Namaku adalah Camellia lestari tapi setelah menikah namaku berubah menjadi Camellia cortez, dan panggil saja Aku Lia . Aku adalah seorang istri dari Alex cortez. Ya, Alex cortez. Siapa yang tidak mengenal dia?
Dia adalah seorang penyanyi yang sekarang sedang digandrungi banyak wanita di Amerika atau bahkan di Dunia. Kami menikah sekitar 3 tahun yang lalu. Aku mengenal Alex sebagai teman SMA ku dulu. Aku berpacaran sekitar 7 tahun dengannya. Bukan waktu yang sebentar bukan? 10 tahun telah aku lalui bersama dalam suka dan duka. Dari mengerjakan ujian sekolah sampai menyelesaikan skripsi dan diwisuda bersama. Pada usia pernikahan kami yang lama ini, harus nya aku dan dia sudah memiliki anak. Tapi apa daya, tampak nya tuhan masih enggan untuk memberi kami malaikat kecil. 10 tahun aku melalui hari ku dengan saat indah. Indah sekali karena Alex selalu menemaniku setiap saat. Menjaga ku saat tertidur malam, membantu membereskan rumah, memasak, mengantarku pergi belanja, dll.
Aku tak pernah mengerti akan sikapnya. Kadang dia begitu sangat memperhatikanku, tapi terkadang juga dia sangat tidak perduli dengan ku dan lebih memilih tidur di kantor entertaiment nya untuk kemudian pulang pada hari berikutnya. Aku kesepian. Ya, aku sangat kesepian. Terkadang saat dia pulang, dia langsung mandi dan masuk ke kamar dalam diam. Begadang sampai malam hanya untuk berkutat dengan laptop atau psp nya. Sering kali aku menangis saat aku dirumah sendiri kesepian. Apakah aku ini? Dianggap kah aku sebagai istrinya?
###
Dia tidak pernah memberitahukan Jadwalnya padaku. Pernah suatu saat aku ditelpon oleh salah seorang temanku yang bilang bahwa di stasiun Tv X, Alex sedang menyanyi duet dengan seorang wanita berambut panjang. Aku tertegun memandang televisi. Tak terasa buliran air mata hangat jatuh dari mata ku. Aku membiarkannya jatuh membasahi pipiku. Aku tak menyangka dia begitu tertutup kepadaku.
Dianggapnya apa aku ini? Anjing peliharaan? Atau apa? Aku benar-benar merasa seperti anjing peliharaan tua, yang tidak pernah diperhatikan dan hanya diberi makan saat dia menggonggong keras pertanda lapar. Begitu lah aku, hanya diberi perhatian saat dia sudah lelah dengan seminggu konser nya lalu dia mengajak ku untuk pergi ke kamar. Sekedarnya . Kembali aku memandang tv dengan perasaan campur aduk. Memang tidak ada yang tahu dengan pernikahan kami. Hanya orang tua kami berdua beberapa keluarga dan manager nya. Padahal dulu aku yang memintanya untuk menutup rapat pada publik. Aku tak mau hanya karena aku karir nya hancur. Tapi apa balasannya? Nope!
Malam datang, bulan sangat terang diluar. Aku memilih untuk duduk di teras rumahku. Tak lama datang sebuah mobil yang sangat ku kenal. Ya, itu mobil Alex. Ku lihat jam ditanganku, 23.00 . Ya waktu yang tepat sekali. Aku berusaha tersenyum menyambut kedatangannya. Aku memang begitu, walaupun aku diderita berbagai masalah. Tapi aku akan tetap tersenyum seakan berkata 'aku baik tidak ada yang terjadi padaku' .
"Sayang, kau belum tidur?" ujarnya sambil menghampiriku. Ada apa dengan nya? Kenapa dia seramah ini kepadaku dan begitu memperdulikanku?
"Belum, aku menunggu mu" ujarku semanis mungkin sambil mengambil tas yang sedang di bawanya.
"Sungguh? Tapi ini kan sudah larut" tanya nya sambil membawaku masuk.
"Tidak apa-apa, apapun akan kulakukan untuk kekasih hatiku ini" ujarku masih dengan keramahan.
"Ayo temani aku ke kamar" pintanya sambil menarik tanganku pelan.
Ya beginilah Alex, pantas saja dia baik kepadaku malam ini. Rupanya dia meminta 'hal itu' kepadaku. Aku hanya menurutinya dengan senyum yang terus mengembang. Sekali lagi, aku menghabiskan malam dengan perasaan hancur dan teraibakan. Keesokan paginya, aku terbangun dengan suara anda dering dari ponselku.
"Siapa?" tanya tak acuh.
