Di pagi hari di sebuah rumah kecil nampak seorang gadis yang baru beranjak remaja yang bernama mardalisa, yang biasa dipanggil dengan sebutan ica bersandar di pintu rumah dengan mata yang berkaca-kaca.Semenjak ayahnya meninggal disaat dia duduk dibangku kelas 5 SD kehidupannya berubah drastis, sekarang ia hidup dengan ibu dan seorang adik laki-laki yang bernama ade.
Ibunya harus bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tak peduli hujan ataupun panas yang ibunya pikirkan bagaimana agar anak-anaknya bisa makan dan sekolah.Pagi ini ica binggung entah bagaimana cara ia bicara sama ibunya untuk meminta uang untuk biaya perpisahan dia yang sudah sitagih oleh pihak sekolah.
Ica tidak tega harus menabah beban ibunya, ia ingin bekerja untuk membantu ibunya. Setidaknya ia bisa mencari uang untuk biaya sekolahnya sendiri tampa harus menambah beban ibunya.
Akhirnya ia memohon sama ibunya,
"Ibu ada yang mau ica bicarakan sama ibu ica ingin ikut ibu bekerja, boleh ya bu..
Emang kenapa ica mau ikut bekerja?
Ica ngak tega melihat ibu bekerja sendiri.
" Ngak apa-apa kok nak, lagian ibu udah biasa kok nak. Kamu sekolah aja yang benar.
" Ica mohon ya bu, boleh ya bu..
Tak tega ibunya melihat anaknya yang memohon
"Iya boleh-boleh,nanti ibu tanya dulu sama pak amin, apa kamu boleh bekerja dikebunnya, tapi emangnya kamu bisa manen kopi?
" Bisa kok bu bisa.
'Ya sudah, ayo kita berangkat nanti ngak enak Sama pak amin kalau kita datang telat.
"Iya ibu.
Sesampai mereka diladang pak amin sudah banyak karyawan lain yang sudah datang dan sudah bersiap-siap mulai bekerja. Ibu ani ibunya ica lansung menemui pak amin dan menanyakan masalah ica mau bekerja.
" Pagi pak,
" Pagi buk
"Pak hhmm..
" Ada apa buk ani.
"Ada yang mau saya katakan,
'Katakan apa yang mau ibu katakan,
'Anu pak anak saya ica mau bekerja bantu-bantu dikebun bapak, apa boleh pak?
'O...
Bukannya ica masih kelas 6 SD buk, apa ngak apa-apa kalau bekerja?
'Icanya yang mau sendiri pak, mungkin ica bosan dirumah sendiri menunggu hasil pengumuman kelulusannya pak.
" Ya sudah ngak apa-apa buk, silahkan aja ica bantu-bantu dikebun ini.
'Makasih banyak ya pak
"Sama-sama buk
Setelah buk ani menemui pak amin, buk ani langsung menemui ica yang duduk dibawah pohon kopi yang tingginya ngak nyampek 2meter.Ica harap-harap cemas melihat kedatangan ibunya.
" Gimana ibu? Apa kata pak amin, apa boleh aku bekerja dikebun ini?
"Iya nak kamu diperbolehkan bekerja disini, tapi kamu harus hati-hati ya.
" Iya ibu
Senyum indah terpapar jelas dibibir ica, bertanda ia senang dengan apa yang ibunya sampaikan. Selama libur sekolah ica selalu bekerja bersama ibunya dikebun pak amin, sementara teman-teman yang seumurannya ica sibuk main HP, nongkrong dan jalan-jalan ia malah bekerja.
"Namun ibu ani ada merasa sedih karna anaknya masih kelas 6sd sudah harus bekerja, belum lagi kunjungan mulut tetangga. namun ia juga tidak memungkiri kalau ia tak sanggup mencukupi semua biaya keluarganya, mulai biaya makan, bayar listrik, biaya sekolah ade dan ica. Mana cukup dengan gajinya hanya menjadi buruh memetik kopi.
Sudah sebulan ica bekerja pergi pagi pulang sore hari, pak amin merasa salut dengan keuletan gadis itu dalam bekerja, ica tak bisa dianggap remeh walau ia masih berumur 13tahun, tapi kemampuanya dalam bekerja tak beda jauh dengan wanita dewasa yang bekerja dikebun pak amin.
" Ica sini, (pak amin memaggil)
'Iya pak
"Hari ini kamu udah sebulan kerja disini, ni gajimu.
Pak amin menyerahkan uang satu juta lima ratus ribu pada ica.
Ica terkejut ia ngak menyangka kalau ia akan mendapat gaji sebesar itu, karena ia hanya ingin bekerja dan dapat membayar uang perpisahan tiga ratus ribu rupiah.
'Pak ini apa ngak kebanyakan pak, sayakan masih baru bekerja di kebun bapak ini.
" Ngak,itu sesuai kok dengan peluh yang kamu keluarkan untuk memanen kopi saya.
"MAkasih banyak ya pak.
'Sama-sama ca
Tampa sadar ica mengeluarkan butiran- butiran bening dari kedua matanya, rasa syukur tak berhenti terucap dari mulutnya.selah Ica keluar dari rumah pak amin Ica langsung berhambur kepelukan ibunya, yang ada dihalaman rumah pak amin.
"Udah nak ngak usah nangis
'Ibu hhmmm...
Ni bu, ini gaji pertama ku
" Udah simpan sama kamu aja itu kan uang yang susah payah kamu mendapatkannya.
' ngak ibu ini ibu yang sipan aja uangnya udah aku siaihkan tiga ratus ribu untuk membayar biaya perpisahan ku disekolah selebihnya biar ibu aja yang simpan.
