Di lorong penuh karangan bunga duka, seorang gadis bersurai coklat berjalan linglung. Memindai setiap tulisan di pojok kanan bawah karangan bunga. Mencoba memastikan sekali lagi bahwa nama yang tertera di sana bukanlah sosok yang ia kenal. Namun, semakin ia membaca, dari ujung ke ujung semuanya bertuliskan nama yang sama, Park Hyun Jin. Sahabat karibnya. Langkahnya terhenti, tepat di ujung lorong yang mengarah ke sebuah ruangan berselimutkan duka. Melihat orang-orang mengenakan pakaian hitam. Memberikan penghormatan terakhir pada peti mati dengan foto Hyun Jin di depannya.
Matanya mengendar, melihat Tuan Park dan Ruka menunduk lesu menyambut para pelayat yang terus berdatangan. Sedang, di sudut ruangan, Nyonya Park terduduk menangis dengan kerabat yang terus menenangkan wanita 50 tahun itu. Perlahan, dengan langkah kaku, ia menghampiri peti mati Hyun Jin. Menatap sendu foto pria itu yang tengah tersenyum.
“Kenapa cepat sekali, Hyun Jin~ah,” lirih Yeon Seo pelan sebelum tubuhnya jatuh ke lantai yang dingin. Meremat dada yang mulai terasa sesak. Menunduk. Yeon Seo sudah tidak mampu menahan tangisnya lagi. Teringat, saat ia yang baru saja turun dari panggung setelah menampilkan lagu terbaru Arrow—Grup yang membesarkan namanya, mendapat kabar dari sang manajer bahwa Hyun Jin sahabatnya. Meninggal dunia. Tanpa berpikir lama, ia langsung meninggalkan studio, menghampiri di mana Hyun Jin disemayamkan. Hingga akhirnya ia berada di posisi sekarang.
“Bu, Hyun Jin hanya bercanda, kan?” Nyonya Shim yang baru saja tiba, langsung menghampiri Yeon Seo. Mengelus lembut kedua bahu gadis itu. Ia paham, tak mudah bagi Yeon Seo kehilangan sahabat kecilnya. Naluri keibuannya membuat ia memeluk Yeon Seo dengan erat. “Hyun Jin tidak boleh pergi, bu. Dia sudah berjanji untuk datang ke fanmeeting ku besok. Tapi, sekarang kenapa dia tidak menepatinya?” Suaranya begitu pilu. Ikatan batin antara ibu dan anak, membuat Nyonya Shim mampu merasakan sakit yang dirasakan Yeon Seo. Putri bungsunya itu terus saja meraung memanggil nama Hyun Jin, seakan jika ia memanggilnya, pria itu akan hidup kembali.
“Hyun Jin~ah, Jebal! Kumohon bangunlah!”
“Hyun Jin!”
"Tidak, Kumohon!"
“PARK HYUN JIN!!!”
Yeon Seo terbangun dengan nafas terengah-engah. Bulir keringat sebesar biji jagung menghiasi wajahnya yang pucat pasi. Satu titik air mengalir jatuh ke telapak tangan. Ia menangis. Mimpi itu terasa sangat nyata. Melihat Hyun Jin terbaring di peti mati dengan semua orang yang menangisi kepergiannya. Yeon Seo menghembus nafas lega. Untung semua kejadian tadi hanyalah mimpi semata. Dengan wajah berantakan, Yeon Seo meraih ponsel dari atas nakas dan menelepon seseorang yang menjadi pelaku utama dalam mimpi buruknya.
“Aku ingin bertemu denganmu!” ucap Yeon Seo mematikan telepon tanpa menunggu jawaban dari pihak sebelah.