"Temanku" jawabku singkat. Aku memilih keluar kamar untuk melanjutkan permbicaraanku dengan temanku itu. Setelah aku selesai, aku kembali masuk ke kamar dengan maksud ingin bercerita dengan Alex.
"Sayang, ada yang ingin kubicarakan kepadamu" ujarku lembut sambil membelai tangannya. Tapi langsung ditepisnya.
"Apa?" tanyanya singkat sambil berbalik membelakangiku.
"Kau tahu temanku Clover kan?" tanyaku selembut mungkin. "Hem" tapi dia hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman.
"Istrinya meninggal karena kecelakaan, dan kau tahu kan kalau mereka mempunyai seorang anak yang berumur 6 tahun?" .
"Hem" kembali dijawabnya dengan sebuah gumaman.
"Dia ingin kita yang merawat anak nya tersebut. Bagaimana? Kau setuju? Lagi pula kita belum punya anak kan? Dan aku kan kesepian dirumah sendiri terus" . "Bagaimana boleh kan?" tanyaku lagi dengan nada seolah 'tolonglah aku butuh teman kau tahu' .
"Terserah kau saja, aku pergi dulu. Ada rekaman. Mungkin aku tak akan pulang malam ini. Jangan tunggu aku" ujarnya tak peduli sambil berlalu ke kamar mandi dan terus pergi meninggalkan ku di kamar.
###
Hari sudah siang, aku memasak seadanya. Bukan, bukan untuk Alex tapi untuk Clover dan anaknya. Jam 12 pintu rumah ku diketuk dengan keras. Aku berlari ke luar untuk membuka pintu.
"Eh, Hello Clover dan wah siapa ini?" sapaku lembut pada Clover dan anaknya.
"Hello, kenalkan ini anak ku namanya Cloudy" balasnya lembut sambil mengacak rambut Cloudy pelan.
Aku mempersilahkan Clover dan anaknya masuk ke rumah dan langsung makan siang. Aku mengamati Clover dan anaknya. Clover tampak tampan dengan sweater yang dikenakannya, dia selalu mengumbar senyum padaku juga Cloudy. Walaupun aku tahu bahwa dia menyimpan sejuta duka dalam hatinya. Tak lama kemudian Clover berpamitan kepadaku dan juga Cloudy. Cloudy menarik celananya saat Clover melewati kami dan pergi mendekati pintu.
"Ayah mau kemana?" tanyanya polos.
"Ayah mau pulang dulu, kau disini yah. Ingat jangan nakal dan menyusahkan." Pesannya sambil mengacungkan jari telunjuk nya.
"Disini bersama dia?" balas Cloudy sambil menunjukku.
"Panggil dia Bunda dan suami nya dengan Ayah Alex. Mengerti?" ujarnya mengingatkan.
"Baik Ayah. Ayah hati-hati ya" Cloudy pun melambai kan kedua tangannya kearah Clover yang telah pergi menjauh.
Aku tak mengerti, sungguh tak mengerti. Cloudy dan aku sama. Kenapa sama? Karena dia sangat penurut, sama seperti ku yang selalu menurut dengan Alex. Apakah Cloudy tidak tahu kalau sekarang dia sedang dibohongi? Yah setidaknya aku tak usah malu karena ternyata ada yang senasib denganku.
###
Malam harinya aku membuatkan semangkuk sup hangat untuk Cloudy. Dia melahapnya dalam diam. Setelah dia selesai makan dia mengucapkan terima kasih dan selamat malam. Aku tak mengerti kenapa Cloudy dan Clover lebih menghargai ku ketimbang Alex? Setelah Cloudy tertidur, aku menuju ke kamar untuk tidur. Saat aku membaringkan badanku ke kasur ternyata aku menekan remote tv dan membuat tv didepan ku menyala dengan cepat.
"Aih, bodoh." Aku merutuk diriku karena ceroboh meletakkan remote sembarangan. Saat aku hendak mematikan tv tiba-tiba aku melihat sebuah pemandangan tak asing di layar tv. Ya, itu Alex dan wanita yang duet bersamanya waktu itu.
"Apakah kalian berdua menjalin hubungan?" tanya sebuah suara yang tak tahu dari mana asalnya.
"Emh,, hehe bagaimana ya?" ujar seorang pria yang sedang menggandeng tangan seorang wanita dengan kebingungan. Apa? Oke! Akan kuulangi. Ujar seorang PRIA yang sedang MENGGANDENG TANGAN seorang WANITA dengan kebingungan.
"Kau tampak sangat malu? Apakah itu menandakan kalau 'iya'? Sahut sebuah suara berat yang menekankan kata 'iya' pada omongannya.