" Baiklah nak
Pengumuman kelulusan sudah tiba, Ica dan ibunya yang duduk dibangku paling depan merasa tegang saat nama Ica dipanggil oleh guru yang ada di atas panggung.
"Kepada murid kami Mardalisa silahkan maju kedepan,
Ica dan ibunya bergandengan tangan naik keatas panggung dan diatas panggung Ica menerima sebuah amplop bewarna putih yang diberikan oleh ibu guru kepada Ica.
Ica tak sanggup membuka amlopnya, Ica memberikan kepada ibunya dan ibu guru Ica mempersilahkan ibu Ica membuka amlopnya. Ica menutup kedua matanya dengan telapak tangannya, setelah ibu ani mebuka amlopnya dan membuka kertas putih yang dilipatnya, ibu ani memeluk putrinya dan mencium kening anaknya. Pelan-pelan Ica membuka kedua telapak tangannya dan memperhatikan mimik wajah ibunya,
" Gimana ibu, lulus atau ngak bu? (Ica semangkin penasaran begitu juga teman-teman Ica yang berada dibawah panggung)
'Alhamdulillah nak kamu lulus.
Tepuk tangan menyertai tangisan Ica yang senang karena ia lulus, Jangan berfikir ini semua sudah berakhir karena ini adalah awal dari perjuangan Ica dan keluarganya.
Setelah lulus dari SD ica masuk sekolah SMP suwasta, walau agak sedikit mahal namun sekolah itu agak dekat dari pada sekolah negri. Dan biaya masuk sekolah itu dicicil oleh ibu ani dengan cara bekerja di kebun pak amin, kebetulan kepala sekolah SMP itu adalah pak amin.
Setiap libur sekolah Ica selalu ikut bekerja dengan ibunya di kebun pak amin.
Walau keadaan Ica dan keluarganya serba kekurangan mereka selalu nampak bahagia, walau kadang makan hanya nasi putih dan sabal cabe yang digiling pakai garam aja.
Keadaan berubah karena sudah ada orang yang menjodoh-jodohkan ibu ani dengan berbagai macam pria,kata para ibu-ibu tetangga mereka pada kasihan melihat ibu ani bekerja sendiri dan membesarkan kedua anaknya.
Ica yang mendegarkan apa kata ibuk-ibuk tetangga hanya dapat menanggis sambil memeluk adiknya yang baru berusia 9tahun.
" Kak kenapa kakak nangis?
' ngak kok dek, ngak apa-apa kakak hanya rindu ayah aja
"Ade juga rindu ayah kak, coba ada ayah ibu pasti dirumah tiap hari.
'Iya ya dek
Pecahlah tanggis dua orang beradik kakak itu, namun yang dipikirkan Ica sebenarnya bukan itu saja yang dipikirkan Ica gimana kalau ibunya benar-benar menikah lagi, trus ibunya punya anak lagi dari suami barunya. Mungkinkah ibunya akan sayang lagi sama ica dan ade, gimana kalau bapak tirinya kejam.
Ntah la..
Entah sudah sejauh mana Ica berfikir sambil menangis dan memeluk adiknya, hingga mereka berdua ketiduran.
Ibu ani baru palang bekerja ia pun mengetuk pintu,
'Assalamualaikum.....
'Assalamualaikum....
'Kok ngak ada jawaban ya pada kemana anakku, tapi pintu ngak dikunci.
Pas pintu dibuka dilihat ke dua anaknya sudah tidur terlelap, diambilnya selimut kemudian diselimuti nya kedua anaknya sambil buk ani menatap ke dua cahaya hidupnya tersebut.
"Nak maafkan ibu yang tak bisa membuat kalian bahagia, walau sekeras apapun ibu berusaha tetep saja kita masih jauh dari kata cukup. Makasih anak-anakku walau kalian masih kecil namun kalian tidak pernah menuntut yang kalian tahu ibu tak akan sanggup mengabulkannya, Terimakasih banyak atas pengertian kalian. Ibu tak akan sangup menjalani ini semua tampa ada kalian.
Kemudian ibu ani mencium pipi anaknya.
Tampa ibu ani ketahui anaknya Ica, mendegar semua apa yang ibunya katakan. Ica terus saja menanggis menggigat bagaimana ibunya mencari nafkah untuk memenuhi hidup mereka, bukan tidak sayang ibunya kepada ani dan ade namun keadaan yang mengharuskan ibunya kurang waktu dalam menunjukkan kasih sayang itu.
Pagi Ica bangun sholat subuh trus Ica kedapur membantu ibunya membuat makanan, mandi,akan kemudian berangkat sekolah bersama adinnya.
Pas pulang sekolah Ica melihat ibunya berbicara dengan seorang pria, yang umurnya sekitar 50an. Ica malah menghindari ibunya, ia malas aja bertemu dengan laki-laki yang selalu merasa prihatin dengan keadaan ibunya.
"Hai ca,
'Hai
" Napa lu ca gue liat lo belakangan ini sering banget melamun, emangnya apa sih yang lagi lo pikirin
'Ngak kok lu(lulu adalah satu-satunya teman Ica)
" Kalau ngak ada ngak mukin bentuk lo sekacau ini, cerita aja la, mulut gue lu tau kan ngak pernah ember. Cuma kadang-kadang aja kalau khilaf he.. He...
'Gue kasihan banget lihat ibu gue kerja sendirian untuk memenuhi kebutuhan kami.
" Ya udah lo suruh aja ibu lo nikah lagi, gampang kan.
Bersabung....