~~~
Park Yeon Seo, gadis 24 tahun. Seorang aktris dan juga anggota girl grup asal Korea Selatan, Arrow. Ia memiliki sahabat bernama Park Hyun Jin yang juga menjadi idol seperti dirinya. Pria itu berada dalam grup Paradise. Debut di tahun yang sama hanya berbeda bulan. Kedekatan mereka sebagai sahabat sudah diketahui publik sejak awal debut. Mereka sering pergi berdua tanpa memakai masker. Seolah tak takut dengan rumor yang seringkali menimpa idol seperti mereka. Dan dari sana juga, seringkali mereka dijodohkan karena kedekatan mereka yang terlihat lebih dari sekadar kata Sahabat.
Yeon Seo tiba di taman apartemen Hyun Jin. Karena masih pukul 7 pagi, jadi wajar belum banyak terlihat orang yang beraktivitas. Sembari menunggu, Yeon Seo bermain dengan kucing oren gemuk yang mengelus-elus kakinya saat ini. Gemas, Yeon Seo mengusak pelan perut si kucing yang penuh lemak. Ia tertawa, melihat kucing oren itu terdiam pasrah. Aku rela, bukankah ini perjuangan demi mendapat sesuap makanan, pikir Yeon Seo menebak batin si kucing oren. Tal lama sepasang sneakers hitam berhenti di depannya. Mendongakkan kepala. Bersitatap dengan si pemilik sepatu. “Wasseo?”.
~~~
Yeon Seo menceritakan semuanya pada Hyun Jin tentang mimpi buruknya. Gadis itu mengambil tangan Hyun Jin dan menggenggamnya dengan erat. “Ketika aku terbangun, aku tersadar itu hanya mimpi. Sekarang, aku lega melihat kau masih di sini ... bersamaku.” Tanpa sadar air bening mengalir turun dari pelupuk matanya. Buru-buru Yeon Seo menghapus jejak air tersebut.“Rasanya sangat aneh mendengar kata terakhirmu. Bukan seperti Yeon Seo yang kukenal,” ejek Hyun Jin melepas genggaman Yeon Seo. Membantu menghapus air mata yang masih turun membasahi wajah cantik sahabat kecilnya.
“Aku serius, bodoh!” Hyun Jin terkekeh pelan. Yeon Seonya sudah kembali ke mode pabrik. “Kau menangis setelah bermimpi aku tiada. Itu berarti apa kau baru merasa kehilangan ketika aku benar-benar pergi? Sebelumnya kau selalu gengsi untuk menyatakan rasa sayangmu padaku. Bukan begitu, Yeon Seo~ssi?” perkataan Hyun Jin barusan sedikit menyentil hatinya. Benar bukan, ia selalu enggan mengatakan kata sayang pada pria 24 tahun itu. Ia selalu meninggikan gengsi dan bersikap tak acuh.
“Terserah kau!” Hyun Jin kembali tertawa hingga membentuk bulan sabit di kedua matanya. Ia pun menarik Yeon Seo ke dalam pelukan, “Jangan menangis, kau terlihat jelek!” ejek Hyun Jin mendapat pukulan pelan di dada bidangnya.
“Bagaimana, kalau hari ini kita pergi jalan-jalan. Kau sedang tidak ada jadwal, kan?”
~~~
Sesuai janjinya tadi, Hyun Jin benar mengajak Yeon Seo keliling Kota Seoul menggunakan mobil pribadi Hyun Jin. Perjalanan mereka diawali dengan menaiki sepeda di pinggir Sungai Han, lalu berlomba siapa yang menang maka akan ditraktir yang kalah. Dari sana, mereka pergi ke Istana Gyeongbeokgung. Salah satu karya masterpiece peninggalan Kerajaan Joseon. Katanya di sana sedang ada upacara pergantian pengawal kerajaan. Mereka melewati pintu masuk Gwanghamun yang terletak di utara Istana. Agar suasana kerajaaan makin terasa, mereka menyewa sepasang pakaian ala Raja dan Ratu Joseon. Hyun Jin tampak gagah dengan jubah berbahan sutra merah dengan pola naga bersulamkan emas pada bagian dada, punggung dan bahu. Tak lupa, tambahan aksesoris berupa sabuk giok pada bagian pinggang, topi dan sepatu hitam kerajaan. Sedangkan, Yeon Seo tampak anggun mengenakan hanbok dengan atasan emerald bercorakkan naga seperti milik raja dan bawahan rok krem dilengkapi hiasan tusuk konde corak burung phoenix dan hiasan atas kepala berbentuk naga emas.
