Posisi Ryu memang sangat dirugikan karena jarak menuju ke Juno sangat jauh, sedangkan Juno menggunakan pistol untuk menyerang.
"Tidak ada cara lain, Teknik Pedang Katana; Kehampaan"
"Kuda-kuda itu jangan-jangan, jurus kakak pertama untuk menyerang musuh yang posisinya memiliki jarak yang jauh dengan melemparkan katananya"
Juno segera menembak Ryu dengan beberapa tembakan. Ryu tidak bergeming dan membiarkan peluru menembus dada serta kaki kanannya.
"Kau tidak mungkin menguasai jurus itu!!!!!"
Ryu dengan sekuat tenaga melempar katananya dan tepat mengenai kepala Juno dan membuat Katanya menancap di kepala Juno. Melihat hal itu pemimpin Klan Shin menyuruh semua pasukan yang ada didekatnya untuk membunuh Ryu.
Ryu segera berlari mengambil katananya tetapi sebuah tombak menerjang tubuhnya. Ryu membalas dengan sebuah tebasan. Dengan secepat kilat Ryu mengeluarkan teknik yang sama untuk membunuh Pemimpin Klan Shin dan tepat mengenai jantungnya.
Ryu terlihat tersenyum sembari memungut pedang yang jatuh untuk memulai balas dendamnya kepada Klan Shin.
"Teknik Pedang Katana; Kebebasan"
----TAMAT---