"Tampaknya bagaimana?" ujar seorang wanita dengan nada centil sambil memandang pria nya itu dengan sebuah kedipan.
Mukaku memerah, mataku panas. Segera ku matikan tv itu dan kulempar remote nya ntah kemana. Aku kalap. Oke aku ulangi, aku kalap. Apakah Alex tidak mengerti akan perasaan ku? Seenaknya dia mengandeng tangan seorang wanita di infotaiment . (Oke aku tidak tahu apakah di Amerika memiliki infotaiment tapi anggaplah itu ada) .
Aku tidak bisa tidur malam itu, aku pergi keluar untuk membuka komputer sejenak. Biasanya aku membuka email jika aku bosan, beharap ada email yang nyasar dan isinya sangat romatis dan akan membuatku tertawa semalaman membanyangkan email itu Alex lah pengirimnya. Pada saat aku membuka terpampang lah dengan sangat besar sebuah tulisan. "ALEX CORTEZ PENYANYI TERKENAL DI AMERIKA TELAH MENJALIN HUBUNGAN DENGAN SONG QIAN ATAU YANG LEBIH DIKENAL DENGAN NAMA VICTORIA PENYANYI PENDATANG BARU"
Aku membacanya dengan seksama dan berulang-ulang. Tahukah Alex perasaanku saat ini? Sakit. Ya, sakit. Sangat menusuk. Sekelebat bayangan Alex telihat jelas diotakku. Aku sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku hanya terdiam memandang layar komputer dengan mata yang redup.
"Bunda..Bunda kenapa?" ujar seorang anak kecil membuyarkan lamunan ku sambil memperhatikan ku dengan seksama.
"Ah, Cloudy. Tidak apa-apa. Kenapa tidak tidur?" tanyaku sambil menyembunyikan kesedihanku. Dia tetap memandangku dengan tatapan seolah berkata 'Bunda bohong Bunda pasti sedang sedih' .
"Ah, aku mau ke toilet." Ujarnya sambil menarik tanganku pelan.
"Begitu ya? Kalau begitu ayo." Ajak ku membalas tarikan tangannya yang sekarang sudah berubah menjadi gandengan hangat.
Setelah aku menidurkan Cloudy, kembali aku berkutat pada komputer ku. Aku membuka Miscrosoft Word untuk menulis sesuatu. Ya, aku sering menulis sesuatu tepatnya curhat. Aku telah lama mempunyai kebiasaan yaitu menulis di komputer ku itu aku lakukan tak lama setelah Alex menjadi sangat terkenal. Ku pasang password agar Alex tak bisa membukanya. Malam itu aku memindahkan komputer ku ke kamar Cloudy, agar aku leluasa menulis sepanjang malam. Keesokan paginya aku terbangun dan baru sadar aku semalaman telah tertidur di kamar Cloudy.
###
Sekitar jam 8 saat aku dan Cloudy sedang asik menyiram tanaman, Alex pulang dengan keadaan yang mengenaskan. Maksudku dengan penampilan yang acak-acakan. Rambut nya mencuat ke sana-sini. Dasi nya terlepas, kancing kemeja nya terbuka dan ah aku tak sanggup melihatnya lagi.
"Baru pulang?" . "Cloudy ayo ucapkan salam untuk suami Bunda." Pintaku ramah pada Cloudy.
"Hello Ayah Alex, Aku Cloudy." Bungkuk nya hormat pada Alex.
"Hello Cloudy, Aku Alex." Balasnya ramah pada Cloudy.
"Sayang, tolong buatkan aku makanan aku lapar sekali." Sahutnya saat dia hendak masuk kerumah.
Aku pun segera menyelesaikan pekerjaanku dan menyuruh Cloudy masuk kerumah. Aku segera membuatkan Alex makanan dan menghidangkannya di atas meja. Alex melahap nya dalam diam. Sembari aku membereskan bekas masak ku tadi, Cloudy memanggilku dengan berbisik. Aku pun mengikutinya menuju taman belakang.
"Ada apa Cloudy?" tanyaku bingung.
"Itu suami Bunda?" ujarnya masih sambil berbisik-bisik.
"Iya, kenaoa? Kau tidak suka?" tanyaku lagi dengan alis naik satu.
"Tidak, tapi sepertinya aku sering melihatnya berjalan dengan wanita yang tidak mirip Bunda. Saat aku pergi ke gedung Entertain bersama Ayah beberapa minggu belakangan ini." Ujarnya panjang lebar masih sambil berbisik-bisik. Mungkin ia takut ketahuan Alex kalau ia sedang membocorkan rahasia besar Ayah tirinya.