Mereka memanfaatkan waktu yang ada dengan berfoto-foto di setiap ruangan istana. Berkunjung ke perpustakaan, balai tempat tinggal raja dan permaisuri, pergi ke dapur istana dengan tingkah Yeon Seo yang tiba-tiba bernyanyi “Onara” lagu soundtrack drama kolosal “Dae Jang Geum” diladeni oleh Hyun Jin sembari memperagakan adegan “Dae Jang Geum” ketika memasak. Tak lupa, mengunjungui Kolam Hyangwonji, spot favorit bagi pasangan muda mudi. Mereka berfoto bersama dengan latar kolam yang dipenuhi bunga teratai. Tanpa sadar saling menempelkan pipi lalu berpose ria, tersenyum bebas. Meninggalkan kesan iri bagi orang-orang sekitar.
Setelah menyaksikan upacara pergantian pengawal kerajaan, Hyun Jin dan Yeon Seo mampir sebentar ke kuil yang berada tidak jauh dari istana. Berdoa di sana. Mengucapkan keinginan dalam hati berharap semoga segera terkabul. Kegiatan mereka tak luput dari perhatian pengunjung kuil. Siapa yang tidak kenal dengan idol populer seperti Hyun Jin dan Yeon Seo. Ingin berswafoto namun tertahan prinsip menjaga privasi. Selesai berdoa, seorang biksu menghampiri mereka. Memercikkan air suci agar mereka terberkati. Hyun Jin dan Yeon Seo mengucap terima kasih pada biksu dan berlalu pergi. Meninggalakan, raut sang biksu yang tadinya tersenyum berubah menjadi tatapan sendu. “Kasihan sekali, dia.”
~~~
Tak terasa sudah jam 12 siang, waktunya mengisi perut. Saat ini Yeon Seo dan Hyun Jin berada di sebuah restoran khusus makanan tradisional Kerajaan Korea. Masih berada di sekitaran istana. Menatap lapar hidangan yang baru saja disajikan oleh koki. Semua hidangan tersaji dengan lengkap. Terdapat makanan pembuka seperti cemilan kesemek kering, dan 9 jenis acar. Ditemani hidangan utama berupa sate sayuran dan daging dengan taburan bumbu akar bit, abalon dan teripang rebus dengan saus kedelai, serta iga sapi panggang yang telah dimarinasi. Kemudian, ditutup dengan secangkir Teh Chamomile.
Mereka makan dengan khidmat. Sangat menikmati setiap suapan dengan sepoi-sepoi angin sejuk dari rindangnya pepohonan dan tanaman bonsai di luar restoran. Hyun Jin dan Yeon Seo sama-sama diam. Sepertinya keduanya sangat lapar dilihat dari suapan demi suapan yang terus masuk tanpa henti.
Saat ingin mengambil daging, Tak sengaja mereka bertemu tatap. Saling pandang seperti adegan dalam drama Korea. Tiba-tiba Hyun Jin memajukan tubuhnya, menyisakan jarak 3 cm diantara dua manusia yang katanya sebatas sahabat itu. Yeon Seo yang terkejut meringsut mundur namun tertahan tangan Hyun Jin yang berada di punggungnya. Menariknya lebih dekat lagi. Membuat ia mampu merasakan hembusan napas Hyun Jin. Aroma mint bercampur white musk dari parfumnya. Meneguk ludah kasar. Jantung Yeon Seo berdegup kencang. Mendengar suara yang sama pada Hyun Jin.
“Yeppeo!” puji Hyun Jin tersenyum manis menampilkan lubang cacat di kedua pipinya. Sedang yang dipuji mengerjapkan mata bingung. “Y-ye?!”
