"Syukurlah itu cuma mimpi!" gumam Zac sambil mengatur nafasnya yg tak beraturan. Sosok Alicia, istrinya, baru saja hadir di dalam mimpinya dengan wajah yang membusuk, perut berlubang, serta usus-usus yang terburai.
Alicia adalah sosok istri yang sempurna di mata Zac. Bagaimana tidak, selain mewarisi darah biru dari keturunan bangsawan Lextar, Alicia juga memiliki paras yang cantik dan juga berotak cerdas. Wajar saja jika banyak pria di kota ini yg mendekatinya. Beruntung karna Alicia lebih memilih Zac, walaupun dia bukan dari kalangan bangsawan.
Perjalanan cinta Zac dan Alicia tifaklah mulus. Ayah Alicia, yaitu Tuan Lextar, sangat menentang hubungan itu. Alicia terpaksa bersandiwara dengan berpura-pura akan bunuh diri karena cinta yang tak direstui itu. Akhirnya dengan berat hati, Tuan Lextar pun merestui pernikahan putri semata wayangnya dengan pria dari kalangan biasa tersebut.
Zac Loiz atau biasa dipanggil, Zac, adalah seorang pria sederhana. Dia adalah seorang seniman pembuat patung dengan penghasilan tak menentu.
Pada suatu malam, Alicia pamit untuk mengunjungi ayahnya. Tapi dia tak pernah kembali ke rumah. Zac sudah berusaha mencarinya kemana-mana dengan dibantu orang-orang suruhan Tuan Lextar, namun hasilnya nihil. Polisi pun tak dapat berbuat banyak selain memasukkan Alicia ke dalam daftar orang hilang. Wajah Alicia kini tersebar dimana-mana, terutama dalam iklan orang hilang. Namun tak satupun dari penduduk kota kecil itu pernah melihatnya lagi. Alicia seolah-olah hilang ditelan bumi.
Sebulan telah berlalu dari malam kejadian hilangnya Alicia. Orang-orang mengira dia telah mati. Ayahnya pun pasrah. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan menyendiri dalam kamar sambil membolak balik album foto kenangan Alicia.
Keadaan yang tak jauh berbeda pun dialami Zac. Setiap orang yg berpapasan dengannya selalu menatap dengan iba. Wajahnya semakin hari, semakin kusam dengan baju yang lusuh. Orang-orang memaklumi keadaannya itu. Mungkin dia teramat bersedih atas kehilangan istri yang dicintainya. Dia banyak menghabiskan waktunya mengurung diri di galeri seninya yg lebih mirip gubuk. Dia membuat berbagai macam patung. Salah satu patung yg dibuatnya adalah patung Alicia, istrinya. Patung yang hampir selesai itu sangat mirip dengan ukuran tubuh asli Alicia. Selain itu, wajahnya juga sangat mirip. Patung itu adalah sebuah karya yang sangat mengagumkan.
Seminggu kemudian, Zac mengikuti pameran seni yang diadakan walikota. Dia pun memamerkan karya utamanya berupa patung istrinya. Penduduk kota sangat mengagumi patung itu. Selain karna keindahannya, patung itu benar-benar seukuran tubuh Alicia.
"Kamu membunuh anakku!!!"
Teriakan seseorang mengejutkan seluruh orang yang ada diruang pameran itu. Tampak sosok Tuan Lextar dengan wajah penuh amarah menuding Zac dengan sengit. Zac terdiam dengan wajah yang datar. Orang-orang saling berpandangan kebingungan.
Tuan Lextar mendekati patung Alicia, kemudian mengelusnya sambil menangis.
"Dasar kamu psikopat!!! Apa yg kau lakukan pada putriku??? Kau membunuhnya dan menjadikannya patung!!!" Tuan Lextar tak dapat menahan emosinya.
Orang-orang yang hadir di ruangan itu bergidik ngeri. Mereka mempercayai perkataan Tuan Lextar. Memang Zac dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tertutup. Bisa jadi dia memang seorang psikopat. Apalagi Alicia hilang sepulang dari mengunjungi ayahnya. Bisa saja Zac marah karna memang hubungan Zac dan tuan Lextar tidak baik. Mungkin Zac dan Alicia bertengkar sampai Zac kehilangan kendali dan membunuh Alicia, kemudian menjadikannya patung untuk menghilangkan bukti.