“Kau cantik! Meskipun ada saus kedelai yang menempel di bibirmu, tapi tidak menghilangkan kecantikan ini,” ujar Hyun Jin dengan suara pelan hampir berbisik. Menyapu saus kedelai yang menempel di bibir Yeon Seo dengan ibu jarinya.
“Saranghae, Mama!” Hyun Jin kembali ke posisi semula, memakan kembali makanannya dengan bibir yang tersenyum lebar. Beda dengan sang korban yang masih syok akan tindakan & perkataan Hyun Jin hari ini.
~~~
“Ya! Sekarang mari kita rayakan kemenangan pertama setelah comeback Paradise!” kata manajer~nim melayangkan gelas berisikan bir ke udara disambut hal yang sama oleh staf juga kelima member Paradise. Wangi bakaran daging yang menguar ke seluruh restoran membuat siapapun yang menciumnya merasa lapar seketika. Para staf tak terkecuali member Paradise sang bintang utama dalam perjamuan ini tampak semangat menyiapkan sepiring kecil lengkap dengan sumpit. Sangat siap untuk menyambut Bulgogi dari manajer kesayangan mereka.
Khusus hari ini, semua makanan akan ditanggung oleh agensi. Merayakan kemenangan pertama setelah comeback Paradise dengan lagu mereka yang berjudul “Summer” lagu musim panas dengan iringan musik enerjik yang membakar semangat. Setelah perilisan lagu mereka, “Summer” langsung memuncaki beberapa tangga lagu di berbagai platform musik. Ini dikarenakan comeback yang sangat ditunggu-tunggu oleh Parade—sebutan untuk fans mereka setelah 1 tahun tak comeback menunggu sang maknae selesai wamil.
“Hyung! Ayo kita makan yang banyak, karena malam ini manajer~nim yang akan membayar semuanya!” seru Ro Un, si maknae yang baru saja menyelesaikan wamil. Keempat member dan staf tertawa mendengarkan celotehan pria berpipi gembul itu. Tapi, tak bertahan lama sesaat sumpit kayu mendarat di kepala sang maknae, membuatnya mengaduh kesakitan.
“Bukan aku yang membayarnya, tapi agensi! Sudah berapa kali ku bilang. Memangnya aku mampu membayar kemampuan makan kalian yang seperti orang kelaparan, eoh?!” sungut manajer~nim. Diantara kelima member paradise, Ro Un lah yang mampu membuat emosinya naik dengan cepat. Tapi, meskipun begitu ia tetap sayang dengan maknae yang terkenal dengan kemampuan aegyonya itu.
Di sela perdebatan Ro Un dan manager~nim, Park Hyun Jin main vocal Paradise asik menatap wanita yang duduk di sebelahnya, Shim Yeon Seo. Manajer~nim terlebih dahulu izin pada manajer Arrow untuk meminjam Yeon Seo sebentar. Kebetulan Yeon Seo menjadi mc dalam acara musik yang membawa Paradise meraih kemenangan pertamanya. Hyun Jin menatap wajah Yeon Seo dari samping. Melihat setiap gerakan yang dilakukan oleh gadis yang disebut dewi Korea setelah Song Hye Kyo itu. Kegiatan Hyun Jin tak luput dari pandangan manajer~nim yang diam-diam tertawa. Alasan apa yang membuat seorang pria menatap begitu dalamnya seorang wanita kalau bukan karena cinta?.
“Hyun Jin~ah! Woo Hyeok pesan kepadaku Yeon Seo harus sudah berada di rumahnya jam 9. Kau antarkan dia ya?” Hyun Jin mengangguk. “Aku juga ingin pulang duluan, ibuku ada di apartemen sekarang,” ucap Hyun Jin takut akan reaksi dari sang manajer.
“Eoh? Ada nyonya Park? Kalau begitu kau pesanlah daging untuk ibumu. Tenang, ini tetap masuk tagihan agensi. Mari kita hamburkan uang bos kita, hahahahaha,” Manajer~nim tertawa jahat, mengundang gelak tawa dari anak buahnya.
“Oke! Aku sudah merekamnya. Akan aku kirim ini ke Sajangnim!” ucap salah satu staf dengan kamera di tangannya. Ia tertawa jahat seperti yang dilakukan manajer~nim tadi.
Manager~nim panik, “Yaaaaa! Kemarikan kameramu! Jangan kau mengirimkannya pada sajangnim, bodoh! Kemarikan!” seru manajer~nim menunjuk pada staf tersebut.
~~~
Salah satu topoksi dari manajer adalah mengatur jadwal artisnya agar berjalan lancar. Tapi, hal ini juga harus timbal balik dengan si artis. Mau atau tidak diatur. Jika tidak, siap-siap semua jadwal yang sudah kau susun jadi berantakan. Seperti, Yeon Seo yang saat ini kelabakan karena telat bangun, padahal jam 8 ia ada penerbangan ke LA. Memang semalam Hyun Jin mengantarkan Yeon Seo pulang sebelum jam 9. Tapi, gadis itu bukannya langsung tidur malah mengajak Hyun Jin nonton film Netflix dengan sebotol wine. Akibatnya, ia mabuk dan tertidur hingga pukul setengah 7 pagi.
Panik, Yeon Seo langsung menghubungi Hyun Jin untuk mengantarnya ke bandara. Untungnya, masih ada waktu 30 menit untuk ia check-in. Hyun Jin berlari mengikuti arah pergi Yeon Seo seraya mengeret koper sang sahabat. Hingga akhirnya berhenti di depan konter check-in. Mengambil koper dari genggaman, “Gomawo! Kalau begitu aku masuk. Hati-hati jangan mengebut seperti tadi!” Peringat Yeon Seo lalu pergi setelah melambaikan tangan ke arah Hyun Jin. Namun, belum sempat melangkah, Hyun Jin kembali menarik lengan Yeon Seo hingga gadis itu berbalik ke arahnya.
“Eoh, wae?” Enggan menjawab, pria Leo itu merengkuh tubuh Yeon Seo hingga membentur tubuh kekarnya yang memberikan rasa hangat. Wangi parfum musk dengan sentuhan aroma Lavender dan Rosemary langsung menguar lembut ke indra penciuman Yeon Seo. Gadis itu mampu mendengar deru nafas dan detakan jantung Hyun Jin yang berdebar sangat cepat. Membuat sensasi aneh pada jantungnya yang akhirnya membentuk getaran yang sama.
“Berbahagialah. Jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai!”
~~~
“Ooooo, baru 5 jam ditinggal, kau sudah merindukan dia, Hyung?” goda Ro Un pada Hyun Jin. Sehabis melakukan ritual malam di kamar mandi, sang maknae melihat malaikat di grup alias Hyun Jin tengah memandangi foto dirinya bersama Yeon Seo.
“Memang seperti itu kan siklus pertemanan antara wanita dan pria? Awalnya berteman, di pertengahan muncul rasa cinta, lalu di akhir yang menentukan apakah “Ayo kita berkencan” atau “Kita cukup berteman saja”, kau yang mana, Hyung?” goda Ro Un lagi mengundang tatapan tajam Hyun Jin.
“Anak kecil sepertimu tidak boleh tau apa yang dilakukan orang dewasa! Kencing belum lurus saja sok-sokan mengerti akan cinta!” jutek HyunJin menoyor dahi Ro Un dengan satu jari telunjuknya.
“Yaaa! Aku sudah 22 tahun asal kau tahu, hyung! Aku ini sudah cukup dewasa dan mengerti kisah percintaan. Kau tak tau saja mantanku berderet dengan rapi di belakang,” ujar Ro Un menepuk-nepuk dada bangga. “Eh, kau mau pergi ke mana, Hyung?”
“Ke apartemen. Kau bau. Lain kali kalau habis buang air besar siram dengan bersih. Aku pergi!” ujar Hyun Jin ditutup dengan suara kunci otomatis pintu sekaligus tubuhnya menghilang dari pandangan Ro Un.