Zac berlari meninggalkan ruang pameran itu. Dia tidak tahan dengan tatapan tajam orang-orang. Namun dengan sigap, dia dilumpuhkan oleh pengawal Tuan Lextar. Ia pun diserahkan pada polisi dan langsung dipenjara.
Zac menahan sakit dari lebam-lebam di sekujur tubuhnya. Ini sudah kesekian kalinya dia dipukuli petugas yang menginterogasinya karena dia tidak mengakui perbuatannya.
Zac mulai memejamkan mata. Tengah malam, lagi-lagi dia terbangun oleh mimpi yg sama. Mimpi didatangi sosok istrinya dengan tampilan yang menyeramkan. Tadi sore petugas memberi tahunya bahwa mayat istrinya besok akan dimakamkan.
"Mayat??? Hei, bukankah itu hanya patung!!! Coba saja kau buktikan!!!" tantang Zac kepada petugas itu. Namun petugas itu tak peduli malah mendaratkan sebuah tinju keperut Zac.
***
Hari ini adalah upacara pemakaman mayat Alicia dalam bentuk patung. Polisi sebelumnya menawarkan untuk membongkar patung itu, namun tuan Lextar tidak setuju. Dia tidak akan kuat melihat mayat putri kesayangannya yang pasti sangat mengerikan karena sudah sebulan lebih meninggal.
Polisi pun mengerti akan perasaan seorang ayah itu. Jadilah patung itu diletakkan di dalam peti mati lalu dikuburkan. Orang-orang yang hadir di pemakaman itu menangis sedih. Sungguh malang nasib wanita yang dulu pernah menjadi Sweetheart di kota itu.
Sidang kasus pembunuhan Alicia oleh psikopat bernama Zac akhirnya diputuskan. Zac mendapatkan hukuman mati dengan cara digantung. Tampak Tuan Lextar tersenyum puas. Itu memang hukuman yang setimpal untuk seorang pembunuh berdarah dingin.
***
Malam ini adalah malam terakhir Zac sebelum menghadapi hukuman mati besok pagi. Ada sedikit lega di hatinya karena malam ini adalah malam terakhir dia mengalami mimpi buruk yang selama ini menghantuinya setiap malam, mimpi bertemu istrinya yang berwujud mengerikan.
Zac pun terlelap dan mulai memasuki alam mimpi. Tetapi malam ini tak lagi didapati sosok mengerikan itu. Yang ada hanyalah sosok cantik Alicia dengan gaun indah sedang tersenyum kepadanya. Zac pun tersenyum di dalam tidurnya.
***
Hari ini senyum bahagia kembali tersungging di bibir tuan Lextar takkala melihat tubuh Zac mengelepar-gelepar di tiang gantungan, kemudian diam membeku. Akhirnya Zac pun tewas di tiang gantungan.
Dengan bersiul riang, Tuan Lextar kembali ke rumah mewahnya. Dia memasuki kamarnya dan berjalan ke sebuah lemari pakaian. Dia menggeser lemari itu. Tampak sebuah pintu tersembunyi di balik lemari itu. Dia membuka pintu dan tampak sebuah tangga menuju ruang bawah tanah. Dia berhenti tepat disebuah pintu berkayu tebal dan membuka pintu itu. Bau formalin segera menyebar. Tampak sebuah bathup di tengah ruangan itu. Bak itu terisi penuh dengan cairan formalin dan di dalamnya ada sesosok tubuh yang sudah kaku tak bernyawa. Tubuh Alicia ...
Tuan Lextar membelai rambut putrinya sambil berkata, "Sayang, mulai sekarang tidak akan ada orang yang akan memisahkan kita lagi. Kita akan bersama selamanya!"
Sementara tanpa disadarinya, dari balik pintu ada dua sosok tubuh pria dan wanita yang sangat mengerikan. Kaki-kaki mereka melayang tak menapak bumi.
"Ini belum waktunya menuntut balas," kata sesosok tubuh dengan kepala terputar 180 derajat ke belakang. Ada bekas jerat tali di lehernya.
Sosok yang satunya hanya tersenyum. Wajahnya membusuk dengan perut berlubang dan usus terburai. Dia mengenakan gaun putih yang sama dengan mayat yang ada dalam bathup.
"Baiklah sayang, aku akan dengan senang hati menunggu saat itu tiba!"
Lalu kedua sosok itu pun menghilang.
~The End~