~~~
Tujuan kepergian Yeon Seo ke LA adalah menghadiri konser Taylor Swift, idola kesayangannya. Di sana ia juga bertemu sesama rekan artis, aktor dan idol. LA adalah kota pertama dari rangkaian world tour Taylor Swift. Bisa saja ia menunggu idolanya konser di Seoul 1 bulan lagi, tapi ia sudah tidak sabar menyaksikan penyanyi yang terkenal dengan lagu “Love Story” itu.
Sekarang, waktunya gadis itu istirahat. Dan, oh mengecas ponsel! Yeon Seo lupa bahwa baterai ponselnya habis. Dia terlalu asik menikmati konser tanpa tahu ponselnya mati. Selesai mandi, gadis itu mengecek ponselnya. Banyak panggilan tak terjawab di sana. Nyonya Shim, Ruka, dan Yu Ri sepupunya. Ada apa, mereka menelponnya sampai 50 kali? Pikir Yeon Seo. Penasaran ia menelpon sang ibu.
“Ibu, wae? Kenapa ibu menelp-....”
Kalimat itu tak bisa ia lanjutkan. Ponselnya yang berharga jutaan won harus jatuh ke lantai dengan keras. Meninggalkan raut sedu pada wajah putihnya.
~~~
Perpisahan. Satu kata yang ia benci, namun juga tak bisa ia hindari. Apalagi jika itu karena ... kematian. Kenapa harus ada perpisahan jika awalnya dipertemukan? Kenapa harus berpisah jika awalnya dipersatukan?. Sebuah lelucon takdir yang pasti akan dialami semua manusia. Termasuk, Yeon Seo.
Jika kemarin ia bermimpi Hyun Jin tiada. Maka, sekarang bagian kenyataannya. Mimpi itu seolah simbol bagi Yeon Seo agar bisa mempersiapkan diri menghadiri pemakaman sahabatnya sendiri.
Dan, di sini ia berdiri sekarang. Tepat di depan peti mati Hyun Jin. Semuanya berlalu begitu cepat. Baru kemarin ia menghabiskan waktu bersama pria yang selama ini ia kagumi diam-diam. Jadi, ini arti dari ajakan Hyun Jin mengajaknya jalan-jalan untuk menghibur dirinya selepas mimpi buruk? Jadi ini maksud dari senyuman kemarin? Begitu juga dengan pelukan hangat yang kini tidak bisa ia rasakan lagi. Tuhan benar tak mengabulkan doanya untuk terus bersama Hyun Jin sampai mereka kakek nenek. Janji mereka untuk menjadi sahabat sampai tua ... harus terputus.
‘Tak ku sangka, kau benar pergi meninggalkanku, Hyun Jin~ah.’
~~~
Kabar kematian Hyun Jin tersebar dengan cepat. Awalnya, berdasar pada Informasi yang beredar Hyun Jin melakukan tindak bunuh diri, tapi setelah dilakukan proses penyelidikan oleh polisi serta tindak autopsi agar hasil lebih akurat, penyebab Hyun Jin meninggal adalah karena henti jantung mendadak. Pria itu meninggal 2 jam lebih dulu sebelum akhirnya ditemukan oleh sang manajer. Alasan ini lebih masuk akal, mengingat Hyun Jin sering mengeluh jantungnya sakit akhir-akhir ini. Karena hal itulah, manajer-nim ingin mengajak Hyu Jin, memeriksakan kesehatannya yang terganggu. Namun, saat ia tiba di apartemen, hanya ada Hyun Jin yang terkapar tak bernyawa di lantai dapur dengan tubuh pucat nan dingin. Segera, ia menghubungi 911 dan memberitahukan hal ini pada keluarga dan teman se-grup Hyun Jin hingga berita itu beredar dengan cepat di masyarakat.
Hyun Jin. Pria 24 tahun. Merintis karirnya sejak kecil. Wajahnya sering tampil dalam iklan hingga di usianya yang ke 18 tahun, ia debut dalam grup Paradise. Semua orang, dari yang muda sampai tua mengenal Hyun Jin. Sikapnya yang ramah dan tidak pernah terjerat skandal membuat ia dicap sebagai aset negara yang harus dijaga. Tentu, dari kepergiannya kali ini meninggalkan luka bagi orang-orang yang menyayangi pria Leo itu. Kolom komentar snsnya penuh dengan ucapan belasungkawa dari para penggemar. Ratusan bucket bunga dan sticky notes terus memenuhi lobby kantor agensi dan rumah duka. Setiap perwakilan penggemar mencoba mengumpulkan massa, lalu memimpin doa untuk ketenangan Hyun Jin.
Sekarang, pria itu telah pergi. Meninggalkan kenangan indah bagi orang-orang terdekatnya.
Selamat jalan, Park Hyun Jin.
~~~
“Apa kau pernah merasakan jantungmu berdebar saat dekat dengan seseorang?”
“Tidak. Tapi dari yang aku tahu, jika jantungmu berdebar karna seseorang, itu tandanya kau menyukai orang itu.”
“Tapi, bagaimana jika orang itu adalah dirimu, Shim Yeon Seo?.”
Tertegun Yeon Seo mendengarnya. Ia memandang ngeri Hyun Jin yang tersenyum lebar hingga kedua mata itu hilang tertutupi senyumnya yang semakin lebar.
“Leluconmu tidak lucu!”
“Aku sedang tidak bercanda. Aku memang Menyukaimu!”
“Kau melupakan janji pertemanan kita?”
“Aku ingat, tapi bukankah itu janji saat kita masih kecil? Apakah semua itu tidak boleh berubah saat kita menjadi dewasa? Bagaimana dengan-....” Yeon Seo menutup mulut Hyun Jin dengan satu jarinya.
“Tidak bisa! Lagipula aku sudah mempunyai kekasih. Kau ingin menjadi perebut kekasih orang?” Senyum yang tadi melebar perlahan pudar. Ya, Hyun Jin lupa jika Yeon Seo gadis yang disukainya sudah mempunyai kekasih. Tapi, bagaimana dengan perasaannya? Siapa yang mau bertanggung jawab dengan hati dan pikirannya yang gila memikirkan Yeon Seo setiap hari?.
Menarik jemari Yeon Seo dari bibirnya. Ia menatap lamat gadis itu. Seketika pandangannya berubah sendu. Inikah rasanya jika cintamu tertolak?.
“Tapi." Memegang tangan Yeon Seo. “Bolehkah aku tetap mencintaimu sampai rasa ini hilang? Kau tidak perlu membalasnya.” Dada Yeon Seo sedikit nyeri saat pria itu mengatakan akan terus mencintainya sampai rasa itu hilang. Kenapa hatinya tidak rela jika suatu saat Hyun Jin berhenti mencintainya? Aneh!.
“Ya, terserah kau saja! ... Yaa!! Lepaskan pelukanmu, Park Bodoh Hyun Jin!!!!”
Memori itu akan selalu terkenang dalam ingatan Yeon Seo. Dua tahun yang lalu saat Hyun Jin mengajaknya makan malam dan menyatakan perasaan yang mengejutkan hatinya saat itu. Entah, ia bingung? Di satu sisi ia sudah mencintai orang lain yang saat itu menjadi kekasihnya, tapi di sisi lain ia tak suka jika Hyun Jin berhenti mencintainya.
Silir angin di pagi hari terakhir musim panas, menerbangkan biji Dandelion pergi bersama sayap selembut kapas yang akan terjatuh lalu tumbuh menjadi tanaman Dandelion baru. Berkunjung ke ladang Dandelion saat musim panas merupakan langkah yang tepat, sebab besok ribuan bunga itu akan layu bertepatan dengan masuknya musim gugur. Memejamkan mata. Menikmati sejuknya angin laut yang bertiup dari Semenanjung Korea. Yeon Seo berdiri di antara ribuan Bunga Dandelion. Bunga favorit Hyun Jin. Rasa gatal mulai terasa. Pipinya memerah. Namun, ia tak peduli. Yeon Seo hanya ingin menikmati momen ini. Melupakan fakta bahwa ia alergi dengan bunga.
2 bulan sudah kepergian Hyun Jin membuat kehidupan Yeon Seo berubah 180°. Sering menyendiri di kamar, enggan bersosialisasi bahkan tubuhnya semakin kurus karena nafsu makannya hilang. Selain kenangan, kepergian Hyun Jin juga menyisakan rasa penyesalan. Penyesalan tak bisa menemani pria itu disaat menit terakhirnya. Dan ... tak sempat membalas perasaan Hyun Jin yang sampai akhir masih mencintai dirinya.
Kemarin, ia pergi mengunjungi ruang abu Hyun Jin. Tepat di hari ulang tahun pria yang seharusnya sudah 25 tahun itu. Bertemu sapa dengan keluarga Hyun Jin yang juga berkunjung memperingati hari ulang tahun putra mereka. Rasa sesak yang selama ini ia simpan tumpah dalam pelukan Nyonya Park. Wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Tangisannya sangat menyayat hati. Membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasakan sakit. Liquid bening mulai jatuh membasahi pipi. Sekarang, ia tersadar tak seharusnya ia mengubur semua emosi dalam hati. Bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Teringat pesan Nyonya Park kemarin, “Jika kau ingin menangis, menangislah ... jangan di simpan. Di sini pasti sakit kan?”. Yeon Seo memegang dadanya, sekarang rasa sakit itu sedikit berkurang.
“Yeon Seo~ya! Kemarilah! Alergimu nanti semakin parah!” Teriak Nyonya Shim dari kejauhan.
“Ya Ibu! Aku ke sana!” Sahut Yeon Seo bersamaan dengan sayap kapas Bunga Dandelion yang terbang seiring langkahnya pergi.
‘Hyun Jin~ah! Datanglah ke mimpiku. Izinkan aku untuk memelukmu sekali lagi.’
~~~
Yang Tersayang Park Hyun Jin
Hyun Jin~ah! Bagaimana keadaanmu di sana? Kau sudah bertemu dengan kakakku? Jaga dia ya. Tugasmu menjaga paman, bibi, Ruka dan aku sudah berakhir. Sekarang tugasmu berganti menjaga kakakku. Dan di sini aku yang mengganti tugasmu menjaga mereka.
Maaf, aku sempat menolak kenyataan bahwa kau sudah tidak di sisiku lagi. Setiap aku terbangun dari tidurku, aku sadar kau telah pergi, akan tetapi aku menyangkalnya lagi dan lagi. Maaf, di sela kesedihan bibi, paman, dan Ruka aku malah menambah beban mereka dengan mengkhawatirkan keadaanku. Sekarang, aku berjanji sungguh-sungguh untuk menjaga paman, bibi, dan Ruka. Aku akan memberikan mereka kasih sayang tanpa harus melupakan kehadiranmu dalam ingatan mereka.
Ada satu hal yang ingin kukatakan. Di sini, aku merasakannya, Jin~ah! Aku menyesal karena terlambat. Aku rasa, perasaan ini sudah tumbuh sejak aku sendiripun tidak menyadarinya. Maafkan aku karena terlambat membalas perasaanmu. Ternyata kau menyimpan rasa sakit ini sendirian? Mengetahui bahwa kau mencintai seseorang tanpa dibalas hal yang serupa dengan orang itu? Hyun Jin~ah, maaf aku tidak bisa menemanimu saat-saat menyakitkan itu. Sekarang kau sudah tidak sakit lagi, bukan? Berbahagialah di sana. Tunggu aku.
Shim Yeon Seo mencintaimu Park Hyun Jin🩶
Shim Yeon Seo
~~~